battle, east sussex

Angin mendesir di antara dedaun pepohonan english oak (Quercus pedunculata) berwarna keemasan. Menciptakan riap-riap gelombang warna musim gugur nan apik. Hijau tua semu kuning, kekuningan mengarah cokelat muda sampai cokelat matang cenderung oranye karena disaput sinar matahari. Kami berjalan melintas dekat sebuah private school dalam kompleks Battle Abbey. Musim gugur kali ini terasa beda dibanding yang lalu, langit biru cerah tanpa awan kelabu.

(c) ukirsari

Dari dalam sebuah gedung yang tersusun dari batu-batu tebal peninggalan masa silam, samar terdengar paduan suara anak-anak perempuan usia belasan. Plaisir d’Amour, sebuah lagu cinta klasik berbahasa Perancis karya Jean Paul Égide Martini (1741-1816).

Ingatan saya melayang pada salah satu episode Band of Brothers –mini seri kisah tentara penerjun para (paratrooper) Amerika Serikat semasa Perang Dunia II yang dikirim ke pantai-pantai Normandia, Perancis (Omaha Beach dan Utah Beach) dalam penyerbuan berkode ‘Operation Overlord’ melawan pasukan Jerman.

Saat itu –dengan narasi Sersan Carwood Lipton– adalah suatu malam, di mana untuk pertama kalinya pasukan para Amerika Serikat dapat menginap dalam sebuah kompleks gereja, setelah menghabiskan musim dingin berminggu-minggu di pegunungan Ardennes dan Foy. Mereka dihibur paduan suara putri gereja (choir) dengan Plaisir d’Amour.

Lantas Sersan Lipton (yang kemudian mendapat penghargaan kenaikan pangkat menjadi letnan dua) mengucap, betapa sebuah peperangan telah ‘mengambil’ teman-temannya satu peleton. Mulai dari kematian Muck dan Penkala, lalu sepasang sahabat sama-sama kehilangan anggota tubuh mereka; Joe Toye dan Bill Guarnere, sampai Letnan Satu Buck Compton yang mengalami depresi. Ia tak dapat melanjutkan misi sebagai anggota pasukan para, setelah mendapati Toye dan Guarnere meregang sakit di tengah salju, dalam bombardir hujan peluru dan bom pihak musuh.

Tanah tempat kami berpijak saat itu, punya riwayat serupa lereng-lereng pegunungan Ardennes (Belgia) di mini seri Band of Brothers. Juga tak banyak berbeda dengan semua tempat di berbagai penjuru dunia yang menjadi medan peperangan.

Sebuah saksi bisu berupa lahan terbuka diraupi kucuran darah, teriakan heroik serta dibalur semangat patriotisme pihak-pihak pelaku perang. Meninggalkan kepiluan bagi siapa saja yang menyimak babakan selanjutnya. Bahkan, terasa begitu ironis bila disandingkan dengan lagu Plaisir d’Amour.

Kami beruntung karena bertandang ke Battle di hari menjelang peringatan Battle of Hastings. Beberapa tenda bertuliskan English Heritage siap seputar padang rumput. Konon, tempat ini tak disentuh selama berabad-abad, dibiarkan sebagaimana saat pertempuran berlangsung di masa lalu, pada 14 Oktober 1066. Sementara beberapa calon pengisi acara mondar-mandir dengan pakaian perang abad pertengahan. Selintas mengingatkan kami pada komik Perancis, Asterix dan Obelix.

Pada bagian bahu beberapa orang ini, tersampir rubah terbuat dari kain dan bulu-buluan palsu. Sebastien, salah satu dari mereka yang berpakaian pasukan Norman menyebut, dua hari mendatang mereka akan menggelar semacam rekonstruksi peperangan akbar kedua belah pihak, yaitu bangsa Norman dan Anglo-Saxon.

“Jangan bayangkan terlalu serius,” ujarnya sembari menyantap keju yang diambil dari salah satu tenda. “Sama sekali tak ada unsur kekerasan karena panah dan tombak terbuat dari karet. Dan pada hari-hari itu kami juga menerima kunjungan dari kerabat jauh yang sengaja datang dari Perancis. Saya sendiri bukan penduduk asli Battle, tapi senang tinggal di sini pada bulan-bulan menjelang peringatan Battle of Hastings

(c) ukirsari

Nama Battle sebagai kota, dibuat sebagai peringatan pascapeperangan Battle of Hastings yang terjadi pada 14 Oktober 1066. Satu babakan sejarah dituntaskan pada tanggal itu, yaitu saat bangsa Anglo-Saxon (Inggris) mesti berbesar hati menerima kekalahan dari serbuan orang-orang Norman (Perancis).

Tapi di sisi lain, sejarah baru Britania Raya tercipta, dengan terjadinya akulturasi budaya bersama masyarakat Perancis serta negeri-negeri lain di Eropa daratan. Tidak lagi terisolasi dan sebatas membina hubungan dengan negeri-negeri Skandinavia.

Battle sendiri, kini masuk wilayah distrik Rother di East Sussex, England dan berjarak sekitar 79 km dari London. Letaknya diapit beberapa kota tetangga, seperti Bexhill-On-Sea (selatan), Hastings (tenggara), serta Brighton dan Lewes (timur). Populasi penduduk Battle mencapai 6.171 orang berdasar sensus 2007.

Sebagai kota tujuan wisata, Battle menawarkan rekreasi kota tua, gedung bersejarah dan trail napak tilas peperangan akbar antara kaum Norman dan Anglo-Saxon. Rutenya beragam, situs orisinal yang melingkupi Battle Abbey dan medan peperangan Battle of Hastings, sampai lintasan jalan kaki ke luar kota yang merefleksikan perjalanan panjang pasukan Norman masuk ke area ini, melewati estuaria dan tepi lautan.

Pengunjung dengan mudah bisa menemukan beberapa rute, setelah membaca papan penunjuk jalan dekat Battle Abbey; 1066 Country Walk – Pevensey atau 1066 Country Walk – Rye.

Musim gugur ini, kami memilih napak tilas Battle of Hastings. Dari lahan parkir dekat lingkungan bekas gereja Battle Abbey, kami menjejakkan kaki ke Gatehouse –gerbang kompleks gereja– dan membayar retribusi masuk. Berlanjut ke bangunan paling depan dari kompleks, dinamai Abbey Shop.

Di sinilah tempat para wisatawan berbelanja cendera mata sebelum melanjutkan perjalanan ke berbagai situs sejarah kota Battle. Paling diminati, semacam koran bertajuk utama ‘Battle: 1066’. Berisi berita dan gambar historis Battle Abbey dan Battle of Hastings.

Koleksi lainnya, kaos warna kecokelatan bergambar pertempuran antara Raja Harold II dan Raja William sang Penakluk dalam Battle of Hastings, dibubuhi aksara Latin. Adegan itu dicuplik dari Bayeux Tapestry, sebuah sulaman panjang 70 m x lebar 50 cm yang dibuat untuk menggambarkan kemenangan kaum Norman dalam upaya pendudukan England.

Sulamannya sendiri, kini disimpan di Bayeux, Normandia, Perancis. Sedang imitasinya berada di Reading, Berkshire, England. Pada Juni 2007, Bayeux Tapestry ditahbiskan sebagai ‘Memory of World Register’ dari badan dunia UNESCO.

Battle Abbey merupakan gereja yang dibuat Raja William the Conqueror di kota kecil Battle. Sebuah sumber menyebut, pembangunan ini merupakan permintaan Paus Alexander II pada 1070 kepada kaum Norman, yang telah membunuh begitu banyak orang dalam upaya penaklukkan di England –bagian dari Britania atau Inggris Raya. Sebuah negeri yang terdiri atas England, Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara.

Sedang informasi lain menyatakan, Battle Abbey hadir sebagai pemenuhan atas janji Raja William sendiri, yang ia ucapkan di gereja St Valery sur Somme Abbey (Normandia), sebelum menyeberang Selat Inggris.

Setelah ‘masa pembubaran biara’ zaman pemerintahan Raja Henry VIII, Battle Abbey dijadikan rumah pribadi. Sir Thomas Webster, baron pertama klan Webster, membeli Battle Abbey pada 1719. Klan ini memilikinya hingga 1858, lalu dijual pada Lord Harry Vane, Duke of Cleveland.

Kepemilikan berlangsung hingga 1901, kemudian dialihkan kepada Sir Augustus Webster, baron ketujuh dalam silsilah klan Webster. Fungsi sebagai wahana religi pun berubah. Bekas gereja ini pernah menjadi sekolah putri berasrama, juga pangkalan tentara Kanada selama Perang Dunia II.

Mulai 1976, Battle Abbey resmi menjadi milik pemerintah Inggris dan sekarang menjadi bagian dari badan English Heritage.

Tak jauh dari kompleks gereja, terdapat prasasti peringatan Raja Harold yang diberikan pihak Perancis pada 1903. Seolah bukti kedua negara tak ingin berseteru setelah peperangan Battle of Hastings berakhir, di sana tertera Diex Aie … le brave Harold le Saxon … a’la Grańde Bretagnela Loi Normande. Lantas di belakangnya, pepohonan perdu berderet rapat dan dipangkas rapi. Dibentuk mirip lorong-lorong hijau yang meneduhkan jiwa, selagi kaki melangkah menyusurinya.

2 thoughts on “battle, east sussex

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s