Protes Sang Pangeran di Batu Cadas

Dari arah Bandung menuju Sumedang, di kelok ke sekian ruas jalan Grote Postweg alias Jalan Raya Pos, bisa dijumpai patung sepasang pria tengah berjabat tangan. Diimbuhi tulisan ‘simpul wisata Cadas Pangeran’. Di hari pertama Rally de Blogger Postweg, wikimuwan dan wikimuwati bertandang ke mari.

(c) ukirsari

Di tempat inilah, Pangeran Kornel Wirakusumah berjumpa dengan Gubernur Jendral Daendels. Tangan kirinya menyalami tangan di penjajah, sementara tangan kanan memegangi ujung jarik [kain panjang] serta keris yang siap terhunus.

Senior saya di kantor, Cak Bembi [kalau ingin kenal lebih dekat, silakan buka postingan saya soal NasGor Rawit. Di situ ia mengekspose diri soal ‘kekuatannya’ menyantap cabe], kebetulan adalah project officer tayangan segmen ‘Napak Tilas Jalan Raya Pos bersama BMX X3’ beberapa saat lalu.

Darinya saya mendapat info tentang pendapat beberapa ahli sejarah setempat menyoal gaya bersalaman Sang Pangeran itu. Pasalnya, sembari shooting Jalan Raya Pos, di setiap titik yang memungkinkan, Cak Bembi dan crew televisi kami akan mendatangi ahli sejarah setempat.

Cara bersalaman tangan kiri ini, adalah hal yang tak lazim dilakukan bangsa Asia, termasuk kaum bangsawan Indonesia di saat itu –bahkan sampai sekarang tak banyak yang berubah dalam khazanah kebudayaan Tanah Air, “Berikan salam dengan tangan kananmu”.

Jadi, Pangeran Kornel melakukannya sebagai bentuk protes terhadap Daendels, “Saya tidak menyukai tindakanmu [dalam proyek mega raksasa menghubungkan seluruh Jawa dengan jalan raya ini] yang memakan begitu banyak korban di pihak pribumi.”

Sayangnya, berhubung Daendels bukan bangsa Asia, maka kepekaannya tentang left handed sangatlah minim. Gaya bersalaman pakai tangan kiri Sang Pangeran itu ditafsirkan sebagai suatu hal yang biasa. Karena dalam khazanah kebudayaan barat van Daendels, tangan kiri dan tangan kanan sama-sama punya fungsi serta tidak dikenai perbedaan antara ‘tangan baik’ serta ‘tangan kotor’.

Dasar penjajah –mungkin juga bagian dari politik devide et impera— Daendels menerangkan kepada Sang Pangeran, bahwa pekerjaan membuat jalan ini bukanlah sebuah kerja rodi. Pasalnya petugas pembuat jalan, para kuli itu juga diupah. Yang mana gajinya disetor oleh pemerintah kumpeni via demang masing-masing kuli.

Tapi karena para demang begitu mata duitan, maka upah-upah tadi ditilep dan kuli menjadi sengsara. Mau protes tidak berdaya karena para kuli dicambuki.

Lepas dari benar atau tidaknya kondisi ini, saya berdoa agar para pekerja rodi tenang dan diterima di sisi Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s