berbincang di rumah sendiri

Sebagai pejalan, saya menganggap rumah adalah tempat saya pulang.  Sebuah pohon rindang buat bersarang.

(c) Aftonun Nuha, saya tengah memaparkan pengalaman naik bus ke Ladakh Range, India

Seorang kawan asal Arkansas (AS) yang gemar bepergian ke negeri-negeri Asia serta anak benua India mengungkap, “Rumah adalah tempat menggantung backpack selagi kita tidak bepergian ke tempat-tempat jauh.”

Jadi, bagaimana saya mendefinisikan kepulangan ke Kota Pahlawan kali ini? Kembali ke kamar saya yang dipenuhi koleksi lagu-lagu heavy metal pemusik Canada, Rush dan Brits techno-pop Duran Duran era 1980-an serta buku petualangan Lima Sekawan, sudah pasti.

Menggantung backpack sejenak, benar adanya. Bertemu dengan teman-teman lama, rasanya juga menjadi suatu kewajiban -–di samping rasa rindu juga sudah disemai sejak masih berada jauh dari perimeter bernama ‘rumah’.

Tapi tak kalah penting, adalah sebuah misi yang diselipkan di sana. Untuk menjadi seorang pembicara dalam acara bertajuk National Geographic Traveler’s Backpacking and Street Photography Workshop yang digelar di Convention Hall A, Gramedia Expo, Surabaya.

Saya berbagi soal “Bagaimana menyiapkan diri untuk menjadi seorang pejalan independen” sedang rekan saya, editor foto National Geographic, Reynold Sumayku memberikan kiat tentang “Menjadikan potret makin bermakna lewat pendekatan humanis.”

Yang terjadi dalam seminar mini -–atau saya dan Rey lebih suka menyebutnya sebagai sharing–- adalah presentasi dan tanya-jawab yang hidup, karena dapat mengajak mereka ikut serta sebagai bagian dari makalah yang dibawakan.

Pengalaman menjadi solo backpacker sejak 15 tahun lalu membuat saya leluasa memberikan contoh dan deskripsi tentang hal yang biasa dihadapi seorang pejalan solo atau pejalan independen.

Dan saya menggarisbawahi, betapa interaksi dengan masyarakat lokal menjadi hadiah bagi segala detail persiapan yang telah saya lakukan jauh-jauh hari sebelum memulai sebuah perjalanan.

Tentu saja, landasan saya berbagi adalah pengalaman pribadi, juga pengamatan serta berbagai masukan dan pelajaran yang didapat selama melakukan perjalanan. Karena bagi saya, bepergian secara mandiri telah dilakukan banyak orang, asing maupun negeri sendiri sejak lama.

Dengan cara dan kapasitas berbeda, termasuk mereka yang sudah mendatangi banyak negara di seluruh penjuru dunia. Saya hanya ingin menggugah, tentang keindahan di setiap sudut kota, desa serta seisi negeri –-dimana makna atau hasilnya bisa berbeda, tergantung pada sudut pandang dan ide orisinal si pejalan.

Yang mengharukan, dalam acara ini saya berjumpa dengan Dewi Aryanti, pejalan trip bermotor ke Italia dan Perancis serta Jawa dan Nusa Tenggara. Sosok begitu santun, lembut dan menyenangkan, yang banyak membacai tulisan saya di blog maupun edisi cetak National Geographic Traveler.

Sementara kejahilan dalam konotasi positif saya jumpai pada Ayos Purwoaji, peserta yang gemar menanyai keseharian saya, mulai soal perijinan dari keluarga atas kesukaan saya traveling, sampai bagian sudut kota Surabaya lama mana yang menjadi favorit saya.

Pertanyaan terakhir ini, sulit dijawab. Bukan karena tidak ada, tapi karena begitu banyaknya. Saya dibesarkan dan tumbuh bersama Surabaya, dan nukilan kenangan ada di setiap jengkal tanahnya.

Seperti juga saya menjadikan kedatangan kali ini sebagai momentum bertemu beberapa sahabat semasa SMU; Agus ‘Ampyang’, Dian dan Okto. Lebih dari 20 tahun kami tak berjumpa, hingga jeda antarkegiatan National Geographic Traveler di Surabaya saya manfaatkan untuk bersama mereka.

Termasuk menyantap nasi goreng Gubeng Pojok -–yang semasa kami sekolah harganya Rp 2.500,- per piring-– sampai bermain basket malam hari di SMU Negeri 7.

Semua demi kenangan dan kebersamaan yang sudah lama tak kami dapati. Dan semuanya terasa indah, berlangsung hingga lewat tengah malam. Satuan waktu yang mesti ‘dibayar’ untuk melunasi 20 tahun ketidakhadiran saya atas persahabatan kami yang dimulai dari sekolah.

Esok paginya, kegiatan National Geographic Traveler berlanjut dengan hunting foto di beberapa kawasan historis Surabaya.

Penjelajahan berawal dari Kantor Pos Pusat Jalan Kebon Rojo, menuju gedung Bank Mandiri sampai gedung pemerintahan dengan jam kuno, Tugu Pahlawan dan Gereja Santa Perawan Maria ‘Kelsapa’. Diteruskan area Jembatan Merah, mulai gedung-gedung tua bidang perbankan, bangunan berangka tahun 1880 sampai jembatan bersejarah dan berakhir di daerah Kembang Jepun, mulai gerbang Kya Kya, Jalan Slompretan, gang Bong sampai klenteng di Jalan Coklat.

Di antara langkah para peserta hunting fotografi yang kami selenggarakan, di tengah kemeriahan pasar dadakan seputaran Tugu Pahlawan hingga keanggunan bangunan-bangunan berlanggam kolonial nan jangkung, saya merasai keindahan Surabaya.

Memaknai bahwa setiap kali pulang ke kota ini mempertebal kenangan tentang sebuah kota yang telah membesarkan saya, seperti terlihat di hari ini.

Beberapa buku panduan perjalanan (travel guide) mengungkap; tak banyak yang bisa ditawarkan Surabaya sebagai destinasi wisata. Tapi bagi saya pribadi, semuanya berpulang pada cara masing-masing personal dalam memberikan makna pada sebuah tempat.

Tergantung pada kejelian menangkap momentum di sudut-sudut kota. Karena semua tempat adalah indah. Seperti kata Ampyang; hidup itu indah (dan tentunya sarat makna –-tambahan dari saya).

This posting is dedicated to:

‘rumah’ saya, tercinta Nicholas dan sahabat saya, Ampyang-Dian-Okto

Panitia Surabaya yang penuh energi: ‘Afternoon’ Nuha, Be’de kecil Icha, ‘Sampang Berbahaya’ Adhitama

Panitia Jakarta yang penuh senyum: ‘Cong’ Adit Noto, Purwo Subagiyo, Reynold Sumayku

Seluruh peserta workshop National Geographic Indonesia, terutama Ibu Myke, Dewi Aryanti, Pak Agus dan Pak Poer.

Advertisements

karena kulit kita sama …

Kadang saya merasa sedih dan kesal, saat membaca buku panduan travel –tentunya dibaca berulangkali untuk bekal pendalaman perjalanan, serta bukan ditulis oleh bangsa Indonesia– yang menyebut sapaan ‘Hello Mister‘ adalah hal umum bakal dijumpai pejalan asing atau non-domestik Indonesia bila bepergian ke negeri kita.

Bahkan ada teks foto memuat potret anak-anak Indonesia tengah tertawa polos, dengan keterangan penjelas ‘Hello Mister Brigade‘. Mungkin, maksudnya bukan ‘sedalam’ itu, dalam konteks meremehkan atau merendahkan. Tetapi soal perasaan dan merasa sebagai bagian dari mereka, siapa bisa memperdebatkan urusan hati?

(c) ukirsari, at royal palace, phnom penh, cambodia

Bila dihitung-hitung, sudah berapa lama saya ‘tumbuh dan besar’ di jalan, dalam arti bepergian sebagai pejalan solo [solo traveler] atau sesekali bersama pasangan saya? Rasanya sudah lebih dari 15 tahun.

Dimulai saat sudah memegang uang sendiri –sebagai penulis lepas fiksi dan non-fiksi, penerima jasa membuat kartu ucapan ulang tahun dan bingkisan bagi kalangan teman-teman dekat serta akhirnya menjadi jurnalis– sejak itu pula saya mengalokasikan keuangan saya untuk ditabung membiayai kebutuhan seorang backpacker. Selalu membelanjakan waktu libur untuk dunia yang begitu saya sukai; bepergian atau traveling.

Ibunda saya menyebut, kebiasaan gemar bepergian ini diturunkan dari ayah saya. Beliau bekerja untuk negara di balik kemudi kapal, karena menurutnya, itulah cara ekonomis menjelajahi dunia. Lewat samudra, berbekal sextant dan menghitung jarak dalam nautical miles.

Tapi, siapa yang membawa saya bepergian ketika kecil, salah satu contohnya bertandang ke kompleks Candi Penataran, kediaman serta makam Bung Karno ketika ayah saya tengah berlayar? Itu peran ibu saya.

Lalu, siapa pula yang membolehkan –bahkan menganjurkan– saya dan adik saya bermalam di tenda belakang rumah selagi kami masih kecil? Atau membawa kami bepergian ke Karang Panjang untuk melihat keindahan Teluk Baguala di waktu petang, berpiknik ke Batu Capeo, Pantai Natsepa, Hila, Pulau Haruku, Saparua dan Nusa Laut hampir setiap akhir pekan ketika kami berempat tinggal di Ambon dulu?

Kesimpulannya, kedua orangtua saya tercinta berperan besar ikut membentuk saya menjadi pribadi outdoor yang senang belajar hal-hal baru menyoal budaya setempat di mana saya bepergian. Bisa di luar kota, luar pulau sampai luar negeri.

Dalam konteks yang bisa saya lakukan secara mandiri; berinteraksi dengan penduduk setempat, mengenal tata cara dan kehidupan sosial mereka, belajar berbicara dalam bahasa mereka serta mengerti sejarah mereka tanpa tendensi politik. Hanya kemanusiaan semata.

Lantas, bagaimana dengan interaksi saya di jalan? Sudah pasti dibumbui suka dan duka. Tapi saya lebih senang mengkategorikannya ‘lebih banyak senang dibanding susah atau sedihnya’. Karena lewat sebuah perjalanan –apalagi dalam kapasitas sebagai solo traveler– saya belajar tentang banyak hal. Termasuk makin memahami dan mengerti diri sendiri.

Tentang apa yang saya inginkan dan apa yang tidak. Seperti kompleks percandian serta kota kuno beremblem UNESCO masuk dalam daftar utama perjalanan. Keindahan alam dan fauna menempati peringkat sesudahnya. Pasar pagi dan pasar malam tradisional mendapat prioritas, sedang keramaian macam diskotek adalah sebaliknya.

Sekadar duduk di lounge sebuah hotel bernilai historis serta menikmati minuman signature mereka juga bisa dimasukkan ke dalam daftar, sedang berbelanja cenderamata bukanlah suatu kewajiban.

Kembali ke persoalan ‘Hello Mister‘, dalam kehidupan sebagai pejalan, saya mengalami beberapa kali, berkait bila melakukan perjalanan bersama pasangan tercinta. Di Tanah Air sendiri –sayangnya– perbedaan warna kulit, masih berpotensi mengundang olok-olok.

Seperti contohnya, seorang dewasa begitu antusiasnya mengundang kami ke desanya, cuma ingin memamerkan betapa ia ‘bereputasi andal’ karena bisa punya tamu orang asing, di samping karena keheranan dia sendiri, “Bagaimana bisa, dua orang berbeda warna kulit bisa menyukai suatu hal yang sama (dalam hal ini traveling)?”

Tetap kami berusaha untuk mengerti. Begitu pula, bila ada pertanyaan dan pernyataan jahil menjurus rasis dan pelecehan verbal. Pasangan saya dengan sigap selalu menjawab, “Kedua belah pihak –saya dan dia– punya pekerjaan dan penghasilan tetap, jadi bukan saya pentraktir perjalanan kami. Bahkan kalau kamu perhatikan, kamera dia (saya) lebih mahal dibanding milik saya (padahal kamera saya jenis pocket, tapi memang benar adanya, secara nominal lebih mahal dari milik pasangan saya). Jadi dia mampu membiayai segala aktivitas dan hidupnya sendiri. Kalau kepala kamu berisi nada minor tentang sebuah relasi manusia asal timur dan barat, kebodohan itu adalah milik kamu sendiri!

Dari segala pengalaman kami berdua menyoal kulit itu, tak ada yang masuk hati. Biarlah kesanggupan cara berpikir tiap orang tetap berada dalam kapasitas masing-masing, karena seperti pepatah ‘Sirik tanda tak mampu’ atau ‘Biar anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu’, toh semua kembali pada para penafsir itu. Mau positif atau negatif, terserah saja.

Cuma yang sempat membuat kami mengurut dada, adalah sekelompok anak kecil di bawah usia 10 tahun, di sebuah tepian danau permai, di pulau sebelah barat Indonesia yang bisa-bisanya berucap, “Memangnya Kakak dan ‘Kakak Putih’ dibolehkan orang tua untuk bergaul bersama-sama? ‘Kan agamanya beda?”

Terus terang kami prihatin. Bukannya marah. Mengapa ada orang tua tega mengajarkan perbedaan di usia belia, pada sebuah tataran di mana semangat eksplorasi dan kebersamaan mestinya dipupuk. Mengembangkan wawasan mereka lebih luas, dengan cara yang mudah dipahami anak kecil dan bukannya doktrin serba tahu, serba pintar tapi bernilai nol besar dalam substansi kehidupan bermasyarakat.

Persoalan menyoal kulit bila saya bepergian sendiri, biasanya penuh tawa dan canda, sampai trenyuh karena terasa begitu menyentuh.

Contoh paling konyol, adalah saat bepergian ke India. Setiap kali saya mendengar mereka bertanya, “Nepali ati hai?” selalu disangka asal Nepal. Terbersit dalam hati, bagaimana bila menjawab ‘ya benar’ saja biar mudah? Apalagi bila memasuki kawasan wisata dengan tiket mahal seperti Taj Mahal –karena bisa mendapat diskon lebih dari setengahnya.

Beruntung, saya urungkan niat itu pada detik-detik terakhir, demi melihat seorang perempuan barat yang sudah jelas-jelas menikah dengan lelaki India pun terus ditanyai pathkar (orang asing) atau bukan. Bayangkan bila saya nekat menjawab ‘Haan jee, Nepali ati hai‘; bagaimana nanti mesti menuntaskan wawancara yang dilakukan dalam bahasa Hindi semuanya?

Kenangan lain adalah saat-saat stop-over di Abu Dhabi mengantre penerbangan tujuan London Heathrow atau sebaliknya, menuju Jakarta. Paling tidak, pasti ada satu orang Filipino yang menyapa dalam bahasa Tagalog. Begitu pula saat dalam suatu penerbangan ke London, saya duduk bersebelahan dengan pria asal Manila, berusia sepantaran.

Dia mengobrol basa-basi dalam bahasa Tagalog. Saya menyebut ‘o’ karena heran mengapa dia tak memperhatikan raut wajah saya yang terlihat penuh tanda tanya –maklum, tidak menguasai Tagalog secara fasih. Tapi ia menyangka, saya pasti bersuara ‘o-o‘ yang dalam bahasanya berarti ‘ya’.

Tak tahan, saya bicara lagi dalam bahasa Inggris; bahwa tak mengerti Tagalog. Cuma, saya pernah bepergian ke negerinya dan punya beberapa kawan baik dari sana.

Akhirnya, kami mengobrol menggunakan bahasa internasional. Sampai pesawat mendarat dan kami menjejakkan kaki di Terminal 3. Saat menjabat tangannya, dengan jahil saya berkata, “Maraming salamat, po (terima kasih banyak), mabuhay (hiduplah), ingat (hati-hati),” dia bukannya menjawab tapi malah mengerutkan dahi. “Nah, katamu tidak bisa bercakap-cakap bahasa Tagalog?”

Saya tergelak. Karena saat itu mendekati tahun baru, saya melambaikan tangan dan berseru, “Manigong bagong taon!” Dia hanya bisa geleng-geleng kepala dan menjawab, “Awas ya, kalau kita ketemu lagi.” Saya hanya mengangkat bahu dan tersenyum. Ini hanya gara-gara persoalan kulit serupa.

Tapi kisah paling membekas di hati, adalah saat bepergian ke Phnom Penh, Kamboja beberapa saat lalu. Saya memanfaatkan akhir pekan panjang, memenuhi semacam janji pribadi; sudah beberapa kali berkunjung ke Siem Reap –lokasi percandian Angkor Wat dan Angkor Thom– tapi belum sekalipun menginjakkan kaki di ibukota negeri ini. Dan karena saya mencintai Kamboja, kembalilah saya ke sana.

Beberapa pengemudi tuk tuk –moda transportasi mirip becak tapi ditarik motor, tolong dibedakan dengan tuk tuk versi Thailand– dekat tempat saya menginap di Boddhi Tree del Gusto, tak pernah lelah bertanya. “Malaysia, Malaysia?” Tentu saja saya keberatan. “Non! Indonesie!” Baru mereka berseru, “Oh … ” Dalam hati saya membatin, pada masa pemerintahan Raja Norodom Sihamoni, barangkali nama negara kita tak populer lagi — seperti semasa ayahandanya, Raja Norodom Sihanouk.

Dua staf guest house juga tak dapat menahan diri, “Apakah Anda, maaf, biar saya menebak; dari Japon? Atau China?” saya tersenyum geli. Bagaimana bisa, kulit saya yang gulita ini diasumsikan sebagai keturunan China atau Jepang? Saya menjawab santun, “Saya Indonesie (merujuk cara mereka menyebut Indonesia, mengikuti lafal Perancis. Bila saya menyebutnya dengan akhiran ‘a’, biasanya menimbulkan ketidakmengertian sejenak).”

Salah satu dari staf itu, bernama Smey kontan berseru, “Ah! Bali, Bali!” Saya mengacungkan ibu jari. “Bagus, sudah ke sana?” Sambil tersenyum malu, ia menjawab, “Sayangnya hanya tahu dari TV.” Tetap saja saya merasa senang, karena mereka menaruh perhatian –lewat kulit saya.

Puncak dari kisah seputar kulit saya adalah saat mendaki Phnom Chisor alias Suryadri atau Gunung Matahari, dibangun pada abad ke-11 di masa pemerintahan Raja Suryavarman I –sekitar 37 km dari ibukota Phnom Penh.

Lokasinya mengingatkan saya pada Phnom Bangkeng di Siem Reap, tapi di sini tersedia warung terbuka menjajakan aneka minuman ringan sampai memasakkan makanan mirip warteg dadakan.

Beberapa ibu penjaja merubung saya. Phy, sopir tuk tuk yang setia mengantar sepanjang lawatan keliling kota dan sekitarnya sampai ke puncak bukit, langsung berinisiatif menjadi penterjemah.

(c) ukirsari, a tuk umpow seller

Mula-mula pertanyaan basa-basi; mengapa lebih suka tuk umpow atau es tebu dibanding minuman bersoda (catatan: bagaimana saya tidak doyan tuk umpow, yang sungguh nikmat sebagai thirst quencher? Diperas langsung tanpa tambahan apapun kecuali sedikit air matang, diberi kucuran jeruk manis bercitarasa mirip calamansi dan dibubuhi es batu), sampai berapa umur saya, punya pekerjaan apa dan apakah di kantor mengenakan sarung (sama cara penyebutannya juga sarung) seperti mereka atau tidak.

Semua pertanyaan mendapat jawaban. Sampai akhirnya, seorang ibu tak lagi melihat kepada Phy tapi langsung menatap mata saya dalam-dalam. Berkata panjang lebar dalam bahasa Khmer sembari mengusap-usap kulit saya. Sejenak, pikiran saya melayang pada teks potret di buku travel guide tentang ‘Hello Mr Brigade‘. Apakah para wisatawan barat itu merasa jadi sedemikian penting karena mendapat perlakuan istimewa macam begini?

Terpatah-patah –mungkin takut saya bakal marah, sopir tuk tuk saya berkata, “Kata ibu ini … hmm … mengapa, Anda orang Khmer, tapi tidak mau berbahasa Khmer sedikitpun?”

Tentu saja saya terkesima. Kulit saya dipegang-pegang, bukan karena ada perbedaan, tapi justru karena punya persamaan. “Non, non. Bukan saya tidak mau, tapi tidak bisa. Saya bukan orang Khmer,” jawab saya. Ibu itu, masih terus mengusap-usap tangan saya dan memandangi kulit saya tanpa henti.

“Katakan, sedikit saja bahasa Khmer,” pinta Phy. “Dia mau tahu aksen Anda. Kata beliau, siapa tahu Anda berpura-pura tidak bisa.”

(c) ukirsari, at suryadri, the sun mountain

Ah, mengada-ada. Tapi saya penuhi juga permintaannya. Mencoba kosakata tersering dan paling saya ingat. Apalagi kalau bukan ‘or koon‘ (terima kasih), ‘soksdee‘ (apa kabar) serta ‘chop chop‘ (berhenti. Biasa saya pakai buat menyuruh Phy berhenti bila ingin memotret sesuatu di tengah jalan).

“Naaah … itu bisa! Kulit kamu sama dengan kami, Nak. Kamu pasti punya generasi pendahulu orang Khmer,” ucap ibu itu sebagaimana diterjemahkan Phy. “Kamu ini saudara kami. Coba ceritakan bagaimana kulit orang-orang Indonesie itu.”

Jadilah saya mencari-cari uang kertas di dompet. Bukan untuk dibagi-bagi –karena saya tahu, tujuan percakapan ini curiousity semata. Mereka tak pernah meminta uang, kecuali saya beli barang jualan mereka– tapi buat sarana ‘pelajaran geografi’.

Beruntung, ada selembar Rp 1.000 (bergambar Kapitan Pattimura), Rp 5.000 (Pangeran Diponegoro) dan Rp 10.000 (Sultan Mahmud Badaruddin II). Bisa digunakan mewakili beberapa daerah negeri kita; Kepulauan Maluku, Pulau Jawa dan Sumatra.

Lantas di atas sebidang tanah, di bawah sebatang pohon rindang, dengan bantuan ranting, saya menggambar kepulauan Indonesia, lalu meletakkan ketiga uang kertas di pulau-pulau itu. “Jadi beginilah wajah-wajah orang negeri kami. Tidak serupa persis, karena kondisi geografis serta asal nenek moyang. Makanya, kami punya semboyan ….” keterangan saya ditambah terjemahan Phy membuat mereka mengangguk-angguk mengerti.

Beberapa pendeta Buddha Theravada yang tengah berjalan dekat kami ke ashram di puncak bukit sempat memandang heran, mungkin dikira saya kurang waras, berbicara penuh semangat di tengah siang terik dalam bahasa asing.

“Dan, yang paling penting …,” tambah saya sembari mengingat-ingat dongeng anak-anak dari ayah saya sekaligus buku-buku sejarah yang pernah saya baca, “Nenek moyang saya telah mengadakan pelayaran ke tujuan jauh, berabad-abad lampau. Bahkan di masa kerajaan Majapahit, ada seorang putri Champa yang menikah dengan raja kami di Jawa Timur. Kami menyebutnya Putri Chem-po.”

Tanpa disangka-sangka, seorang ibu penjaja makanan yang kukunya dicat –kata dia beberapa saat kemudian, setelah saya bertanya lewat Phy, itu gara-gara putrinya mendandani saat resepsi pernikahan kerabat mereka dan ia tidak tahu bagaimana cara membersihkannya pakai aceton– mendekati saya dan memegang kedua pipi saya. “Jadi benar kita bersaudara, bukan? ‘Kan sudah dibilang, kulit kita pun sama.”

Saya hanya bisa mengangguk mendengar pernyataan yang begitu tulus serta sederhana. Benar-benar tidak menyangka, bakal diterima begitu hangat di sebuah tempat asing, dekat reruntuhan kuil Raja Suryavarman I, oleh orang-orang sederhana tetapi begitu besar hatinya. Saya mengucap or koon …. sepenuh hati.

battle, east sussex

Angin mendesir di antara dedaun pepohonan english oak (Quercus pedunculata) berwarna keemasan. Menciptakan riap-riap gelombang warna musim gugur nan apik. Hijau tua semu kuning, kekuningan mengarah cokelat muda sampai cokelat matang cenderung oranye karena disaput sinar matahari. Kami berjalan melintas dekat sebuah private school dalam kompleks Battle Abbey. Musim gugur kali ini terasa beda dibanding yang lalu, langit biru cerah tanpa awan kelabu.

(c) ukirsari

Dari dalam sebuah gedung yang tersusun dari batu-batu tebal peninggalan masa silam, samar terdengar paduan suara anak-anak perempuan usia belasan. Plaisir d’Amour, sebuah lagu cinta klasik berbahasa Perancis karya Jean Paul Égide Martini (1741-1816).

Ingatan saya melayang pada salah satu episode Band of Brothers –mini seri kisah tentara penerjun para (paratrooper) Amerika Serikat semasa Perang Dunia II yang dikirim ke pantai-pantai Normandia, Perancis (Omaha Beach dan Utah Beach) dalam penyerbuan berkode ‘Operation Overlord’ melawan pasukan Jerman.

Saat itu –dengan narasi Sersan Carwood Lipton– adalah suatu malam, di mana untuk pertama kalinya pasukan para Amerika Serikat dapat menginap dalam sebuah kompleks gereja, setelah menghabiskan musim dingin berminggu-minggu di pegunungan Ardennes dan Foy. Mereka dihibur paduan suara putri gereja (choir) dengan Plaisir d’Amour.

Lantas Sersan Lipton (yang kemudian mendapat penghargaan kenaikan pangkat menjadi letnan dua) mengucap, betapa sebuah peperangan telah ‘mengambil’ teman-temannya satu peleton. Mulai dari kematian Muck dan Penkala, lalu sepasang sahabat sama-sama kehilangan anggota tubuh mereka; Joe Toye dan Bill Guarnere, sampai Letnan Satu Buck Compton yang mengalami depresi. Ia tak dapat melanjutkan misi sebagai anggota pasukan para, setelah mendapati Toye dan Guarnere meregang sakit di tengah salju, dalam bombardir hujan peluru dan bom pihak musuh.

Tanah tempat kami berpijak saat itu, punya riwayat serupa lereng-lereng pegunungan Ardennes (Belgia) di mini seri Band of Brothers. Juga tak banyak berbeda dengan semua tempat di berbagai penjuru dunia yang menjadi medan peperangan.

Sebuah saksi bisu berupa lahan terbuka diraupi kucuran darah, teriakan heroik serta dibalur semangat patriotisme pihak-pihak pelaku perang. Meninggalkan kepiluan bagi siapa saja yang menyimak babakan selanjutnya. Bahkan, terasa begitu ironis bila disandingkan dengan lagu Plaisir d’Amour.

Kami beruntung karena bertandang ke Battle di hari menjelang peringatan Battle of Hastings. Beberapa tenda bertuliskan English Heritage siap seputar padang rumput. Konon, tempat ini tak disentuh selama berabad-abad, dibiarkan sebagaimana saat pertempuran berlangsung di masa lalu, pada 14 Oktober 1066. Sementara beberapa calon pengisi acara mondar-mandir dengan pakaian perang abad pertengahan. Selintas mengingatkan kami pada komik Perancis, Asterix dan Obelix.

Pada bagian bahu beberapa orang ini, tersampir rubah terbuat dari kain dan bulu-buluan palsu. Sebastien, salah satu dari mereka yang berpakaian pasukan Norman menyebut, dua hari mendatang mereka akan menggelar semacam rekonstruksi peperangan akbar kedua belah pihak, yaitu bangsa Norman dan Anglo-Saxon.

“Jangan bayangkan terlalu serius,” ujarnya sembari menyantap keju yang diambil dari salah satu tenda. “Sama sekali tak ada unsur kekerasan karena panah dan tombak terbuat dari karet. Dan pada hari-hari itu kami juga menerima kunjungan dari kerabat jauh yang sengaja datang dari Perancis. Saya sendiri bukan penduduk asli Battle, tapi senang tinggal di sini pada bulan-bulan menjelang peringatan Battle of Hastings

(c) ukirsari

Nama Battle sebagai kota, dibuat sebagai peringatan pascapeperangan Battle of Hastings yang terjadi pada 14 Oktober 1066. Satu babakan sejarah dituntaskan pada tanggal itu, yaitu saat bangsa Anglo-Saxon (Inggris) mesti berbesar hati menerima kekalahan dari serbuan orang-orang Norman (Perancis).

Tapi di sisi lain, sejarah baru Britania Raya tercipta, dengan terjadinya akulturasi budaya bersama masyarakat Perancis serta negeri-negeri lain di Eropa daratan. Tidak lagi terisolasi dan sebatas membina hubungan dengan negeri-negeri Skandinavia.

Battle sendiri, kini masuk wilayah distrik Rother di East Sussex, England dan berjarak sekitar 79 km dari London. Letaknya diapit beberapa kota tetangga, seperti Bexhill-On-Sea (selatan), Hastings (tenggara), serta Brighton dan Lewes (timur). Populasi penduduk Battle mencapai 6.171 orang berdasar sensus 2007.

Sebagai kota tujuan wisata, Battle menawarkan rekreasi kota tua, gedung bersejarah dan trail napak tilas peperangan akbar antara kaum Norman dan Anglo-Saxon. Rutenya beragam, situs orisinal yang melingkupi Battle Abbey dan medan peperangan Battle of Hastings, sampai lintasan jalan kaki ke luar kota yang merefleksikan perjalanan panjang pasukan Norman masuk ke area ini, melewati estuaria dan tepi lautan.

Pengunjung dengan mudah bisa menemukan beberapa rute, setelah membaca papan penunjuk jalan dekat Battle Abbey; 1066 Country Walk – Pevensey atau 1066 Country Walk – Rye.

Musim gugur ini, kami memilih napak tilas Battle of Hastings. Dari lahan parkir dekat lingkungan bekas gereja Battle Abbey, kami menjejakkan kaki ke Gatehouse –gerbang kompleks gereja– dan membayar retribusi masuk. Berlanjut ke bangunan paling depan dari kompleks, dinamai Abbey Shop.

Di sinilah tempat para wisatawan berbelanja cendera mata sebelum melanjutkan perjalanan ke berbagai situs sejarah kota Battle. Paling diminati, semacam koran bertajuk utama ‘Battle: 1066’. Berisi berita dan gambar historis Battle Abbey dan Battle of Hastings.

Koleksi lainnya, kaos warna kecokelatan bergambar pertempuran antara Raja Harold II dan Raja William sang Penakluk dalam Battle of Hastings, dibubuhi aksara Latin. Adegan itu dicuplik dari Bayeux Tapestry, sebuah sulaman panjang 70 m x lebar 50 cm yang dibuat untuk menggambarkan kemenangan kaum Norman dalam upaya pendudukan England.

Sulamannya sendiri, kini disimpan di Bayeux, Normandia, Perancis. Sedang imitasinya berada di Reading, Berkshire, England. Pada Juni 2007, Bayeux Tapestry ditahbiskan sebagai ‘Memory of World Register’ dari badan dunia UNESCO.

Battle Abbey merupakan gereja yang dibuat Raja William the Conqueror di kota kecil Battle. Sebuah sumber menyebut, pembangunan ini merupakan permintaan Paus Alexander II pada 1070 kepada kaum Norman, yang telah membunuh begitu banyak orang dalam upaya penaklukkan di England –bagian dari Britania atau Inggris Raya. Sebuah negeri yang terdiri atas England, Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara.

Sedang informasi lain menyatakan, Battle Abbey hadir sebagai pemenuhan atas janji Raja William sendiri, yang ia ucapkan di gereja St Valery sur Somme Abbey (Normandia), sebelum menyeberang Selat Inggris.

Setelah ‘masa pembubaran biara’ zaman pemerintahan Raja Henry VIII, Battle Abbey dijadikan rumah pribadi. Sir Thomas Webster, baron pertama klan Webster, membeli Battle Abbey pada 1719. Klan ini memilikinya hingga 1858, lalu dijual pada Lord Harry Vane, Duke of Cleveland.

Kepemilikan berlangsung hingga 1901, kemudian dialihkan kepada Sir Augustus Webster, baron ketujuh dalam silsilah klan Webster. Fungsi sebagai wahana religi pun berubah. Bekas gereja ini pernah menjadi sekolah putri berasrama, juga pangkalan tentara Kanada selama Perang Dunia II.

Mulai 1976, Battle Abbey resmi menjadi milik pemerintah Inggris dan sekarang menjadi bagian dari badan English Heritage.

Tak jauh dari kompleks gereja, terdapat prasasti peringatan Raja Harold yang diberikan pihak Perancis pada 1903. Seolah bukti kedua negara tak ingin berseteru setelah peperangan Battle of Hastings berakhir, di sana tertera Diex Aie … le brave Harold le Saxon … a’la Grańde Bretagnela Loi Normande. Lantas di belakangnya, pepohonan perdu berderet rapat dan dipangkas rapi. Dibentuk mirip lorong-lorong hijau yang meneduhkan jiwa, selagi kaki melangkah menyusurinya.

> london underground <

PEJALAN PUN MESTI BERGEGAS

Larut bersama sistem metro bawah tanah tertua di ibukota medieval Britania Raya.

Membincangkan London Underground tak ubahnya larut bersama denyut kehidupan para penghuni kota dan pelaju (commuter) yang tinggal di seantero kawasan Greater London.

(c) ukirsari

Kesibukan senantiasa ada di stasiun-stasiun metro bawah tanah itu. Seperti para seniman mengamen dekat eskalator pakai gitar dan biola dengan case terbuka berisi lemparan koin, selebaran dan surat kabar dibagikan gratis, serta derap kaki para pekerja dan pejalan mulai pukul 04.30 sampai 01:30 pagi hari berikutnya.

Wahana transportasi massa yang juga akrab disebut ‘Tube’ ini telah menjadi bagian integral dari kehidupan dan keseharian masyarakat London. Simak kumpulan 9 film pendek Inggris bertajuk Tube Tales (1999).

Atau cara orang lokal menyebut alamat mereka, semisal Matt Lucas –penulis naskah dan bintang utama Little Britain bersama David Walliams- dalam sebuah wawancara BBC menyebutkan, “Saya tinggal di kawasan suburban, akhir trayek (Underground) Jubilee Line.”

Keberadaan sistem metro bawah tanah itu telah menjadi penjelas atau penanda lokasi tertentu. Merunut fungsinya sebagai penghubung London dengan kota-kota sekitar, seperti Essex, Hertforshire dan Buckinghamshire.

London Underground tercatat sebagai kereta bawah tanah tertua di dunia, yang mulai beroperasi pada 1863 sekaligus sistem metro pertama dengan kereta elektrik. Saat ini terbagi menjadi 11 jalur dan 268 stasiun, memiliki total trek 400 km –juga terpanjang dalam sejarah.

Kereta Underground sendiri dioperasikan komputer dan biasanya tanpa pengemudi. Tapi ada petugas Passenger Service Agent (PSA) yang berpatroli mengawasi jalannya rute, mengecek tiket sampai mengontrol pintu untuk menjaga keselamatan penumpang.

Berdasar data www.trainweb.org, pengguna harian Underground mencapai sekitar 2,7 juta orang. Masyarakat setempat menjulukinya sebagai ‘tube’ berdasar bentuk terowongannya. Uniknya, meski disebut ‘underground’ sekitar 55% jaringannya berada di atas tanah. Ada dua tipe jalur yang digunakan, sub-surface (sekitar 5 m di bawah tanah) dan deep-level (sekitar 20 m dari muka tanah).

Pada 1854, ada enam jalur terpisah yang beroperasi di luar London City; London Bridge, Euston, Paddington, King’s Cross, Bishopsgate dan Waterloo. Cuma stasiun Fenchurch Street yang benar-benar berlokasi dalam kota.

Kebutuhan pejalan akan transportasi di tengah kota sekaligus bertambahnya jumlah penduduk melahirkan ide membangun jalur bawah tanah yang direalisasikan pada 1863. Seiring bertambahnya penumpang, pada 1908 para operator kereta sepakat memasarkan jasa bersama-sama dengan nama Underground.

(c) ukirsari

Cakupannya Bakerloo Railway, Central London Railway, the City & South London Railway, District Railway, Great Northern & City Railway dan Hampstead Railway, Metropolitan Railway dan Piccadilly Railway. Logo Underground didesain Edward Johnston (1913) berupa lingkaran biru merah dengan garis horizontal dan dikenal sebagai ‘the roundel‘.

Layanan Underground sudah bisa dinikmati sejak kaki melangkah keluar bandara Heathrow. Sebenarnya ada layanan Heathrow Express langsung dari bandara ke stasiun London Paddington.

Tapi kami memilih naik bus gratis dari Terminal 3 sampai stasiun Underground Hatton Cross. Dari sana, cukup berbekal One-day Travelcard siap sudah kami melaju di jalur Piccadilly Line untuk bertualang di London.

Bagi para pejalan yang tak harus melakukan perjalanan pada periode sibuk pagi hari, One-day Travelcard merupakan pilihan jitu. Harganya sekitar £5.50 (Rp 94.600) untuk pemakaian tidak terbatas mulai jam 09:30 sampai tengah malam.

Pilihan lain adalah London Underground Oyster Card. Mirip tiket Underground, Oyster Card dapat digunakan untuk bus, trem serta Docklands Light Railway (DLR). Ujudnya mengingatkan saya pada kartu EZ-link di Singapura yang berlaku untuk MRT, bus sampai paket makanan di kedai cepat saji.

Destinasi wisata sekitar stasiun-stasiun Underground tersedia cukup banyak. Stasiun Tower Hill (jalur District Line dan Circle Line) bisa disodorkan sebagai wacana.

Cuma beberapa langkah di belakang stasiun, terdapat monumen para pelaut Inggris yang gugur kurun 1914 – 1918.  Lantas kastil Tower of London, saksi bisu sejarah penuh darah dari kerajaan Britania Raya. Berikutnya, Tower Bridge dan cukup berjalan satu blok ke Fenchurch Street, bakal dijumpai stasiun kereta National Rail C2C yang siap mengantar penumpang ke kawasan luar London seperti Laindon, Basildon, Leigh-on-Sea sampai Shoeburyness. Atau pilih jalur DLR dan pejalan siap menuju Chelsea atau Greenwich.

Pengalaman di atas Underground sendiri juga penuh romantika. Seperti temperatur ‘mirip sauna’ di musim panas, karena kurang berfungsinya sistem pendingin ruang ditambah padatnya penumpang. Atau musim dingin, tubuh jadi cepat menghangat karena banyaknya orang ditambah baju hangat berlapis-lapis sebagai pelindung dari udara luar.

Musim gugur lalu, saat menaiki Underground jalur Piccadilly Line, kereta sempat terhenti sejenak dan terdengar pengumuman, ‘Dilarang bersandar pada pintu atau kereta Anda tak dapat melanjutkan perjalanan karena alasan keselamatan’. Sebuah bukti membeludaknya pengguna Underground di saat yang sama.

Di sisi lain, bepergian menggunakan Underground juga memberikan konsekuensi manajemen waktu. Perlu alokasi sekian menit untuk bisa masuk dan keluar stasiun bawah tanah. Juga perkiraan jam-jam sibuk atau padat, hingga mesti antre keberangkatan pada menit berikutnya.

Karena itu, sesama pejalan selalu membagi tips, “Bila tujuan Anda hanya terpaut dua stasiun, lebih baik jalan kaki saja biar hemat waktu.”

Jadi, marilah bergegas!

Logistik:

Tiket Tube dapat diperoleh di setiap stasiun Underground; telp: 0845 330 9880 (08:00-20:00, setiap hari dalam sepekan); alamat pos Customer Service Centre, London Underground, 55 Broadway, London SW1H 0BD; tautan Underground http://www.tfl.gov.uk/; pembelian Oyster Card online http://www.tfl.gov.uk/tickets/faresandtickets/visitortickets/5181.aspx; tautan kereta National Rail http://www.c2c-online.co.uk

Info:

11 Jalur London Underground

Bakerloo Line (cokelat), Central Line (merah), Circle Line (kuning), District Line (hijau), East London Line (oranye), Hammersmith & City Line (pink), Jubilee Line (silver), Metropolitan Line (ungu), Northern Line (hitam), Piccadilly Line (biru tua), Victoria Line (biru muda)

Zona pemakaian Underground

Zona 1 adalah pusat kota, antara Circle Line
Zona 6 adalah batas terluar London sampai bandara Heathrow
Zona 7 – 9 adalah jalur-jalur di luar Greater London

Destinasi wisata berdekatan dengan stasiun London Underground

Bank station: Bank of England
Charing Cross station: Trafalgar Square, Nelson’s Column, St Martin-in-the-Fields church, National Gallery
Covent Garden station: Covent Garden Market, Royal Opera House, Theatre Royal Drury Lane
Embankment station: Victoria Embankment Gardens
Green Park station: Spencer House
Hyde Park Corner station: Hyde Park, War Memorial, Apsley House
Knighstbridge station: Harrods
Marble Arch station: Marble Arch
Oxford Circus station: London Palladium
Piccadilly Circus station: Eros statue
Sloane Square station: Royal Court Theatre
South Kensington station: Victoria & Albert Museum, Natural History Museum
Southwark station: Young Vic Theatre
St Paul’s station: St Paul’s Cathedral, Tate Modern, Millenium Bridge
St James’s Park station: Buckingham Palace, Guards’ Museum
Tower Hill station: Tower of London, Tower Bridge
Victoria station: Victoria Palace
Westminster station: Houses of Parliament, Westminter Abbey
Waterloo station: Old Vic Theatre

* dimuat di majalah  National Geographic Traveler Indonesia, vol 1 edisi 2, 2009 *

membaca buku

(c) ukirsari

Scene 1

Ting!” elevator di lantai 1 membuka dan saya melangkah masuk. Menenteng daypack seperti biasa serta menenteng buku tebal. Berbarengan, masuk rekan-rekan seperusahaan.

“Mau jalan-jalan lagi, Rie? Kali ini ke mana?” sapa seseorang.

Glek! “Hmm, cuma lagi baca-baca dulu.” saya menjawab sembari keheranan.

Scene 2

Ting!” elevator di lantai dasar membuka dan saya melangkah ke luar. Menenteng daypack, kebutuhan shooting hari itu -yang ditenteng di tangan, tentu saja yang kategorinya kecil-kecil, seperti clipper, bundel script, topi dan buku teman perjalanan ke lokasi.

Ada lagi beberapa kenalan seperusahaan yang berpapasan di depan pintu elevator. Beberapa orang menyapa, “Mau pergi lagi, Rie? Kapan?”

Hah?!!!

Oh, don’t get me wrong. I feel so flattered with all of these questions. When and where you’ll start your travel again -by reading those travel books. But in my very simple way of thinking … is that a real trade-mark [of mine], whenever they see me carry my travel book [s] it always means I’ll be fly soon afterwards?

Soal bookworm, saya akui benar adanya. Apalagi sebagai seseorang yang kerap bepergian untuk sebuah penugasan ataupun dalam membelanjakan waktu libur. Sebuah buku ditenteng atau masuk ke dalam daypack, rasanya sebuah kebutuhan yang tak bisa ditawar. Utamanya bila bepergian sendiri. Demikian juga Nicholas.

Tapi ketika bepergian berdua, buku bawaan akhirnya lebih sering tak selesai dibaca karena kami lebih sering mengisi waktu luang di bandara atau tempat menunggu moda transportasi umum dengan aktivitas lain yang bisa dilakukan bersama.

Seperti mengamati runway di bandara –soal satu ini, saya mengagumi kecintaan Nicholas yang begitu besar pada dunia aviation— untuk tebak-tebakan pesawat yang take-off atau landing, jenisnya, buatan mana, sampai berapa lama kira-kira untuk sebuah delay. Atau bermain ‘yahtzee‘ alias kocok lima dadu yang juga senantiasa kami bawa sebagai teman perjalanan.

Buku kumpulan cerpen Seorang Perempuan yang Jatuh Cinta kepada Laut –salah satu bacaan saya– serta Java Spider –salah satu bacaan Nicholas– termasuk dua buku yang sangat lama selesai dibaca oleh kami berdua.

Meski demikian, ada juga buku yang selalu kami lahap. Baik sebelum memulai perjalanan, saat berlangsungnya liburan bahkan sesudahnya. Yaitu travel book [s] tadi.

Saking tebalnya, kadang kami memfungsikannya sebagai bantal darurat dalam perjalanan. Semisal saat naik ferry [sekitar 5 – 6 jam] menyeberang perairan Jepara ke Kepulauan Karimunjawa, saat naik kapal Pelni ke Kumai [Kalimantan] sampai saat bermalam di rumah kepala desa di Loksado [6 jam dari Banjarmasin] ketika sebuah dusun dengan masyarakat Hindu Kaharingan menggelar upacara Jujuran.

Buku-buku panduan perjalanan itu jugalah yang saya tenteng masuk lift atau elevator. Karena saya selalu ingin tahu, sekaligus mempelajari daerah yang akan dituju –terlebih bila saya belum pernah sekalipun ke sana.

Dengan membaca lebih dulu, saya bisa mempelajari lebih lama, membuat analisa, mencari info lebih lanjut, mempersiapkan diri dan perlengkapan, hingga saat bepergian tiba sudah dapat mengingat sebagian besar isi bukunya. Jadi saya tak perlu repot-repot lagi membuka halaman demi halaman lagi, cukup cross-check di halaman sekian-sekian, termasuk petanya.

Dengan begini, bagi saya, perjalanan dapat berlangsung lebih efisien sekaligus bisa memotivasi semangat, karena hal-hal menarik sudah tercantum di kepala dan tinggal diaplikasikan secara visual.

Ini menjadi keasyikan sendiri. Apalagi kalau point of interest yang dimaksud sudah mengalami perubahan, terlihat berbeda atau tidak sama dengan informasi yang diberikan. Hal demikian bisa diteruskan kepada pihak penerbit supaya mereka juga bisa terus update.

Gara-gara kejelian dalam ‘membaca’ situasi dan kondisi terbaru dari tempat kunjungan yang saya datangi lalu memberikan reportase pembetulan di sana-sini pada halaman-halaman buku panduan perjalanan saya, nama saya dicantumkan pada ‘thank you page’ buku Lonely Planet: Indonesia edisi 2006.

Yang lebih mengasyikkan adalah Rough Guides. Beberapa kali menggunakan produk penerbit ini dan selalu memberikan feedback, saya dikirimi buku panduan perjalanan terbitan mereka sebagai ucapan terima kasih. Buku Rough Guides saya untuk Laos dan Vietnam adalah gratis. Asal judul yang diminta ada -diberikan tanpa perlu saya bayar, sebagai rasa terima kasih pihak penerbit terhadap input pengguna– mereka akan memberikannya segera.

Jadi sebutlah, memberikan semacam review dan diberi buku sebagai hasil keuletan menyajikan update info tadi. Asyik, ‘kan?

Tapi, balik lagi ke soal bookworm tadi, tentunya bukan sebatas travel book membuat mata kami ‘hijau’ saat melihatnya di display toko atau saat dipasarkan di internet. Kisah fiksi, aneka perjalanan [lagi-lagi traveling] sampai true story bisa membuat saya dan Nicholas keasyikkan membaca.

Dan uniknya, kalau menyukai satu buku kami bisa membaca berulangkali. Misalnya seperti Our Hotel in Bali, Historical Sites of Jakarta karya Pater Adolf J. Heuken, The Enemy of the Gates: The Battle of Stalingrad, D-Day in Berlin, Long Way Down serta buku perjalanan Michael Palin.Satu hal lagi yang lucu, bila saat traveling kami kangen membaca dan merasa cukup dengan bacaan pendek alias bukan buku, segala macam majalah dan suratkabar bisa menjadi sasaran.

Bila dalam penerbangan, in-flight magazine lah yang dipilih. Mata kami akan berbinar-binar, bila kebetulan salah satu artikel yang ada di sana adalah karya saya dan atau kami berdua.

Kalau maskapai penerbangan –apalagi penerbangan domestik– membagikan suratkabar gratis, pilihan utama kami akan jatuh pada koran lokal. Paling mengasyikkan, bila salah satu topik yang diangkat berhubungan dengan tourist spot yang akan atau baru saja kami kunjungi. Apalagi bila temanya wild nature.

Di tempat liburan, kadang kami ‘menggeratak’ library yang disediakan di lobby penginapan. Buku-buku dan majalah-majalah ‘peninggalan’ para tamu sebelumnya juga jadi perhatian, karena siapa tahu kami dapat ide dari sana. Meski kadang bahasanya tidak kami mengerti secara utuh.

Free magazine dan free newspaper lokal dari area wisata di mana kami tengah berada turut kami masukkan dalam daftar bacaan. Biasanya jenis ini kami dapatkan saat berbelanja ke supermarket atau santap malam di cafe setempat. Selain jadi bahan bahasan, kadang juga potensial jadi bahan lelucon kami berdua -yang tentu saja diobrolkan dengan ‘gaya berbincang kami’.

Kembali lagi ke persoalan suka membaca, meski majalah dan koran terbilang sangat mudah ditenteng -dibanding buku tebal- kami berdua bukanlah tipe orang yang doyan ‘menimbun’ bahan bacaan di toilet.

Alasannya sederhana, namanya toilet pasti rawan didatangi baksil dan kuman dari feces yang begitu mudah meruap di udara dan bisa mengendap di mana saja. Termasuk di lembar-lembar kertas. Demikian juga dengan cipratan air yang bisa melejit ke mana saja.

Kalau sudah kejadian begini dan majalah atau koran dibawa masuk kembali ke ruang pribadi atau ruang komunal di rumah, siapa bisa menanggung kondisinya bebas baksil-kuman? Hiiiiiii!!!

susahnya jadi independent traveler dari indonesia

have you ever think about this seriously … being an independent traveler, a backpacker, solo backpacker with bold label, sticker on your forehead “made in indonesia” alias … “aku ini orang indonesia yang ingin melanglangbuana sebagai petualang independent”?

first comes out from the mouths [of people] about me as a girl, “mengapa sendirian, kamu perempuan lagi?” that’s okay, i can manage an answer that sounds cool even so strange in their ears. simplify i can say, “if everybody else can go, i can do the same, can’t i?”

second, about a very important thing in front of my nose. yes, my rabbit nose as beloved nicholas call me sometimes if he miss me a lot [thanks being so sweet as always, sweetheart]. i have to be brave and keep smiling, even i lost my valuable usd100 before departure. or “satu juta rupiah” in the name of, “lady, you must pay uang fiskal a.k.a fiscal to leave your country.”

excuse me … this is my country, so in what purpose i have to lose my [valuable] money, big grant … only in the name “fiskal”? can i have a very detail explaination to where my money will ‘flowing’ [going in]? and in what point i have to lose a sum of money from my pocket where i can use it for more important thing abroad, such as for accommodation [oh yeah … even in west europe, it’s still meaningful, since i can find a dormitory for usd25 per day! and imagine if i travel in south east asia. my lovely room, with wooden panels and ceiling and bathtub with hot shower in luang phabang cost usd20 and my stay in macau at auguster’s cost mop80] and nice meals.

and if said it will be distributed to the government body that look after the airport, well … soekarno-hatta airport stays the same as always. and my beloved nicholas, even he can talk a bloody good bahasa indonesia, sometimes an officer greetings him, “do you have something for me?” *pfuiihhhhh* nonsense assumption if going through “there”.

another explaination saying, “this usd100 to make the citizen thinking twice if they want to go abroad.” oh, this is more ‘interesting’. thinking twice? how if the condition i take abroad destination caused local destinations more expensive than to go abroad? still hanging like an old ‘anecdote’ … “mau jalan-jalan di negeri sendiri kok masih susah.”

third … worse than that … as independent solo backpacker, i need sponsorship letter to have visa from “popular destinations” throughout united states of america and europe destinations. oh boy! return tickets and deposits in the bank means nothing [unless i have sums of idr 50 million, minimum!].

as a person who didn’t like play ‘game’ as i wrote above [is this so called part of bureaucracy and or a non-ending-labyrinth?] i don’t like to get into this situation. imagine, return tickets means i will back to my country. if happened long long time ago and before –the embassies count the ‘history’– that several indonesians can be ‘runaway’ and decided to get out of country in working purpose [without any working visa], the person is not me. so … please don’t make it as the same case, sir! please treat every person within personal way and use ‘scanners’ in your brain and mind!

and the word ‘sponsorship letter’ sounds i need a help to be supported. same question, for what purpose? for me, it’s equal with i have to be a dependent person [even towards the person i really love! you know, if i love somebody, i always do it as unconditional thing. so, ask him to do this in the name of ‘the rule mentioned sponsorship letter’ is absolutely unfair].

then, if sponsorship letter comes out from a company where i am working, oh … gimme a break. the embassies need annual profit report of the company, as a prove they are eligible to pay my salary, therefore i don’t need to runaway to find a better job abroad.

*rolleyes* everything sounds funny for me.

see that? difficult, lots of pain and i feel treated as non-equal-non-existant person by a thing called bureaucracy. but in the other hand … i [also beloved nicholas] always love travels. maybe all of these difficultness counted as parts of the travel itself? we do believe in karma!

(c) ukirsari

Ote-ote von Porong, Sebuah Camilan Nostalgia

Ote-ote [bahasa Jawa Timuran] mirip dengan bakwan atau bala-bala dalam khazanah goreng-gorengan pinggir jalan yang biasa dijumpai di Ibukota.

Terbuat dari rajangan kol, wortel, kucai atau daun bawang, tauge dan diaduk dengan campuran tepung terigu, air serta telur. Lalu digoreng dalam minyak mendidih.

Cuma bentuknya lebih beraturan, karena menggunakan sendok sayur sebagai cetakan, hingga bentuknya bisa mulus setengah bulatan. Dan untuk ‘finishing’ nya, ote-ote di bagian atasnya diberi seekor udang kecil sebagai pemanis.

(c) ukirsari

Nah, yang disebut Ote-ote Porong, konsepnya sedikit bergeser dari ote-ote umumnya. Sebutlah sebagai suatu terobosan atau kreativitas, hingga menciptakan snack berujud mirip tapi citarasanya lebih kaya.

Sebuah Ote-ote Porong bentuknya lebih ‘raksasa’ dibanding ote-ote biasa. Karena adonan isinya juga beda. Yaitu: sepotong tiram yang dibalut irisan jamur putih, cacahan udang dan kucai lalu dibalur adonan tepung terigu dengan ketebalan tertentu baru disusun ke dalam sendok sayur raksasa untuk digoreng kering. Dihidangkan -mirip dengan ote-ote biasa- cabai hijau utuh.

Karena isinya yang luar biasa itu, kalau ote-ote biasa harganya berkisar 500 – 1.000 perak, maka Ote-ote Porong mencapai Rp 6.500,-

Terakhir kali, saya menikmati jajanan klangenan ini bersama kedua orangtua tercinta, saat Lebaran 3 tahun lalu. Kemudian mencoba versi ‘turunannya’ di Tanah Lot, Bali sekitar 1 setengah tahun lalu. Belum jelas kalau Ote-ote Porong orisinal di Jalan Raya Porong masih buka sampai hari ini, mengingat adanya bencana non-alam lumpur Lapindo.