i’m home again … in ambon!

leaving beloved amboina past few decades, finally i am able to make my home coming. flabbergasted that i missed so many things as the years goes by. i used to live in secluded-tranquil-leafy bay overlooking the hills and this moment i have to “jump” on honking roads, blaring and blasting motorbikes and cars in the city centre.

sunset over leihitu peninsula (c) ukirsari 2012

Continue reading “i’m home again … in ambon!”

Advertisements

nyerang-i gyalla mar-yul rak

it’s a heaven to be back to ladakh that affectionately addressed as mar-yul or broken moon from its people.  after longing for years, i am so glad to be here again with nick.  only us, pale moon and snow capped mountains. my ability to speak in ladakhi, arise again and i am so grateful to get helped by every single ladagspa who’s correcting my pronounciation, tell the newly words and give support to talk in one of the languages that i love to speak.

ladakh range (c) ukirsari 2011

and we’d got experience to attending tse-chu, one of the most sacred religious festivals in ladakh. It’s a festival about guru padmasambhava who gets reincarnation many times.

i touched by a lama who dearly address me with a ladakhi-tibetan name, instead of my first name and another given name that i’d got in india few years ago.

when we’re about to leave, i turn my head to remember an old tibetan proverb: this place is surrounded by high passes, so only best friends or the worst enemies will pay a visit. we definitely will be back someday as we feel home here.

this visit i dedicated to our beloved parents. and for my mum and dad, i already tied my tar-chok (praying flags) in the heights of 4,800 masl. wish your happiness ever after as we pray in this heaven on earth, tsering shik!

night of a thousand lanterns in p’ing-xi

beloved mum and dad, i would like to ask; did you receive my sky lantern already?

(c) ukirsari 2011

sky lantern or tian deng in local language also known as konming lantern, taken from the shape of zhuge liang’s hat, a minister in old chinese world and the lantern was used to be a signal within war periods and the usage of its lantern brought to ilha formosa or taiwan whenever the natives of fujian province migrated in the era of qing dynasty.

(c) ukirsari 2011

refer to chang douan-xie, a guy who attended p’ing-xi lantern festival altogether with his family; two children and his wife, he told me that long long time ago, in the celebration of chinese lunar new year or known in local language as chun jie, marauders are coming to screw up people in p’ing-xi. that’s why the locals hidden themselves up to the mountainous range of shifen to sandiaoling plateau. the village’s keepers will send sky lanterns whenever marauders has gone and the people can be home again.  “in the end, locals take the uniqueness of sending sky lantern as part of their tradition and it will be held at the first moonlight after chinese lunar new year or yuanxiao jie,” stated douan.

last year, in november 2010, with kindly help of my friend’s family in chiangmai, northern thailand, i do just like locals to lit up the lanterns and float a small papier-mache boat in the river for my beloved parents. and that moment created idea in my mind that someday i should visit p’ing-xi zhexian to do the quite same thing in the traditional way.

all i need just ask the volunteer about tian deng that i would like to buy. pink is for love and friendship, red is a celebration, white is speaking about peace and health then orange is for prosperity. how about blue? i take this one, since it’s my favourite colour and a symbol in between me and dad; we’re as travelers and his dedication to the navy and how we love the seas and oceans. then one of my mum’s favourite colour as well.

(c) alex pangestu 2011

i was so amazed with those volunteers, even when english taken place as a language barrier, they’re keep smiling and handed a brush and ink for me.  and here i am, whenever people are busy to write in hanyu (chinese characters), tieng viet (vietnamese), nihongo (japanase) or hangeoul (south korea), i am confident to write in hanacaraka, an old-ancient javanese characters that my parents teach me since i was a kid. and gladly, i wrote it very well. a small poem, a pray, my dedication … full of love.

my heart just so blue, i feel so warm in the middle of a mid-plateau in the winter time, surrounded by many many people around the world and my tian deng fly that high, can be seen ascending amongst thousand lanterns in the evening sky. locals belief, tian deng is a personal message for  heaven.

so, what can i say more, mum and dad …. i do miss you and i love you so. hoping you are happy to see my lantern and understand that i will always remember you, in my own way.

a personal achievement, a spatial consciousness

listed amongst my favourites or hobbies is reading. can spend this activity whilst i am in the plane, catch the next flight, rainy days and awaiting my beloved one back from abroad. frankly speaking, my choice mostly travel guide books and its maps. therefore, mapping and recognizing processes already done in my mind, long before i do travel or even decided to go. i do enjoy  learn and getting excited in finding information through the map and explanation (culture, nature and architectural mostly), as high as the value of doing travel itself. even can not be generalized like pictures, for me personally, a map telling a rich story and a spatial consciousness.

taking aback to this enjoyment of mapping and reading, comments from some fellows that pretty familiar in my ears;  “so, this will be your next destination, uh?” and same answer all the time, “not like that, i am learning about spatial consciousness in the destinations.”

and it’s really work when i go travel. i like to do check and re-check the interesting points that mentioned by map and if i find brand new thing or kind differences, i’ll make a note. and write to the publisher in the way to updating. so far i do some and got nicely reply from them. this is what I found recently. my name’s mentioned in the readers’ letter in the rough guide hongkong and macau 2009.   my heartfelt thank goes to rough guide (RG) and i share this personal achievement for my beloved parents and nicholas. i love you!

karena kulit kita sama …

Kadang saya merasa sedih dan kesal, saat membaca buku panduan travel –tentunya dibaca berulangkali untuk bekal pendalaman perjalanan, serta bukan ditulis oleh bangsa Indonesia– yang menyebut sapaan ‘Hello Mister‘ adalah hal umum bakal dijumpai pejalan asing atau non-domestik Indonesia bila bepergian ke negeri kita.

Bahkan ada teks foto memuat potret anak-anak Indonesia tengah tertawa polos, dengan keterangan penjelas ‘Hello Mister Brigade‘. Mungkin, maksudnya bukan ‘sedalam’ itu, dalam konteks meremehkan atau merendahkan. Tetapi soal perasaan dan merasa sebagai bagian dari mereka, siapa bisa memperdebatkan urusan hati?

(c) ukirsari, at royal palace, phnom penh, cambodia

Bila dihitung-hitung, sudah berapa lama saya ‘tumbuh dan besar’ di jalan, dalam arti bepergian sebagai pejalan solo [solo traveler] atau sesekali bersama pasangan saya? Rasanya sudah lebih dari 15 tahun.

Dimulai saat sudah memegang uang sendiri –sebagai penulis lepas fiksi dan non-fiksi, penerima jasa membuat kartu ucapan ulang tahun dan bingkisan bagi kalangan teman-teman dekat serta akhirnya menjadi jurnalis– sejak itu pula saya mengalokasikan keuangan saya untuk ditabung membiayai kebutuhan seorang backpacker. Selalu membelanjakan waktu libur untuk dunia yang begitu saya sukai; bepergian atau traveling.

Ibunda saya menyebut, kebiasaan gemar bepergian ini diturunkan dari ayah saya. Beliau bekerja untuk negara di balik kemudi kapal, karena menurutnya, itulah cara ekonomis menjelajahi dunia. Lewat samudra, berbekal sextant dan menghitung jarak dalam nautical miles.

Tapi, siapa yang membawa saya bepergian ketika kecil, salah satu contohnya bertandang ke kompleks Candi Penataran, kediaman serta makam Bung Karno ketika ayah saya tengah berlayar? Itu peran ibu saya.

Lalu, siapa pula yang membolehkan –bahkan menganjurkan– saya dan adik saya bermalam di tenda belakang rumah selagi kami masih kecil? Atau membawa kami bepergian ke Karang Panjang untuk melihat keindahan Teluk Baguala di waktu petang, berpiknik ke Batu Capeo, Pantai Natsepa, Hila, Pulau Haruku, Saparua dan Nusa Laut hampir setiap akhir pekan ketika kami berempat tinggal di Ambon dulu?

Kesimpulannya, kedua orangtua saya tercinta berperan besar ikut membentuk saya menjadi pribadi outdoor yang senang belajar hal-hal baru menyoal budaya setempat di mana saya bepergian. Bisa di luar kota, luar pulau sampai luar negeri.

Dalam konteks yang bisa saya lakukan secara mandiri; berinteraksi dengan penduduk setempat, mengenal tata cara dan kehidupan sosial mereka, belajar berbicara dalam bahasa mereka serta mengerti sejarah mereka tanpa tendensi politik. Hanya kemanusiaan semata.

Lantas, bagaimana dengan interaksi saya di jalan? Sudah pasti dibumbui suka dan duka. Tapi saya lebih senang mengkategorikannya ‘lebih banyak senang dibanding susah atau sedihnya’. Karena lewat sebuah perjalanan –apalagi dalam kapasitas sebagai solo traveler– saya belajar tentang banyak hal. Termasuk makin memahami dan mengerti diri sendiri.

Tentang apa yang saya inginkan dan apa yang tidak. Seperti kompleks percandian serta kota kuno beremblem UNESCO masuk dalam daftar utama perjalanan. Keindahan alam dan fauna menempati peringkat sesudahnya. Pasar pagi dan pasar malam tradisional mendapat prioritas, sedang keramaian macam diskotek adalah sebaliknya.

Sekadar duduk di lounge sebuah hotel bernilai historis serta menikmati minuman signature mereka juga bisa dimasukkan ke dalam daftar, sedang berbelanja cenderamata bukanlah suatu kewajiban.

Kembali ke persoalan ‘Hello Mister‘, dalam kehidupan sebagai pejalan, saya mengalami beberapa kali, berkait bila melakukan perjalanan bersama pasangan tercinta. Di Tanah Air sendiri –sayangnya– perbedaan warna kulit, masih berpotensi mengundang olok-olok.

Seperti contohnya, seorang dewasa begitu antusiasnya mengundang kami ke desanya, cuma ingin memamerkan betapa ia ‘bereputasi andal’ karena bisa punya tamu orang asing, di samping karena keheranan dia sendiri, “Bagaimana bisa, dua orang berbeda warna kulit bisa menyukai suatu hal yang sama (dalam hal ini traveling)?”

Tetap kami berusaha untuk mengerti. Begitu pula, bila ada pertanyaan dan pernyataan jahil menjurus rasis dan pelecehan verbal. Pasangan saya dengan sigap selalu menjawab, “Kedua belah pihak –saya dan dia– punya pekerjaan dan penghasilan tetap, jadi bukan saya pentraktir perjalanan kami. Bahkan kalau kamu perhatikan, kamera dia (saya) lebih mahal dibanding milik saya (padahal kamera saya jenis pocket, tapi memang benar adanya, secara nominal lebih mahal dari milik pasangan saya). Jadi dia mampu membiayai segala aktivitas dan hidupnya sendiri. Kalau kepala kamu berisi nada minor tentang sebuah relasi manusia asal timur dan barat, kebodohan itu adalah milik kamu sendiri!

Dari segala pengalaman kami berdua menyoal kulit itu, tak ada yang masuk hati. Biarlah kesanggupan cara berpikir tiap orang tetap berada dalam kapasitas masing-masing, karena seperti pepatah ‘Sirik tanda tak mampu’ atau ‘Biar anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu’, toh semua kembali pada para penafsir itu. Mau positif atau negatif, terserah saja.

Cuma yang sempat membuat kami mengurut dada, adalah sekelompok anak kecil di bawah usia 10 tahun, di sebuah tepian danau permai, di pulau sebelah barat Indonesia yang bisa-bisanya berucap, “Memangnya Kakak dan ‘Kakak Putih’ dibolehkan orang tua untuk bergaul bersama-sama? ‘Kan agamanya beda?”

Terus terang kami prihatin. Bukannya marah. Mengapa ada orang tua tega mengajarkan perbedaan di usia belia, pada sebuah tataran di mana semangat eksplorasi dan kebersamaan mestinya dipupuk. Mengembangkan wawasan mereka lebih luas, dengan cara yang mudah dipahami anak kecil dan bukannya doktrin serba tahu, serba pintar tapi bernilai nol besar dalam substansi kehidupan bermasyarakat.

Persoalan menyoal kulit bila saya bepergian sendiri, biasanya penuh tawa dan canda, sampai trenyuh karena terasa begitu menyentuh.

Contoh paling konyol, adalah saat bepergian ke India. Setiap kali saya mendengar mereka bertanya, “Nepali ati hai?” selalu disangka asal Nepal. Terbersit dalam hati, bagaimana bila menjawab ‘ya benar’ saja biar mudah? Apalagi bila memasuki kawasan wisata dengan tiket mahal seperti Taj Mahal –karena bisa mendapat diskon lebih dari setengahnya.

Beruntung, saya urungkan niat itu pada detik-detik terakhir, demi melihat seorang perempuan barat yang sudah jelas-jelas menikah dengan lelaki India pun terus ditanyai pathkar (orang asing) atau bukan. Bayangkan bila saya nekat menjawab ‘Haan jee, Nepali ati hai‘; bagaimana nanti mesti menuntaskan wawancara yang dilakukan dalam bahasa Hindi semuanya?

Kenangan lain adalah saat-saat stop-over di Abu Dhabi mengantre penerbangan tujuan London Heathrow atau sebaliknya, menuju Jakarta. Paling tidak, pasti ada satu orang Filipino yang menyapa dalam bahasa Tagalog. Begitu pula saat dalam suatu penerbangan ke London, saya duduk bersebelahan dengan pria asal Manila, berusia sepantaran.

Dia mengobrol basa-basi dalam bahasa Tagalog. Saya menyebut ‘o’ karena heran mengapa dia tak memperhatikan raut wajah saya yang terlihat penuh tanda tanya –maklum, tidak menguasai Tagalog secara fasih. Tapi ia menyangka, saya pasti bersuara ‘o-o‘ yang dalam bahasanya berarti ‘ya’.

Tak tahan, saya bicara lagi dalam bahasa Inggris; bahwa tak mengerti Tagalog. Cuma, saya pernah bepergian ke negerinya dan punya beberapa kawan baik dari sana.

Akhirnya, kami mengobrol menggunakan bahasa internasional. Sampai pesawat mendarat dan kami menjejakkan kaki di Terminal 3. Saat menjabat tangannya, dengan jahil saya berkata, “Maraming salamat, po (terima kasih banyak), mabuhay (hiduplah), ingat (hati-hati),” dia bukannya menjawab tapi malah mengerutkan dahi. “Nah, katamu tidak bisa bercakap-cakap bahasa Tagalog?”

Saya tergelak. Karena saat itu mendekati tahun baru, saya melambaikan tangan dan berseru, “Manigong bagong taon!” Dia hanya bisa geleng-geleng kepala dan menjawab, “Awas ya, kalau kita ketemu lagi.” Saya hanya mengangkat bahu dan tersenyum. Ini hanya gara-gara persoalan kulit serupa.

Tapi kisah paling membekas di hati, adalah saat bepergian ke Phnom Penh, Kamboja beberapa saat lalu. Saya memanfaatkan akhir pekan panjang, memenuhi semacam janji pribadi; sudah beberapa kali berkunjung ke Siem Reap –lokasi percandian Angkor Wat dan Angkor Thom– tapi belum sekalipun menginjakkan kaki di ibukota negeri ini. Dan karena saya mencintai Kamboja, kembalilah saya ke sana.

Beberapa pengemudi tuk tuk –moda transportasi mirip becak tapi ditarik motor, tolong dibedakan dengan tuk tuk versi Thailand– dekat tempat saya menginap di Boddhi Tree del Gusto, tak pernah lelah bertanya. “Malaysia, Malaysia?” Tentu saja saya keberatan. “Non! Indonesie!” Baru mereka berseru, “Oh … ” Dalam hati saya membatin, pada masa pemerintahan Raja Norodom Sihamoni, barangkali nama negara kita tak populer lagi — seperti semasa ayahandanya, Raja Norodom Sihanouk.

Dua staf guest house juga tak dapat menahan diri, “Apakah Anda, maaf, biar saya menebak; dari Japon? Atau China?” saya tersenyum geli. Bagaimana bisa, kulit saya yang gulita ini diasumsikan sebagai keturunan China atau Jepang? Saya menjawab santun, “Saya Indonesie (merujuk cara mereka menyebut Indonesia, mengikuti lafal Perancis. Bila saya menyebutnya dengan akhiran ‘a’, biasanya menimbulkan ketidakmengertian sejenak).”

Salah satu dari staf itu, bernama Smey kontan berseru, “Ah! Bali, Bali!” Saya mengacungkan ibu jari. “Bagus, sudah ke sana?” Sambil tersenyum malu, ia menjawab, “Sayangnya hanya tahu dari TV.” Tetap saja saya merasa senang, karena mereka menaruh perhatian –lewat kulit saya.

Puncak dari kisah seputar kulit saya adalah saat mendaki Phnom Chisor alias Suryadri atau Gunung Matahari, dibangun pada abad ke-11 di masa pemerintahan Raja Suryavarman I –sekitar 37 km dari ibukota Phnom Penh.

Lokasinya mengingatkan saya pada Phnom Bangkeng di Siem Reap, tapi di sini tersedia warung terbuka menjajakan aneka minuman ringan sampai memasakkan makanan mirip warteg dadakan.

Beberapa ibu penjaja merubung saya. Phy, sopir tuk tuk yang setia mengantar sepanjang lawatan keliling kota dan sekitarnya sampai ke puncak bukit, langsung berinisiatif menjadi penterjemah.

(c) ukirsari, a tuk umpow seller

Mula-mula pertanyaan basa-basi; mengapa lebih suka tuk umpow atau es tebu dibanding minuman bersoda (catatan: bagaimana saya tidak doyan tuk umpow, yang sungguh nikmat sebagai thirst quencher? Diperas langsung tanpa tambahan apapun kecuali sedikit air matang, diberi kucuran jeruk manis bercitarasa mirip calamansi dan dibubuhi es batu), sampai berapa umur saya, punya pekerjaan apa dan apakah di kantor mengenakan sarung (sama cara penyebutannya juga sarung) seperti mereka atau tidak.

Semua pertanyaan mendapat jawaban. Sampai akhirnya, seorang ibu tak lagi melihat kepada Phy tapi langsung menatap mata saya dalam-dalam. Berkata panjang lebar dalam bahasa Khmer sembari mengusap-usap kulit saya. Sejenak, pikiran saya melayang pada teks potret di buku travel guide tentang ‘Hello Mr Brigade‘. Apakah para wisatawan barat itu merasa jadi sedemikian penting karena mendapat perlakuan istimewa macam begini?

Terpatah-patah –mungkin takut saya bakal marah, sopir tuk tuk saya berkata, “Kata ibu ini … hmm … mengapa, Anda orang Khmer, tapi tidak mau berbahasa Khmer sedikitpun?”

Tentu saja saya terkesima. Kulit saya dipegang-pegang, bukan karena ada perbedaan, tapi justru karena punya persamaan. “Non, non. Bukan saya tidak mau, tapi tidak bisa. Saya bukan orang Khmer,” jawab saya. Ibu itu, masih terus mengusap-usap tangan saya dan memandangi kulit saya tanpa henti.

“Katakan, sedikit saja bahasa Khmer,” pinta Phy. “Dia mau tahu aksen Anda. Kata beliau, siapa tahu Anda berpura-pura tidak bisa.”

(c) ukirsari, at suryadri, the sun mountain

Ah, mengada-ada. Tapi saya penuhi juga permintaannya. Mencoba kosakata tersering dan paling saya ingat. Apalagi kalau bukan ‘or koon‘ (terima kasih), ‘soksdee‘ (apa kabar) serta ‘chop chop‘ (berhenti. Biasa saya pakai buat menyuruh Phy berhenti bila ingin memotret sesuatu di tengah jalan).

“Naaah … itu bisa! Kulit kamu sama dengan kami, Nak. Kamu pasti punya generasi pendahulu orang Khmer,” ucap ibu itu sebagaimana diterjemahkan Phy. “Kamu ini saudara kami. Coba ceritakan bagaimana kulit orang-orang Indonesie itu.”

Jadilah saya mencari-cari uang kertas di dompet. Bukan untuk dibagi-bagi –karena saya tahu, tujuan percakapan ini curiousity semata. Mereka tak pernah meminta uang, kecuali saya beli barang jualan mereka– tapi buat sarana ‘pelajaran geografi’.

Beruntung, ada selembar Rp 1.000 (bergambar Kapitan Pattimura), Rp 5.000 (Pangeran Diponegoro) dan Rp 10.000 (Sultan Mahmud Badaruddin II). Bisa digunakan mewakili beberapa daerah negeri kita; Kepulauan Maluku, Pulau Jawa dan Sumatra.

Lantas di atas sebidang tanah, di bawah sebatang pohon rindang, dengan bantuan ranting, saya menggambar kepulauan Indonesia, lalu meletakkan ketiga uang kertas di pulau-pulau itu. “Jadi beginilah wajah-wajah orang negeri kami. Tidak serupa persis, karena kondisi geografis serta asal nenek moyang. Makanya, kami punya semboyan ….” keterangan saya ditambah terjemahan Phy membuat mereka mengangguk-angguk mengerti.

Beberapa pendeta Buddha Theravada yang tengah berjalan dekat kami ke ashram di puncak bukit sempat memandang heran, mungkin dikira saya kurang waras, berbicara penuh semangat di tengah siang terik dalam bahasa asing.

“Dan, yang paling penting …,” tambah saya sembari mengingat-ingat dongeng anak-anak dari ayah saya sekaligus buku-buku sejarah yang pernah saya baca, “Nenek moyang saya telah mengadakan pelayaran ke tujuan jauh, berabad-abad lampau. Bahkan di masa kerajaan Majapahit, ada seorang putri Champa yang menikah dengan raja kami di Jawa Timur. Kami menyebutnya Putri Chem-po.”

Tanpa disangka-sangka, seorang ibu penjaja makanan yang kukunya dicat –kata dia beberapa saat kemudian, setelah saya bertanya lewat Phy, itu gara-gara putrinya mendandani saat resepsi pernikahan kerabat mereka dan ia tidak tahu bagaimana cara membersihkannya pakai aceton– mendekati saya dan memegang kedua pipi saya. “Jadi benar kita bersaudara, bukan? ‘Kan sudah dibilang, kulit kita pun sama.”

Saya hanya bisa mengangguk mendengar pernyataan yang begitu tulus serta sederhana. Benar-benar tidak menyangka, bakal diterima begitu hangat di sebuah tempat asing, dekat reruntuhan kuil Raja Suryavarman I, oleh orang-orang sederhana tetapi begitu besar hatinya. Saya mengucap or koon …. sepenuh hati.

a wonderful person, an evening at royal albert hall

long time ago, i have favourite couple friends; jachan (italian) and cathy (american) who decided to set up brand new  life in italy. and the simplest way for jachan to address his beloved one is “a wonderful person“. i tried to understand what is the deepest meaning in that affectionate way to tell people about cathy, until i feel the same about someone who i love very much.

it was around a week before september 24th, when nicholas told me about reduction ticket  price  for classic fm live in royal albert hall. unfortunately, it’s not side-by-side’s seat. but one farthest to the other. all i can say, “just wait. if there’s our karma, it will be ours.”

i don’t know exactly what he did, until he tells me happily. “yes, confirmed. two seats for both of  us, side by side. mum and dad will attend the event too.” maybe just a coincident, but it’s something nice for me. even four of us will be seated per couple. not all in the same row. and our tickets are cheaper compared theirs for sure 🙂

during the event, my heart is burst of happiness. it’s a great classic concert, with solo violist sarah chang –a prodigy when she’s 6 years old playing solo– and the priests –tree tenors– on stage. i hold his hand tight. probably very tight. this is the first time i am going to see a classic concert, after my dad and my violin master passed away.

at that night, i can feel the term ‘wonderful person’ in the beautiful way. not copy from janchan, but understand it completely. not only about nicholas as  my beloved one. but the way he knowing me and to understand. he’s not complaint about i leave my violin class. only once asked “why?” and i try to answer, “when i decided to learn violin, i tied my heart to the instrument and the person who teach me. when he’s away, i feel something not complete. maybe i’m too childish, but i am sure, none of the new master can do his or her best as my master did.”

and another sentimental reason, of course my dad. who always encourage me to play. i remember his company to find a nice violin 3/4 when i am young. then 4/4 scale when i turn adult. he’s so touched when i buy a new violin with my own money after back from japan, 10 years ago. i address my newest violin as “tonska” [taken from russian nickname for ‘anton’ since mine is an anton breton’s product, made in 1979].

nicholas show me the reality. day will be following by another day. so its life. my beloved dad and violin master may go, but the essence of beauty still remain. about listening violin. something that i do really love before. something that connecting my life with my dearly dad and my violin master, pak le.

i love the concert from the beginning. when the choir singing carmina burana. when the priests is singing pie jesu. when the fireworks spreading behind the pillars. i know my dad smiles … somewhere, out there. and i love you nicholas, being a wonderful person for me. ich liebe dich!

Veris dulcis in tempore, florenti stat sub arbore
Iuliana cum sorore.
Dulcis amor!
Refl. Qui te caret hoc tempore, Fit vilior.

Ecce florescunt arbores, lascive canunt volucres;
inde tepescunt virgines.
Dulcis amor!
Refl. Qui te caret hoc tempore,Fit vilior.

Ecce florescunt lilia,et virginum dant agmina
summo deorum carmina.
Dulcis amor!
Refl. Qui te caret hoc tempore,Fit vilior.

Si tenerem, quam cupio,in nemore sub folio,
oscularer cum gaudio.
Dulcis amor!
Refl. Qui te caret hoc tempore, Fit vilior *

* carmina burana