one day in paris

small note: some of the postings we did here in our blog can provide info to the readers. sure, can be taken as additional info. but mind you to do it with etiquette of permission for linking. do not copy bad behaviour as follows.

Ingin berlama-lama tetirah di Paris? Siapa yang menolak! Tapi menikmati berjalannya waktu dalam sehari saja di kota ini bukannya tak cukup.

(c) ukirsari and nicholas ingram

Ini berdasar ‘cuplikan’ dari salah satu film favorit saya ‘Before Sunset‘ dimana Jesse (Ethan Hawke) hanya punya waktu sekian jam di Paris untuk dapat bersama dengan Céline (Julie Delpy). Sepasang kekasih yang berjumpa sembilan tahun silam di Wina, Austria dan sempat berpacaran sekian jam saja di prekuelnya, ‘Before Sunrise‘.

Meski cuma jumpa sejenak di Paris, Jesse dan Céline dapat menikmati espresso di kafe, ngobrol di jardin (taman) sampai naik bateaux mouches –kapal wisata dengan bagian buritan terbuka- yang melayari Sungai Seine.

Lantas bagaimana dengan saya yang kali itu bertandang ke Paris seorang diri? Sebutan ‘Kota Cinta’ rasanya tak sebatas menggarisbawahi keberadaan kota ini begitu tepat buat dikunjungi para pasangan. Bagi para lajang pun, Paris ‘membuka tangan’ sedemikian lebar.

WALKING ON A CATWALK

“Setiap perempuan yang datang ke sini, punya kesempatan berjalan di atas catwalk,” tutur sahabat saya, Arnaud Marius Albert Schmidt. Sebagai seorang Parisian yang tengah berada di luar Prancis, ia merasa perlu ‘menuntun’ saya di kota tercintanya lewat kata-kata. “Jangan lupa mampir ke Avenue des Champs-Elysées!”

Tak sebatas mampir ke sana, saya bahkan mengawali hari di sini. Pada suatu pagi. Ketika pepohonan yang ditanam berderet beraturan di pedestrian tidak lagi menampakkan warna dominan hijau karena musim gugur telah tiba.

Butik-butik ternama dan banyak kafe sudah buka. Tempat-tempat ini memfungsikan bangunan tua dan beberapa di antaranya memasang kanopi. Orang-orang berjalan lalu-lalang di sepanjang pedestrian.

Sementara para perempuan tampil modis. Berjalan dengan langkah cepat mengenakan boots aneka rupa. Sementara bentuk pakaian yang dipakai tersamarkan oleh jaket atau overcoat. Begitu bergaya!

Saya jadi terngiang kalimat Arnaud, “Setiap perempuan yang datang ke sini, punya kesempatan berjalan di atas catwalk.” Sangat mungkin, inilah maksudnya! Datang ke Paris untuk menikmati atmosfer sebuah kota klasik sembari melenggang penuh gaya. Berjalan di atas pedestrian panjang, menikmati datang dan berlalunya hari di salah satu pusat mode dunia.

Nama ruas jalannya sendiri, Avenues des Champs-Elysées dipetik dari mitologi Yunani, ‘Elysian’ atau padang surga. Tak berlebihan, karena di sinilah para wisatawan dapat mempresentasikan diri.

Termasuk dalam membelanjakan uang dan waktu ke sekian banyak butik serta kafe sepanjang boulevard yang diapit Arc de Triomphe di satu ujung dan Place de la Concorde di ujung lainnya.

Arc de Triomphe (Triumphal Arch) dibangun Kaisar Napoleon Bonaparte pada 1806 sebagai simbol kejayaan penaklukkannya atas negeri-negeri lain. Lokasinya sendiri ada di tengah Place Charles de Gaulle atau dikenal sebagai Place de Étoile -bundaran lalu-lintas terbesar di dunia.

PARIS TERBAGI DUA

Matahari sebentar lagi tepat di atas kepala ketika saya melompat ke salah satu bateaux mouches. Duduk di salah satu kursi bagian buritan kapal yang didesain tanpa atap. Sebuah cara jitu untuk memanjakan mata menikmati Paris dari kedua sisi, karena Sungai Seine membelah kota itu di bagian tengah.

Di sisi kiri sungai (Rive Gauche), terlihat Menara Eiffel, Champ de Mars sampai Pont de l’Alma serta Notre Dame Cathedral. Sedang di kanan sungai (Rive Droite) di antaranya bisa memandangi Champs-Elysées Clemenceau, Petit Palais dan Grand Palais, Museum Louvre serta Place de la Concorde.

Kapal wisata sungai ini juga menyediakan paket makan siang serta santap malam, bila penumpang menginginkannya.

Melihat Paris dari kedua sisi sungai, rasanya tidak perlu banyak kata. Apalagi bila bepergian sebagai solo traveler tanpa kawan untuk berbagi percakapan. Karena secara visual, kota ini sudah menyajikan keindahannya secara sempurna kepada masing-masing orang!

Dari pemberhentian kapal, saya menuju Champs de Mars. Sebuah lapangan berumput yang dulunya dipakai sebagai tempat parade Akademi Militer (École Militaire) abad ke-18 di mana Kaisar Napoleon menjadi salah satu lulusan terbaiknya.

Tak jauh dari sini, berdirilah menara setinggi 300 m yang menjadi landmark Paris nomor satu. Tour Eiffel atau Eiffel Tower karya Gustave Eiffel. Dibangun pada 1889 untuk memperingati Revolusi Prancis dalam Paris World Fair.

Membeli tiket untuk naik elevator ke puncak Menara Eiffel merupakan opsi menarik. Karena dari puncaknya dapat dilihat lansekap Paris.

(c) ukirsari

Tapi duduk-duduk menikmati senja serta keramaian yang diciptakan anak-anak muda juga bukan pilihan buruk. Apalagi beberapa di antaranya main skateboard.

“Mau coba?” salah satu di antaranya bahkan sempat menawari. “Hahaha … Mon Dieu! Permainan susah,” balas saya. “Lebih baik menonton saja!”

Melangkah ke seberang Menara Eiffel, Jardins du Trocadéro atau Taman Trocadeo sudah menanti. Rasanya, inilah tempat paling pas bagi saya buat mengucapkan ‘Selamat petang, Paris’.

Saat langit sudah menggelap, Menara Eiffel akan berpendar. Bagai disiram cahaya selama 10 menit, setiap satu jam sekali. Bagi saya pribadi, itulah salah satu pemandangan paling indah dan paling romantis yang pernah saya nikmati. Dalam ketenangan dan bening malam tanpa diusik orang lain di Paris, City of Lights.

Sampai jauh malam, ketika kaki melangkah balik ke penginapan, Paris terus bermandikan cahaya. Termasuk Butte de Montmartre atau Bukit Montmartre di mana terletak Basilique du Sacré Coeur atau Basilika Hati Kudus. Dari jendela kamar saya, gereja batu putih buatan Chateau-Landon itu juga terlihat bermandikan cahaya.

(c) nicholas ingram

Tiba-tiba saya merasa seperti Jesse dan Céline di film ‘Before Sunrise‘. Rasanya enggan melepaskan malam yang begitu menawan. Saya duduk di balkon penginapan hingga dini hari. Paris, je t’aime!

CAFE, CAFE, CAFE!

Bagaimana cafe menjadi bagian kehidupan masyarakat Paris, rasanya tak perlu diragukan lagi. “Dari obrolan serius, berbagi gosip sampai mencari ide pun berlangsung di tempat minum ini,” kata Arnaud, salah satu sohib saya yang bermukim di Montmartre.

Karenanya, selagi di ibukota negara Prancis itu jangan lupa sisihkan waktu barang sejenak buat menyeruput kopi ataupun cokelat panas di salah satu cafe yang ada di sana.

Menurut salah satu sumber di internet, kafe di Paris jumlahnya lebih dari 20 ribu. Keberadaan tempat minum sekaligus bersosialisasi ini sudah marak sejak abad ke-19.

Masyarakat lokalnya sendiri, gemar duduk-duduk di udara terbuka ataupun teras kafe (bukan di dalamnya, malahan) untuk menikmati minuman -dan sesekali juga dilengkapi aneka roti, seperti croissant misalnya-sembari berbincang banyak hal.

Beberapa kafe terkenal terdapat di Saint Germain-des-Pres. Di antaranya Café de Flore dan Les Deux Magots.

5 thoughts on “one day in paris

  1. haha i like your writing, i was there alone 3 times but ya agree with you Arie, i can still enjoy the beautiful of Paris & their life..ohh i must watch “Before Sunset” just to recall my moment in Paris…hehe…keep blogging, nice story,,and oh ya that’s a nice family photo on the header, sweet ..

  2. pradis!! thanks so much to pay a visit into my humble bloggies🙂

    yes i did the same like your experience. sure, it’s collectible items for the sequels of before sunrise and before sunset. it’s inspiring, bittersweet and telling about the journey itself: the travels and people’s life. two thumbs up [full with dialogues, minimum in action, hahahaha … but guaranteed: it’s so enjoyable!].

    and thanks again for compliment of my header picture. it’s the newest one from our family gathering in basildon🙂 *autumn in england*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s