karena kulit kita sama …

Kadang saya merasa sedih dan kesal, saat membaca buku panduan travel –tentunya dibaca berulangkali untuk bekal pendalaman perjalanan, serta bukan ditulis oleh bangsa Indonesia– yang menyebut sapaan ‘Hello Mister‘ adalah hal umum bakal dijumpai pejalan asing atau non-domestik Indonesia bila bepergian ke negeri kita.

Bahkan ada teks foto memuat potret anak-anak Indonesia tengah tertawa polos, dengan keterangan penjelas ‘Hello Mister Brigade‘. Mungkin, maksudnya bukan ‘sedalam’ itu, dalam konteks meremehkan atau merendahkan. Tetapi soal perasaan dan merasa sebagai bagian dari mereka, siapa bisa memperdebatkan urusan hati?

(c) ukirsari, at royal palace, phnom penh, cambodia

Bila dihitung-hitung, sudah berapa lama saya ‘tumbuh dan besar’ di jalan, dalam arti bepergian sebagai pejalan solo [solo traveler] atau sesekali bersama pasangan saya? Rasanya sudah lebih dari 15 tahun.

Dimulai saat sudah memegang uang sendiri –sebagai penulis lepas fiksi dan non-fiksi, penerima jasa membuat kartu ucapan ulang tahun dan bingkisan bagi kalangan teman-teman dekat serta akhirnya menjadi jurnalis– sejak itu pula saya mengalokasikan keuangan saya untuk ditabung membiayai kebutuhan seorang backpacker. Selalu membelanjakan waktu libur untuk dunia yang begitu saya sukai; bepergian atau traveling.

Ibunda saya menyebut, kebiasaan gemar bepergian ini diturunkan dari ayah saya. Beliau bekerja untuk negara di balik kemudi kapal, karena menurutnya, itulah cara ekonomis menjelajahi dunia. Lewat samudra, berbekal sextant dan menghitung jarak dalam nautical miles.

Tapi, siapa yang membawa saya bepergian ketika kecil, salah satu contohnya bertandang ke kompleks Candi Penataran, kediaman serta makam Bung Karno ketika ayah saya tengah berlayar? Itu peran ibu saya.

Lalu, siapa pula yang membolehkan –bahkan menganjurkan– saya dan adik saya bermalam di tenda belakang rumah selagi kami masih kecil? Atau membawa kami bepergian ke Karang Panjang untuk melihat keindahan Teluk Baguala di waktu petang, berpiknik ke Batu Capeo, Pantai Natsepa, Hila, Pulau Haruku, Saparua dan Nusa Laut hampir setiap akhir pekan ketika kami berempat tinggal di Ambon dulu?

Kesimpulannya, kedua orangtua saya tercinta berperan besar ikut membentuk saya menjadi pribadi outdoor yang senang belajar hal-hal baru menyoal budaya setempat di mana saya bepergian. Bisa di luar kota, luar pulau sampai luar negeri.

Dalam konteks yang bisa saya lakukan secara mandiri; berinteraksi dengan penduduk setempat, mengenal tata cara dan kehidupan sosial mereka, belajar berbicara dalam bahasa mereka serta mengerti sejarah mereka tanpa tendensi politik. Hanya kemanusiaan semata.

Lantas, bagaimana dengan interaksi saya di jalan? Sudah pasti dibumbui suka dan duka. Tapi saya lebih senang mengkategorikannya ‘lebih banyak senang dibanding susah atau sedihnya’. Karena lewat sebuah perjalanan –apalagi dalam kapasitas sebagai solo traveler– saya belajar tentang banyak hal. Termasuk makin memahami dan mengerti diri sendiri.

Tentang apa yang saya inginkan dan apa yang tidak. Seperti kompleks percandian serta kota kuno beremblem UNESCO masuk dalam daftar utama perjalanan. Keindahan alam dan fauna menempati peringkat sesudahnya. Pasar pagi dan pasar malam tradisional mendapat prioritas, sedang keramaian macam diskotek adalah sebaliknya.

Sekadar duduk di lounge sebuah hotel bernilai historis serta menikmati minuman signature mereka juga bisa dimasukkan ke dalam daftar, sedang berbelanja cenderamata bukanlah suatu kewajiban.

Kembali ke persoalan ‘Hello Mister‘, dalam kehidupan sebagai pejalan, saya mengalami beberapa kali, berkait bila melakukan perjalanan bersama pasangan tercinta. Di Tanah Air sendiri –sayangnya– perbedaan warna kulit, masih berpotensi mengundang olok-olok.

Seperti contohnya, seorang dewasa begitu antusiasnya mengundang kami ke desanya, cuma ingin memamerkan betapa ia ‘bereputasi andal’ karena bisa punya tamu orang asing, di samping karena keheranan dia sendiri, “Bagaimana bisa, dua orang berbeda warna kulit bisa menyukai suatu hal yang sama (dalam hal ini traveling)?”

Tetap kami berusaha untuk mengerti. Begitu pula, bila ada pertanyaan dan pernyataan jahil menjurus rasis dan pelecehan verbal. Pasangan saya dengan sigap selalu menjawab, “Kedua belah pihak –saya dan dia– punya pekerjaan dan penghasilan tetap, jadi bukan saya pentraktir perjalanan kami. Bahkan kalau kamu perhatikan, kamera dia (saya) lebih mahal dibanding milik saya (padahal kamera saya jenis pocket, tapi memang benar adanya, secara nominal lebih mahal dari milik pasangan saya). Jadi dia mampu membiayai segala aktivitas dan hidupnya sendiri. Kalau kepala kamu berisi nada minor tentang sebuah relasi manusia asal timur dan barat, kebodohan itu adalah milik kamu sendiri!

Dari segala pengalaman kami berdua menyoal kulit itu, tak ada yang masuk hati. Biarlah kesanggupan cara berpikir tiap orang tetap berada dalam kapasitas masing-masing, karena seperti pepatah ‘Sirik tanda tak mampu’ atau ‘Biar anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu’, toh semua kembali pada para penafsir itu. Mau positif atau negatif, terserah saja.

Cuma yang sempat membuat kami mengurut dada, adalah sekelompok anak kecil di bawah usia 10 tahun, di sebuah tepian danau permai, di pulau sebelah barat Indonesia yang bisa-bisanya berucap, “Memangnya Kakak dan ‘Kakak Putih’ dibolehkan orang tua untuk bergaul bersama-sama? ‘Kan agamanya beda?”

Terus terang kami prihatin. Bukannya marah. Mengapa ada orang tua tega mengajarkan perbedaan di usia belia, pada sebuah tataran di mana semangat eksplorasi dan kebersamaan mestinya dipupuk. Mengembangkan wawasan mereka lebih luas, dengan cara yang mudah dipahami anak kecil dan bukannya doktrin serba tahu, serba pintar tapi bernilai nol besar dalam substansi kehidupan bermasyarakat.

Persoalan menyoal kulit bila saya bepergian sendiri, biasanya penuh tawa dan canda, sampai trenyuh karena terasa begitu menyentuh.

Contoh paling konyol, adalah saat bepergian ke India. Setiap kali saya mendengar mereka bertanya, “Nepali ati hai?” selalu disangka asal Nepal. Terbersit dalam hati, bagaimana bila menjawab ‘ya benar’ saja biar mudah? Apalagi bila memasuki kawasan wisata dengan tiket mahal seperti Taj Mahal –karena bisa mendapat diskon lebih dari setengahnya.

Beruntung, saya urungkan niat itu pada detik-detik terakhir, demi melihat seorang perempuan barat yang sudah jelas-jelas menikah dengan lelaki India pun terus ditanyai pathkar (orang asing) atau bukan. Bayangkan bila saya nekat menjawab ‘Haan jee, Nepali ati hai‘; bagaimana nanti mesti menuntaskan wawancara yang dilakukan dalam bahasa Hindi semuanya?

Kenangan lain adalah saat-saat stop-over di Abu Dhabi mengantre penerbangan tujuan London Heathrow atau sebaliknya, menuju Jakarta. Paling tidak, pasti ada satu orang Filipino yang menyapa dalam bahasa Tagalog. Begitu pula saat dalam suatu penerbangan ke London, saya duduk bersebelahan dengan pria asal Manila, berusia sepantaran.

Dia mengobrol basa-basi dalam bahasa Tagalog. Saya menyebut ‘o’ karena heran mengapa dia tak memperhatikan raut wajah saya yang terlihat penuh tanda tanya –maklum, tidak menguasai Tagalog secara fasih. Tapi ia menyangka, saya pasti bersuara ‘o-o‘ yang dalam bahasanya berarti ‘ya’.

Tak tahan, saya bicara lagi dalam bahasa Inggris; bahwa tak mengerti Tagalog. Cuma, saya pernah bepergian ke negerinya dan punya beberapa kawan baik dari sana.

Akhirnya, kami mengobrol menggunakan bahasa internasional. Sampai pesawat mendarat dan kami menjejakkan kaki di Terminal 3. Saat menjabat tangannya, dengan jahil saya berkata, “Maraming salamat, po (terima kasih banyak), mabuhay (hiduplah), ingat (hati-hati),” dia bukannya menjawab tapi malah mengerutkan dahi. “Nah, katamu tidak bisa bercakap-cakap bahasa Tagalog?”

Saya tergelak. Karena saat itu mendekati tahun baru, saya melambaikan tangan dan berseru, “Manigong bagong taon!” Dia hanya bisa geleng-geleng kepala dan menjawab, “Awas ya, kalau kita ketemu lagi.” Saya hanya mengangkat bahu dan tersenyum. Ini hanya gara-gara persoalan kulit serupa.

Tapi kisah paling membekas di hati, adalah saat bepergian ke Phnom Penh, Kamboja beberapa saat lalu. Saya memanfaatkan akhir pekan panjang, memenuhi semacam janji pribadi; sudah beberapa kali berkunjung ke Siem Reap –lokasi percandian Angkor Wat dan Angkor Thom– tapi belum sekalipun menginjakkan kaki di ibukota negeri ini. Dan karena saya mencintai Kamboja, kembalilah saya ke sana.

Beberapa pengemudi tuk tuk –moda transportasi mirip becak tapi ditarik motor, tolong dibedakan dengan tuk tuk versi Thailand– dekat tempat saya menginap di Boddhi Tree del Gusto, tak pernah lelah bertanya. “Malaysia, Malaysia?” Tentu saja saya keberatan. “Non! Indonesie!” Baru mereka berseru, “Oh … ” Dalam hati saya membatin, pada masa pemerintahan Raja Norodom Sihamoni, barangkali nama negara kita tak populer lagi — seperti semasa ayahandanya, Raja Norodom Sihanouk.

Dua staf guest house juga tak dapat menahan diri, “Apakah Anda, maaf, biar saya menebak; dari Japon? Atau China?” saya tersenyum geli. Bagaimana bisa, kulit saya yang gulita ini diasumsikan sebagai keturunan China atau Jepang? Saya menjawab santun, “Saya Indonesie (merujuk cara mereka menyebut Indonesia, mengikuti lafal Perancis. Bila saya menyebutnya dengan akhiran ‘a’, biasanya menimbulkan ketidakmengertian sejenak).”

Salah satu dari staf itu, bernama Smey kontan berseru, “Ah! Bali, Bali!” Saya mengacungkan ibu jari. “Bagus, sudah ke sana?” Sambil tersenyum malu, ia menjawab, “Sayangnya hanya tahu dari TV.” Tetap saja saya merasa senang, karena mereka menaruh perhatian –lewat kulit saya.

Puncak dari kisah seputar kulit saya adalah saat mendaki Phnom Chisor alias Suryadri atau Gunung Matahari, dibangun pada abad ke-11 di masa pemerintahan Raja Suryavarman I –sekitar 37 km dari ibukota Phnom Penh.

Lokasinya mengingatkan saya pada Phnom Bangkeng di Siem Reap, tapi di sini tersedia warung terbuka menjajakan aneka minuman ringan sampai memasakkan makanan mirip warteg dadakan.

Beberapa ibu penjaja merubung saya. Phy, sopir tuk tuk yang setia mengantar sepanjang lawatan keliling kota dan sekitarnya sampai ke puncak bukit, langsung berinisiatif menjadi penterjemah.

(c) ukirsari, a tuk umpow seller

Mula-mula pertanyaan basa-basi; mengapa lebih suka tuk umpow atau es tebu dibanding minuman bersoda (catatan: bagaimana saya tidak doyan tuk umpow, yang sungguh nikmat sebagai thirst quencher? Diperas langsung tanpa tambahan apapun kecuali sedikit air matang, diberi kucuran jeruk manis bercitarasa mirip calamansi dan dibubuhi es batu), sampai berapa umur saya, punya pekerjaan apa dan apakah di kantor mengenakan sarung (sama cara penyebutannya juga sarung) seperti mereka atau tidak.

Semua pertanyaan mendapat jawaban. Sampai akhirnya, seorang ibu tak lagi melihat kepada Phy tapi langsung menatap mata saya dalam-dalam. Berkata panjang lebar dalam bahasa Khmer sembari mengusap-usap kulit saya. Sejenak, pikiran saya melayang pada teks potret di buku travel guide tentang ‘Hello Mr Brigade‘. Apakah para wisatawan barat itu merasa jadi sedemikian penting karena mendapat perlakuan istimewa macam begini?

Terpatah-patah –mungkin takut saya bakal marah, sopir tuk tuk saya berkata, “Kata ibu ini … hmm … mengapa, Anda orang Khmer, tapi tidak mau berbahasa Khmer sedikitpun?”

Tentu saja saya terkesima. Kulit saya dipegang-pegang, bukan karena ada perbedaan, tapi justru karena punya persamaan. “Non, non. Bukan saya tidak mau, tapi tidak bisa. Saya bukan orang Khmer,” jawab saya. Ibu itu, masih terus mengusap-usap tangan saya dan memandangi kulit saya tanpa henti.

“Katakan, sedikit saja bahasa Khmer,” pinta Phy. “Dia mau tahu aksen Anda. Kata beliau, siapa tahu Anda berpura-pura tidak bisa.”

(c) ukirsari, at suryadri, the sun mountain

Ah, mengada-ada. Tapi saya penuhi juga permintaannya. Mencoba kosakata tersering dan paling saya ingat. Apalagi kalau bukan ‘or koon‘ (terima kasih), ‘soksdee‘ (apa kabar) serta ‘chop chop‘ (berhenti. Biasa saya pakai buat menyuruh Phy berhenti bila ingin memotret sesuatu di tengah jalan).

“Naaah … itu bisa! Kulit kamu sama dengan kami, Nak. Kamu pasti punya generasi pendahulu orang Khmer,” ucap ibu itu sebagaimana diterjemahkan Phy. “Kamu ini saudara kami. Coba ceritakan bagaimana kulit orang-orang Indonesie itu.”

Jadilah saya mencari-cari uang kertas di dompet. Bukan untuk dibagi-bagi –karena saya tahu, tujuan percakapan ini curiousity semata. Mereka tak pernah meminta uang, kecuali saya beli barang jualan mereka– tapi buat sarana ‘pelajaran geografi’.

Beruntung, ada selembar Rp 1.000 (bergambar Kapitan Pattimura), Rp 5.000 (Pangeran Diponegoro) dan Rp 10.000 (Sultan Mahmud Badaruddin II). Bisa digunakan mewakili beberapa daerah negeri kita; Kepulauan Maluku, Pulau Jawa dan Sumatra.

Lantas di atas sebidang tanah, di bawah sebatang pohon rindang, dengan bantuan ranting, saya menggambar kepulauan Indonesia, lalu meletakkan ketiga uang kertas di pulau-pulau itu. “Jadi beginilah wajah-wajah orang negeri kami. Tidak serupa persis, karena kondisi geografis serta asal nenek moyang. Makanya, kami punya semboyan ….” keterangan saya ditambah terjemahan Phy membuat mereka mengangguk-angguk mengerti.

Beberapa pendeta Buddha Theravada yang tengah berjalan dekat kami ke ashram di puncak bukit sempat memandang heran, mungkin dikira saya kurang waras, berbicara penuh semangat di tengah siang terik dalam bahasa asing.

“Dan, yang paling penting …,” tambah saya sembari mengingat-ingat dongeng anak-anak dari ayah saya sekaligus buku-buku sejarah yang pernah saya baca, “Nenek moyang saya telah mengadakan pelayaran ke tujuan jauh, berabad-abad lampau. Bahkan di masa kerajaan Majapahit, ada seorang putri Champa yang menikah dengan raja kami di Jawa Timur. Kami menyebutnya Putri Chem-po.”

Tanpa disangka-sangka, seorang ibu penjaja makanan yang kukunya dicat –kata dia beberapa saat kemudian, setelah saya bertanya lewat Phy, itu gara-gara putrinya mendandani saat resepsi pernikahan kerabat mereka dan ia tidak tahu bagaimana cara membersihkannya pakai aceton– mendekati saya dan memegang kedua pipi saya. “Jadi benar kita bersaudara, bukan? ‘Kan sudah dibilang, kulit kita pun sama.”

Saya hanya bisa mengangguk mendengar pernyataan yang begitu tulus serta sederhana. Benar-benar tidak menyangka, bakal diterima begitu hangat di sebuah tempat asing, dekat reruntuhan kuil Raja Suryavarman I, oleh orang-orang sederhana tetapi begitu besar hatinya. Saya mengucap or koon …. sepenuh hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s