visit thousand islands, indonesia: mau wisata sejarah atau taman nasional?

“Kwak .. kwak ….” suara itu benar-benar bak magnet yang menuntun kami ke arah datangnya suara. Padahal speed boat baru saja sandar di Pulau Kotok, diteruskan langkah-langkah kami menyusur dermaga panjang yang membentang di atas laut biru muda.

(c) ukirsari

“Kwak … kwak ….” Berbekal sebuah peta kecil pemberian petugas di front desk, kami ambil jalan setapak yang mengarah ke pantai di ujung satunya lagi [terbayang ‘kan, betapa kecilnya pulau satu ini?]. Di dekat rumah pohon, tampaklah suara si ‘pengundang’ kami. Beberapa ekor Elang Bondol [Haliastur indus] tampak bertengger anggun di pepohonan waru [Hibicus tiliaceus] yang dikepung tanaman pandan [Pandanus sp.].

Sekadar menggali ingatan, Elang Bondol inilah yang dijadikan lambang angkutan Trans Busway di Ibukota. Tatapan tajam dengan paruh indahnya di berbagai pamflet dan tayangan televisi telah membuat kami begitu ingin mengunjunginya. Langsung ke tempat rehabilitasi Elang Bondol di Kepulauan Seribu.

Dan tak cuma Elang Bondol yang bisa dijadikan suguhan saat bertandang ke gugusan kepulauan yang terletak di Teluk Jakarta ini. Sebutlah Pulau Pramuka sebagai contoh. Perairannya kerap dijadikan tempat ujian open water para calon penyelam. Asyik juga buat melakukan kegiatan snorkel. Mulai terumbu karang sampai berbagai jenis ikan bisa ditemukan di sini. Lengkap dengan drop-off berhias terumbu karang warna-warni yang sedap dipandang mata.

Masih di Pulau Pramuka juga, pengunjung bisa menikmati penangkaran kupu-kupu aneka jenis, pembiakan bakau untuk ditanam di zona penyangga [buffer] pantai serta proses penetasan [hatchery] penyu hawksbill alias penyu sisik [Eretmochelys imbricata] dan penyu hijau [Chelonia mydas]. Sementara proses bertelurnya sendiri kebanyakan berlangsung di Pulau Peteloran Barat dan Peteloran Timur [namanya sangat sesuai!].

Menyebut Kepulauan Seribu, terkadang mendatangkan ‘kerancuan’. Seperti yang saya dapati di sebuah forum diskusi pelancong non-Indonesia. “Mau lihat apa di sana? Langitnya tidak biru, lautnya sudah terimbas polusi dan butek, pemandangannya pun tak bisa dibilang bagus.”

Sebagai warga Jakarta [setidaknya sudah bermukim lebih dari lima tahun di Ibukota], tentu saja saya gusar membacanya. Kepulauan Seribu yang mana, nih? Saya balik bertanya.

Kalau yang jadi acuan adalah beberapa pulau dari gugusan Kepulauan Seribu yang terletak pas di depan Teluk Jakarta, memang kondisinya demikian. Sebut saja Pulau Bidadari, Onrust serta Pulau Kerkhof sebagai contoh. Visibilitas pantainya buruk. Lalu-lintas perairan dan aktivitas pelabuhan Sunda Kelapa punya andil mengapungkan aneka sampah ke sekitar sini hingga menghasilkan gloomy water.

Tapi, makin menjauh dari Teluk Jakarta ke arah utara, kondisinya berangsur-angsur berubah. Dengan perjalanan pakai kapal motor biasa [bukan speed boat] dan beaya di bawah Rp 20.000 per orang, dalam waktu sekitar 2 jam kita sudah sampai di Pulau Pramuka. Rutenya, dari dermaga Marina Ancol, kapal akan melewati kelompok Pulau Bidadari, Onrust dan Kerkhof yang belum masuk kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu [TNKS].

(c) ukirsari

Pulau Pramuka sendiri, bisa disebut sebagai ‘gerbang’ ke TNKS. Luas total TNKS menurut brosur Pusat Penyelamatan Satwa Tegal Alur adalah 108 ribu hektar, berupa gugusan pulau karang yang terletak sekitar 45 – 47 km sebelah utara Jakarta.

Setelah mampir ke Pulau Pramuka, silakan nikmati kebiruan laut dan langit serta begitu banyak pulau yang bisa dieksplorasi – walau tak semuanya bisa ditinggali atau jadi tempat bermalam karena belum tersedianya prasarana pendukung, semisal camping ground. Beberapa pulau yang familiar dikunjungi pelancong di kawasan TNKS setelah Pulau Pramuka adalah Pulau Karya [disebut sebagai pulau terpadat di sini], Semak Daun, Panggang, Karang Congkak, Karang Bongkok, Kotok Besar, Kotok Kecil, Semut, Panjang, Genteng Besar, Belanda, Jukung, Melintang, Matahari, Semut Besar, Sepa Timur, Bira Kecil, Kelor Barat, Kapas, Sebaru Besar, Penjalinan Barat, Penjalinan Timur, Gosong Pengat, Peteloran Barat, Peteloran Timur, Dua Barat dan Dua Timur. Lima nama disebut terakhir terletak paling utara di area TNKS.

Vegetasi yang dominan di pulau-pulau ini berupa tumbuhan pantai, semisal waru, pandan, cemara laut [Casuarina equisetifolia], ketapang [Terminalia cattapa] serta kawasan hutan bakau yang banyak ditumbuhi Barringtonia asiatica dan Bruguiera sp. Sedang biota lautnya terdiri atas 54 jenis terumbu karang lunak dan keras, 144 spesies ikan, 2 macam kima, kelompok ganggang Rhodophyta [merah], Chlorophyta [hijau] dan Phaeophyta, 6 jenis rumput laut serta 17 jenis burung pantai. Satwa langka yang ada di sini termasuk Elang Bondol, hawksbill dan penyu hijau.

Meski tak masuk dalam grup TNKS, bukan berarti pulau-pulau terdekat di Teluk Jakarta lantas tak bisa dieksplorasi. Bagian terluar ini termasuk dalam suaka purbakala yang menarik dikaji sisi historisnya.

Sebutlah Pulau Onrust [Inggris: Restlessness Island]. Pater Heuken [Adolf J Heuken] dalam bukunya ‘Historical Sites at Jakarta’ menyebutnya sebagai ‘sebuah pulau kecil dengan sejarah yang begitu kaya’.

Gubernur Jendral Hindia Belanda, Jan Pieterzoon Coen pernah menempatkan armadanya di pulau ini [1618] untuk menjaga Jakarta –waktu itu bernama Jacatra—dari armada Inggris yang dipimpin Komodor Sir Thomas Dale. Lantas sempat difungsikan sebagai galangan kapal di luar Sunda Kelapa untuk melayani keperluan dok berbagai kapal asing di perairan Teluk Jakarta pada saat itu. Termasuk kapal Endeavour yang dipimpin Kapten James Cook [1770].

Berbagai fasilitas perkapalan dan pergudangan termasuk poliklinik tersedia di Onrust. Bahkan dilengkapi tempat menginap bagi awak kapal, kompleks pemakaman sampai penjara. Khusus penjaranya, pada Perang Dunia II pernah digunakan Belanda untuk menahan para awak kapal Zeven Provincien. Kejadiannya, di kapal perang berisi kru Belanda dan Indonesia itu terjadi kesalahpahaman atas pernyataan kemerdekaan Indonesia dan pihak Belanda lalai memberi gaji para kru Indonesia hingga meletus pemberontakan.

Sementara tempat pemakaman Onrust, dipakai kurun 1691 – 1699. Sesudahnya, kegiatan penguburan masyarakat sini dipindahkan ke Pulau Kerkhof [bahasa Belanda, artinya Pulau Makam]. Sampai saat ini, batu-batu nisan tua masih bisa dijumpai di situ, meski sebagian besar rusak karena proses abrasi air laut, remuk karena faktor alam seperti hujan, terik matahari serta akar-akar pohon.

Di salah satu nisan di Pulau Onrust, masih dapat terbaca nama Cornelius Willemse Vogel [1695 – 1738]. Seorang pengrajin terkenal di masa Hindia Belanda yang awalnya dimakamkan di Pulau Damar atau Pulau Edam tapi dipindahkan kemari karena ia berwasiat ingin selalu berdampingan dengan kawan-kawannya sesama pengrajin di Onrust.

Tak kalah dengan Onrust, Pulau Bidadari juga menyimpan banyak cerita. Awalnya, pulau ini digunakan pemerintah Hindia Belanda salah satu basis pertahanan lautnya –bersama beberapa pulau di sekitarnya, seperti Pulau Cipir, Kerkhof dan Onrust. Juga sebagai tempat sandar sementara sebelum memasuki pelabuhan Sunda Kelapa.

Sesuai peruntukannya, Pulau Bidadari dilengkapi dengan meriam dan Martello Tower. Sebuah menara pengawas yang bentuk dan jenisnya serupa dengan benteng-benteng tipe Korsika di Eropa. Lantai pertama ada di basement sedang bentuk ruangnya oval menjulang. Di sini terdapat ruang-ruang berjendela untuk mengamati musuh.

Uniknya, pemerintah Hindia Belanda lantas mengubah fungsi Pulau Bidadari menjadi sebuah sanatorium untuk menampung pasien berbagai penyakit. Namanya pun menjadi Purmerend atau Pulau Sakit. Para penderita lepra yang meninggal di pulau ini dimakamkan di Pulau Kerkhof yang juga dikenal masyarakat setempat sebagai Pulau Kelor –nama sejenis tanaman, dalam kepercayaan Jawa dikenal punya khasiat mempermudah jalan seseorang yang tengah menghadapi sakaratul maut.

(c) ukirsari

Seperti ‘tetangganya’, walau berfungsi sebagai makam di tengah laut, Pulau Kerkhof juga dilengkapi sebuah bastion atau benteng. Khususnya untuk membantu penjagaan atas Pulau Onrust dari kekuatan laut armada Inggris dan perompak Prancis pada abad ke-17.

Rasanya tak berlebihan kalau menjuluki Kepulauan Seribu sebagai kawasan wisata di Teluk Jakarta yang memang punya ‘seribu’ atraksi untuk dinikmati.

2 thoughts on “visit thousand islands, indonesia: mau wisata sejarah atau taman nasional?

  1. harapan bangsa Indonesia yang begitu besar ada generasi yang mau memperjuangkan dan mempertahanankan kelestarian sejarah dan kebudayaan nasional yang terdiri dari suku-suku dan adat istiadat.

    Generasi yang cinta keadilan dan kejujuran
    generasi yang rela berkorban untuk kebaikan bersama dan tidak untuk kejahatan.

    generasi yang bertanggung jawab kepada pendidikan anak muda dan menghormati keberhasilan dari orang-orang sebelumnya, sebagai bahan pelajaran bagi generasi berikutnya.

    jaya lah indonesia kita, janji dan tanggung jawab mengemban amanah adalah harga mati untuk mempertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT.

    Tarsiwad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s