Tentang Sekepal Nasi Bernama ‘Jamblang’

Puas belanja-belenji di sentra batik Trusmi, perjalanan Rally de Blogger Postweg hari pertama dituntaskan di Cheribon alias Cirebon dengan perburuan Nasi Jamblang. Jelas kategorinya wisata kuliner, mengingat perut sudah meronta minta diisi lagi.

(c) ukirsari

Komoditi Nasi Jamblang tersedia dalam dua ‘shift’. Pertama, Nasi Jamblang dekat stasiun kereta api yang buka subuh sampai pagi dan babak kedua adalah yang buka mulai sore sampai menjelang tengah malam. Biasa digelar di trotoar. Pakai meja pendek dan pengunjung duduk di bangku panjang dari kayu atau pakai dingklik plastik.

Shift kedua inilah yang kami sasar, mengingat wikimuwan dan wikimuwati masuk kota yang juga disebut sebagai ‘Garage’ [baca ‘grage’ akronim dari neGARA GEde – ini penyebutan Kerajaan Cirebon di masa lalu] pada saat matahari sudah terbenam.

Yang disebut Nasi Jamblang itu tak lain dan tak bukan adalah sekepal nasi yang dibungkus daun jati terbalik –permukaan daun diletakkan di luar dan bagian sebaliknya diberi sekepal nasi itu. Konon nama ‘Jamblang’ ini berasal dari suatu daerah di Cheribon.

Agar makin meriah di lidah, disertakan pelengkapnya yang tersaji di baskom seng blirik-blirik hijau-putih. Lauk ini beraneka-ragam, setiap pedagang bisa saja punya ‘spesialisasi’ tersendiri.

Tapi paling disuka masyarakat setempat adalah sambelan kentang alias sambel goreng kentang. Juga sate kentang, mirip sambel goreng kentang tapi pakai kentang butir kecil bulat-bulat mirip telur puyuh. Lainnya macam-macam. Seperti cumi hitam tumis, kedelai hitam pedas manis yang disebut orang Sunda sebagai ‘ampas kecap’, ikan asin jambal, perkedel jagung atau kentang, tahu dan tempe goreng, ayam goreng, ayam santan, tumis kerang, goreng telur mata sapi ‘direndam’ kuah pedas, semur tahu sampai sate usus ayam, ati ampela, jantung dan telur puyuh betulan. Jangan lupakan pula, sambal bajak manis pedasnya yang mantab [pakai b].

Meski dilanda lapar, saya sempat memperhatikan penampilan ron [daun] jati di telapak tangan. Kalau kebetulan dapat yang warnanya masih cukup segar kehijauan terlihat begitu apik. Tata warnanya –meski penerangannya ‘pinjam’ lampu jalan dan lampu toko— cantik. Nasi putih, daun hijau dengan sambel merah nyala.

Uniknya lagi, ron jati ‘kan punya lugud alias bulu-bulu halus di bagian permukaannya. Tapi karena ‘teknik’ penggunaannya dibalik itulah jadinya bebas lugud. Dan rasanya pancen is good.

Karena itu, Pak Adrianto langsung berkomentar selesai kami bersantap Nasi Jamblang, “Saya nggak keberatan lho, kalau nanti malam kita semua Njamblang lagi!” Tapi rencana mesti diurungkan, karena Ibu Sri, Mbak Mel dan Jeng Nawita sudah keburu memasok lychee segar, Bubur Sop Ayam dan Jagung Bakar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s