visiting pubs in london

KARAKTER UNIK DI TIAP ‘KEDAI MINUM’
Artikel dan foto: Ukirsari dan Nicholas Ingram

small note: some of the postings we did here in our blog can provide info to the readers. sure, can be taken as additional info. but mind you to do it with etiquette of permission for linking. do not copy bad behaviour as follows.

Pub telah menjadi ikon sosial masyarakat London. Sekaligus tujuan wisata para pelancong. Tak lengkap rasanya bertandang ke ibukota Britania Raya tanpa mampir barang sejenak ke rumah minum khas Inggris.

(c) ukirsari

“Mau jumpa di pub mana sore ini, my Angel of Music?” saya tak dapat menahan senyum saat membaca pesan pendek dari pasangan di ponsel saya. Ini nama panggilan baru setelah kami menonton Phantom of the Opera di Her Majesty’s Theatre, London.

Tapi intinya, pesan tadi menyoal pub. Bagi kaum Brits -termasuk Londoners- ketika jam kerja 9 to 5 atau 8 to 4 berakhir, artinya kehidupan sosial mengalir kembali. Pub jadi salah satu sasaran favorit yang dituju.

AWAL KELAHIRAN PUBLIC HOUSE

Menurut Peter Haydon, penulis buku ‘The English Pub’ dan Mark Girouard, yang menerbitkan ‘Victorian Pubs’, pub bukanlah sekadar tempat di mana minuman dibeli lalu dikonsumsi.

(c) ukirsari

Lebih dari ratusan tahun, pub telah menjadi tempat untuk berjumpa dengan teman dan kerabat.

Tempat yang menyediakan ruang untuk berbincang santai sampai serius, karena di situ jugalah para pebisnis bernegosiasi.

Di tempat minum ini orang-orang juga berkumpul melakukan suatu perayaan, main games sampai mencari ketenangan. Dengan membaca sebuah buku, contohnya.

Dalam perkembangannya, pub bahkan dapat menggeser orientasi dalam menjaring pasar yang lebih luas. Yaitu menjadi tempat yang pas bagi keluarga, karena menyediakan aneka santapan, mulai jenis ringan sampai berat.

Bahkan di kawasan pedusunan Inggris, pub juga dilengkapi tempat menginap serta punya peran ganda melayani masyarakat. Seperti menjadi bagian dari gereja atau kantor pos kecil.

Nama pub merupakan kependekan dari Public House yang mulai dikenal sejak zaman Victoria. Bangsa Romawi mengenalkan awal keberadaan pub di England (Britania Raya terdiri dari England, Wales, Scotland dan Irlandia Utara). Kedai minumnya menjual anggur dan makanan serta bir atau ale lokal.

Setelah kaum Romawi angkat kaki, pub Romawi turut menghilang. Sampai tiba saatnya kaum penakluk datang dan pergi serta bermukim di England.

Satu kesamaan para pendatang ini:  sama-sama doyan minum ale. Minuman beralkohol hasil fermentasi malted barley, air dan ragi.

Pembuatan ale perlu keahlian khusus. Salah menyimpan olahan, hasilnya bakal asam. Usaha brewery jadi berkembang pesat, sampai-sampai Raja Ethelbert dari Kent membatasi peredaran ale di abad ke-7 karena takut rakyatnya tak sadarkan diri.

Penerusnya, Raja Edgar menerapkan regulasi banyaknya ale yang boleh diangkut serta larangan mabuk di beberapa lokasi.

Berkembangnya Kristianitas bukan berarti konsumsi masyarakat Inggris akan ale jadi surut. Hadir jenis abbey ale yang dibuat berdasar standar kepastoran.

Minuman ini disuling khusus untuk perayaan gereja atau penggalangan dana, dinamai scot ale. Sedang di luar gereja diedarkan versi konsumsi umum yang berjuluk scot free.

Di abad pertengahan, seiring bertambahnya populasi manusia dan tumbuhnya perindustrian yang berdampak polusi, kualitas air bersih jadi tercemar.

Ale menjadi satu-satunya minuman yang aman dikonsumsi!
Karena permintaan ale terus bertambah, usaha brewery kembali berkembang dan mulai memainkan peranan tetap dalam kehidupan masyarakat Inggris.

Hal itu dibarengi dengan tumbuhnya pub di seantero negeri hingga menjadi salah satu ikon sosial sampai kini.

MENJUAL KEUNIKAN BEDA

Kami berjumpa di Tower Hill Underground Station sebelum petang. Diteruskan jalan kaki menuju The Minories. Pub yang punya sebuah keunikan: dibangun di bawah jalur rel kereta api (viaduct) Fenchurch Street Station jurusan London – Laindon dan beberapa kota sekitarnya.

(c) ukirsari

Bangunan orisinalnya berupa bata ‘telanjang’ tanpa polesan sedikit pun. Mulai luar sampai dalam gedung serba bata. Ada tiga pintu masuk utama ke pub ini: dari Goodman Yard yang memiliki kanopi dan kursi-kursi di ruang terbuka atau disebut beer garden dengan suasana musim gugur nan apik, lewat pintu masuk stasiun DLR (Docklands Light Railway) dan satu lagi tepat di bawah viaduct, berupa pintu putar klasik gaya 1950-an.

Langit-langit pub ini berbentuk lengkung, tetap memamerkan bata sebagai ornamen utama. Pipa-pipa instalasi yang melintang jauh di atas meja bar panjang menjadi aksen. Lantas lampu-lampu penerang digantung rapi.
Setiap kali kereta lewat, suara gemuruh roda kereta akan terdengar sampai ke dalam pub. Disertai goncangannya sesekali. Itulah pesona The Minories. Selain sofa empuk di beberapa sudut, kursi bar yang tinggi dan meja biliar.

Menyeberang terowongan dekat The Minories dan memutar beberapa blok sampai Crutched Friars, sampailah kami ke pub lain bernama Cheshire Cheese -yang bisa membuat lidah keseleo saat menyebutnya.

Bila The Minories lebih kental nuansa gemuruh kereta serta goncangan dan kami ‘hanya’ menghabiskan segelas Guiness bir hitam dan Strongbow’s Cider (ale atau bir dari fermentasi sari apel kesukaan saya), kini saatnya santap malam di pub.

Suasana Cheshire Cheese lebih mengarah ke ‘nasionalitas’. Karena pada langit-lainnya diikatkan bendera England, warna putih dengan salib merah, serta bendera tim sepakbola. Sajiannya, mesin games dan plasma screen yang menyiarkan liga sepakbola Inggris.

Riuh-rendah suara penikmat bola, berpadu teriakan para pemain games serta rekan-rekannya yang menyemangati. “Pengunjung di sini makin penuh bila sedang berlangsung tayangan sepakbola live,” tutur Giselle, pramusaji yang mengantar santap malam kami.

Kali itu kami memesan satu makanan populer, Super Burger serta salah satu menu klasik Inggris; Toad in the Hole. Alias ‘Kodok sembunyi dalam lubang’. Ujudnya 3 sosis yang dibungkus Yorkshire Pudding dan dipanggang hingga berwarna keemasan.

Disajikan dengan saus cokelat, mashed potato serta kacang polong. Rasanya gurih dan crispy sekaligus sangat mengenyangkan untuk perut Asia seperti saya!

LOKASI ROMANTIS

Selain keunikan yang menjadi ‘cap’ setiap pub di London -sekaligus jadi kebanggaan pemilik dan pegawainya- lokasi juga jadi pertimbangan kami saat memutuskan ke pub. Suasana romantis bisa menjadi pertimbangan tersendiri.

(c) ukirsari

Seperti misalnya saat menyusur St Katherine’s Way sepulang berkunjung dari Tower of London.

Jalan pedestrian tepian Sungai Thames mengarah ke Millers Wharf, mengantar kami ke semacam teluk kecil dimana catamaran dan yacht lego jangkar.

Latarbelakangnya beberapa pub. Salah satunya Dicken’s Inn.

Kembali kaki menyusur jalanan yang menjauh dari St Katherine’s Way. Menuju alamat Queen Victoria Street No 174, Blackfriars. Cuma berapa langkah dari gerbang Tube (Underground) station Blackfriars, di sinilah berdiri pub The BlackFriar.

Bentuk bangunannya segitiga, terdiri atas tiga lantai. Ada patung seorang santo yang diletakkan sebagai ornamen eksterior di depan lantai dua dengan jam berangka Romawi di belakang kepalanya.

Seperti halnya mayoritas pub di London yang sudah berusia tua, The Blackfriars dibangun pada tahun 1875. Saat memasuki pub, suasananya mirip gereja. Seperti model jendelanya. Juga meja bar yang ditutup marmer, mengingatkan pada bagian sebuah chapel.

Di sebelah kirinya terdapat semacam rongga yang terhubung dengan lantai dua yang juga berfungsi sebagai dapur. Pramusaji akan mengerek masakan siap saji dari rongga ini, untuk disajikan pada pemesan.

Sementara dekorasi marmer muncul di dinding bagian tengah dan belakang pub. Ditambah mosaik dan patung bas-relief yang menggambarkan orang-orang berjubah tengah panen anggur dan apel.

Karya seni ini ditambahkan perupa Nathaniel Hitch, Frederick T. Callcott dan Henry Poole pada tahun 1904. Dan pada tahun 1960-an, Sir John Betjeman memimpin kampanye untuk menyelamatkan gedung ini dari pemusnahan untuk digantikan bangunan baru.

Tak kalah romantis, adalah pub yang kami datangi setelah turun dari Tube jalur Piccadilly di kawasan Hammersmith. Terletak di London barat.

Setelah melewati seruas jalanan yang tak membolehkan kendaraan bermotor lewat, kami menyusur tepian Sungai Thames dengan posisi Hammersmith Bridge di sebelah kiri.

Jembatan yang dibangun 1887 ini memiliki panjang 213,4 m dengan lebar 13,1 m.

Saat malam tiba, lampu-lampu temaram dari sang jembatan memancarkan sinar romantis sekaligus memantul di atas Sungai Thames. Kami menyaksikan beberapa kapal mooring dimana sang pemilik tinggal di situ.

Lantas di sebelah kanan, pub The Blue Anchor terlihat tak kalah romantis dibanding Hammersmith Bridge.

Usia pub ini telah mencapai lebih dari 300 tahun. Lisensi sebagai badan usaha Public House didapat pada 9 Juni 1722. Kisah ini kami dapat saat George, pramusaji yang mengantar Cumberland Ale dan London Pride Ale pada kami.  “Sebuah kebetulan. Salah satu dari kami juga dilahirkan pada 9 Juni! Tentu saja dengan tahun yang berbeda.”

Dinding serba putih, berpadu dengan aksen biru pada kusen jendela sampai pintu. Di musim panas hingga musim gugur, The Blue Anchor juga menyediakan beer garden di bagian muka, hingga para pengunjung bisa mudah menikmati suasana Sungai Thames.

Sementara malam hari, pengunjung bisa santap malam atau sekadar minum di ruang dalam. Suasananya tenang, dengan hidangan beragam. Mulai tradisional Inggris seperti Chicken BLT, Jacket Potato Wedges atau Salt Beef. Sampai yang berbau Meksiko dan Timur Tengah.

(c) ukirsari

Pilihan kami jatuh pada Taramasalada, Houmous dan Tzatziki disajikan dengan roti pitta hangat.

Sungguh nikmat, apalagi ditemani ale serta tungku penghangat ruangan untuk mengurangi dinginnya temperatur di musim gugur.

Jauh di luar sana, bulan bersinar hampir penuh sementara Hammersmith Bridge tegak berdiri. Sesekali, pesawat terbang malam dari dan ke arah bandara Heathrow.

SELUK-BELUK PUB

Bila ada pendapat yang menyatakan pub hanya buka malam hari, hal itu tak sepenuhnya benar. Pasalnya, di saat makan siang pun orang dapat bertandang ke mari dan memesan hidangan lengkap maupun model cepat saji (semisal sandwich).

Meski demikian, pub juga punya aturan main yang bisa dibaca di depan pintu atau sebelum tamu masuk ruangan. Semisal ada pub yang cuma menyediakan minum setelah jam makan siang.

“Itu artinya, tamu tak bisa memesan hidangan saat petang atau malam hari,” kata Siobhan, pramusaji pub Princess of Prussia yang terletak di kawasan Tower Hill, seraya dengan ramahnya memberikan uang kembalian pada saya. Berupa koin seri terbaru keluaran Kerajaan Inggris.

Sebaliknya, ada pula pub yang menyediakan makanan dengan harga diskon di akhir pekan. Julukannya beragam, di Lord Moon of the Mall di daerah Whitehall, pariwaranya berbunyi ‘Join the Sunday Club, after 12AM’.

Artinya, setelah jam 12 siang kami bisa makan siang dengan satu harga untuk dua porsi makan siang.

Ada pula pub yang menerapkan harga khusus sepaket, bila pesan makanan berikut minumnya -yang bisa pilih terserah selera.

Contohnya di Lord Moon of the Mall, untuk segelas Strongbow’s Cider harganya GBP2.10 (catatan GBP1 = Rp 17.170). Sementara Roasted Turkey labelnya GBP6.10 seporsi. Bila kita pesan paket hidangan itu ditambah salah satu minuman, harganya GBP6.25. Bisa dijadikan sarana menghemat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s