wisata ke belitung barat; bertempur lawan agas!

Kategori pantai-pantai Belitung Barat bisa disebut sebagai off-the-beaten-path. ‘Tak tersentuh’ atau malah sudah dilupakan wisatawan. Tapi justru di situlah seninya, eksplorasi jadi nyaman karena tidak ada ‘saingan’. Sayangnya kami tetap saja punya musuh … si lalat pasir!

Udara cerah, langit biru dengan sedikit awan-gemawan di sana sini, serta laut berwarna biru turquoise menyapa kami. Rasanya gaya bahasa jadi puitis mendadak karena pemandangan indah itu tersaji dalam pelayaran kami menuju Pulau Babi. Cuma berdua, ditemani Pak Acin seorang. Nelayan yang juga menyediakan jasa pengantaran tamu buat snorkeling atau bertandang ke pulau-pulau kecil di lepas pantai Tanjung Kelayang,Belitung Barat.

(c) ukirsari

Aneka bentuk bebatuan granit mencuat ke atas permukaan lautan bergelombang pelan itu. Warnanya variatif. Mulai kehitaman dan kelabu, abu-abu pucat mendekati putih, sampai berlapis-lapis mirip tiramisu cake: cokelat tua, cokelat muda serta cokelat pucat mendekati beige.

Ujudnya pun berbeda-beda. Ada yang tersusun sedemikian rupa hingga mendekati bentuk hewan purba, menjulang tinggi bak pilar sampai menyerupai barikade di atas laut yang mengingatkan kami pada susunan batu Stonehenge, monumen batu megalitikum dari Zaman Perunggu di Inggris.

Paling menyenangkan saat kami mendarat di Pulau Babi. Tepatnya turun dari perahu pakai ‘dingklik’ dari plastik seperti yang biasanya kita duduki di warung. Air bening menyambut kami, nyiur pun melambai dan … tidak ada orang selain kami berdua di sini –karena Pak Acin memilih menunggu sembari tiduran di atas perahu.

Dari sisi barat Pulau Babi, terlihat Tanjung Binga serta Pulau Lengkuas. Sebuah mercuar buatan Belanda di tahun 1882 masih berdiri tegak di Pulau Lengkuas, sekaligus masih berfungsi hingga kini. Untuk memandu kapal-kapal yang akan melewati Belitung.

(c) ukirsari

Hamparan pasir, kecipak air laut dan keteduhan dari vegetasi pantai –di sisi ini banyak tumbuh pepohonan jati, bakau, ketepeng dan semacam pandan raksasa– membuat suasana makin romantis. Selain main frisbee, nyaman rasanya duduk-duduk atau tiduran beralaskan sarung pantai sembari memandangi mercusuar Pulau Lengkuas di seberang.

Tentu saja acara berenang serta snorkeling tak kami lupakan. Air laut terasa begitu hangat saat menyentuh kulit. Kami berpandangan dan tertawa. Sama-sama sepakat, Pulau Babi merupakan tempat ‘pelarian’ paling pas buat menghindari agas. Sebutan orang lokal untuk hewan semacam nyamuk berukuran sangat kecil hingga cuma terlihat mirip titik.

(c) ukirsari

Berbincang soal agas, memang jadi panjang ceritanya. Binatang kecil yang disebut kekasih saya sebagai sandflies itu memang menjengkelkan. Daya gigitnya luar biasa dan meninggalkan bercak mirip bisul kecil-kecil yang gatalnya baru reda sekitar 3 hari kemudian. Sementara bekasnya malah tak bisa hilang dari kulit saya (mungkin karena saya juga berbakat prurigo atau sering diistilahkan orang sebagai ‘darah manis’ yang mana bekas-bekas gigitan nyamuk terlihat permanen).

Setelah digigit agas, serangan gatalnya bisa datang sesuka hati. Tak peduli pukul dua pagi! Nah, karena kulit digaruk-garuk otomatis timbul goresan luka yang mendatangkan rasa pedih.

Herannya, penduduk lokal seakan tak peduli dengan kehadiran agas. Sangat jarang kami melihat mereka sibuk menepuk-nepuk kulit dengan telapak tangan untuk mengusir agas, atau pun garuk-garuk kena gigitannya.

Bahkan tiap kali kami jumpa di pantai dan saling bertukar salam, raut mereka kadang terlihat heran demi melihat kulit kami yang bentol-bentol tersengat agas. “Itu sebabnya, kalau bisa jangan kemari di musim hujan, karena artinya kalian harus bertempur melawan agas,” tutur Pak Umar, pengelola bungalow tempat kami bermalam.

Tapi dengan kondisi Belitung Barat yang mempesona begini, bagaimana kami bisa menangguhkan kedatangan hanya karena gangguan agas? Walau ‘pertempuran’ seolah tak pernah habis. Mosquito repellent pun kami oleskan ke sekujur tubuh sampai muka, tak peduli pagi, siang atau malam. Itupun kadang masih ada agas bandel yang mencoba peruntungan dengan mencari-cari bagian kulit yang tidak tersapu lotion anti-nyamuk!

Sebegitu mengesalkannya, sampai kami kadang-kadang mesti makan kelapa muda sambil berendam di pantai agar tidak diburu agas. Karena itu, wajar bila kami begitu gembira saat berkunjung ke Pulau Babi. Di sini bebas agas.

(c) ukirsari

Esok paginya, kembali agas jadi musuh utama ketika kami kembali berada di Pulau Belitung yang dulunya dikenal dengan nama Biliton. Tapi keindahan sepanjang pesisir barat pulau ini telah membuat kami ‘terbius’, seolah tak peduli dengan gigitan binatang kecil bersayap itu. Sampai-sampai kami rela jalan kaki sepanjang 5 km, mulai Tanjung Tinggi, Tanjung Kelayang hingga jalur pantai terputus karena masuk wilayah rumah orang alias private property –artinya, tak boleh lewat batas halamannya.

Tanjung Tinggi memiliki kumpulan batuan granit membentuk lorong-lorong alam menuju ke laut. Juga membentuk semacam teluk yang terlindung dari riak gelombang. Berenang atau terapung di tengah-tengah ‘pagar’ granit ini mendatangkan pengalaman baru bagi kami, karena serasa berada di kolam renang –karena bebas dari ombak atau riak gelombang—tapi airnya berasa asin karena dari laut.

Sementara Tanjung Kelayang, menjadi tempat kesayangan kami, karena cara nelayan memarkir perahu-perahunya mengingatkan kami pada pengalaman saat berkunjung ke Venezia, Italia.


(c) ukirsari

Di pantai satu ini, nelayan memarkir perahu mereka dengan cara diikatkan pada tonggak-tonggak kayu. Dan dalam hutan-hutan kecil di belakang bungalow Tanjung Kelayang, terdapat kawanan monyet hitam yang hidup di atas dahan. Sesekali mereka muncul untuk mengambil kelapa langsung dari pohonnya, namun begitu didekati langsung lari menjauh.

Uniknya lagi, di depan Pulau Kelayang terdapat susunan batu granit yang mengantar kita pada gambaran dinosaurus atau hewan purba lainnya, yang muncul dari kedalaman laut!

Acara jalan kaki kami yang cukup panjang itu, berakhir dengan acara makan sore di tepi pantai. Pada sebuah warung beratap rumbia yang punya kotak styrofoam tebal berisi ikan segar dan pecahan-pecahan es batu sebagai pengawet alaminya.

Setelah ditimbang seksama untuk menentukan harganya, kami pesan agar cumi digoreng tepung sedang ikannya yang berdaging putih dibakar. Aromanya demikian sedap, disajikan dengan nasi putih hangat dan sambal kecap pedas.

Selesai bersantap, kami menikmati petang dengan duduk di sebongkah kayu yang menghadap ke Tanjung Kelayang. Belitung Barat serasa jadi tujuan off-the-beaten-path. Seolah terlupakan, tapi tetap saja mencuri hati kami.

We’ll be back someday!

22 thoughts on “wisata ke belitung barat; bertempur lawan agas!

  1. itulah mas yudi …. panorama cantik sekali di belitung. tapi agasnya … whoah! mau marah, nggak bisa melawan daya tarik pantai-pantainya, mau dibiarkan, serangan gatal datang berhari-hari tak kenal waktu. nggak heran setiap kali kami mendarat di belitung selalu saling lempar kata “selamat hari gatal!”
    pasti nanti kami berkunjung lagi ke belitung dan beritahu resepnya, ya🙂 thanks banget!

  2. Haloooooooooooooo aku adalah orang asli Belitung, aku sekarang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Aku kangen banget dengan pantai yang indah di Belitung, apalagi pantai Tanjung Tinggi aku tuh sering kesana apalagi rumahku tidak terlalu jauh dari pantai Tanjung Tinggi. Rumahku di Desa Batu Itam. Aku Gaok kan belitong nakkkkkkkkk balikkkk

  3. hayy mbak Uki …
    aku baru balik dari belitung .. Speechlesss , kangen n fall in love with beaches there …
    aku udah sampaikan salam buat Mas Syarif .. dia lgs inget kamu & pak Nick . ha22
    Aku udah digigit agas tapi untung ga apa2 ..
    Aku udah nulis babak I jalan2 kesana , bsk akan aku sambung lagi .
    aku pengen balik lagi someday …
    I love you Belitung …

    Buat Desti >> Desa Batu ITam yg ada Boat Bulider bukan ? yg deket Air Saga ? saya dibawa kesana sama Mas Syarif .

  4. dear desty dan veny, thanks banget comment nya. iya nih, aku juga ikut kangen, nak balik ke biliton lagi!

    @ veny, bener kan … pasti mudah banget jatuh cinta sama pantai-pantai di belitung! secara semuanya cantik banget. terima kasih lagi ya, salamnya udah disampaikan mas syarif. nanti aku main ke blog mu dan lihat-lihat fotomu🙂

  5. mbak, aku orang belitung, sekarang lagi kuliah di bandung..
    belitung memang indah tapi belum terkenal..
    makasih ya mbak dah cuap2 sana sini tentang belitung..
    aku miris banget ketika aku menyebut asal ku dari belitung dan orang2 melongo tak tahu apa dan dimana belitung itu..

    sering2 main2 ke belitung ya mbak…
    jangan lupa ajak teman juga..
    he2xxx

    makasih ya mbak

  6. salam kenal…

    belitung is the best..dulu sekali, pas aku kelas enam SD yang paling nikmat adalah makan ikan bakar di tepi tanjung tinggi plus sambal kecapnya yang oke….nikmat sekali.
    waktu itu belum ada Lor In.

    di tanjung klayang, ada restoran sea food yang mantap. sup kepiting, sate kerang, cumi, dll…

    hehe…kapan-kapan mau ke sana lagi, semoga ketemu mbak ukir. Mmm, untung aku ga ketemu agas

    salam

  7. Wah………….rindu berat neh liat pantai…..pengen pulang kampung ,pas dibelitung jalan ke manggar enggak , ke samak hill or pantai keramat……….or yg paling ngetop ngopi…….
    hm…… starbuck lewat….
    hehehehhe
    just info kampung bali kan ada juga di belitung and nanti april ada acara rakyat………..

  8. aku lumayan tau tentang belitung karna sudah 3x aku dateng ke daerah yang indah itu …. sayang aku kesana dalam keadaan tugas … sungguh terharu saking senengnya saat melihat keindahan didepan mataku sendiri terasa berada dialam mimpi … sampai sekarang aku selalu kangeeeeeeeeen terus sm pantai dan keindahannya …. kangen jg sama seseorang yg pernah nemenin aku jl2 dibelitung, orang itu memang lumayan istimewa buatku ………… pkoknya belitug kereeeeeeeeeeen banget ….

  9. gak bakalan habis kalo melirik indahnya pantai n panorama Belitungku…..apalagi sambil makan masakan khasnya “Gangan”….bikin bibir bergetar….Welcome To My Belitong.

  10. mba uki..halooo..salam kenal ya..

    mba,,aku pengen ke belitung deket2 ini..tapi bingung kalo kesana ga pake travel harus nyiapin budget berapa ya?

    pengennya sih 4-5 hari disananya..kan mahasiswa jadi budgetnya terbatas,,hehehe..

    thx ya mba

  11. seneng d skrng belitung mulai dikenal…karna dulu waktu ku memutuskan tuk pindah kesini semua temen ku di jkt pada gak ada yg tau belitung itu dimana…….?

    mba2 d mas2 mampir2 ke rmh ku klo lg melancong ke belitung ya…
    rumahku di jl.baru tj.pandan

  12. seneng banget denger nya ada orang2 yang memuji pulau belitung yang kecil nan
    indah ini,semoga belitung bisa menjadi tempat wisata yang terkenal diseluruh dunia!walaupun baru di eksplor sekarang!!!!!

  13. Hay Mba, thanks for sharing about the special animal named Agas..errggghh..
    aku mengunjungi belitung tgl 25-30 agustus 2010 lalu, hingga hari ini, bekas serangan si Agas kadang masih tetap menyerang…hadoooh…..

  14. Panorama pulau belitung mank indah, karena kita juga asli belitung. Enggak kalah ma wisata” yang lain yang ada diluar belitung. Kalau ada waktu main” aja kemari dijamin gak akan bosan, masakannya dijamin wenak tenan… hehe

    Kalau agas itu hewan yg paling” nyebelin, cz sampai sekarang kaki mulusku jadi …….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s