membaca buku

(c) ukirsari

Scene 1

Ting!” elevator di lantai 1 membuka dan saya melangkah masuk. Menenteng daypack seperti biasa serta menenteng buku tebal. Berbarengan, masuk rekan-rekan seperusahaan.

“Mau jalan-jalan lagi, Rie? Kali ini ke mana?” sapa seseorang.

Glek! “Hmm, cuma lagi baca-baca dulu.” saya menjawab sembari keheranan.

Scene 2

Ting!” elevator di lantai dasar membuka dan saya melangkah ke luar. Menenteng daypack, kebutuhan shooting hari itu -yang ditenteng di tangan, tentu saja yang kategorinya kecil-kecil, seperti clipper, bundel script, topi dan buku teman perjalanan ke lokasi.

Ada lagi beberapa kenalan seperusahaan yang berpapasan di depan pintu elevator. Beberapa orang menyapa, “Mau pergi lagi, Rie? Kapan?”

Hah?!!!

Oh, don’t get me wrong. I feel so flattered with all of these questions. When and where you’ll start your travel again -by reading those travel books. But in my very simple way of thinking … is that a real trade-mark [of mine], whenever they see me carry my travel book [s] it always means I’ll be fly soon afterwards?

Soal bookworm, saya akui benar adanya. Apalagi sebagai seseorang yang kerap bepergian untuk sebuah penugasan ataupun dalam membelanjakan waktu libur. Sebuah buku ditenteng atau masuk ke dalam daypack, rasanya sebuah kebutuhan yang tak bisa ditawar. Utamanya bila bepergian sendiri. Demikian juga Nicholas.

Tapi ketika bepergian berdua, buku bawaan akhirnya lebih sering tak selesai dibaca karena kami lebih sering mengisi waktu luang di bandara atau tempat menunggu moda transportasi umum dengan aktivitas lain yang bisa dilakukan bersama.

Seperti mengamati runway di bandara –soal satu ini, saya mengagumi kecintaan Nicholas yang begitu besar pada dunia aviation— untuk tebak-tebakan pesawat yang take-off atau landing, jenisnya, buatan mana, sampai berapa lama kira-kira untuk sebuah delay. Atau bermain ‘yahtzee‘ alias kocok lima dadu yang juga senantiasa kami bawa sebagai teman perjalanan.

Buku kumpulan cerpen Seorang Perempuan yang Jatuh Cinta kepada Laut –salah satu bacaan saya– serta Java Spider –salah satu bacaan Nicholas– termasuk dua buku yang sangat lama selesai dibaca oleh kami berdua.

Meski demikian, ada juga buku yang selalu kami lahap. Baik sebelum memulai perjalanan, saat berlangsungnya liburan bahkan sesudahnya. Yaitu travel book [s] tadi.

Saking tebalnya, kadang kami memfungsikannya sebagai bantal darurat dalam perjalanan. Semisal saat naik ferry [sekitar 5 – 6 jam] menyeberang perairan Jepara ke Kepulauan Karimunjawa, saat naik kapal Pelni ke Kumai [Kalimantan] sampai saat bermalam di rumah kepala desa di Loksado [6 jam dari Banjarmasin] ketika sebuah dusun dengan masyarakat Hindu Kaharingan menggelar upacara Jujuran.

Buku-buku panduan perjalanan itu jugalah yang saya tenteng masuk lift atau elevator. Karena saya selalu ingin tahu, sekaligus mempelajari daerah yang akan dituju –terlebih bila saya belum pernah sekalipun ke sana.

Dengan membaca lebih dulu, saya bisa mempelajari lebih lama, membuat analisa, mencari info lebih lanjut, mempersiapkan diri dan perlengkapan, hingga saat bepergian tiba sudah dapat mengingat sebagian besar isi bukunya. Jadi saya tak perlu repot-repot lagi membuka halaman demi halaman lagi, cukup cross-check di halaman sekian-sekian, termasuk petanya.

Dengan begini, bagi saya, perjalanan dapat berlangsung lebih efisien sekaligus bisa memotivasi semangat, karena hal-hal menarik sudah tercantum di kepala dan tinggal diaplikasikan secara visual.

Ini menjadi keasyikan sendiri. Apalagi kalau point of interest yang dimaksud sudah mengalami perubahan, terlihat berbeda atau tidak sama dengan informasi yang diberikan. Hal demikian bisa diteruskan kepada pihak penerbit supaya mereka juga bisa terus update.

Gara-gara kejelian dalam ‘membaca’ situasi dan kondisi terbaru dari tempat kunjungan yang saya datangi lalu memberikan reportase pembetulan di sana-sini pada halaman-halaman buku panduan perjalanan saya, nama saya dicantumkan pada ‘thank you page’ buku Lonely Planet: Indonesia edisi 2006.

Yang lebih mengasyikkan adalah Rough Guides. Beberapa kali menggunakan produk penerbit ini dan selalu memberikan feedback, saya dikirimi buku panduan perjalanan terbitan mereka sebagai ucapan terima kasih. Buku Rough Guides saya untuk Laos dan Vietnam adalah gratis. Asal judul yang diminta ada -diberikan tanpa perlu saya bayar, sebagai rasa terima kasih pihak penerbit terhadap input pengguna– mereka akan memberikannya segera.

Jadi sebutlah, memberikan semacam review dan diberi buku sebagai hasil keuletan menyajikan update info tadi. Asyik, ‘kan?

Tapi, balik lagi ke soal bookworm tadi, tentunya bukan sebatas travel book membuat mata kami ‘hijau’ saat melihatnya di display toko atau saat dipasarkan di internet. Kisah fiksi, aneka perjalanan [lagi-lagi traveling] sampai true story bisa membuat saya dan Nicholas keasyikkan membaca.

Dan uniknya, kalau menyukai satu buku kami bisa membaca berulangkali. Misalnya seperti Our Hotel in Bali, Historical Sites of Jakarta karya Pater Adolf J. Heuken, The Enemy of the Gates: The Battle of Stalingrad, D-Day in Berlin, Long Way Down serta buku perjalanan Michael Palin.Satu hal lagi yang lucu, bila saat traveling kami kangen membaca dan merasa cukup dengan bacaan pendek alias bukan buku, segala macam majalah dan suratkabar bisa menjadi sasaran.

Bila dalam penerbangan, in-flight magazine lah yang dipilih. Mata kami akan berbinar-binar, bila kebetulan salah satu artikel yang ada di sana adalah karya saya dan atau kami berdua.

Kalau maskapai penerbangan –apalagi penerbangan domestik– membagikan suratkabar gratis, pilihan utama kami akan jatuh pada koran lokal. Paling mengasyikkan, bila salah satu topik yang diangkat berhubungan dengan tourist spot yang akan atau baru saja kami kunjungi. Apalagi bila temanya wild nature.

Di tempat liburan, kadang kami ‘menggeratak’ library yang disediakan di lobby penginapan. Buku-buku dan majalah-majalah ‘peninggalan’ para tamu sebelumnya juga jadi perhatian, karena siapa tahu kami dapat ide dari sana. Meski kadang bahasanya tidak kami mengerti secara utuh.

Free magazine dan free newspaper lokal dari area wisata di mana kami tengah berada turut kami masukkan dalam daftar bacaan. Biasanya jenis ini kami dapatkan saat berbelanja ke supermarket atau santap malam di cafe setempat. Selain jadi bahan bahasan, kadang juga potensial jadi bahan lelucon kami berdua -yang tentu saja diobrolkan dengan ‘gaya berbincang kami’.

Kembali lagi ke persoalan suka membaca, meski majalah dan koran terbilang sangat mudah ditenteng -dibanding buku tebal- kami berdua bukanlah tipe orang yang doyan ‘menimbun’ bahan bacaan di toilet.

Alasannya sederhana, namanya toilet pasti rawan didatangi baksil dan kuman dari feces yang begitu mudah meruap di udara dan bisa mengendap di mana saja. Termasuk di lembar-lembar kertas. Demikian juga dengan cipratan air yang bisa melejit ke mana saja.

Kalau sudah kejadian begini dan majalah atau koran dibawa masuk kembali ke ruang pribadi atau ruang komunal di rumah, siapa bisa menanggung kondisinya bebas baksil-kuman? Hiiiiiii!!!

2 thoughts on “membaca buku

  1. gw termasuk, dong, ya, orang yg pernah nyapa lo, dan nanya, “Mau jalan kemana lagi, nih?” hanya gara2 liat lo baca Lonely Planet tebal itu…😀

  2. hahahaha, saat gagasan mau memposting hal ini, mbak bril belum ketemuan sama aku. tapi saat mau diposting, lha kok mbak bril “mendahului”. jadinya … termasuk, deh😀
    ps: lp itu enak buat bantal kalo lagi shooting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s