Warteg Kenangan Lawang Sewu

Meski laik diberi predikat ‘salah satu gedung paling mengerikan di Jawa’, seramnya interior Lawang Sewu serta ruang-ruang bawah tanahnya bisa disetip dihapus sejenak saat menyambangi warteg di halaman belakangnya.

Ini kenangan saya dan kekasih sekitar dua tahun lalu saat berkunjung ke bangunan bersejarah kebanggaan warga Semarang itu.

(c) ukirsari

Kami masuk dan ke luar Lawang Sewu dari pintu samping, mengingat pintu depan terkunci rapat. Kondisi itu berbeda dengan saat kunjungan kemarin bersama team Rally de Blogger Postweg. Di mana pintu depan terbuka lebar dan banyak wisatawan berkunjung ke mari.

Saat kami ke sana, suasana Lawang Sewu sepi nyenyet menurut basa Jawi nya. Atau sepi banget bahasa gaulnya. Dari akhir lorong yang bertuliskan ‘ingang’ artinya sama juga dengan terusan [bahasa Indonesia] atau travessa [bahasa Portugis], kami sampai di halaman belakang dan pandangan saya langsung ‘bersapaan’ dengan warteg yang banyak dikunjungi bapak-bapak dan ibu-ibu menggunakan uniform Pegawai Negeri [catatan buat para peserta Rally de Blogger Postweg, ini betul-betul bapak dan ibu dalam konteks pengunjung warteg, bukan cara kita mengawali sapaan saat menjadi guide dadakan!].

Begitu ikutan masuk warteg … hmmm, pantas kalau tempat ini ramai dikunjungi sekitar jam makan siang. Sajiannya a ’la buffet dengan menu khas Jawa rumahan yang mengundang lidah menari-nari.

Pengunjung silakan ambil piring dan nasi di pojok lalu memesan mau minum apa. Ada teh tawar, teh manis, teh botol sampai es jeruk. Kemudian datanglah bersama si piring ke meja hidangan yang terletak di tengah. Di sektor sayuran ada tumis pare [paria], urap toge-kacang panjang-kol, tumis kangkung, tumis daun pepaya dengan teri dan sayur bayem dengan pipilan jagung.

Lauknya lebih macam-macam lagi. Ada tongkol goreng telur, ayam goreng, lele goreng,tempe dan tahu goreng, telur dadar, telur asin, ikan mujahir goreng, ikan asin goreng sampai martabak mini. Ada juga mie goreng dan bihun goreng serta cumi-cumi tumis hitam [karena tintanya sengaja tak dibuang].

Favorit saya jatuh pada botok urang. Udangnya besar-besar, segar dan bercampur apik dengan parutan kelapa serta petai cina dalam bungkus daun pisang yang dimodel ‘tum’. Pas banget disantap dengan nasi hangat mengepul.

Tak heran kalau dua piring pun ludes, secara kami baru saja pulang dari Karimunjawa yang punya menu berbeda. Lagipula kelaparan setelah keliling kompleks Lawang Sewu sekian jam.

Saat ditanya apakah tidak ‘seram tapi asyik’ berjualan di sebuah tempat yang megah-tapi seram-indah-tapi sepi, ibu penjualnya berkata, “Namanya cari makan, Jeng. Tapi soal penampakan belum pernah, karena jam empat teng kami sudah kukut dan pulang.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s