Big in Japan**

Chissa perche stai li cosi
Con queglie occhi fissi su di me
Vedrai che poi me passera
E che non m’aspettavo
Questa follia *

Akhir Oktober 1999. Sebuah petang di bandara Internasional Ir H Djuanda Surabaya. Saya menyeruak di antara para penumpang yang baru saja dimuntahkan beberapa burung besi destinasi lokal. Ke luar di Hall B kedatangan dalam negeri. Seraut wajah yang saya kenal begitu lekat dan hangat sejak saya masih belum lagi dilahirkan, tengah tersenyum lebar di antara kerumunan para penjemput. Daddy. Le Papap du ukirsari🙂

Fingero mi abituero
Continuero in silenzio senza te *

Sebuah percakapan akrab laiknya teman lama langsung mengalir panjang setelah pelukan dan ciuman hangat. Dalam bahasa yang kami mengerti sendiri.
“Enak terbangnya, Ndut?”
“Ya well, just like another local destination. Pochemu, Pap?”
“Au Japon?”
“Da … da … kak krasivaja strana.”
Tangan kami bergandengan ke sebuah Kijang tua warna abu-abu.
“Mama ada di rumah, lagi masak kepiting buat Endut.”
“Hah? Sejak kapan bukan Papa yang memasakkan kepiting?”
“Nanti Papa yang masakin, Mama cuma bersih-bersihkan dan ngrebus sebentar.”
“Pa?”
“Sebentar. Hening dulu ya, Ndut.”
Jemari Papa mengoperasikan radio mobil. Radio kesayangannya; Mercury [FM]. What else? Belong by one of his old friend from a long time ago made him a loyal fans to this radio station – especially after midnight show: wayang a.k.a skin puppet on-air perfomance.

“Selamat malam Pemirsa sekalian. Selamat bergabung kembali bersama saya di Tembang Petang,” suara penyiar nan renyah ‘mengapung’ dalam kabin Kijang abu-abu. Ada Papa disamping saya, ada bulan baru di langit sana. Malam yang mengambangkan bulan swasa, begitu istilahnya, kalau ingin sedikit romantis.

Saya ucapkan terima kasih buat Bapak … [sebut nama Daddy dengan indahnya] sebagai penelpon pertama Tembang Petang. Saat ini, pendengar setia Mercury FM ini sedang menjemput putri tersayangnya di Djuanda, sepulang dari Jepang!”

Waaaaaaa!!!! Saya tak kuasa membendung keharuan. Langsung melepas seatbelt saat itu juga supaya lebih leluasa memeluk Papa. Kanjeng Rama ku! Orang paling kucinta setara dengan Mama. Tapi reaksi beliau kalem saja. Membalas pelukanku dan menepuk-nepuk bahuku, sekaligus memberi tanda ‘hush’ sejenak.

Tentu senang sekali ya, Pak. Bisa menjemput putrinya sekaligus mengulang kesuksesan dua orang dalam satu keluarga pernah ke Negeri Matahari Terbit dalam rangka penugasan! Nah, untuk bapak dan putrinya, sesuai pesanannya saya bingkiskan lagu dari Connie Francis, Al di la … yang sang Bapak sering menembangkan buat putrinya sebelum tidur, ‘Al di la, ci sei tu per me, soltante per me’ ….”

(c) ukirsari

Yes! Saya dan Papa berteriak bersamaan dan membuat kepalan pakai tangan kiri. “This is the best part, Ndut!” seru Papa seraya memeluk saya.

Ya, Papa memang hebat! Saya tak bisa membayangkan, dengan jam penerbangan destinasi lokal yang bisa dibilang kurang akurat dan kesibukan keluar-masuk bandara serta kecepatan kaki saya menuju tempat Papa berada, plus jalan kaki kami berdua dari hall kedatangan sampai tempat parkir dan menghidupkan mesin, radio serta seatbelt bisa diukur sedemikian presisi. Oh Daddy, I love you so much!

Solo resto coi ricordi
Domani tutto finira
Ma adesso resta qui
Qui con me perche sara
L’ultima notte insieme a te *

Kijang kami merambat di kemacetan Surabaya lepas petang. Obrolan kami lagi-lagi seputar Jepang. Saya memandangi Papa dengan rasa bungah yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata. Sudah berapa lama kita berpisah karena Papa-Mama di Surabaya dan saya bekerja di Jakarta? Penantian buat sebuah perjumpaan menjadi tak perlu dipermasalahkan lagi, manakala kami bertemu kembali.

Dan Papa selalu bisa ‘membawa’ saya; time counts nothing since we love to each other.

Saya terkenang pada kebiasaan yang ditanamkan Papa sejak kecil. Belum bisa membaca tidak masalah, tapi buka peta mesti bisa [“eto moj karta” … itu peta saya, begitu celoteh kanak-kanak saya, kalau Papa lagi bercerita jahilnya saya waktu kecil dulu].

Itu sebabnya, di kamar depan kami –yang kelak jadi kamar saya dan diambilalih sibling karena saya lebih suka kamar belakang yang menghadap kebun— ada peta dunia superbesar. Lengkap dengan paku warna yang diikat benang warna merah.

Setiap kali Papa penugasan, akan bertambah paku warna di atas peta dan juga garis merah dari utas benang yang diikatkan. Setiap kali bermain di kamar ini, selain membaca buku-buku astronomi dan segala macam pengetahuan navigasi laut, Papa akan memberi ‘ujian’. Seperti, “Mana Acapulco? Mana Guam? Mana Szczecin?”

Dan sesuai bertambahnya usia saya, ketika kamar sudah alih fungsi dan peta digulung, Papa dan saya tetap suka diskusi ‘menjangka peta’, ‘menghitung jarak matahari’ serta segala rupa hal-hal yang berhubungan dengan astronomi, apalagi karena saya dulu kuliah di bidang oseanografi.

* picture courtesy of kaoru tanaka

Vedrai vedrai si aggiustera
Ora fa un po’ male ma se ne adra
I sogni de eternita
Sono i piu duri da
Gettare via *

“Jepang masih tetap indah, Ndut?”
“Ya pastilah, Papa. Walau beaya hidup dari dulu pas Papa ke sana sampai saat aku tugas juga terus meninggi.”

“Hmmm …. dulu pas Papa tinggal di sana, belum ada Rainbow Bridge. Sekarang ada. Dulu Papa naik sepeda ke Nishi-Shinjuku, aku naik metro. Ya begitulah. Ada hal-hal yang berubah. Tapi … aku bahagia sekali, karena sudah ke Jepang, seperti Papa dulu.”

“Ya, itu baru anaknya Papa lan Mama!” tangan kiri Papa mengusap-usap rambut saya, sementara tangan kanannya tetap konsetrasi pada setir. “Give me five, Ndut!”
Kami saling menepukkan telapak tangan kiri.

Solo resto coi ricordi
Domani tutto finira
Ma adesso resta qui
Qui con me perche sara
L’ultima notte insieme a te *

“Selain Tokyo, Ndut pergi ke mana?”
“Oh, banyak. Beda sama Papa, deh. Pergi ke Utsonomiya dan Tochigi-ken naik bullet train Shinkasen, mancing di Sungai Yanagawa dan naik pohon malam-malam ngambil apricot di Motegi. Nonton Japan GT dan ketemu Eric Comas. Kalau tugasnya sih, Tokyo Motor Show. Yang sama dengan Papa, jalan-jalan ke Shinjuku, Harajuku dan ke Tokyo Bay.”

“Aku seneng kalau anakku bisa menikmati kerja dan travelingnya.”
“Ya dong, Pa. Pasti itu. Tapi bagi Endut, pulang ke rumah lebih dari segalanya.”
“Sama. Papa juga selalu kangen rumah kalau lagi ke luar negeri. Dulu, pas di sekolah di Annapolis, setiap kali mendengar lagu “Tanah airku Indonesia, negeri elok amat kucinta ….” tanpa sadar Papa menitikkan airmata. Coba ya, kalau Ndut lahir di Tokyo atau Annapolis, mungkin Papa bisa memelukmu begitu keluar dari perut Mama, ya?”
“Ah, Papa suka begitu. Biar Endut lahir di Tokyo atau Annapolis atau Temanggung apa itu membuatku jadi beda? Nggak, ‘kan? Wong tetap anaknya Papa.”

* picture courtesy of Adhityas P

Seguiro sopportero
Questo gran dolore senza te
Solo resto coi ricordi *

Itulah bapakku. Yang kadang dengan ‘bahasanya’ seolah ingin mengungkap, betapa menyesalnya tidak bisa mendampingi Mama saat saya lahir. Padahal kalau Papa tahu, dimanapun beliau berada, saya tak pernah merasakan rajutan cinta kami jadi beku atau terputus. Tidak juga sekarang. Setelah dipisahkan oleh takdir, sesuatu yang menyebut bahwa kami berada di dunia yang berbeda.

Satu hal yang tak pernah lepas dari ingatan saya adalah, betapa prefeksionis dan presisinya Papa sebagai bapak buat anak-anaknya. Seperti contoh kecil soal radio yang menayangkan “Welcome home” buat saya dalam waktu yang sedemikian tepat.

Kepergian Papa adalah rahasia alam dan Tuhan. Dan saya juga tak akan pernah mempertanyakan; kenapa mesti sekarang Papa pergi, bukan esok dan suatu hari di mana dalam hati saya sudah ada sesuatu yang disebut kerelaan.

Presisi dan akurasi Papa, sekali lagi juga rahasia menarik bagi saya. Dan salah satu ‘kejutan’ yang Papa berikan –meski sudah pergi— yang setara seperti surprise Oktober 1999 di Kijang kami di bandara Djuanda adalah … suatu hari ketika saya bertugas lagi dengan sesuatu yang berbau Negeri Matahari Terbit.

Ikut serta sebagai partisipan yang mengenakan kimono dan meraih penghargaan. Nicholas memuji, “Perfect match. Rasanya nggak akan ditolak kalau bekerja menjadi stewardess JAL!” beberapa teman kami juga melontarkan pujian senada.

Tapi di atas segala puja-puji terutama dari Nicholas tercinta, saya mendapati hal lain lagi. Saat digelar kelas menulis kanji, di mana saya menuliskan nama saya ‘ukirsari’.
Nama saya dalam khazanah budaya Jepang artinya demikian:
u = angkasa, ki = pohon, ru = mengalir, sa = pangkat militer, ri = desa. Arti keseluruhannya adalah; in heaven and earth, there’s a knight who look after a beautiful village which is nestled in the lush greenery forest where the river flowing down

Dan percaya atau tidak, nama saya dalam bahasa kami, bahasa Sanskrit, artinya:
ukir = gunung, sari = bunga, manggalani = ksatria sang pembela. Arti utuhnya adalah; bunga gunung yang dijaga sang ksatria

Saya jadi teringat, saat dulu meliput sebuah depo Mercedes-Benz dan bertemu wartawan senior, Bapak Rudjito dari Majalah Kartini. Dan saat bertukar nama, beliau berkata, “Kamu pernah tidak, secara khusus berterimakasih pada orangtuamu, terutama bapakmu karena sudah memberikan nama sedemikian indah?”

Saat itu saya mengangguk mantap. “Ya.”
Dan terlebih lagi kini. Setiap saat saya ingat Papa, selalu yang terucap, “Terima kasih Papa. Atas semua keindahan yang ada dan tercipta buat saya.”

Domani tutto finira
Ma adesso resta qui
Qui con me perche sara
L’ultima notte insieme a te
Questa qui sara
L’ultima notte insieme
A te *

Ini buat pertama kalinya, saya merasa hati ini menjadi hangat, saat Josh Groban menyebut ‘Ma adesso resta qui’. Bukan terpuruk setiap kali mendengar kata ‘resta qui’ dinyanyikan Andrea Bocelli dalam ‘Resta qui con me, angelo per te’.

Ya, saya mesti membebaskan hati saya untuk menjelajah segala kenangan yang saya miliki bersama Papa. Contohnya, dengan menuliskannya di sini. Saya tahu, Papa …. you’re away about million stars from me. But I know there’s something called togetherness that I feel so familiar and will never be changed until the end of the day in my life.

* l’ Ultima notte, a song performed by Josh Groban

** entitled based on a song from Alphaville, Big in Japan

6 thoughts on “Big in Japan**

  1. Wah..mbak Arie.. tampaknya anda belum bisa melupakan kenangan indah bersama papa yaa.. tapi gak pa-pa.. namanya kenangan indah..

    Itu namanya dalam bhs Jepang artinya bagus sekali… Yah suatu karunia dpt nama bagus…

  2. thanks complimentnya, mas bagus! anda orang kesekian ‘ribu’ [hehhe, bukan sombong🙂 ] yang bilang nama saya indah! dalam berbagai bahasa memang artinya bisa mirip, kok. two thumbs up buat yang sudah membuatkannya untuk saya!

    dan soal kenangan –utamanya yang indah– ya selamanya nggak akan lupa, dong. mana ada kata ‘lupa’ itu?😀

  3. apa kabar sahabatku sayang ? kamu selalu mencintai keluargamu. he…he… itu mengagumkan sejak dulu. salam buat papa, mama, dimas…semoga bahagia selalu.

  4. pepen! zainal effendi joesoef [see? i can still remember your full name walau merem sekalipun😉 ] thanks banget ya, bro. buat salamnya dan doanya dan membaca weblog ku. someday kita mesti reunian rame-rame dengan tinus, lusty, sigit dan eko ‘dollar’ di bawah pohon mangga yang ditanam papa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s