Suka Duka Jurnalis Balap [3]: Jumpa Selebritis F1

Berita bahwa saya ‘hilang’ dalam perjalanan Belgia – Italia ternyata sudah tersebar luas di kalangan para jurnalis dan tim F1 yang mengundang saya. Apalagi karena salah satu panitia yang panik sampai menelepon ke kantor saya di Jakarta!

Tapi dengan ketenangan luar biasa [astaga!] awak redaksi malah memberi jawaban pada si penelepon, “Tenang saja, sebagai backpacker dia pasti bisa menuju lokasi undangan Anda pada saat-saat yang genting! Percayalah dia akan datang, karena sudah jauh-jauh hari meninggalkan negara kami!”

Begitulah. Pulang dari Autodromo Nazionale Monza dan baru saja masuk ke Hotel de la Ville di kota Milan –tak jauh dari Piazza de Duomo, salah satu gereja tercantik di Italia—pintu kamar saya diketuk. Fiona Mollet sebagai PR Officer bertanya apakah saya baik-baik saja. Disusul dengan pertanyaan “Bagaimana proses menghilangnya?” tapi kalimat ini terdengar cuma sebagian, karena saya melihat James Nower menendang kaki Fiona pelan. Hehehe, ini tentu isyarat agar saya tak merasa makin bete. Capek-capek datang dari jauh, dikumpulkan dengan para pendatang gelap pula di Basel, Swiss. Padahal kalau dua orang ini tahu saya sempat pelesir …. hmmmm!

Pagi harinya, kembali para jurnalis diberangkatkan pakai bus ke Autodromo Nazionale Monza. Kali ini boleh menonton para mekanik dan race engineer hampir semua tim F1 di sini. Juga menikmati hospitality dari tim pengundang. Para jurnalis tinggal menyesuaikan siapa yang mengundangnya dan bergabung di motorhome sang pengundang.

Namun meski diundang tim lain, saya tak menyia-nyiakan kesempatan bertandang ke tim Sauber Petronas. Pasalnya, PR Manager tim ini adalah Agnes Carlier yang sudah kenal lama. Beliau ibarat ibu asuh para jurnalis sekaligus pembalap timnya. Karena sanggup mengatur jadwal dan menyiapkan segala sesuatunya tanpa menimbulkan kerepotan di pelbagai pihak dan menghasilkan win win solution. Ini sungguh berbanding terbalik dengan perilaku Madame Agnes Kaizer [baca: Suka Duka Jurnalis Balap [1]: Setengah Hari di Kereta].

Saking baiknya Agnes, sekali waktu ia pernah ‘menyelundupkan’ saya dalam press conference dimana saya belum tercatat sebagai jurnalis yang akan menghadiri acara ini. Saat itu, Kimi Raikkonen belum secemerlang sekarang. Ia masih pembalap F1 di tim Sauber. Sekian menit di dalam tenda full A/C, saya kembali mendatangi Agnes seraya berbisik, “Agnes, Anda sungguh baik hati dengan memasukkan saya ke sesi tanya-jawab dengan Kimi. Persoalannya, ini sesi wawancara bahasa Finnish [Finlandia] bukan yang berbahasa Inggris! Jadi mana mungkin saya mudeng?” Agnes tertawa seraya menggandeng saya keluar dan memasukkan saya ke tenda yang sama setengah jam kemudian.

Nah, ketika saya mengetuk motorhome tim Sauber Petronas di Monza, wajah ceria Agnes menyambut di depan pintu. “Katanya kemarin kamu hilang di perjalanan, ya?” sapanya penuh perhatian. “Makanya, kamu mesti belajar bahasa Prancis juga biar bisa menjelaskan lebih detail pada Pak Polisi.”

Bicara begitu, Agnes tak cuma membiarkan saya berdiri. “Sudah, duduk situ dekat Mika. Saya akan ambilkan secangkir kopi,” ujarnya santai seraya bercakap pada seseorang di salah satu kursi di situ, “Ini dia Mika, jurnalis kita yang kemarin diberitakan hilang itu!”

Ya ampun! Yang disebut-sebut ‘Mika’ dengan santai oleh Agnes itu tak lain adalah Mika Salo! Pembalap tim Sauber yang mendapat kepercayaan tim Ferrari buat menggantikan Michael Schumacher –yang cedera patah kaki– selama tiga seri balapan F1 pada 1999.

Sembari duduk bersebelahan dan menyeruput kopi masing-masing, Mika berkomentar hangat, “Untung kamu tidak dipenjara. Ceritanya bakal lebih panjang lagi, ‘kan!”

Sungguh, bisa duduk berdampingan dengan pembalap F1 begitu merupakan kesempatan langka bagi saya. Apalagi dunia F1 terkenal sebagai dunia supersibuk dengan pentas ‘sirkus’ yang pindah dari satu kota ke kota lain di Eropa, bahkan lintas benua mulai Amerika sampai Asia. Itu sebabnya, jumpa selebritis F1 merupakan sesuatu yang dinanti.

Kesempatan duduk bersama lebih dari setengah jam juga pernah saya lakoni saat wawancara dengan Alexander Wurz di Belgia. Saat itu ia balap untuk tim Benetton [kini ia spesialisasi ‘tukang tes’ alias ‘tester’ buat mobil-mobil F1]. Tadinya, Julia Holden sang PR Manager [sekarang jadi istrinya] memberi waktu 15 menit. Tak dinyana, sambil menikmati orange juice obrolan kami berdua di motorhome berkembang sampai lebih dari 30 menit! Herannya lagi, Julia bukannya menyetop kami, tapi bilang, “Go on! Kamu masih punya waktu, karena sudah datang dari negeri yang sangat jauh.”

Bertemu dengan para selebritis F1 memang gampang-gampang susah. Selain perlu ijin wawancara jauh-jauh hari atau ikut wawancara keroyokan, kadang mereka bisa ujug-ujug muncul begitu saja di seputaran sirkuit. Tapi seperti lagu Serieus ‘Rocker [di sini jadi ‘Pembalap’] Juga Manusia’, mereka juga punya tabiat masing-masing. Kalau sedang bete, jangan coba-coba mendekati. Namun kalau lagi senang –seperti kualifikasi dapat posisi bagus—mereka bisa ‘dibajak’ begitu saja tanpa janjian.

Mika Hakkinen saya jumpai saat memenangi GP Belgia 2000. Jelas mukanya sumringah dan meski tergolong pendiam, saat saya minta tanda-tangan buat dipajang di kantor, ia sempat becanda, “Pulpen kamu susah sekali dipakai, pasti karena dibawa terbang begitu lama dari Indonesia, ya?” sambil berkata begitu, ia pinjam pulpen dari PR Manager nya dan sesudah dipakai langsung diberikan … kepada saya!

Atau Sir Jackie Stewart, juara dunia F1 tiga kali [1969, 1971, 1973]. Eyang satu ini doyan ngobrol dan sangat bersahabat. Termasuk pelukannya yang hangat dan menyapa dengan sebutan “Young lady.” Masuk akal cara memanggilnya itu, karena sejak saya belum lahir pun beliau sudah balapan dan juara dunia!

Seperti sudah diduga, di masa-masa saya meliput F1 sudah pasti paling susah menjumpai Michael Schumacher. Sebagai juara dunia dari tim nomor satu pula, penjagaan sedemikian ketat. Saya beruntung pernah jumpa dan wawancara istrinya, Corinna Betsch di Malaysian GP 2000. Yang diobrolkan sangat remeh-temeh; tentang celana capri tengah marak di kalangan para istri dan pacar pembalap F1!

Lain lagi pengalaman saat jumpa pembalap ‘flamboyan’ F1; Eddie Irvine dan Jacques Villeneuve. Masih dari arena Malaysian GP 2000, kedua selebritis ini ingin rileks sejenak di salah satu diskotek yang terletak dekat Jalan P Ramlee, Kuala Lumpur setelah race day. Datang naik Kancil, mereka menyelinap pelan-pelan dari pintu samping.

Tapi dasar bintang, tetap saja jadi pusat perhatian. JV atau Jack [panggilan akrab Villeneuve] mengungkap, “I just want to move my body.” Ya sudah, artinya dia ingin dansa-dansi tanpa diganggu. Di sisi lain, namanya fans tetap saja [kadang] tak mau mengerti. Ada penggemar asal Indonesia yang terus merangsek maju. Akibatnya, dia dapat kado bogem dari Jack! Dasar fans, bukannya mengaduh atau marah. Pria asal Jakarta ini malah makin bersemangat dan mendekati saya, “Mbak, Mbak … ayo dong ditulis. Ini fenomena. Saya dapat kado dari JV!” Walah!!!!

Selebritis F1 memang jadi komoditas penting buat diliput selain jalannya balapan itu sendiri. Karena itu saya juga tak segan ‘menambah’ jam keluyuran di seputaran sirkuit agar dapat materi makin banyak. Walau di samping itu saya juga menyadari, saya tetaplah fans yang juga punya keinginan jumpa para selebritis F1 secara pribadi.

Berangkat dari latarbelakang sebagai jurnalis sport, favorit saya di bidang ini untuk F1 adalah Graeme Murray Walker dan Gerard Crombac. Dan sangat beruntung, karena saya sudah pernah jumpa dan ngobrol akrab dengan keduanya –di tempat terpisah, tapi sama-sama berlangsung di Spa-Francorchamps, Belgia.

Walker merupakan komentator senior [baca: sekaligus sepuh] asal Inggris untuk ITV. Sedang Crombac yang lebih sering dipanggil Jabby adalah kolumnis F1 terkenal asal Swiss. Keduanya, sungguh … sangat ‘Eyang Kakung Balap’ di mata saya. Usia boleh senja, tapi semangat dan sahihnya liputan layak diacungi dua jempol! Bagi saya, keberadaan keduanya setara para selebritis pembalap F1 yang usianya lebih muda dibanding mereka. Berkat keduanya, atmosfer balap yang dibawa kepada penonton –terutama yang tidak menyaksikan langsung di sirkuit– jadi lebih ‘berwarna’!

* artikel dan foto adalah orisinal penulis. Foto tentang penulis sedang berkejar-kejaran dengan pembalap flamboyan Eddie Irvine. Artikel ini didedikasikan kepada Gerard Crombac, yang wafat pada 18 November 2005. Adieu, Jabby! Artikel bersambung ke Suka Duka Jurnalis Balap [4]: Kenangan Liputan di Tengah Belantara Sumatra *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s