Suka Duka Jurnalis Balap [6]: Liputan dalam Negeri Paling Membumi, Road Race

Road race, merupakan ‘magnet’ tontonan buat penyuka motor atau roda dua. Apalagi bila diselenggarakan ‘nun-jauh’ di sana. Ini sungguh hiburan paten bagi masyarakat setempat yang haus hiburan sport otomotif.

* courtesy of franciscus yosi setiowibowo

Diselenggarakan mulai pagi, di sirkuit dadakan [baca: jalan raya utama atau lingkup alun-alun kota], dengan pengamanan yang kadang membuat dahi berkerut –cuma tumpukan karung isi pasir ditambah tali rafia dan penontonnya juga ‘berani mati’: hanya minggir sejenak saat si pembalap mendekat lalu sesudahnya mereka akan maju lagi sampai di bibir trek— dan diramaikan dengan musik ingarbingar dari loud speaker di segala penjuru plus jajanan segala rupa dari disediakan warung-warung non-permanen di pojok-pojok strategis sirkuit.

Paling membanggakan –sekaligus jadi ‘pengen malu’ menurut istilah Pak Mimbar— kalau kebetulan saya kenal dengan Master of Ceremony alias MC alias announcer kondang yang memandu pemirsa nonton balapan itu. Sebutlah seperti Mas Didik ‘Bule’ atau Ilham Pattikawa. Begitu kaki menginjak trek dan mata mereka ‘menangkap’ sosok kita, pasti selalu terdengar kalimat, “Selamat datang buat wartawati kita …. [sebut nama] dari media …. [sebut nama tempat saya bekerja] ….”

Ucapan ini tak hanya diungkapkan sekali, tapi berulang-ulang dengan improvisasi dan segala cerita yang mereka ketahui [tentang saya]. Seperti, “Ini adalah pertama kalinya Mbak kita ini hadir bersama-sama penonton sekalian di Gunung Kidul, setelah minggu lalu ia meliput road race di Kemayoran Jakarta. Bagaimana Jakarta, Mbak? Masih panas?” Hingga penonton dan pembalap [khusus yang belum kenal] pun jadi paham siapa saya. Alhasil saat bertandang ke paddock sang pembalap, setelah saya mengenalkan diri, mereka akan berkomentar, “Oh … dari tabloid ini tho, Mbak ….”

Meski lekat dengan cap ‘balap pasar senggol’, seperti sudah saya bilang tadi balap jalan raya alias road race ini adalah acara yang dinanti. Serinya banyak, dengan putaran se-Indonesia Raya pula. Mulai Sumatra sampai Papua. Mulai Palopo sampai Gunung Kidul. Sampai salah satu rekan saya dari desk bisnis otomotif pun pernah menulis tentang banyaknya perputaran uang dari balap road race, mulai penyelenggara, tim sampai penjual teh dan cemilan dalam sehari balapan.

Yang menjadi primadona road race adalah kelas Underbone 110 cc dan 125 cc. Mesin boleh dikorek habis, bodi boleh dientengkan tapi tetap punya bobot minimal dan unsur safety tetap tak boleh diabaikan. Masa saya bertugas dulu, jawara kelas ini adalah Hendriansyah. Kini sudah zamannya Harlan Fadillah serta Hokky Krisdianto –yang mana dulunya mereka-mereka ini adalah ‘adik kelas’ Hendri.

Segepok surat dari fans penyuka road race mampir setiap hari ke meja redaksi dan isinya kadang lucu-lucu. Minta diadakan meets and greets [mana mungkin lah, kantor kami cuma seuplik, ada juga lapangan parkir yang senantiasa penuh], minta foto para pembalap jawara itu, minta baju balap yang pernah dipakai mereka, bahkan minta … knalpot racing ex para juara!

Weleh susyehnya …. toh dari sini awak redaksi malah punya ide lain. Saya didapuk jadi project officer untuk sebuah polling [dan artikel] “Pembalap Road Race Paling Ganteng”. Polling dilakukan selama dua bulan, mengandalkan pilihan langsung para pembaca. Dari 20 kandidat, disaring lagi sampai akhirnya menjadi 6 road racer kelas Underbone. Ada yang berasal dari Lampung, Jogjakarta sampai Jakarta.

Di hari pemotretan, keenamnya berkumpul di redaksi kami. Karena studio foto sudah berhari-hari fully booked, saya dan Mas Fotografer menyulap salah satu sudut ruang rapat menjadi studio dadakan. Modalnya tirai, backdrop –yang biasanya buat memotret velg dan ban serta menutup bayangan di kaca depan mobil saat eksekusi foto—serta taplak meja polos. Agar makin paten dengan tema ‘terganteng’ ini, saya juga mengurusi peminjaman properti baju-baju mereka. Plus menyewa tenaga make-up artist. Disebut terakhir ini membuat para pembalap itu ogah-ogahan, “Wah, mending disuruh balap saja daripada kena bedak!”

Saat para pembalap ganteng itu muncul di cover tabloid plus bonus poster mereka, tabloid kami ikut laku keras. Buntut-buntutnya [saya tidak tahu ini berhubungan langsung dengan kesuksesan ini atau tidak], saya ditugasi meliput kedatangan pembalap MotoGP; Norick Abe di Indonesia.

Ini bukan sembarang tugas, karena tabloid dimana saya bekerja menjadi Official Media dan Abe-san serta istrinya [waktu itu statusnya masih pacar] akan berkunjung selama 5 hari. Selain jalan-jalan di Bali, pembalap asal Jepang yang saat itu tinggal di Sitges, Spanyol juga akan memberikan coaching clinic untuk … road race!

Saya pun menerima sekian banyak pesan lewat telepon kantor, faksimili sampai lisan yang intinya kurang-lebih “Saya bisa ikutan nimbrung jumpa Abe, nggak?” Dan uniknya, tak semuanya berasal dari penggemarnya. Tapi juga dari para pembalap road race yang tidak terpilih untuk mengikuti coaching clinic Abe-san di Surabaya!

Biar tak membuat mereka kecewa, yang bisa saya “janjikan” cuma ‘tanda-tangan Abe-san di atas stiker tabloid kami’. Untungnya mereka mau mengerti dan bisa menerima tawaran itu. Dan di sisi lain saya juga beruntung, karena menjadi Media Official, waktu jumpa saya dengan Norick Abe lebih banyak dibanding jurnalis lain hingga ia bisa menandatangani segepok stiker yang saya bawa dari Jakarta [waktu itu kami sudah ada di Surabaya].

Antusiasme saya sebagai jurnalis, juga kapasitas selaku ‘pengemban tugas’ [atau penguntit?] meliput Abe-san full 5 hari tertuang dalam tulisan berseri selama 3 kali penerbitan berturut-turut [berarti sampai 3 minggu fans nya ‘kekenyangan’ melahap segala serba Norick Abe]. Ada seri foto bercerita ‘mengapa dan apa saja yang dilakukan Abe-san selama perjalanan’. Ada juga tulisan ringan tentang namanya ‘Norifumi’ yang berarti malaikat. Atau kesukaannya akan kemeja batik yang dibelikan oleh biro kami di Surabaya, sampai coaching clinic yang ia berikan serta materi apa saja yang bisa membuat seseorang percaya diri ikut balap road race.

Yang membanggakan, antusiasme dan kerja keras saya serta fotografer Fransisco Yosi [yang langsung terkapar kelelahan di kamar adik lelaki saya begitu Abe-san terbang dari Surabaya menuju Jakarta untuk selanjutnya ke Jepang] dibalas setimpal oleh Norick Abe. Selama enam bulan penuh, situs resmi Abe-san memasang cover tabloid kami yang dibuat Yosi. Gambarnya, Abe-san naik motor road race kelas Underbone, dengan membawa bendera Merah Putih berkibar di tangan kiri.

Dua tahun berikutnya, Abe-san mengundang saya [kali ini didampingi fotografer lain] dalam kunjungan singkat sehari untuk jalan-jalan di Jakarta. Saya pilihkan wisata ringan menengok Monumen Nasional dan Museum Nasional [Museum Gajah]. Sesudahnya, santap siang bersama pembesar perusahaan motor Jepang di Jakarta di Restaurant Oasis, Jalan Raden Saleh. Terakhirnya, belanja suvenir di Pasaraya Grande kawasan Blok M.

* artikel adalah orisinal penulis. Foto courtesy F. Yosi *

2 thoughts on “Suka Duka Jurnalis Balap [6]: Liputan dalam Negeri Paling Membumi, Road Race

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s