Suka Duka Jurnalis Balap [1]: Setengah Hari di Kereta

Motorsport is dangerous” itu kalimat yang tertulis di balik ID pass saya buat masuk ke sirkuit Formula One [F1] maupun MotoGP. All access. Artinya saya boleh menyambangi para pembalap sampai ke paddock dan garasi, sebelum mereka berlaga. Juga naik ke press room di lantai dua untuk mengakses jalannya balapan. Termasuk mendapat tempat duduk yang nyaman karena ada sekian puluh monitor yang menayangkan secara live, dengan kamera dipasang di sudut-sudut strategis seantero sirkuit.

Ya, beberapa tahun silam, saya memang mendapat tugas di desk sport and lifestyle di sebuah tabloid sport otomotif Tanah Air. Itu artinya, tugas saya adalah meliput balapan roda dua dan roda empat, baik di dalam negeri [dan kalau sedang beruntung] juga di luar negeri.

Komentar yang kerap saya dengar, pastilah, “Aduh, enak ya jalan-jalan melulu!” Oh ya, sure! Segala sesuatu pemberianNya patut disyukuri. Tapi seperti kata pepatah “Rumput tetangga lebih hijau” itu memang benar adanya.

Ambil contoh saat saya bertugas ke sirkuit Spa-Francorchamps, Belgia. Dari namanya ketahuan, ini adalah sirkuit jalan raya yang ada di pertemuan kota Spa dan Francorchamps. Terletak di kaki pegunungan Ardennes [Ardennen pakai lafal Flemish atau bahasa setempat, karena mereka menggunakan dua dialek; Belanda dan Prancis].

Buat yang menyukai sejarah [saya dan ayah saya juga!] tempat ini termasuk penting bagi tentara Sekutu dalam Perang Dunia II melawan Jerman. Di mini-seri Band of Brothers dikisahkan dalam episode The Battle of Bulge, paratroopers Amerika Serikat mesti terus maju lewat pegunungan ini dengan perbekalan yang minim untuk menaklukkan timnya Hitler.

Toh, semua romantisme, keindahan dan sisi historis cuma sempat sedikit diulik. Lha mau bagaimana lagi? Namanya tugas mesti didahulukan. Berangkat dan Jakarta via Singapura turun di Schiphol, Belanda. Dilanjutkan kereta SNCF menuju kota terdekat di sirkuit.

Begitulah, hampir setengah hari berkutat dengan namanya moda transportasi kereta. Dari kereta nyaman melewati Amsterdam, Breda, Bruxelles, Antwerp, Leuven sampai Liege [Belanda ke Belgia], ganti kereta kecil Liege – Verviers sampai kereta super kecil mirip trem untuk jurusan Verviers – Spa. Lantas sesudahnya masih ditambah naik bus dan turun di pertigaan luar kota yang menanjak ke pegunungan Ardennes.

Selesai? Belum! Harus disambung jalan kaki sejauh 2 km dulu buat sampai ke gerbang sirkuit. Lalu di situ baru boleh ‘sombong’. Karena tidak semua tamu menyandang ID Pass serupa milik saya. “Swipe your ID Pass!” kata petugas yang ganteng tapi sangar. Sesudah bunyi ‘beep beep’ sekian kali, barulah bisa masuk ke paddock. Di mana motorhome para pembalap F1 diparkir.

Di sini pun tak boleh sembarangan bertamu. Khususnya tim-tim besar yang mensyaratkan “Permohonan wawancara akan diterima bila sebelumnya sudah ada perjanjian terlebih dulu lewat e-mail yang ditujukan kepada Public Relation Manager.”

Buat perjanjian ini, minimal jurnalis sudah mengontak tiga atau dua bulan sebelumnya. Disusul korespondensi intensif. Dan urusan begini, tidak bisa nitip ke sekretaris kantor. Kudu dikerjakan secara personal, karena sekaligus memberikan ancer-ancer pertanyaannya apa. Bila dirasa bakal membuat si pembalap tidak nyaman, PR akan memberitahu supaya diganti yang lain.

Buat tim yang lebih kecil, kalau nasib lagi mujur bisa mendatangi wawancara ‘beregu’ [baca: ramai-ramai dengan para wartawan lain] yang diadakan dadakan. Itupun mesti pasang kuping baik-baik, karena tak semuanya berbahasa Inggris. Konon, pembalap akan tergerak semangat nasionalismenya saat ditodong dengan pertanyaan pakai mother tongue-nya. Jadi, berbondong-bondonglah jurnalis yang berkebangsaan sama atau bisa berbicara seperti bahasanya si pembalap agar dapat jawaban langsung [baca: boleh jadi malah eksklusif karena tidak diatur-atur lebih dulu, spontan saja].

Tapi, FIA [Federation Internationale de l’Automobile] selaku badan penyelenggara juga mengadakan konferensi pers yang mencakup tanya-jawab dengan para pembalap papan atas. Jangan tanyakan tertibnya. Sesi dibagi menjadi wawancara saja atau pemotretan saja. Artinya, kalau fotografer cuma boleh mengambil gambar saat sesi pemotretan. Dan saat sesi wawancara, hanya dibolehkan bertanya, bukan memotret. Sekali waktu, ada seorang fotografer [saya lupa kebangsaannya] membidikkan lensa dan ‘menumpahkan’ flashlight di antara para penanya. Maka Agnes Kaizer –nama ini kondang di kalangan jurnalis karena kedahsyatan tertib dan galaknya!— dari perwakilan FIA pun murka dan melemparkan handuk kecil kepada fotografer nekat itu!

Di masa saya bertugas dalam gelaran Foster’s Belgian F1 GrandPrix 2000 itu, kamera digital dengan resolusi tinggi belumlah sebanyak yang bisa dijumpai sekarang. Maka, kantor pun membekali saya laptop serta scanner foto negatif [baca sekali lagi: scanner foto!] yang meski bentuknya mini, tetap saja namanya peranti pemindai. Jadi bisa dibayangkan, selain menenteng backpack di punggung, ada laptop di bahu kiri dan scanner di bahu kanan, plus daypack di depan yang berisi passport, kamera dan segala macam tiket perjalanan.

Mengapa backpack segala macam tidak dititipkan di penginapan? Memang saya melakukannya di hari kedua dan ketiga [race day]. Tapi tidak saat kedatangan, karena penginapan saya terletak cukup jauh dari sirkuit. Tepatnya di Stolberg, Jerman!

Jadi, di hari kedatangan yang disusul liputan langsung, saya mengandalkan locker di press room yang untungnya punya kapasitas tampung sedemikian besar.

Dan di hari terakhir pun, saya kembali memboyong seluruh perbekalan masuk locker. Pertama karena sudah langsung check-out dari Park Hotel am Hammerberg di Jerman dan kedua mesti langsung boarding di kereta SNCF jurusan Italia. Satu tim F1 telah mengundang saya untuk hadir dalam sesi latihan mereka di sirkuit Autodromo Nazionale, Monza.

Balapan F1 hari itu berlangsung seru. Termasuk detik-detik spektakuler bagi dunia F1 di mana Michael Schumacher [Scuderia Ferrari] dan Mika Hakkinen [McLaren Mercedes] saling kebut dan mereka berdua sama-sama melakukan overtaking atas Ricardo Zonta [BAR]. Hingga ada kejadian mobil balap tiga tim berendeng ketiganya sekaligus di atas trek, dekat tikungan Eau Rouge.

Tapi, lagi-lagi …. boro-boro bisa menikmati hirukpikuk dan teriakan serta tepuk tangan para penonton yang membahana. Begitu wuuuuuuuuuuzzzzzzzzz!!!! Mobil balap Hakkinen masuk garis finish saya harus langsung menyelesaikan tugas. Termasuk wawancara ‘tembak’ [baca: sama juga dengan dadakan, langsung lari mendekati objeknya] dengan Jean Todt dan Alain Prost yang sedang sibuk bukan main untuk bertanya ini itu. Ada pula si flamboyan Flavio Briatore.

Sesudah jeprat-jepret dan membereskan ketikan dan mengirim berita –beruntung sebagian negatif sudah rampung dipindai lalu dikirim hari-hari sebelumnya—saya pun tancap gas. Keluar dari press room, keluar melewati jubelan penonton, masuk terowongan yang menghubungkan area dalam dengan pintu keluar. Dan saya mesti membopong seluruh harta pula. Mulai backpack sampai segala peranti kerja sendirian. Memang enak?!

* artikel dan foto adalah orisinal penulis. Foto kenangan dengan Murray Walker, komentator senior F1 ITV asal Inggris. Artikel ini didedikasikan buat ayahanda tercinta, R Soepijono Ponosoehardjo [23 April 1941 – 19 Februari 2007]. Artikel bersambung ke bagian: Suka Duka Jurnalis Balap [2]: Ditangkap Polisi Perbatasan *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s