berbincang di rumah sendiri

Sebagai pejalan, saya menganggap rumah adalah tempat saya pulang.  Sebuah pohon rindang buat bersarang.

(c) Aftonun Nuha, saya tengah memaparkan pengalaman naik bus ke Ladakh Range, India

Seorang kawan asal Arkansas (AS) yang gemar bepergian ke negeri-negeri Asia serta anak benua India mengungkap, “Rumah adalah tempat menggantung backpack selagi kita tidak bepergian ke tempat-tempat jauh.”

Jadi, bagaimana saya mendefinisikan kepulangan ke Kota Pahlawan kali ini? Kembali ke kamar saya yang dipenuhi koleksi lagu-lagu heavy metal pemusik Canada, Rush dan Brits techno-pop Duran Duran era 1980-an serta buku petualangan Lima Sekawan, sudah pasti.

Menggantung backpack sejenak, benar adanya. Bertemu dengan teman-teman lama, rasanya juga menjadi suatu kewajiban -–di samping rasa rindu juga sudah disemai sejak masih berada jauh dari perimeter bernama ‘rumah’.

Tapi tak kalah penting, adalah sebuah misi yang diselipkan di sana. Untuk menjadi seorang pembicara dalam acara bertajuk National Geographic Traveler’s Backpacking and Street Photography Workshop yang digelar di Convention Hall A, Gramedia Expo, Surabaya.

Saya berbagi soal “Bagaimana menyiapkan diri untuk menjadi seorang pejalan independen” sedang rekan saya, editor foto National Geographic, Reynold Sumayku memberikan kiat tentang “Menjadikan potret makin bermakna lewat pendekatan humanis.”

Yang terjadi dalam seminar mini -–atau saya dan Rey lebih suka menyebutnya sebagai sharing–- adalah presentasi dan tanya-jawab yang hidup, karena dapat mengajak mereka ikut serta sebagai bagian dari makalah yang dibawakan.

Pengalaman menjadi solo backpacker sejak 15 tahun lalu membuat saya leluasa memberikan contoh dan deskripsi tentang hal yang biasa dihadapi seorang pejalan solo atau pejalan independen.

Dan saya menggarisbawahi, betapa interaksi dengan masyarakat lokal menjadi hadiah bagi segala detail persiapan yang telah saya lakukan jauh-jauh hari sebelum memulai sebuah perjalanan.

Tentu saja, landasan saya berbagi adalah pengalaman pribadi, juga pengamatan serta berbagai masukan dan pelajaran yang didapat selama melakukan perjalanan. Karena bagi saya, bepergian secara mandiri telah dilakukan banyak orang, asing maupun negeri sendiri sejak lama.

Dengan cara dan kapasitas berbeda, termasuk mereka yang sudah mendatangi banyak negara di seluruh penjuru dunia. Saya hanya ingin menggugah, tentang keindahan di setiap sudut kota, desa serta seisi negeri –-dimana makna atau hasilnya bisa berbeda, tergantung pada sudut pandang dan ide orisinal si pejalan.

Yang mengharukan, dalam acara ini saya berjumpa dengan Dewi Aryanti, pejalan trip bermotor ke Italia dan Perancis serta Jawa dan Nusa Tenggara. Sosok begitu santun, lembut dan menyenangkan, yang banyak membacai tulisan saya di blog maupun edisi cetak National Geographic Traveler.

Sementara kejahilan dalam konotasi positif saya jumpai pada Ayos Purwoaji, peserta yang gemar menanyai keseharian saya, mulai soal perijinan dari keluarga atas kesukaan saya traveling, sampai bagian sudut kota Surabaya lama mana yang menjadi favorit saya.

Pertanyaan terakhir ini, sulit dijawab. Bukan karena tidak ada, tapi karena begitu banyaknya. Saya dibesarkan dan tumbuh bersama Surabaya, dan nukilan kenangan ada di setiap jengkal tanahnya.

Seperti juga saya menjadikan kedatangan kali ini sebagai momentum bertemu beberapa sahabat semasa SMU; Agus ‘Ampyang’, Dian dan Okto. Lebih dari 20 tahun kami tak berjumpa, hingga jeda antarkegiatan National Geographic Traveler di Surabaya saya manfaatkan untuk bersama mereka.

Termasuk menyantap nasi goreng Gubeng Pojok -–yang semasa kami sekolah harganya Rp 2.500,- per piring-– sampai bermain basket malam hari di SMU Negeri 7.

Semua demi kenangan dan kebersamaan yang sudah lama tak kami dapati. Dan semuanya terasa indah, berlangsung hingga lewat tengah malam. Satuan waktu yang mesti ‘dibayar’ untuk melunasi 20 tahun ketidakhadiran saya atas persahabatan kami yang dimulai dari sekolah.

Esok paginya, kegiatan National Geographic Traveler berlanjut dengan hunting foto di beberapa kawasan historis Surabaya.

Penjelajahan berawal dari Kantor Pos Pusat Jalan Kebon Rojo, menuju gedung Bank Mandiri sampai gedung pemerintahan dengan jam kuno, Tugu Pahlawan dan Gereja Santa Perawan Maria ‘Kelsapa’. Diteruskan area Jembatan Merah, mulai gedung-gedung tua bidang perbankan, bangunan berangka tahun 1880 sampai jembatan bersejarah dan berakhir di daerah Kembang Jepun, mulai gerbang Kya Kya, Jalan Slompretan, gang Bong sampai klenteng di Jalan Coklat.

Di antara langkah para peserta hunting fotografi yang kami selenggarakan, di tengah kemeriahan pasar dadakan seputaran Tugu Pahlawan hingga keanggunan bangunan-bangunan berlanggam kolonial nan jangkung, saya merasai keindahan Surabaya.

Memaknai bahwa setiap kali pulang ke kota ini mempertebal kenangan tentang sebuah kota yang telah membesarkan saya, seperti terlihat di hari ini.

Beberapa buku panduan perjalanan (travel guide) mengungkap; tak banyak yang bisa ditawarkan Surabaya sebagai destinasi wisata. Tapi bagi saya pribadi, semuanya berpulang pada cara masing-masing personal dalam memberikan makna pada sebuah tempat.

Tergantung pada kejelian menangkap momentum di sudut-sudut kota. Karena semua tempat adalah indah. Seperti kata Ampyang; hidup itu indah (dan tentunya sarat makna –-tambahan dari saya).

This posting is dedicated to:

‘rumah’ saya, tercinta Nicholas dan sahabat saya, Ampyang-Dian-Okto

Panitia Surabaya yang penuh energi: ‘Afternoon’ Nuha, Be’de kecil Icha, ‘Sampang Berbahaya’ Adhitama

Panitia Jakarta yang penuh senyum: ‘Cong’ Adit Noto, Purwo Subagiyo, Reynold Sumayku

Seluruh peserta workshop National Geographic Indonesia, terutama Ibu Myke, Dewi Aryanti, Pak Agus dan Pak Poer.

karena kulit kita sama …

Kadang saya merasa sedih dan kesal, saat membaca buku panduan travel –tentunya dibaca berulangkali untuk bekal pendalaman perjalanan, serta bukan ditulis oleh bangsa Indonesia– yang menyebut sapaan ‘Hello Mister‘ adalah hal umum bakal dijumpai pejalan asing atau non-domestik Indonesia bila bepergian ke negeri kita.

Bahkan ada teks foto memuat potret anak-anak Indonesia tengah tertawa polos, dengan keterangan penjelas ‘Hello Mister Brigade‘. Mungkin, maksudnya bukan ‘sedalam’ itu, dalam konteks meremehkan atau merendahkan. Tetapi soal perasaan dan merasa sebagai bagian dari mereka, siapa bisa memperdebatkan urusan hati?

(c) ukirsari, at royal palace, phnom penh, cambodia

Bila dihitung-hitung, sudah berapa lama saya ‘tumbuh dan besar’ di jalan, dalam arti bepergian sebagai pejalan solo [solo traveler] atau sesekali bersama pasangan saya? Rasanya sudah lebih dari 15 tahun.

Dimulai saat sudah memegang uang sendiri –sebagai penulis lepas fiksi dan non-fiksi, penerima jasa membuat kartu ucapan ulang tahun dan bingkisan bagi kalangan teman-teman dekat serta akhirnya menjadi jurnalis– sejak itu pula saya mengalokasikan keuangan saya untuk ditabung membiayai kebutuhan seorang backpacker. Selalu membelanjakan waktu libur untuk dunia yang begitu saya sukai; bepergian atau traveling.

Ibunda saya menyebut, kebiasaan gemar bepergian ini diturunkan dari ayah saya. Beliau bekerja untuk negara di balik kemudi kapal, karena menurutnya, itulah cara ekonomis menjelajahi dunia. Lewat samudra, berbekal sextant dan menghitung jarak dalam nautical miles.

Tapi, siapa yang membawa saya bepergian ketika kecil, salah satu contohnya bertandang ke kompleks Candi Penataran, kediaman serta makam Bung Karno ketika ayah saya tengah berlayar? Itu peran ibu saya.

Lalu, siapa pula yang membolehkan –bahkan menganjurkan– saya dan adik saya bermalam di tenda belakang rumah selagi kami masih kecil? Atau membawa kami bepergian ke Karang Panjang untuk melihat keindahan Teluk Baguala di waktu petang, berpiknik ke Batu Capeo, Pantai Natsepa, Hila, Pulau Haruku, Saparua dan Nusa Laut hampir setiap akhir pekan ketika kami berempat tinggal di Ambon dulu?

Kesimpulannya, kedua orangtua saya tercinta berperan besar ikut membentuk saya menjadi pribadi outdoor yang senang belajar hal-hal baru menyoal budaya setempat di mana saya bepergian. Bisa di luar kota, luar pulau sampai luar negeri.

Dalam konteks yang bisa saya lakukan secara mandiri; berinteraksi dengan penduduk setempat, mengenal tata cara dan kehidupan sosial mereka, belajar berbicara dalam bahasa mereka serta mengerti sejarah mereka tanpa tendensi politik. Hanya kemanusiaan semata.

Lantas, bagaimana dengan interaksi saya di jalan? Sudah pasti dibumbui suka dan duka. Tapi saya lebih senang mengkategorikannya ‘lebih banyak senang dibanding susah atau sedihnya’. Karena lewat sebuah perjalanan –apalagi dalam kapasitas sebagai solo traveler– saya belajar tentang banyak hal. Termasuk makin memahami dan mengerti diri sendiri.

Tentang apa yang saya inginkan dan apa yang tidak. Seperti kompleks percandian serta kota kuno beremblem UNESCO masuk dalam daftar utama perjalanan. Keindahan alam dan fauna menempati peringkat sesudahnya. Pasar pagi dan pasar malam tradisional mendapat prioritas, sedang keramaian macam diskotek adalah sebaliknya.

Sekadar duduk di lounge sebuah hotel bernilai historis serta menikmati minuman signature mereka juga bisa dimasukkan ke dalam daftar, sedang berbelanja cenderamata bukanlah suatu kewajiban.

Kembali ke persoalan ‘Hello Mister‘, dalam kehidupan sebagai pejalan, saya mengalami beberapa kali, berkait bila melakukan perjalanan bersama pasangan tercinta. Di Tanah Air sendiri –sayangnya– perbedaan warna kulit, masih berpotensi mengundang olok-olok.

Seperti contohnya, seorang dewasa begitu antusiasnya mengundang kami ke desanya, cuma ingin memamerkan betapa ia ‘bereputasi andal’ karena bisa punya tamu orang asing, di samping karena keheranan dia sendiri, “Bagaimana bisa, dua orang berbeda warna kulit bisa menyukai suatu hal yang sama (dalam hal ini traveling)?”

Tetap kami berusaha untuk mengerti. Begitu pula, bila ada pertanyaan dan pernyataan jahil menjurus rasis dan pelecehan verbal. Pasangan saya dengan sigap selalu menjawab, “Kedua belah pihak –saya dan dia– punya pekerjaan dan penghasilan tetap, jadi bukan saya pentraktir perjalanan kami. Bahkan kalau kamu perhatikan, kamera dia (saya) lebih mahal dibanding milik saya (padahal kamera saya jenis pocket, tapi memang benar adanya, secara nominal lebih mahal dari milik pasangan saya). Jadi dia mampu membiayai segala aktivitas dan hidupnya sendiri. Kalau kepala kamu berisi nada minor tentang sebuah relasi manusia asal timur dan barat, kebodohan itu adalah milik kamu sendiri!

Dari segala pengalaman kami berdua menyoal kulit itu, tak ada yang masuk hati. Biarlah kesanggupan cara berpikir tiap orang tetap berada dalam kapasitas masing-masing, karena seperti pepatah ‘Sirik tanda tak mampu’ atau ‘Biar anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu’, toh semua kembali pada para penafsir itu. Mau positif atau negatif, terserah saja.

Cuma yang sempat membuat kami mengurut dada, adalah sekelompok anak kecil di bawah usia 10 tahun, di sebuah tepian danau permai, di pulau sebelah barat Indonesia yang bisa-bisanya berucap, “Memangnya Kakak dan ‘Kakak Putih’ dibolehkan orang tua untuk bergaul bersama-sama? ‘Kan agamanya beda?”

Terus terang kami prihatin. Bukannya marah. Mengapa ada orang tua tega mengajarkan perbedaan di usia belia, pada sebuah tataran di mana semangat eksplorasi dan kebersamaan mestinya dipupuk. Mengembangkan wawasan mereka lebih luas, dengan cara yang mudah dipahami anak kecil dan bukannya doktrin serba tahu, serba pintar tapi bernilai nol besar dalam substansi kehidupan bermasyarakat.

Persoalan menyoal kulit bila saya bepergian sendiri, biasanya penuh tawa dan canda, sampai trenyuh karena terasa begitu menyentuh.

Contoh paling konyol, adalah saat bepergian ke India. Setiap kali saya mendengar mereka bertanya, “Nepali ati hai?” selalu disangka asal Nepal. Terbersit dalam hati, bagaimana bila menjawab ‘ya benar’ saja biar mudah? Apalagi bila memasuki kawasan wisata dengan tiket mahal seperti Taj Mahal –karena bisa mendapat diskon lebih dari setengahnya.

Beruntung, saya urungkan niat itu pada detik-detik terakhir, demi melihat seorang perempuan barat yang sudah jelas-jelas menikah dengan lelaki India pun terus ditanyai pathkar (orang asing) atau bukan. Bayangkan bila saya nekat menjawab ‘Haan jee, Nepali ati hai‘; bagaimana nanti mesti menuntaskan wawancara yang dilakukan dalam bahasa Hindi semuanya?

Kenangan lain adalah saat-saat stop-over di Abu Dhabi mengantre penerbangan tujuan London Heathrow atau sebaliknya, menuju Jakarta. Paling tidak, pasti ada satu orang Filipino yang menyapa dalam bahasa Tagalog. Begitu pula saat dalam suatu penerbangan ke London, saya duduk bersebelahan dengan pria asal Manila, berusia sepantaran.

Dia mengobrol basa-basi dalam bahasa Tagalog. Saya menyebut ‘o’ karena heran mengapa dia tak memperhatikan raut wajah saya yang terlihat penuh tanda tanya –maklum, tidak menguasai Tagalog secara fasih. Tapi ia menyangka, saya pasti bersuara ‘o-o‘ yang dalam bahasanya berarti ‘ya’.

Tak tahan, saya bicara lagi dalam bahasa Inggris; bahwa tak mengerti Tagalog. Cuma, saya pernah bepergian ke negerinya dan punya beberapa kawan baik dari sana.

Akhirnya, kami mengobrol menggunakan bahasa internasional. Sampai pesawat mendarat dan kami menjejakkan kaki di Terminal 3. Saat menjabat tangannya, dengan jahil saya berkata, “Maraming salamat, po (terima kasih banyak), mabuhay (hiduplah), ingat (hati-hati),” dia bukannya menjawab tapi malah mengerutkan dahi. “Nah, katamu tidak bisa bercakap-cakap bahasa Tagalog?”

Saya tergelak. Karena saat itu mendekati tahun baru, saya melambaikan tangan dan berseru, “Manigong bagong taon!” Dia hanya bisa geleng-geleng kepala dan menjawab, “Awas ya, kalau kita ketemu lagi.” Saya hanya mengangkat bahu dan tersenyum. Ini hanya gara-gara persoalan kulit serupa.

Tapi kisah paling membekas di hati, adalah saat bepergian ke Phnom Penh, Kamboja beberapa saat lalu. Saya memanfaatkan akhir pekan panjang, memenuhi semacam janji pribadi; sudah beberapa kali berkunjung ke Siem Reap –lokasi percandian Angkor Wat dan Angkor Thom– tapi belum sekalipun menginjakkan kaki di ibukota negeri ini. Dan karena saya mencintai Kamboja, kembalilah saya ke sana.

Beberapa pengemudi tuk tuk –moda transportasi mirip becak tapi ditarik motor, tolong dibedakan dengan tuk tuk versi Thailand– dekat tempat saya menginap di Boddhi Tree del Gusto, tak pernah lelah bertanya. “Malaysia, Malaysia?” Tentu saja saya keberatan. “Non! Indonesie!” Baru mereka berseru, “Oh … ” Dalam hati saya membatin, pada masa pemerintahan Raja Norodom Sihamoni, barangkali nama negara kita tak populer lagi — seperti semasa ayahandanya, Raja Norodom Sihanouk.

Dua staf guest house juga tak dapat menahan diri, “Apakah Anda, maaf, biar saya menebak; dari Japon? Atau China?” saya tersenyum geli. Bagaimana bisa, kulit saya yang gulita ini diasumsikan sebagai keturunan China atau Jepang? Saya menjawab santun, “Saya Indonesie (merujuk cara mereka menyebut Indonesia, mengikuti lafal Perancis. Bila saya menyebutnya dengan akhiran ‘a’, biasanya menimbulkan ketidakmengertian sejenak).”

Salah satu dari staf itu, bernama Smey kontan berseru, “Ah! Bali, Bali!” Saya mengacungkan ibu jari. “Bagus, sudah ke sana?” Sambil tersenyum malu, ia menjawab, “Sayangnya hanya tahu dari TV.” Tetap saja saya merasa senang, karena mereka menaruh perhatian –lewat kulit saya.

Puncak dari kisah seputar kulit saya adalah saat mendaki Phnom Chisor alias Suryadri atau Gunung Matahari, dibangun pada abad ke-11 di masa pemerintahan Raja Suryavarman I –sekitar 37 km dari ibukota Phnom Penh.

Lokasinya mengingatkan saya pada Phnom Bangkeng di Siem Reap, tapi di sini tersedia warung terbuka menjajakan aneka minuman ringan sampai memasakkan makanan mirip warteg dadakan.

Beberapa ibu penjaja merubung saya. Phy, sopir tuk tuk yang setia mengantar sepanjang lawatan keliling kota dan sekitarnya sampai ke puncak bukit, langsung berinisiatif menjadi penterjemah.

(c) ukirsari, a tuk umpow seller

Mula-mula pertanyaan basa-basi; mengapa lebih suka tuk umpow atau es tebu dibanding minuman bersoda (catatan: bagaimana saya tidak doyan tuk umpow, yang sungguh nikmat sebagai thirst quencher? Diperas langsung tanpa tambahan apapun kecuali sedikit air matang, diberi kucuran jeruk manis bercitarasa mirip calamansi dan dibubuhi es batu), sampai berapa umur saya, punya pekerjaan apa dan apakah di kantor mengenakan sarung (sama cara penyebutannya juga sarung) seperti mereka atau tidak.

Semua pertanyaan mendapat jawaban. Sampai akhirnya, seorang ibu tak lagi melihat kepada Phy tapi langsung menatap mata saya dalam-dalam. Berkata panjang lebar dalam bahasa Khmer sembari mengusap-usap kulit saya. Sejenak, pikiran saya melayang pada teks potret di buku travel guide tentang ‘Hello Mr Brigade‘. Apakah para wisatawan barat itu merasa jadi sedemikian penting karena mendapat perlakuan istimewa macam begini?

Terpatah-patah –mungkin takut saya bakal marah, sopir tuk tuk saya berkata, “Kata ibu ini … hmm … mengapa, Anda orang Khmer, tapi tidak mau berbahasa Khmer sedikitpun?”

Tentu saja saya terkesima. Kulit saya dipegang-pegang, bukan karena ada perbedaan, tapi justru karena punya persamaan. “Non, non. Bukan saya tidak mau, tapi tidak bisa. Saya bukan orang Khmer,” jawab saya. Ibu itu, masih terus mengusap-usap tangan saya dan memandangi kulit saya tanpa henti.

“Katakan, sedikit saja bahasa Khmer,” pinta Phy. “Dia mau tahu aksen Anda. Kata beliau, siapa tahu Anda berpura-pura tidak bisa.”

(c) ukirsari, at suryadri, the sun mountain

Ah, mengada-ada. Tapi saya penuhi juga permintaannya. Mencoba kosakata tersering dan paling saya ingat. Apalagi kalau bukan ‘or koon‘ (terima kasih), ‘soksdee‘ (apa kabar) serta ‘chop chop‘ (berhenti. Biasa saya pakai buat menyuruh Phy berhenti bila ingin memotret sesuatu di tengah jalan).

“Naaah … itu bisa! Kulit kamu sama dengan kami, Nak. Kamu pasti punya generasi pendahulu orang Khmer,” ucap ibu itu sebagaimana diterjemahkan Phy. “Kamu ini saudara kami. Coba ceritakan bagaimana kulit orang-orang Indonesie itu.”

Jadilah saya mencari-cari uang kertas di dompet. Bukan untuk dibagi-bagi –karena saya tahu, tujuan percakapan ini curiousity semata. Mereka tak pernah meminta uang, kecuali saya beli barang jualan mereka– tapi buat sarana ‘pelajaran geografi’.

Beruntung, ada selembar Rp 1.000 (bergambar Kapitan Pattimura), Rp 5.000 (Pangeran Diponegoro) dan Rp 10.000 (Sultan Mahmud Badaruddin II). Bisa digunakan mewakili beberapa daerah negeri kita; Kepulauan Maluku, Pulau Jawa dan Sumatra.

Lantas di atas sebidang tanah, di bawah sebatang pohon rindang, dengan bantuan ranting, saya menggambar kepulauan Indonesia, lalu meletakkan ketiga uang kertas di pulau-pulau itu. “Jadi beginilah wajah-wajah orang negeri kami. Tidak serupa persis, karena kondisi geografis serta asal nenek moyang. Makanya, kami punya semboyan ….” keterangan saya ditambah terjemahan Phy membuat mereka mengangguk-angguk mengerti.

Beberapa pendeta Buddha Theravada yang tengah berjalan dekat kami ke ashram di puncak bukit sempat memandang heran, mungkin dikira saya kurang waras, berbicara penuh semangat di tengah siang terik dalam bahasa asing.

“Dan, yang paling penting …,” tambah saya sembari mengingat-ingat dongeng anak-anak dari ayah saya sekaligus buku-buku sejarah yang pernah saya baca, “Nenek moyang saya telah mengadakan pelayaran ke tujuan jauh, berabad-abad lampau. Bahkan di masa kerajaan Majapahit, ada seorang putri Champa yang menikah dengan raja kami di Jawa Timur. Kami menyebutnya Putri Chem-po.”

Tanpa disangka-sangka, seorang ibu penjaja makanan yang kukunya dicat –kata dia beberapa saat kemudian, setelah saya bertanya lewat Phy, itu gara-gara putrinya mendandani saat resepsi pernikahan kerabat mereka dan ia tidak tahu bagaimana cara membersihkannya pakai aceton– mendekati saya dan memegang kedua pipi saya. “Jadi benar kita bersaudara, bukan? ‘Kan sudah dibilang, kulit kita pun sama.”

Saya hanya bisa mengangguk mendengar pernyataan yang begitu tulus serta sederhana. Benar-benar tidak menyangka, bakal diterima begitu hangat di sebuah tempat asing, dekat reruntuhan kuil Raja Suryavarman I, oleh orang-orang sederhana tetapi begitu besar hatinya. Saya mengucap or koon …. sepenuh hati.

a wonderful person, an evening at royal albert hall

long time ago, i have favourite couple friends; jachan (italian) and cathy (american) who decided to set up brand new  life in italy. and the simplest way for jachan to address his beloved one is “a wonderful person“. i tried to understand what is the deepest meaning in that affectionate way to tell people about cathy, until i feel the same about someone who i love very much.

it was around a week before september 24th, when nicholas told me about reduction ticket  price  for classic fm live in royal albert hall. unfortunately, it’s not side-by-side’s seat. but one farthest to the other. all i can say, “just wait. if there’s our karma, it will be ours.”

i don’t know exactly what he did, until he tells me happily. “yes, confirmed. two seats for both of  us, side by side. mum and dad will attend the event too.” maybe just a coincident, but it’s something nice for me. even four of us will be seated per couple. not all in the same row. and our tickets are cheaper compared theirs for sure 🙂

during the event, my heart is burst of happiness. it’s a great classic concert, with solo violist sarah chang –a prodigy when she’s 6 years old playing solo– and the priests –tree tenors– on stage. i hold his hand tight. probably very tight. this is the first time i am going to see a classic concert, after my dad and my violin master passed away.

at that night, i can feel the term ‘wonderful person’ in the beautiful way. not copy from janchan, but understand it completely. not only about nicholas as  my beloved one. but the way he knowing me and to understand. he’s not complaint about i leave my violin class. only once asked “why?” and i try to answer, “when i decided to learn violin, i tied my heart to the instrument and the person who teach me. when he’s away, i feel something not complete. maybe i’m too childish, but i am sure, none of the new master can do his or her best as my master did.”

and another sentimental reason, of course my dad. who always encourage me to play. i remember his company to find a nice violin 3/4 when i am young. then 4/4 scale when i turn adult. he’s so touched when i buy a new violin with my own money after back from japan, 10 years ago. i address my newest violin as “tonska” [taken from russian nickname for ‘anton’ since mine is an anton breton’s product, made in 1979].

nicholas show me the reality. day will be following by another day. so its life. my beloved dad and violin master may go, but the essence of beauty still remain. about listening violin. something that i do really love before. something that connecting my life with my dearly dad and my violin master, pak le.

i love the concert from the beginning. when the choir singing carmina burana. when the priests is singing pie jesu. when the fireworks spreading behind the pillars. i know my dad smiles … somewhere, out there. and i love you nicholas, being a wonderful person for me. ich liebe dich!

Veris dulcis in tempore, florenti stat sub arbore
Iuliana cum sorore.
Dulcis amor!
Refl. Qui te caret hoc tempore, Fit vilior.

Ecce florescunt arbores, lascive canunt volucres;
inde tepescunt virgines.
Dulcis amor!
Refl. Qui te caret hoc tempore,Fit vilior.

Ecce florescunt lilia,et virginum dant agmina
summo deorum carmina.
Dulcis amor!
Refl. Qui te caret hoc tempore,Fit vilior.

Si tenerem, quam cupio,in nemore sub folio,
oscularer cum gaudio.
Dulcis amor!
Refl. Qui te caret hoc tempore, Fit vilior *

* carmina burana

things to be done in battle

(c) ukirsari

* pampering yourself in the ‘city of 1066’

battle is a small, compact and lively city that can be explored in a day trip. take a nice walk along the historical trail of the city. including pay a visit to st valery sur somme church and its gorgeous cemetery. then small paths will lead you to the flower shops and small church of st francis. otherwise, do trekking to pevensey and rye country walks of 1066 to commemorate battle of hastings.

* battle abbey

half ruins of an abbey that not be used anymore in the reign of king henry viii. here still can be found the novice monks chamber, the main building that facing to the 1066 battle field, surrounded by oak trees and several private school which remains us to … harry potter’s hogwart 🙂

* ye olde king’s head: an old pub at battle

we found this nice pub when we wander around the city of battle in the evening. the door looks very low. a friend of us, assumed it might be caused … long time ago, whilst the pub is busy, they still have to keep an eye for the enemies who try to attack locals whilst riding a horse. with this lowermost door, the riding horses enemies will find it difficult to enter. favorite dish: cider ale and smoked beef sandwiches. address: 37 mount street, battle, east sussex

battle, east sussex

Angin mendesir di antara dedaun pepohonan english oak (Quercus pedunculata) berwarna keemasan. Menciptakan riap-riap gelombang warna musim gugur nan apik. Hijau tua semu kuning, kekuningan mengarah cokelat muda sampai cokelat matang cenderung oranye karena disaput sinar matahari. Kami berjalan melintas dekat sebuah private school dalam kompleks Battle Abbey. Musim gugur kali ini terasa beda dibanding yang lalu, langit biru cerah tanpa awan kelabu.

(c) ukirsari

Dari dalam sebuah gedung yang tersusun dari batu-batu tebal peninggalan masa silam, samar terdengar paduan suara anak-anak perempuan usia belasan. Plaisir d’Amour, sebuah lagu cinta klasik berbahasa Perancis karya Jean Paul Égide Martini (1741-1816).

Ingatan saya melayang pada salah satu episode Band of Brothers –mini seri kisah tentara penerjun para (paratrooper) Amerika Serikat semasa Perang Dunia II yang dikirim ke pantai-pantai Normandia, Perancis (Omaha Beach dan Utah Beach) dalam penyerbuan berkode ‘Operation Overlord’ melawan pasukan Jerman.

Saat itu –dengan narasi Sersan Carwood Lipton– adalah suatu malam, di mana untuk pertama kalinya pasukan para Amerika Serikat dapat menginap dalam sebuah kompleks gereja, setelah menghabiskan musim dingin berminggu-minggu di pegunungan Ardennes dan Foy. Mereka dihibur paduan suara putri gereja (choir) dengan Plaisir d’Amour.

Lantas Sersan Lipton (yang kemudian mendapat penghargaan kenaikan pangkat menjadi letnan dua) mengucap, betapa sebuah peperangan telah ‘mengambil’ teman-temannya satu peleton. Mulai dari kematian Muck dan Penkala, lalu sepasang sahabat sama-sama kehilangan anggota tubuh mereka; Joe Toye dan Bill Guarnere, sampai Letnan Satu Buck Compton yang mengalami depresi. Ia tak dapat melanjutkan misi sebagai anggota pasukan para, setelah mendapati Toye dan Guarnere meregang sakit di tengah salju, dalam bombardir hujan peluru dan bom pihak musuh.

Tanah tempat kami berpijak saat itu, punya riwayat serupa lereng-lereng pegunungan Ardennes (Belgia) di mini seri Band of Brothers. Juga tak banyak berbeda dengan semua tempat di berbagai penjuru dunia yang menjadi medan peperangan.

Sebuah saksi bisu berupa lahan terbuka diraupi kucuran darah, teriakan heroik serta dibalur semangat patriotisme pihak-pihak pelaku perang. Meninggalkan kepiluan bagi siapa saja yang menyimak babakan selanjutnya. Bahkan, terasa begitu ironis bila disandingkan dengan lagu Plaisir d’Amour.

Kami beruntung karena bertandang ke Battle di hari menjelang peringatan Battle of Hastings. Beberapa tenda bertuliskan English Heritage siap seputar padang rumput. Konon, tempat ini tak disentuh selama berabad-abad, dibiarkan sebagaimana saat pertempuran berlangsung di masa lalu, pada 14 Oktober 1066. Sementara beberapa calon pengisi acara mondar-mandir dengan pakaian perang abad pertengahan. Selintas mengingatkan kami pada komik Perancis, Asterix dan Obelix.

Pada bagian bahu beberapa orang ini, tersampir rubah terbuat dari kain dan bulu-buluan palsu. Sebastien, salah satu dari mereka yang berpakaian pasukan Norman menyebut, dua hari mendatang mereka akan menggelar semacam rekonstruksi peperangan akbar kedua belah pihak, yaitu bangsa Norman dan Anglo-Saxon.

“Jangan bayangkan terlalu serius,” ujarnya sembari menyantap keju yang diambil dari salah satu tenda. “Sama sekali tak ada unsur kekerasan karena panah dan tombak terbuat dari karet. Dan pada hari-hari itu kami juga menerima kunjungan dari kerabat jauh yang sengaja datang dari Perancis. Saya sendiri bukan penduduk asli Battle, tapi senang tinggal di sini pada bulan-bulan menjelang peringatan Battle of Hastings

(c) ukirsari

Nama Battle sebagai kota, dibuat sebagai peringatan pascapeperangan Battle of Hastings yang terjadi pada 14 Oktober 1066. Satu babakan sejarah dituntaskan pada tanggal itu, yaitu saat bangsa Anglo-Saxon (Inggris) mesti berbesar hati menerima kekalahan dari serbuan orang-orang Norman (Perancis).

Tapi di sisi lain, sejarah baru Britania Raya tercipta, dengan terjadinya akulturasi budaya bersama masyarakat Perancis serta negeri-negeri lain di Eropa daratan. Tidak lagi terisolasi dan sebatas membina hubungan dengan negeri-negeri Skandinavia.

Battle sendiri, kini masuk wilayah distrik Rother di East Sussex, England dan berjarak sekitar 79 km dari London. Letaknya diapit beberapa kota tetangga, seperti Bexhill-On-Sea (selatan), Hastings (tenggara), serta Brighton dan Lewes (timur). Populasi penduduk Battle mencapai 6.171 orang berdasar sensus 2007.

Sebagai kota tujuan wisata, Battle menawarkan rekreasi kota tua, gedung bersejarah dan trail napak tilas peperangan akbar antara kaum Norman dan Anglo-Saxon. Rutenya beragam, situs orisinal yang melingkupi Battle Abbey dan medan peperangan Battle of Hastings, sampai lintasan jalan kaki ke luar kota yang merefleksikan perjalanan panjang pasukan Norman masuk ke area ini, melewati estuaria dan tepi lautan.

Pengunjung dengan mudah bisa menemukan beberapa rute, setelah membaca papan penunjuk jalan dekat Battle Abbey; 1066 Country Walk – Pevensey atau 1066 Country Walk – Rye.

Musim gugur ini, kami memilih napak tilas Battle of Hastings. Dari lahan parkir dekat lingkungan bekas gereja Battle Abbey, kami menjejakkan kaki ke Gatehouse –gerbang kompleks gereja– dan membayar retribusi masuk. Berlanjut ke bangunan paling depan dari kompleks, dinamai Abbey Shop.

Di sinilah tempat para wisatawan berbelanja cendera mata sebelum melanjutkan perjalanan ke berbagai situs sejarah kota Battle. Paling diminati, semacam koran bertajuk utama ‘Battle: 1066’. Berisi berita dan gambar historis Battle Abbey dan Battle of Hastings.

Koleksi lainnya, kaos warna kecokelatan bergambar pertempuran antara Raja Harold II dan Raja William sang Penakluk dalam Battle of Hastings, dibubuhi aksara Latin. Adegan itu dicuplik dari Bayeux Tapestry, sebuah sulaman panjang 70 m x lebar 50 cm yang dibuat untuk menggambarkan kemenangan kaum Norman dalam upaya pendudukan England.

Sulamannya sendiri, kini disimpan di Bayeux, Normandia, Perancis. Sedang imitasinya berada di Reading, Berkshire, England. Pada Juni 2007, Bayeux Tapestry ditahbiskan sebagai ‘Memory of World Register’ dari badan dunia UNESCO.

Battle Abbey merupakan gereja yang dibuat Raja William the Conqueror di kota kecil Battle. Sebuah sumber menyebut, pembangunan ini merupakan permintaan Paus Alexander II pada 1070 kepada kaum Norman, yang telah membunuh begitu banyak orang dalam upaya penaklukkan di England –bagian dari Britania atau Inggris Raya. Sebuah negeri yang terdiri atas England, Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara.

Sedang informasi lain menyatakan, Battle Abbey hadir sebagai pemenuhan atas janji Raja William sendiri, yang ia ucapkan di gereja St Valery sur Somme Abbey (Normandia), sebelum menyeberang Selat Inggris.

Setelah ‘masa pembubaran biara’ zaman pemerintahan Raja Henry VIII, Battle Abbey dijadikan rumah pribadi. Sir Thomas Webster, baron pertama klan Webster, membeli Battle Abbey pada 1719. Klan ini memilikinya hingga 1858, lalu dijual pada Lord Harry Vane, Duke of Cleveland.

Kepemilikan berlangsung hingga 1901, kemudian dialihkan kepada Sir Augustus Webster, baron ketujuh dalam silsilah klan Webster. Fungsi sebagai wahana religi pun berubah. Bekas gereja ini pernah menjadi sekolah putri berasrama, juga pangkalan tentara Kanada selama Perang Dunia II.

Mulai 1976, Battle Abbey resmi menjadi milik pemerintah Inggris dan sekarang menjadi bagian dari badan English Heritage.

Tak jauh dari kompleks gereja, terdapat prasasti peringatan Raja Harold yang diberikan pihak Perancis pada 1903. Seolah bukti kedua negara tak ingin berseteru setelah peperangan Battle of Hastings berakhir, di sana tertera Diex Aie … le brave Harold le Saxon … a’la Grańde Bretagnela Loi Normande. Lantas di belakangnya, pepohonan perdu berderet rapat dan dipangkas rapi. Dibentuk mirip lorong-lorong hijau yang meneduhkan jiwa, selagi kaki melangkah menyusurinya.

>> under the thousand stars <<

“sweetheart, have a look. there’s thousand stars above us,” my beloved ones showing the evening landscape in front of us. it’s a bright lovely evening sky within a national park.

(c) ukirsari, 2009

we are holding hands to each other, walking through the grassy path. companied by jaka, our slovenian friend. a neighbour at the guest house. a huge landscape, brings my memory back to loksado, in one of a kalimantan forest, where i feel the night sky was  so close upon my face and i can catch one of those stars with my fingers.

i did a night trekking with a local guide and his companions at that moment. and every single moment, he need to tell me for keep walking, or i will miss the jujuran and beruji ceremonial events.

i was too ‘busy’. to feel how can a billion stars comes out at the same time in one night. blinking in the distance and showering us with dims light. then phosphorous mushrooms on the trees and the fireflies. that’s a magical experience for me.

and now, i feel quite the same. without any additional phosphorous things. only three of us, under a grandiose sky with the thousand stars.

within walking distance, we can see the shadows of the sumatran elephants (Elephas maximus sumatrensis). nicholas and i are falling in love with this place, since we find our baby boy here; a two months old elephant in 2006.

and we became repeat visitors ever since. especially when we find a wild baby girl afterwards –oh, doesn’t mean to forget to mention, there’s another elder baby girl in the community. but since she looks so berserk, we never befriend with her. we knew her and the opposite. after a baby boy and baby girl, they have a new tamed ‘sibling’.

a baby boy again, to whom we gave a ‘special’ name, since we don’t like his real name. sounds not so gorgeous, bearing only an event something. and just like the previous babies, we love to cuddle him and playing all day long. he’s so lovely and a giver; bring reeds to nicholas, allow us to hear his funny voice, then hiding behind the bush.

in our latest visit, two mother elephants just gave births. two wonderful baby boys. but we have to say goodbye after few days visit, as we have to back for works. and in the meantime, we want to share this happiness –being having new babies— and play with them, whilst introducing them to our neighbour; jaka.

it’s a real joyful playing under the thousand stars. especially nicholas who  ‘attacked’ by our baby boy –not the eldest since he’s stay overnight in the forest with his mom and dad.

later we think; probably since his nature as nocturnal, everything looks brighter in the dark. and another ‘theory’, he didn’t like being addressed by his real name. we can not help but smile, when he try to tackle jaka with his back feet. nicholas said, “turn around, turn around,” but our baby is faster than him.

i watch the mom who look after her baby boy with the torch on. then talk  to our baby girl, since she’s not interesting to do crazy with us but keep on busy grassing all the time.  well behave. a strange concept for a wild. but probably she just need to spend longer time to adapt with her new ‘family’ after spend such two years by her own and the keeper or mahout. so i ‘talk’ with her, whilst nicholas and jaka keep on playing with the baby boy.

then time to say goodbye had came. we whispering that we love them and we definitely will come back again. and our baby boy, again and again … coming closer and closer, just like unspoken words, “oh please don’t go. come, i want to play again,” so we have to bring him closer to his mom. several times, until we say, “come on, that’s mommy calling, come on ….”

we walk to the mahouts’ barrack and spend about an hour or so, talking with them. down-to-earth people, language barriers and things that drive me into situation; nothing wrong with the keepers and so does the travelers. only system screw up humanitarian sometimes, somehow.

we knew jaka by coincidence, when the officers find a difficulty to explain the room rate. but what choice he can get, if the option only take it or leave it?

nicholas and i get difficultness as jaka had, since long time ago. a place can be so helpful, and the rest full of mess.

and i feel sorry since we’re talking about a motherland, place where i was born. i love the country, where my ancestors shared their bloods and i get a wonderful name. the first air i had taken in breathing and i spend half of my childhood. but please, why erase those wonderful things, including nature wonders and its rare animals by something calling damages? bad behaviours, mannerless, disobey etiquettes and money talks all included. so sad.

of course i don’t want to ruins our last day in the national park with those stupidities and cynical point of views. we chill out at the night and thank jaka for his appearance as the only neighbour we have.

especially to swap the creepy atmosphere which surrounded guest house, after someone passed away about 2 months ago –and it’s not pretty far from our place.

we shared so many stories, independent travelers’ stories. and we’re surprised how can be we got 100% same-identical scams that jaka and nicholas experienced when they’re in jogja; i can not stop laugh since their visit separatedly  almost 10 years in difference but both got the same sweet lips saying, “it must be your lucky day, we will make a batik exhibition in the usa and this is the last day you can buy their art work.”

we got dinner with cakes [nicholas and i. we like to say thank for our old food seller who always provided these cake for us] and fried rice, tomato and cucumber [for jaka].

and top notch for this ‘gala dinner’ was sharing our last baileys with jaka. poor that we don’t bring any glasses with us during this trip, so we use mineral water bottle that cut into a half. it’s nice, a serene environment with nocturnal voices from the distance. wild boars, barking deers and buffalos pay a visit to our guest house.

it’s a nice discussion about what should jaka does in his last days before leaving indonesia, and again we laugh for his “smart book” a real mini book content of national anthem, heroes, chemistry, learning language, natural sciences, seven wonders and all kind abstraction about knowledge that indonesian students take in their school.

“so you should keep extra money to buy unpredictable souvenir like my book or quite similar like this during your trip with interstate bus,” he added.

also we compared our rooms; nicholas and i, we’d have ‘presidential suite’. huge, twin beds, one extra bed, hanger, a table and two chairs without electricity. and jaka got ‘superior room’. smaller, twin beds, only one chair but showering with light. we can not help but laugh; you get what you pay for!

then top of the ‘drama’ being addressing our own rooms with presidential and superior was, a frog just jumping in to jaka’s water tank. so he used ours that looks bigger, which locked by nicholas’ padlock whilst we’re away –to prevent the unknown ‘guests’.

three of us keep do chit-chatting until two hours remains from the departure. nicholas and i already packed all our luggage, so we’re easily wake up and preparing ourselves before leaving the guest house in early morning.

we liked our latest experiences in the national park. i see there’s still thousand stars remain when we climb up the main gate –thank you for locking all entrance gates when we told you we’ll leaving very early, officer!

s dniom razendraniya … pozdravlyau …

(c) ukirsari and nicholas ingram

day of days. time ties up.  sunshine and moonlight. walking through the path of life. the longest shorelines i’d ever have.  the highest mountains i can climb up so far. and i am still here. to be loved as to love. with all my heart.

i would like to underlining my personal travels. throughout my whole life. to the universe. from being nothing to be someone. who adore my parents and my beloved ones. they company me all the time. not always by physically presences, but rather into mentally and stay in my heart. that makes my heart blossoming. every single minute and everytime i hold my breath.

as summer has came. as the sky approaching to be truely blue. and the clouds gone away. shower rain sometimes. and i remember how nicholas loves to play with the droplets from above. the laugh and smiles we shared. as we throw away the umbrellas. what it so called? dancing in the rain?  running from bungalow’s kitchen after picked up the christmas pudding? but hey, it was not december, wasn’t it?

i am a summer child by birth, but my habit and behaviour reflecting i am an autumn person –no wonder i love fall season more than others. even so, my parents and everybody who loves me can accept just the way i am. so thankful about that and crossing fingers to give them my best. all the time. full of love.

i just want to say thank you very much and let you know how do i love all of you. papa, mama, nicholas, tone anungseto, saya sayang kamu semua. terima kasih untuk menemani saya di setiap ulang tahun dalam doa.

090609.  wait … isn’t that a great combination number to be owned by me this year? and within next 10 days from mine, it’s the birthday of my favourite hero,  José Protasio Rizal Mercado y Alonso Realonda. an enchanting person with many abilities, including speaking in 22 languages, surgeon, painter, sculpturer, poem writer, novelist, opthalmologist. what a treasure for his family, nation and mankind. ang hindi marunong lumingon sa pinangalingan ay hindi makakarating sa paroroonan (rizal himself). and wait a minute … can it be reflected also by aki kaurismäki’s mies vailla menneisyyttä?