Trusmi …. Trust me, Saya Suka!

“Kowe mborong apa, Nduk?” tanya Mas Wicak seraya mendatangi saya yang tengah duduk lesehan bersama para ‘ibu-ibu’ peserta Rally de Blogger Postweg di sebuah rumah batik Desa Trusmi. (c) ukirsari “Ini!” jawab saya bangga seraya mengangsurkan dua kain batik warna biru-putih kepada beliau. “Satu buat aku dhewe, satu lagi pacarku. Bisa dipakai saat odalan di Ubud. Pasti keren dilihatnya.” [catatan: salah satu kesukaan saya dan kekasih adalah menghadiri odalan –semacam hari jadi pura— di Puri Dalem Ubud, Bali. Tentu perlu bawahan sarung atau batik yang nyaman di badan sekaligus enak dipandang].

“Oh … sarimbit [sepasang], ya …” komentar Mas Wicak seraya memperhatikan si batik dan motifnya. Di-sogan biru [warna kesayangan saya], motif gunungan serta bebungaan truntum kecil-kecil. Khas batik daerah pesisir.

Sesuatu yang menuntun saya ke masa kanak-kanak dulu, saat memandangi encik-encik di Parakan –tempat Eyang saya sarimbit menghabiskan masa pensiunnya— menggunakan kebaya encim dengan batik biru-putih seperti ini. Terlihat gandhes-luwes, begitu!

Terletak 5 km sebelum masuk Cirebon dari arah Sumedang dan Palimanan, Trusmi merupakan sentra batik khas Cirebonan. Dan salah satu highlight kunjungan Rally de Blogger Postweg hari pertama adalah bertandang ke kawasan wisata batik ini. Trusmi atau gemar saya pelesetkan jadi ‘trust me’ terdapat di Kecamatan Plered dan terbagi menjadi dua desa; Trusmi Wetan dan Trusmi Kulon. Sama-sama menyajikan batik sebagai komoditas utama bagi para pengunjung.

Model jualan batiknya adalah menggunakan rumah si pemilik, model butik mewah sampai sederhana. Kesamaannya, kain-kain dipajang pada display lemari kaca dan disediakan karpet untuk lesehan [agar makin asyik memilih batik] serta kaca pengilon besar lagi panjang. Fungsinya memudahkan konsumen kalau ingin mematut diri bersama batik pilihannya. Oh ya, kalau mau masuk, mohon lepas sepatu supaya tidak menginjak karpet nan resik.

Di beberapa butik atau rumah batik juga tersedia paviljoen kecil berisi aneka peranti membatik, seperti material setengah jadi berupa kain yang sudah digambari dan dibatik setengah bagian, dingklik, jagragan bambu untuk menopang kain yang akan dibatik, kompor kecil, wajan berisi malam untuk menutup kain dan membuat motif plus canthing.

Tempat inilah yang menjadi sasaran peserta Rally de Blogger untuk studio dadakan, tempat mengabadikan diri sejenak. Ceritanya pura-pura lagi membatik!

Tapi, sowan ke Desa Trusmi tak melulu batik-batikan. Segi arsitektural juga bisa ditonjolkan. Di sini masih bisa dijumpai toko kelontong model lama, yang menggunakan bilah-bilah papan kayu sebagai penutup muka toko. Juga ada rumah-rumah khas Pecinan yang memiliki bubungan atap tinggi pada kedua sisinya, serta rumah model art deco.

Kalau Anda suka barang-barang tembikar dan tanah liat, pengrajin Plered memasarkan beberapa jenis dagangannya di sini –yang sudah jarang bisa didapati di Jakarta. Sebutlah celengan Semar, ayam jago juga gentong, kendil dan kendi [jadi teringat istilah ‘air Belanda’ untuk menyebutkan isi air kendi]. Dari jalan utama Desa Trusmi, bila melangkah ke kanan di perempatan pertama, akan dijumpai Jalan Buyut Trusmi.

Di sini, terletak makam sesepuh desa batik yang berjuluk Ki Buyut Trusmi. Tempat ini ramai dikunjungi pada saat perayaan Maulud Nabi dan ziarah dilanjutkan mandi di kolam Balong Trusmi agar keinginannya tercapai.

One thought on “Trusmi …. Trust me, Saya Suka!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s