Mingalarbar … Myanmar!

Pagi ini, salah satu rekan saya bertanya, “Tidak pakai baju merah untuk solidaritas rakyat Burma?” Errrrr … satu-satunya kaos merah milik saya –‘Edinburgh’– baru saja masuk ember rendaman cucian kemarin petang. Artinya, tidak bisa dipakai sekarang!

Tapi itu bukan berarti saya tidak punya empati terhadap apa yang tengah dirasakan dan terjadi di Pyidaungzu Myanmar Naingngandaw atau The Union of Myanmar. Apalagi ada 3 sahabat saya tercinta di sana; Soe Thiha Hlaing, Zin dan Eithwe.

Makanya, meski tema kaos saya hari ini adalah biru, di sana tertulis besar-besar ‘Myanmar’ seperti potret yang saya sertakan di sini.

(c) ukirsari

Pengalaman bertandang ke negeri yang punya 7 provinsi [Kachin, Kayah, Kayin, Chin, Mon, Rakhine dan Shan] ini setahun lalu, membuka mata saya. Akan suatu hal yang disebut sahabat saya, Soe sebagai ‘the hidden sadness’.

Saat pesawat belum lagi mendarat di Yangon, di lembar imigrasi yang mesti saya isi tertera pernyataan pemerintah setempat dalam huruf kapital: sebutkan alamat di mana Anda tinggal dan bila Anda pindah dari alamat itu, silakan lapor dalam jangka 1×24 jam pada badan militer terdekat.

* picture courtesy of soe thiha hlaing

Lantas ibukotanya sendiri juga sudah dipindahkan ke Nyapyidaw dekat Pyanmana, sekitar 400 km dari Mandalay, pada 27 Maret 2006. Kepindahan itu terasa dilakukan sembunyi-sembunyi dari dunia internasional, sebagaimana pemerintah junta militer Myanmar juga melarang orang-orang yang tak berkepentingan untuk datang ke ibukotanya. Apalagi mengambil foto-fotonya.

Dan beberapa contoh paranoid yang saya temui; taksi dilarang berhenti di depan kediaman Daung San [cara rakyat Myanmar memanggil tokoh pergerakan Aung San Suu Kyi]. Juga dilarang mengambil potret berbagai fasilitas umum, seperti jembatan. Lalu orang asing diminta menggunakan ‘uang plastik’ mirip mainan monopoli yang disebut Foreign Exchange Certificate [FEC]. Intinya, agar pemerintah junta militer bisa mengetahui; berapa banyak wisatawan yang tengah berada di negerinya serta peredaran uang asingnya sekaligus. Siaran televisi dikontrol pemerintah dan akses internet juga dipantau.

Tulisan dan potret ini saya dedikasikan khusus kepada yang tersayang sahabat saya Eithwe, Zin dan Soe Thiha. Cezu tin badeh being my friends and show me how humble and kind the Burmese are!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s