vos, eu quer comer?

arie in Macau, solo backpacker at that moment
arie in Macau, solo backpacker at that moment

having celebrated new year’s eve abroad and many islands within indonesia archipelago instead of java, we did something different in the end of 2011. it took pretty close to the heart of jakarta, the capital city, in Java.

arie and nick were said goodbye to the previous year by gather amongst the portuguese creole descendants in kampung Tugu and feel so blessed to be able to learn their unique culture.

Continue reading “vos, eu quer comer?”

berbincang di rumah sendiri

Sebagai pejalan, saya menganggap rumah adalah tempat saya pulang.  Sebuah pohon rindang buat bersarang.

(c) Aftonun Nuha, saya tengah memaparkan pengalaman naik bus ke Ladakh Range, India

Seorang kawan asal Arkansas (AS) yang gemar bepergian ke negeri-negeri Asia serta anak benua India mengungkap, “Rumah adalah tempat menggantung backpack selagi kita tidak bepergian ke tempat-tempat jauh.”

Jadi, bagaimana saya mendefinisikan kepulangan ke Kota Pahlawan kali ini? Kembali ke kamar saya yang dipenuhi koleksi lagu-lagu heavy metal pemusik Canada, Rush dan Brits techno-pop Duran Duran era 1980-an serta buku petualangan Lima Sekawan, sudah pasti.

Menggantung backpack sejenak, benar adanya. Bertemu dengan teman-teman lama, rasanya juga menjadi suatu kewajiban -–di samping rasa rindu juga sudah disemai sejak masih berada jauh dari perimeter bernama ‘rumah’.

Tapi tak kalah penting, adalah sebuah misi yang diselipkan di sana. Untuk menjadi seorang pembicara dalam acara bertajuk National Geographic Traveler’s Backpacking and Street Photography Workshop yang digelar di Convention Hall A, Gramedia Expo, Surabaya.

Saya berbagi soal “Bagaimana menyiapkan diri untuk menjadi seorang pejalan independen” sedang rekan saya, editor foto National Geographic, Reynold Sumayku memberikan kiat tentang “Menjadikan potret makin bermakna lewat pendekatan humanis.”

Yang terjadi dalam seminar mini -–atau saya dan Rey lebih suka menyebutnya sebagai sharing–- adalah presentasi dan tanya-jawab yang hidup, karena dapat mengajak mereka ikut serta sebagai bagian dari makalah yang dibawakan.

Pengalaman menjadi solo backpacker sejak 15 tahun lalu membuat saya leluasa memberikan contoh dan deskripsi tentang hal yang biasa dihadapi seorang pejalan solo atau pejalan independen.

Dan saya menggarisbawahi, betapa interaksi dengan masyarakat lokal menjadi hadiah bagi segala detail persiapan yang telah saya lakukan jauh-jauh hari sebelum memulai sebuah perjalanan.

Tentu saja, landasan saya berbagi adalah pengalaman pribadi, juga pengamatan serta berbagai masukan dan pelajaran yang didapat selama melakukan perjalanan. Karena bagi saya, bepergian secara mandiri telah dilakukan banyak orang, asing maupun negeri sendiri sejak lama.

Dengan cara dan kapasitas berbeda, termasuk mereka yang sudah mendatangi banyak negara di seluruh penjuru dunia. Saya hanya ingin menggugah, tentang keindahan di setiap sudut kota, desa serta seisi negeri –-dimana makna atau hasilnya bisa berbeda, tergantung pada sudut pandang dan ide orisinal si pejalan.

Yang mengharukan, dalam acara ini saya berjumpa dengan Dewi Aryanti, pejalan trip bermotor ke Italia dan Perancis serta Jawa dan Nusa Tenggara. Sosok begitu santun, lembut dan menyenangkan, yang banyak membacai tulisan saya di blog maupun edisi cetak National Geographic Traveler.

Sementara kejahilan dalam konotasi positif saya jumpai pada Ayos Purwoaji, peserta yang gemar menanyai keseharian saya, mulai soal perijinan dari keluarga atas kesukaan saya traveling, sampai bagian sudut kota Surabaya lama mana yang menjadi favorit saya.

Pertanyaan terakhir ini, sulit dijawab. Bukan karena tidak ada, tapi karena begitu banyaknya. Saya dibesarkan dan tumbuh bersama Surabaya, dan nukilan kenangan ada di setiap jengkal tanahnya.

Seperti juga saya menjadikan kedatangan kali ini sebagai momentum bertemu beberapa sahabat semasa SMU; Agus ‘Ampyang’, Dian dan Okto. Lebih dari 20 tahun kami tak berjumpa, hingga jeda antarkegiatan National Geographic Traveler di Surabaya saya manfaatkan untuk bersama mereka.

Termasuk menyantap nasi goreng Gubeng Pojok -–yang semasa kami sekolah harganya Rp 2.500,- per piring-– sampai bermain basket malam hari di SMU Negeri 7.

Semua demi kenangan dan kebersamaan yang sudah lama tak kami dapati. Dan semuanya terasa indah, berlangsung hingga lewat tengah malam. Satuan waktu yang mesti ‘dibayar’ untuk melunasi 20 tahun ketidakhadiran saya atas persahabatan kami yang dimulai dari sekolah.

Esok paginya, kegiatan National Geographic Traveler berlanjut dengan hunting foto di beberapa kawasan historis Surabaya.

Penjelajahan berawal dari Kantor Pos Pusat Jalan Kebon Rojo, menuju gedung Bank Mandiri sampai gedung pemerintahan dengan jam kuno, Tugu Pahlawan dan Gereja Santa Perawan Maria ‘Kelsapa’. Diteruskan area Jembatan Merah, mulai gedung-gedung tua bidang perbankan, bangunan berangka tahun 1880 sampai jembatan bersejarah dan berakhir di daerah Kembang Jepun, mulai gerbang Kya Kya, Jalan Slompretan, gang Bong sampai klenteng di Jalan Coklat.

Di antara langkah para peserta hunting fotografi yang kami selenggarakan, di tengah kemeriahan pasar dadakan seputaran Tugu Pahlawan hingga keanggunan bangunan-bangunan berlanggam kolonial nan jangkung, saya merasai keindahan Surabaya.

Memaknai bahwa setiap kali pulang ke kota ini mempertebal kenangan tentang sebuah kota yang telah membesarkan saya, seperti terlihat di hari ini.

Beberapa buku panduan perjalanan (travel guide) mengungkap; tak banyak yang bisa ditawarkan Surabaya sebagai destinasi wisata. Tapi bagi saya pribadi, semuanya berpulang pada cara masing-masing personal dalam memberikan makna pada sebuah tempat.

Tergantung pada kejelian menangkap momentum di sudut-sudut kota. Karena semua tempat adalah indah. Seperti kata Ampyang; hidup itu indah (dan tentunya sarat makna –-tambahan dari saya).

This posting is dedicated to:

‘rumah’ saya, tercinta Nicholas dan sahabat saya, Ampyang-Dian-Okto

Panitia Surabaya yang penuh energi: ‘Afternoon’ Nuha, Be’de kecil Icha, ‘Sampang Berbahaya’ Adhitama

Panitia Jakarta yang penuh senyum: ‘Cong’ Adit Noto, Purwo Subagiyo, Reynold Sumayku

Seluruh peserta workshop National Geographic Indonesia, terutama Ibu Myke, Dewi Aryanti, Pak Agus dan Pak Poer.

about lasiana beach

lasiana beach. one of the beaches in west timor, indonesia which is situated nearby kupang. the capital city.

it’s about 17 km from city centre. a beach where locals spending their weekend with all family members and gather with relatives and colleagues.

so, don’t be surprised. the aroma of grilled fish, guitars playing, liquor fragrance from fermented palm fruits are in the air. it’s kinda like beach festival on sunday. whilst the boys do volleyball, jogging, fishing or swimming.

for us, watching the waving spiky lontar leaves and sunset are very interesting. in the simplicity of lasiana beach. spiky lontar [palm tree] is an icon of timor island.

(c) ukirsari

cap go meh in kota, oud batavia

cap go meh in kota

(c) ukirsari

cap go meh. this is the culmination of indonesians chinese in celebrating their new year’s eve.

it takes about 2 weeks after imlek or sinchia or chinese new year itself, whenever everybody greetings, “gong xi fa cai.”

there’s a chinatown nearby oud batavia [kota] in the northern part of jakarta. simply known in our language as ‘pecinan’ [chinatown] which divided into several districts like glodok and gloria and pintu kecil and kemurnian. those are refer to its postal addresses from long time ago.

and here we were. celebrated cap go meh in pecinan kota. things that we love most is the architectural side of these areas. some of them still remain nowadays.

the temples are dominated by red colour. also the clothes of the worshipers. said that red colour brings good luck and prosperity.

meanwhile the houses in narrow lines put the lanterns [can be very small or huge] as the main ornament in celebrating imlek and cap go meh.

one of the unique architecture within pecinan kota is church sancta maria de fatima. the mission brought by the portuguese and the building still using chinese accentuation in this very day.

and should not be missed is the dragon dancing or known by indonesians as “barongsai”.

beside performed for all the attendants of this event, barongsai dancing became far more interesting since local government made a competition amongst the performers.

which ones our favourite? many of them. we do like the ambience of this celebration.

gong xi fa cai! zhu ni heng duo cheng gong!

Ote-ote von Porong, Sebuah Camilan Nostalgia

Ote-ote [bahasa Jawa Timuran] mirip dengan bakwan atau bala-bala dalam khazanah goreng-gorengan pinggir jalan yang biasa dijumpai di Ibukota.

Terbuat dari rajangan kol, wortel, kucai atau daun bawang, tauge dan diaduk dengan campuran tepung terigu, air serta telur. Lalu digoreng dalam minyak mendidih.

Cuma bentuknya lebih beraturan, karena menggunakan sendok sayur sebagai cetakan, hingga bentuknya bisa mulus setengah bulatan. Dan untuk ‘finishing’ nya, ote-ote di bagian atasnya diberi seekor udang kecil sebagai pemanis.

(c) ukirsari

Nah, yang disebut Ote-ote Porong, konsepnya sedikit bergeser dari ote-ote umumnya. Sebutlah sebagai suatu terobosan atau kreativitas, hingga menciptakan snack berujud mirip tapi citarasanya lebih kaya.

Sebuah Ote-ote Porong bentuknya lebih ‘raksasa’ dibanding ote-ote biasa. Karena adonan isinya juga beda. Yaitu: sepotong tiram yang dibalut irisan jamur putih, cacahan udang dan kucai lalu dibalur adonan tepung terigu dengan ketebalan tertentu baru disusun ke dalam sendok sayur raksasa untuk digoreng kering. Dihidangkan -mirip dengan ote-ote biasa- cabai hijau utuh.

Karena isinya yang luar biasa itu, kalau ote-ote biasa harganya berkisar 500 – 1.000 perak, maka Ote-ote Porong mencapai Rp 6.500,-

Terakhir kali, saya menikmati jajanan klangenan ini bersama kedua orangtua tercinta, saat Lebaran 3 tahun lalu. Kemudian mencoba versi ‘turunannya’ di Tanah Lot, Bali sekitar 1 setengah tahun lalu. Belum jelas kalau Ote-ote Porong orisinal di Jalan Raya Porong masih buka sampai hari ini, mengingat adanya bencana non-alam lumpur Lapindo.

Visiting Oesau

I do enjoy something i learn from my Dad … pay a visit to war cemeteries and museums and or open museums anywhere we go on travels. So, since I was a kid, going to these places is always great.

(c) ukirsari

Contemplating myself about old, past, histories and heroism and patriotism.

Sometimes histories written by different point of views.

But in other way, the heroic acts always leave something in my heart: how to be brave and struggle against difficult circumstances.

So here I am with Mum at Oesau, west Timor. Pay a visit to the ANZAC Memorial.

* picture courtesy of my mum, R Ngt Ninik Soepijono

This memorial is dedicated to the 2/40th Australian Infantry Battalion Sparrow Force and Timorese people who died in their mission on February 20th, 1942 against Japanese. Known by local as “ANZAC Memorial”.

Even not so many people understand about this small memorial, it’s still worth a visit for us, me and Mum. To commemorate the battle against enemies and contemplating ourselves, how nice to create a world without wars and enemies.

Something that made me feeling bad was about a “cool” graffiti on the left side of the monument. Written in there “yo”. That’s why in taking picture, I block in front of the graffiti, or close it with my palm. Hoping the government will look after this area.

This posting is dedicated to my beloved Dad, passed away February 19th 2007 and the battle of Oesau which held on February 20th, 1942. I love you so much!