Suka Duka Jurnalis Balap [2]: Ditangkap Polisi Perbatasan

Susah payah mendapatkan akses keluar dari sirkuit Spa-Francorchamps, saya berterimakasih para seorang manajer balap F3000 yang memberi tumpangan sampai ke stasiun terdekat di Verviers.

Menumpang Citroen Xsara nya, pria berkebangsaan Inggris yang saat ini berusia 41 tahun itu mengungkap, “Untung kau segera keluar dari arena begitu balap berakhir!” Kalau telat sekian menit saja, sudah bisa dipastikan bakal terjadi kemacetan di jalan akibat mobil dan bus keluar parkir, yang berbaur dengan para fanatikan tim keluar tribun untuk jalan kaki long-march merayakan kemenangan sampai tengah kota.

Dan dari caranya memandang segala atribut saya: jaket musim panas plus segala gembolan, pastilah ia berpikir bahwa orang ini butuh “pertolongan pertama”. Artinya moda transportasi yang bisa membuatnya [saya] tak harus memanggul gembolan-gembolan itu lebih lama lagi.

Mirip cerita di film, pria yang dulunya sempat balap gokart bersama [dan jadi sahabat] Michael Schumacher ini membawa Citroen Xsara dalam kecepatan tinggi. Bukan sok pamer kehebatan dia, tapi justru saya yang berinisiatif, “Kalau bisa agak ngebut ya, kereta saya hampir berangkat!”

Oh la la, baiknya Mas Manajer ini! Karena begitu sampai di tujuan dia berseru, “You take care the ticket, I’ll handle your luggage!” Jadi, saya sibuk di antrean loket peron [walau di kota kecil nyaris pantas disebut dusun, tetap serba computerized], sementara beliaunya langsung naik ke kereta seraya mengusung segala harta benda saya, terkecuali daypack.

Begitu selesai, saya segera melompat naik ke kereta dan dalam hitungan detik sudah melaju. Mas manajer memandangi saya sejenak lalu kami bersalaman serta berpelukan erat-erat. Sambil saling melempar “Look after yourself, blahblahblah” sampai “Auld lang syne!” Bukan sok romantis atau mau membuat story penyedap cerita, tapi pelukan saya artinya lebih condong kepada, “Untung kamu mau ngebut ya Mas Manajer, kalau tidak … bakal runyam nanti!” Karena kereta ini adalah yang terakhir dari Verviers menuju Bruxelles.

Di Brussel atau Bruxelles, saya sempat tanya sampai tiga kali pada tukang tiket [saya membelinya di Jakarta dengan menyertakan fotokopi passport], “Apakah ini valid? Dan visa saya cuma Schengen.” Jawabnya, “Beres, beres, beres.” Wajahnya setengah heran karena ‘Kok nanya melulu’.

Urusan tiket beres, kereta on-time [so pasti], saya pun anteng duduk di couchette saya bersama 5 penumpang lainnya. Nino, asal Italia yang sama sekali tidak mudeng bahasa Inggris, Lea Chiaramellano asli Pescara Italia yang jadi sahabat saya sampai hari ini, Carolina McRacines asal Columbia yang jadi warganegara Amerika Serikat serta satu pria Jepang dan seorang ibu sepuh asal Liege, Belgia.

Karena usia saya, Lea, Carolina dan Nino sebaya, kami pun terlibat dalam obrolan seru. Meski setiap kali bercakap-cakap Lea mesti jadi penterjemah buat pria di sebelahnya itu. Sampai akhirnya datang pengelola kereta yang dengan sigapnya mengubah tempat duduk kami buat dipan bersusun untuk tidur malam.

Tapi tengah lelapnya kami berenam tidur malam, lha … rak tenan tho …. Suara hirukpikuk membahana disusul gonggongan dan ketukan. Gonggongan? Saat kami membuka mata dalam gelap, cahaya senter menyapa. Lantas ada seekor anjing K9 berdiri tenang. “Maaf, pemeriksaan perbatasan,” kata Pak Polisi. Kali ini tidak ganteng, tapi bapak-bapak berperawakan tambun.

Setelah keempat teman sekamar dikembalikan passport nya, saya dan Carolina diminta ikut turun beserta seluruh barang bawaan. Dan karena teman baru saya ini akan ikut kuliah musim panas di Italia –dari rumahnya nun jauh di benua seberang sono— ia juga membawa backpack tak kalah banyak dengan saya!

“Let me explain the situation!” kata Carolina tak mau kalah. Lea pun ikut berteriak pakai bahasa Italiano, yang kurang lebih artinya, “Jangan dong! Teman saya ini wartawan akan meliput ke Monza.” Tapi Pak Polisi tetap pada pendiriannya. Kami pun mesti turun dari kereta dan menyempatkan diri berpelukan dengan rekan-rekan se couchette.

Sampai di sana, mata saya mendapati huruf besar-besar bertuliskan ‘Basel’. Hmmm … saya jadi ingin menonjok mas penjaga tiket di Bruxelles yang sok tahu tadi! Katanya no problem dan beres, beres, beres –sampai tiga kali— nyatanya tidak. Kepala stasiun memberi tahu kami, persoalan akan diselesaikan subuh nanti. Karena ini sudah lewat tengah malam, maka kami akan ditampung dulu di sini.

Di penjarakan? Syukurnya bukan. Kami diantar ke sebuah hall besar di mana banyak orang berkumpul. Kurang lebih kasusnya sama dengan kami, tidak punya visa masuk ke Swiss. Ada lagi orang-orang kulit gelap asal Afrika yang passport nya benar-benar bersih, tanpa stempel dan cap apapun kecuali nama dan negaranya. Buat mereka-mereka ini, tuduhannya adalah pendatang ilegal!

Kami mencari tempat duduk dan dapat layanan semangkuk susu serta roti setangkup. Lumayan buat mengganjal perut, karena bekal saya sudah habis sebelum tidur malam. Yang konyol, kami sempat berkenalan dengan Lionel, mahasiswa asal Wupperthal. Saat saya tanya, “Masalah kamu apa? masa karena visa juga?” Jawabnya agak malu-malu, “Bukan … saya tadi ketiduran dan baru bangun setelah kereta berhenti di sini. Karena nggak ada kereta lanjutan buat balik,besok pagi baru bisa jalan lagi.”

Petualangan kami bertiga dini hari itu –saya, Carolina ditambah Lionel—adalah keluyuran sekitar hall. Konon, tempat ini pernah jadi persinggahan Anne Frank saat ia dibawa dengan kereta oleh tentara Nazi. Hiiiii! Kami jadi bergidik. Mengingat nasib gadis belia yang mesti berakhir dalam sebuah kekejaman perang itu. Sementara di salah satu dinding hall, terpasang lukisan tentang cerita Heidi von Switzerland yang sedang tersenyum. Wah, sama sekali tidak matching!

Pagi hari pukul 04.30, terjadilah apa seperti yang dinyanyikan maestro klasik Andrea Bocelli dan Sarah Brightman … Con te Partiro alias Time to say Goodbye. Saya dan Lionel mesti mengucapkan itu pada Carolina. Ia dapat tiket gratis dengan kereta pagi pukul 08.00 menuju Italia. Sedang saya mesti balik arah keluar Swiss dulu lalu masuk ke Italia lewat Prancis! Ruwetnya! Mesti tiket ‘pengusiran’ itu diberikan gratis dan bisa tukar kelas [tentunya menambah uang dari kantong pribadi] kalau mau. Sedang Lionel cuma perlu sepertiga perjalanan bersama saya sebelum ganti kereta lagi.

Begitulah. Saya ‘terdampar’ di Mulhousieville entah di mana. Disambung pakai taksi segala macam sampai stasiun besar terdekat di perbatasan Prancis. Naik kereta dan jumpa dengan Astrid, orang Prancis pertama dalam hidup saya yang menyapa dalam bahasa Inggris! Turun di Lyon-part-Dieu, ganti kereta lagi dan karena masih ada waktu buat perjalanan berikutnya menuju Milan [Italia], Astrid mengajak saya menengok Eiffel Tower dengan iming-iming “cuma perlu meluangkan sedetik waktu saja di hidupmu”.

Sesudah melakukan ‘aktivitas kesenangan’ [baca: traveling yang jalan-jalan] sejenak, kembali drama berlangsung menuju Milan. Karena kedatangan saya di Milano Centrale sudah pasti bergeser dari waktu semula, maka diputuskan untuk naik taksi langsung ke Autodromo Nazionale, Monza.

Seperti biasa, Mamma mia …. Italiano! Seluruh supir taksi setara gantengnya. Sementara mobilnya [mesti antre tertib] aneka tipe baru dan masih kinclong. Begitu masuk mobil dan ‘Pronto!’ sapanya. Saya menduga sesuatu tidak beres. ‘Scusi … can you speak English?’ Mas Supir yang ganteng dengan rambut gondrong kriwil serta mata biru yang teduh dengan penuh percaya diri menjawab, “Non! Non! Parli Italiano. Only!” Waduuuh …. jadilah bahasa tarzan juga, plus saya pinjami print-out peta detail [syukurnya selalu bawa kemanapun!].

Begitu taksi berhasil masuk sirkuit, bersamaan itu pula helikopter menderu-deru di atas kepala kami. Sang bintang F1 sebentar lagi siap mendarat dan mengadakan konferensi pers buat para jurnalis. Waktunya dibatasi kurang dari 15 menit untuk wartawan cetak dan televisi dari seantero dunia!

* artikel dan foto adalah orisinal penulis. Foto kenangan dengan Alexander Wurz, dulu bertanding untuk tim F1 Benetton. Artikel bersambung ke bagian Suka Duka Jurnalis Balap [3]: Jumpa Selebritis F1 *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s