Suka Duka Jurnalis Balap [4]: Kenangan Liputan di Tengah Belantara Sumatra

Lain ladang, lain belalang. Begitu pula yang terjadi di dunia balap. Kalau F1 penuh ingarbingar suara mesin di sirkuit serta digemari selebritis dunia, dunia reli –World Rally Championship alias WRC— terasa lebih kalem.

Suara mesin tetap saja meraung-raung. Tapi karena digelar di tengah alam bebas, kesannya lebih hangat dan akrab. Begitu juga manusianya. Para mekanik dan pereli [rally driver] serta navigator [co-driver] ditambah seluruh jajaran tim lebih mudah dijumpai dan sangat simpatik.

Ini sangat bertolak belakang, bila pakai perbandingan dengan dunia F1. Sebut contohnya Michael Schumacher, juara dunia F1 tujuh kali. Untuk bisa ketemu dengannya, sudah pasti sulit. Mesti menembus pengawalan berlapis. Wajar bila segelintir jurnalis lantas mencapnya sebagai ‘sombong’. Walau sebenarnya tidak demikian.

* picture courtesy of robert silaban

Tapi yang lucu, Balbir Singh –masseur pribadi Schumacher yang asli India— malah mengeksploitasi ‘kesombongan’ ini. Seperti tidak mau bersalaman dengan para jurnalis yang mampir dan mencoba ngobrol [padahal kebiasaan beberapa jurnalis Asia adalah memberikan salam seraya jabat tangan. Jelas mereka –saat itu saya ada dalam ‘rombongan’– jadi kesal, dong!]. Ataupun enggan menjawab dengan ramah saat ditanya. Kata beberapa rekan jurnalis, bisa jadi karena Mr Singh ini diberi kepercayaan oleh Schumacher sekeluarga sedemikian besar, makanya tidak mau umbar omongan.


/tau toba nauli/

(c) ukirsari

Benar tidaknya sih tak terbukti sampai saat ini, tapi yang jelas, saat berlangsung Malaysian GP 2000, Singh adalah satu-satunya pria yang ada di jajaran umbrella girls! Artinya, ketika semua pembalap line-up menunggu christmas tree lampu start menyala dan dipayungi agar tak kepanasan, semuanya dapat ‘perlindungan’ dari gadis-gadis ayu, kecuali Michael Schumacher yang mengandalkan Mr Singh! Jadi boleh sombong dong, ya.

Balik lagi ke topik World Rally Championship alias WRC, saya beruntung mendapat kesempatan meliput ‘sirkus’ reli dunia seri Rally of Indonesia yang berlangsung tahun 1997 di Sumatra Utara.

Sesuai namanya, para pereli yang hadir juga kelas dunia selain para pereli Nasional. Nama-nama terkenal seperti Possum Bourne [Australia], Tommi Makinen dan Juha Kankkunen [Finlandia], Nobuhiro Tajima [Jepang], Didier Auriol [Prancis], Colin McRae dan Richard Burns [Inggris], Carlos Sainz [Spanyol] dan Kenneth Eriksson [Swedia] seakan ‘bertaburan’ di hutan-hutan Sumatra Utara. Juga co-driver kondang lagi tampan seperti Nicky Grist [co-driver Colin McRae], Dennis Giraudet [co-driver Didier Auriol], Staffan Palmander [co-driver Kenneth Eriksson] sampai Luis Moya [co-driver Carlos Sainz] serta Tony Sircombe [co-driver Ahmed Al-Wahaibi].

Start dimulai dari Medan, lanjut ke Berastagi, Bagerpang sampai Parapat di tepian Danau Toba.

Para pereli dan navigatornya sangat mudah dijumpai. Mulai saat scrutineering dimana mobil reli yang akan digunakan diperiksa kelayakannya secara teknis, safety dan legalitasnya. Termasuk di sini adalah kapasitas mesin sampai modifikasi yang dilakukan. Juga helm yang dipakai pereli serta pasangannya –ada standarisasi tidak boleh lewat tanggal kedaluarsanya. Semuanya harus sesuai dengan persyaratan FIA [Federation Internationale de l’Automobile].

Sambil menunggu mobil-mobil reli selesai diperiksa, saya duduk berbaur –tentunya sambil melancarkan aksi wawancara— dengan para driver dan co-driver. Saat itu, di antaranya dengan almarhum Richard Burns [Inggris], Harri Rovanpera serta navigatornya, Voitto Silander [Finlandia].

Selanjutnya, driver dan co-driver memasuki ‘babak’ yang disebut recognition. Yaitu survey di trek yang akan digunakan saat balapan, tapi bukan menggunakan tunggangan tempurnya. Dilanjutkan dengan tahap shakedown. Di mana para pereli menjajal trek dengan mobil relinya, termasuk mencoba trek khusus yang dinamakan Special Stage atau SS.
Beberapa jurnalis yang beruntung, diberi kesempatan duduk di samping driver saat shakedown. Lalu ikut melahap trek sebanyak 1 SS. Meski diikat kencang dengan sabuk pengaman [seatbelt] lima titik serta helm khusus reli, tak jarang para jurnalis keluar dari mobil dalam kondisi …. mabuk akibat perut terkocok-kocok!

Pada race day, selesai mengeksekusi SS pereli akan istirahat sejenak sembari mobilnya di-cek para mekanik di tempat yang disebut Service Park. Kesempatan wawancara kembali dibuka di sini. Dan lagi-lagi, suasananya sangat mendukung. Antara pelaku balap dan jurnalis layaknya teman saja. Semisal saat saya berkesempatan mendatangi tim Juha Kankkunen. Juara WRC 4 kali ini [1986 – 1987, 1991, 1993] menemui saya untuk ngobrol sembari menyantap pisang yang dalam bahasa Finland disebut ’banani’. Dan tentu saja dia tak lupa menawari saya karena ia membawa pisang satu sisir sekaligus! Jadinya, kami ngobrol sembari sibuk mengunyah pisang di tengah hutan.

Keramahan ‘kaum’ Finnish juga terasa saat santap malam di Parapat. Saya berkesempatan duduk semeja dengan Duta Besar Finlandia untuk Indonesia saat itu; Mr Hannu Himanen. Beliau hadir ditemani dua putranya, salah satunya bernama Antti. Dari Yang Mulia Mr Himanen itu saya mendapat bocoran, mengapa kaum Finnish begitu ‘perkasa’ di trek alam yang kadang tidak dapat diprediksi kondisinya.

“Itu karena kami di Finlandia sudah terbiasa menghadapi medan ganas, seperti jalanan licin akibat permukaannya tertutup es. Hingga mau tak mau kami juga harus paham, bagaimana mesti zigzag menghadapi trek penuh salju yang mungkin saja bagian-bagian tertentunya bisa ambrol kalau diterjang langsung,” ungkap beliau. “Nanti kamu tanya Juha [Kankkunen], ya. Istrinya juara balap truk es di Finlandia, lho!”

Nah, kalau ngobrol dengan Pak Dubes dan para pereli saja tak dapat kesulitan, apalagi dengan anggota tim sukses para pembalap itu. Saya berhasil menemui masseur pribadi Carlos Sainz, namanya Achim Hoffsteidler. Tak seperti Balbir Singh yang pelit bagi info, Achim malahan menceritakan dengan lengkap, bagaimana seorang pereli memulai harinya di saat balapan. Mulai sarapan, pelemasan otot sampai relaksasi selesai balapan. Termasuk di situ, bagaimana caranya mengurangi ketegangan pada otot-otot utama yang dibutuhkan seorang pereli. Seperti otot lengan, otot paha sampai jari-jari tangan dan kaki. Sangat informatif, bukan?

Dan seperti dunia balap laiknya yang mengakhiri suatu event dengan santap malam mengundang seluruh tim, pamungkas Rally of Indonesia 1997 juga diakhiri kegiatan serupa. Dari navigator Voitto Silander, sembari menunggu makan malam saya dapat ‘bingkisan’ cara menggambar pace-note. Yaitu semacam catatan dan gambaran yang dibuat co-driver untuk dibacakan –tepatnya diteriakkan di samping kuping driver—pada saat balapan. Tiap co-driver punya kebiasaan berbeda dalam menuangkan ‘coret-coretan’ tangan yang ia lakukan saat recognition sampai shakedown. Nah, Voitto mengajari saya; begini caranya dari sudut pandangnya.

Pindah ke meja lain, saya kembali mewawancarai Richard Burns, sang juara dunia WRC tahun 2001. Kali ini tentang kiprahnya sebagai pereli di bawah naungan tim Mitsubishi Ralliart dan rencana sesudahnya, bergabung dengan tim Subaru. Juga persahabatannya dengan Colin McRae, pereli asal Skotlandia yang meraih gelar juara dunia WRC pada 1995.

Peristiwa lucu terjadi selesai acara santap malam. Luis Moya, navigator Carlos Sainz [mereka berdua meraih juara dunia WRC pada tahun 1990 dan 1992] kedapatan mabuk dan mendatangi meja makan kami satu per satu. “My name’s Bond … James Bond,” tuturnya berulang-ulang memperkenalkan diri dengan gaya kocak. Padahal, ia dan Sainz baru saja meraih gelar juara 22nd Rally of Indonesia beberapa saat lalu!

* artikel dan foto adalah orisinal penulis. Foto tentang penulis dengan co-driver Tony Sircombe [Selandia Baru] di Service Park Parapat. artikel ini didedikasikan kepada Richard Burns, yang wafat pada 25 November 2005 karena tumor otak. Goodbye Richard The Lionheart. We miss you! Juga buat Peter Raymond George ‘Possum’ Bourne, wafat 30 April 2003 setelah cedera di babak recognition Race to the Sky, Selandia Baru. Artikel bersambung ke bagian Suka Duka Jurnalis Balap [5]: Liputan dalam Negeri, Motocross dan Time Rally *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s