Terima kasih buat Sepasang Kakiku Tercinta

Wahai para Petualang, jejak langkahmu belum lagi tercetak
Manakala kakimu belum lagi mulai melangkah

[for those the Journeymen, your footprints will not be appears on the sands. Whenever you’re not starting your travel yet]


(c) ukirsari

Itu selarik puisi pendek saya yang saya masukkan ke dalam salah satu cerpen pendek saya bertajuk ‘Pelangi’ atau ‘Raduga’ dalam bahasa Russia.

Atau kalau mau meminjam salah satu proverb Indonesia masa lalu, bisa juga ditemui kalimat “Berjalan peliharalah kaki. Berkata, perliharalah lidah”. Maknanya adalah setiap orang mesti berhati-hati dalam melangkah dan berkata-kata.

Tapi bagi saya pribadi, kalimat itu juga mewakili arti, bahwa dalam setiap perjalanan saya saat traveling, memelihara kaki adalah penting adanya. Mengapa? Sebagai bagian tubuh, dia juga sama pentingnya dengan mata, telinga, kepala dan isinya serta anggota badan yang lainnya.

Tanpa kaki, perjalanan tidaklah mulus. Jadi, saya berikan acungan jempol tulus kepada para petualang yang menggunakan kaki imitasi, buatan atau artificial untuk meraih keinginan mereka menjelajahi dunia.

Seperti sebuah cerita nyata yang difilmkan, tentang seorang lelaki petualang yang mendaki gunung dengan seorang ‘buddy’ yang baru dikenalnya dan berpengalaman belum sebanyak dirinya.

Saat hendak ‘pee’, terjadilah malapetaka maut yang membuat dia tergelincir dan terhunjam batu! Perlu 22 jam baginya buat bertahan, sebelum sang buddy berhasil menjumpai tim penolong yang kemudian terbang dengan helikopter ke daerah di mana petaka itu terjadi.

Dan apakah setelah itu ia pensiun sebagai ‘journeyman’? Tidak sama sekali! Ia malah baru saja pulang dari menaklukkan Pegunungan Alpen di Swiss.

Lalu ada lagi cerita seorang perempuan petualang yang kaki kanannya diamputasi dan menggunakan kaki buatan dari stainless steel. Bersama sang kekasih, ia malahan ikut serta dalam sebuah reality show bergengsi; “The Amazing Race”.

Hasilnya? Tentu saja di atas rata-rata!

Dan untuk dunia perfilman, jujur saja, saya jatuh cinta pada sebuah film apik bertajuk ‘My left foot’ yang diperankan begitu gagah berani sekaligus menggugah emosi, oleh Daniel Day-Lewis.

Nah, bagaimana dengan sepasang kaki saya sendiri?

Mereka tentunya telah melewati perjalanan panjang bersama saya. Ke mana pun saya ingin melangkah. Juga mengalami berbagai hal konyol sampai menyakitkan. Dalam artian tersiksa secara fisik.

Mulai tersengat duri babi [sea urchin] saat snorkeling di Karimunjawa bersama Nicholas tersayang, sampai menjadi layuh sementara akibat over-training saat pengambilan sabuk cokelat [brown belt] kyu 2 karate-do Indonesia di suatu tempat di kawasan Malang.

Puji syukur, segalanya kembali normal dan kesukaan saya bertualang menjadi suatu hal berkesinambungan.

Pengalaman lain yang tak kalah ‘menggemparkan’ diri saya sendiri, adalah saat dinas ke Jepang, 1999.

Cuaca musim gugur yang mulai menusuk tulang, ditambah banyaknya hall di Makuhari Messe, Tokyo-ku yang mesti diliput selama Tokto Motorshow serta keasyikan berjalan-jalan tiap malam di Harajuku [Tokyo] untuk menonton seniman jalanan unjuk kebolehan sampai melongok rumah-rumah tradisional di Utsonomiya dan Tochigi serta mencari buku cerita anak-anak karya Jamie Lee Curtis [judulnya “Tell Me Again About The Night I was Born”] ketika kembali ke Tokyo membuat telapak kaki melepuh.

Yang ‘mengerikan’, isinya bukan air semata, tapi darah!

Sehingga mesti saya ‘bedah’ sendiri pakai pemotong kuku yang dicelupkan ke alkohol 70% dan sebelumnya kaos kaki mesti dirobek karena di beberapa bagian mulai lengket akibat kucuran darah.

Sesudahnya, direndam air hangat campur garam khusus untuk perawatan kaki selama 2 jam. Serta dibebat dengan verband dan dioles salep anti luka yang saya beli drugstore 24 jam dekat Ueno.

Ayahanda saya tercinta, adalah orang yang paling peduli dengan sepasang kaki saya. Demikian pula ibunda saya tercinta.

Papa selalu meluangkan waktu mengurut bagian betis saya yang dulu kerap mengalami ‘sedikit mati rasa’ setiap pulang latihan karate. Sementara Mama menyiapkan kaldu ceker ayam dicampur pekak, yang resepnya diperoleh dari pasangan Tionghoa sahabat beliau berdua.

Sementara dari saya pribadi, alas kaki adalah salah satu hal terpenting dalam menjaga kebugaran dan perlindungan terhadap kaki saya.

Maka, sepasang boots selalu jadi pilihan ketika saya memutuskan pergi traveling. Dalam pun luar negeri. Ditambah kaos kaki nyaman lagi empuk di kaki.

Dua sahabat baru saya, Maria dan Paula –keduanya asal Jerman, saya jumpai di terminal songthaew di Chiang Mai dan kami pergi bersama-sama ke Doi Suthep dan pasar malam Amari Gate—sampai berdecak melihat cara saya membungkus kaki dengan boots.

Komentar Maria kagum, “Sepatu kamu bagus dan terlihat sangat well-prepared.” Tanpa bermaksud menyombongkan diri, saya menukas, “Ya, saya memilih pakai boots kalau sedang traveling, karena hanya bisa memperkirakan medan berdasarkan panduan dari buku dan internet sebelumnya. Jadi daripada mengambil tindakan kuratif di lapangan, lebih baik saya lakukan tindakan preventif.”

Mungkin juga itu sebabnya, seorang karib saya pernah berkomentar tentang saya, “Dia ‘kan terkenal rewel soal alas kaki, nggak bisa pakai sandal.”

Sebenarnya bukan begitu. Di saat traveling persiapan saya adalah alas kaki tertutup. Dan selalu bagi saya lebih ringkas dan terasa aman dengan menggunakan boots. Bahwa sesudah sampai di tujuan saya tetap pakai boots kemana-mana, ya itu kembali kepada rasa nyaman, aman sekaligus tetap menjaga kebersihan kaki.

Uniknya, tanpa “janjian” lebih dulu, Nicholas tersayang saya juga punya kebiasaan yang sama. Selalu pakai sepatu atau alas kaki tertutup ke manapun.

Konyolnya, sekitar 5 tahun silam ketika traveling ke Bukittinggi, kami sepakat menjajal pakai flip-flop saaat mengunjungi Jam Gadang [Bukittinggi clock tower]. Akibatnya … kaki kami jadi memar-memar [karena materialnya begitu tipis] dan mesti berjalan ekstra hati-hati karena takut menginjak kotoran kuda.

Sejak itu kami kapok untuk menggunakan alas kaki tanpa tutup walau pun tujuannya begitu dekat!

Berbanding terbalik dengan gaya kami yang ‘anti’ alas kaki terbuka, kalau tengah main di pantai kami selalu membuka sepatu dan telanjang kaki untuk merasai lembutnya pasir.

Juga rerumputan di sekitar bungalow tempat menginap. Tentunya pakai ‘survey’ dulu, di situ tidak ada rumput jelatang yang membuat kaki gatal-gatal.


(c) ukirsari

Dalam kesempatan posting kali ini, saya ingin mengucapkan terima kasih tak terhingga buat sepasang kakiku. Kaki yang besar lagi kuat –meski menurut pengamatan sebagian orang besarnya sangat tak sebanding dengan tubuh bagian atas ku yang cukup mungil🙂

Bersamamu saya telah mengarungi begitu banyak peristiwa. Menjejak negeri-negeri asing dengan bahasa yang belum kita kenal dengan akrab sebelumnya. Menorehkan jejak di tanah-tanah impian dan sekaligus menggali inspirasi tentang awal sebuah perjalanan panjang.

Terima kasih untuk selalu mendukung segala hal yang saya lakukan, termasuk berenang dan snorkeling dan menyelam, mendaki dan menuruni gunung, serta menjelajah segala sudut kota dan tempat dimana pun kita memulai dan mengakhiri petualangan kita.

Terima kasih untuk tidak pernah cerewet, tidak mengeluh, tidak kesakitan walau terluka sampai tidak pernah berbau tak sedap di manapun. Tetap powerful dalam kondisi apapun!

Maafkan bila saya kadang careless dalam memperhatikanmu. Contohnya saat berlibur ke Pulau Kotok Besar untuk menengok bold eagle alias Haliastur indus serta ke Pulau Burung untuk menjumpai ular cincin. Dan saya membiarkan kamu yang terbungkus sepatu keds Adidas suede merah tersiram dan basah oleh air laut saat berkejaran dengan Nicholas sebelum meloncat naik ke perahu.

Dan untuk itu sepatumu yang suede merah mesti dicuci dengan sabun mandi dan air hangat serta tak pernah lagi kembali seindah dan senyaman aslinya.
Terima kasih untuk menjadi bagian dari tubuhku dan aku mencintaimu. Selalu.

* tulisan ini saya bingkiskan untuk Ivo [suami Rika] dan Dini Hardiani. Untuk keberanian mereka menjadi orang-orang berkepribadian kuat dan senantiasa berbesar hati dengan polio yang mereka sandang. Betapa bahagianya saya bisa menjadi bagian dari keseharian kalian semua. Juga buat Mommy Chia –seorang perempuan Cina berkewarganegaraan Singapura yang trekking bersama saya ke Xouang Dala. Meski baru saja operasi varises dan dilarang dokter banyak jalan kaki, beliau rela mengikuti jejak saya selama pelancongan di Louang Prabang, Lao PDR. I will never forget you, even you only read kanji characters and not about Romans. And thanks being a mom whenever i am away from home!*

8 thoughts on “Terima kasih buat Sepasang Kakiku Tercinta

  1. Saya tertarik dengan kata2 “Dini Hardiani”, karena saya sedang mencari teman SD saya. Dia pindahan dari Belitung ketika kelas 5 SD dan masuk ke SDN Menteng 03 pagi (Cilacap).
    Bisakah saya tahu apakah benar dia teman saya dulu dan bisakah tau e-mail address atau no. telp. nya?

    Terimakasih sebelumnya.

    Ulfah Hanum

  2. dear ulfah, kok kata-kata ‘dini’, maksudnya nama dini, toh🙂 okay sudah japri di e-mail account mu. ya benar, dia teman lama kamu, pindahan dari belitung.

    saya ikut bahagia, bisa menemukan kembali kalian berdua. karena dini bilang, “kok tahu, aku ‘kan tidak pernah bercerita?”

  3. He..he…he…aku juga ketemu teman lama lewat blog orang…

    Salam buat kakinya, juga bahunya yang pasti harus menggendong barang-barang berat…juga buat tangannya yang sesekali harus gelayutan (tapi terutama karena foto-foto yang diambil dengan tangan yang nggak gemetar katanya lebih bagus…he…he…he…)

  4. wah mbak retty, aku pinjam kata-kata pak mimbar ah, “jadi kepengen …” kali ini kepengen terharu🙂

    kalo tangan mbak, makin kokoh pegang kamera dan bisa “freezing” pasti hasilnya tambah bagus. artinya .. mesti ditambah menahan napas sekitar 10 detik [halah .. susah juga ya, hehehe!]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s