Suka Duka Jurnalis Balap [5]: Liputan dalam Negeri, Motocross dan Time Rally

Liputan luar negeri dan pentas balap dunia sudah dilakoni. Lantas bagaimana cerita-cerita balap dalam negeri? Sektor ini juga saya gemari, bukan semata karena pimpinan senantiasa berkata, “Pamali menolak tugas.” Tapi karena begitu membumi. Sangat lekat di hati.

Kalau mau diibaratkan bagaimana cara peliputan dan penulisan segmen balap yang berlangsung dalam negeri itu mirip-mirip jargon sebuah produk televisi. “Menghadirkan pentas dunia di rumah Anda.” Ini kebalikannya: “Menjadikan pentas tarkam [kejuaraan antarkampung] pun serasa kelas dunia.” Jadi semangatnya kudu powerful, tidak peduli berlangsungnya di mana.

* picture courtesy of adlisal rivai

Pengalaman seru terjadi saat meliput motocross seri Asia Pasifik di Pontianak ‘coret’. Artinya, turun dari bandara di kota Pontianak masih harus disambung perjalanan panjang naik mini bus sampai Singkawang. Kurang lebih 4 jam perjalanan. Nah, di kota inilah balapan digelar. Jauh dari mana-mana, tempat hiburan pun cuma sebuah pantai bernama sedeimikian panjang … Pantai Taman Pasir Panjang Indah. Lainnya, ada sebuah klenteng kuno Tri Dharma Bumi Raya di pusat kota serta tempat kerajinan gerabah dan keramik.

Sungguh pun demikian, acaranya seru bukan main. Banyak dihadiri crosser nasional seperti Aep Dadang Supriatna, Denny Orlando dan Irwan Ardiansyah serta Hendra Kumala. Juga ada Arron Klanjscek, salah satu juara junior 250 cc Australia Open. Ia didampingi sang suhu, Bruce Wilkinson [71] yang di kalangan para jurnalis sport terkenal sebagai talent scout buat para crosser.

Saat itu, saya tengah ‘tergila-gilanya’ rajin menulis tentang Tanah Air tercinta di situs komunitas virtual para traveler sedunia. Bisa ditebak, sembari sibuk bertugas sayapun rajin jeprat-jepret sana sini. Termasuk monumen garis maya equator di kota Pontianak. Rupanya kegiatan saya ini diperhatikan oleh Klanjscek, hingga dia akhirnya bertanya-tanya. “Buat apa memotret segitu banyak?” saya menjawab, “Oh, buat mengisi halaman-halamanku di situs. Khususnya yang berhubungan dengan pariwisata Indonesia.” Begitu mendengar kata pariwisata, mukanya jadi tertarik. “Bisa temani saya beli kamera buat mengabadikan daerah kunjungan wisata di sini?” pintanya

Hmmm! Mana ada ‘kamera serius’ di kota kecil –pada zaman itu? Toh akhirnya Arron yang saat itu berusia 17 tahun sangat berbahagia dengan kamera pocket yang kami temukan di toko kecil dekat pasar! Kamera ini sangat sederhana dan belum kenal memory card. ‘Makanannya’ roll film negatif saja. Segala macam hal dipotretnya, termasuk muka-muka mengantuk dan tertidur saat kami naik mini bus dalam perjalanan kembali ke bandara Pontianak.

Kejadian lain, saat ditugasi meliput time rally di Jogjakarta dan sekitarnya. Reli [rally] jenis ini mengutamakan ketepatan waktu dan jarak tempuh serta keberhasilan peserta dalam mengumpulkan cap di pos yang asli –alias bukan pos palsu yang sengaja dipasang sebagai jebakan. Dalam melakoni balapan ini, panitia memberikan ancer-ancer berupa peta tulip serta soal cerita yang cukup njelimet tapi sebenarnya mudah dipahami, bila bisa mencernanya dari awal. Juaranya adalah peserta dengan nilai hukuman atau denda waktu terkecil.

Agar mendapat ‘soul’ balapan, saya mengikutsertakan diri ke dalam salah satu mobil peserta yang kebetulan sudah kenal sejak kecil. Sampai di salah satu gapura desa, tiba-tiba mobil dihentikan. Sementara mobil-mobil kontestan lain sudah melaju dengan kecepatan tinggi. Belum sempat saya tanya ‘ada apa?’ Mereka lebih dulu keluar mobil dan terteriak-teriak girang, “Ayo Mbak, ayo keluar dulu. Kita abadikan moment langka ini!” Begitu keluar mobil, wheladalah … nama saya ‘Ukirsari’ tertulis besar-besar di situ. Sekali lagi: ‘Dusun [w] Ukirsari’.

Peserta dengan nomor start di belakang kami akhirnya ikut turun demi melihat ‘ada apa’ itu. hingga akhirnya kami potret ramai-ramai dan sesudahnya mesti ngebut lagi karena takut mendapat penalti pengurangan waktu.

Masih dengan ‘tim’ time rally yang sama, saya dan Si Kembar [tokoh kali ini adalah kembar lelaki, sekarang berusia 25 tahun] … Kali ini kami berlaga di Surabaya, tahun 2001 di kejuaraan Langit Biru. Saat itu, tiket dari panitia belum lagi pesawat, tapi kereta api eksklusif! Karena berlangsungnya reli di tanah air sendiri [baca: my hometown, Surabaya tercinta], maka kedua orangtua saya sudah berdiri di depan stasiun kereta begitu saya menginjakkan kaki. Yang mengherankan, Si Kembar juga sudah ada, lengkap dengan mobil relinya yang dipenuhi berbagai stiker dari penyelenggara, sponsor dan co-sponsor. Hingga cukup menjadi tontonan yang mencengangkan pengguna kereta dan penjemputnya.

Singkat kata, reli berlangsung sukses dan Si Kembar memboyong trofi Juara Ketiga Langit Biru. Selesai scan foto-foto dan kirim berita malam itu juga selesai penyerahan piala kejuaraan, kami pun berembuk cara pulang ke Jakarta. Akhirnya, tiket dikembalikan pada panitia dan kami memilih pulang bertiga dengan Escudo untuk merayakan kemenangan ini.

Bagasi mobil terasa sesak. Ada 3 backpack plus piala-piala kejuaraan, bantal-bantal dari kursi tamu serta tape yang dulu tengah in; macam boom-box tapi lebih kecil yang dibeli dari uang hadiah. Sebagai mobil ex peserta rally time, mereka tidak dibolehkan memasang peranti ‘hiburan telinga’ pakai frekuensi radio karena ditakutkan peserta curang dan dipandu ‘tim sukses’ pakai radio. Artinya, mobil ini tak pakai tape plus radio. Karena itu kehadiran si boom box sangatlah berarti, dengan kaset tunggal isi hits 80s favorit kami bertiga.

Mobil melaju mulus dari Surabaya sampai Gresik. Terus menyusur Jalur Pantura. Berhenti sebentar di Tuban membeli tuak-legen, minuman fermentasi bunga kelapa, dilanjutkan Soto Kudus Pakde Nuh dekat alun-alun yang saat itu ngetop. Mampir di Lasem dan Demak karena kami bertiga doyan bangunan kuno dan berharap ada unsur ‘spooky-spooky’ sedikit yang dikemudian hari kami ralat sendiri, “Ya mana ada spooky siang hari bolong!”

Sampai Semarang, kami berhenti di Gereja Blenduk [Santo Emanuel] serta kawasan Kota Lama. Lanjut lagi sampai di Lawang Sewu buat memenuhi rasa ‘spooky sedikit-sedikit’ tadi. Kami sukses bikin potret dan siap jalan lagi, ketika sebuah kios majalah di depan situ tampak memajang tabloid tempat saya bekerja. Naluri pun berkata sesuatu. Kami bertiga berlarian ke sana dan berebut. Foto buatan saya tentang kejuaraan Langit Biru terpampang di depan. Foto ‘kuping’ [di pinggir gambar utama cover] adalah beberapa juaranya termasuk Si Kembar.

Si pemilik kios terlihat terkejut, karena kami memborong 6 eksemplar untuk dibagi-bagikan pada beberapa teman dekat. Maklum, kalau mengandalkan jatah dari redaksi tak mungkin dapat segitu banyak, karena persediaan sekretaris saya juga terbatas. Dan anak si pemilik kios yang jeli memandangi kami bertiga. “Lho, ini yang menang Langit Biru itu, ya?!!” serunya. Tanpa menunggu jawaban Si Kembar, si anak tanggung usia 16 ini meneriaki teman-temannya di kios sebelah dan sebelahnya lagi, “Oiii …. ana juara reli nang kene!”

Alhasil beberapa orangpun berkerumun di muka kios. Lebih ramai lagi, karena salah satu dari Si Kembar menyebut, “Penulisnya juga ada, ini yang berdiri di sebelah saya!” beberapa mas-mas pun berinisiatif minta tanda-tangan. Bukan cuma Si Kembar, sayapun kena ‘dampaknya’. Jadi serasa tersanjung, dimintai tanda-tangan. Tabloid yang memuat berita saya jadi ikutan ludes, begitu pula yang dijual di kios kanan-kirinya. Sempat-sempatnya ada yang minta foto bersama pula!

* artikel dan foto adalah orisinal penulis. Foto tentang penulis dengan Bruce Wilkinson dan Arron Klanjscek. Bersambung ke Suka Duka Jurnalis Balap [6]: Liputan dalam Negeri Paling Membumi, Road Race *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s