myanmar, a hidden sadness

(c) ukirsari

Namanya imajinasi, kadang membumbung tinggi tak kenal batas. Impian menjelma sedemikian indah, padahal saat dihadapkan pada kenyataannya tidaklah sebagus harapan.

Seperti yang terjadi saat saya berniat melangkahkan kaki ke Myanmar. Sebuah negeri yang namanya disebut bangsa Inggris sedemikian rupa hingga menjadi Burma. Puisi indah Rudyard Kipling tentang Mandalay, dengan salah satu lariknya berbunyi, “Come you back, you British soldier; come you back to Mandalay,” seperti membius agar saya ke sana.

Sayangnya, karena waktu cuti terbatas plus kondisi budget super irit membuat saya mesti mengkalkulasi cermat. Ada dua alternatif ke sana; Jakarta-Singapura-Yangon atau Jakarta-Singapura-Chiangmai-Mandalay. Semuanya pakai low cost carrier. Dengan berat hati, mimpi indah menengok Mandalay mesti dipangkas. Saya pilih rute pertama, dengan harapan rute kedua, bisa dijadikan ‘proyek berikutnya’ pada suatu hari nanti.

Bangunan kolonial jadi fokus eksplorasi, mengingat sekian lama Myanmar menjadi negara jajahan Inggris. Di masa lalu, Yangon menjadi salah satu dari kota taman [city garden] terbaik di Asia Tenggara. Sebuah reputasi yang cukup membanggakan. Selain itu, masih ada Syriam. Sebuah kota kecil di luar Yangon dengan beberapa bangunan peninggalan Portugis.

Ragam arsitektur ini memberikan nuansa baru dalam sudut pandang saya, mengingat image Myanmar paling kental adalah pagoda [mereka menyebutnya sebagai ‘paya’, dibaca ‘pei-ya’] seperti dikenal umum. Juga tak dapat dipungkiri, Swedagon Paya tetaplah landmark paling terkenal buat kota yang dulunya bernama Rangoon itu. Sekaligus tercatat sebagai salah satu The Ancient Wonders of the World oleh UNESCO.

(c) ukirsari

Sembari menikmati sepotong senja yang teduh dari balik kaca jendela di sudut cafe Strand Hotel, saya menyeruput segelas Strand Sling. Minuman trade-mark hotel yang dibuat bartender tampan berwajah mirip ShahRukh Khan. Nama minuman dipetik dari ketenaran Singapore Sling, sementara hotelnya sendiri merupakan hotel paling tenar di Yangon. memiliki arsitektur kolonial yang mengingatkan pada Raffles Hotel dekat stasiun MRT City Hall, Singapura.

Sebagai bagian dari warisan masa lalu, deretan pepohonan tampak di sepanjang kiri-kanan ruas jalan. Sedang bangunan-bangunannya sendiri, didominasi bentuk-bentuk tinggi khas kolonial. Entah diseragamkan atau serba kebetulan, beberapa diantaranya menggunakan teknik bata expose dan dicat serba merah. Hingga di mata saya tampak sebagai ‘Kerajaan Bata Merah’.

Semisal gedung Telekomunikasi, gedung Imigrasi, Law Court sampai Bogyoke Market [baca: Bo-Jok], tempat belanja cinderamata terlengkap di Yangon. Namanya merujuk pada Bogyoke Aung San, bapak dari pejuang perempuan terkenal Myanmar; Aung San Suu Kyi. Sang ayah sendiri, merupakan salah satu pahlawan nasional Myanmar. Di masa penjajahan Inggris, pasar Bogyoke bernama Scott Market.

Beberapa gereja juga didominasi struktur bata merah. Paling terkenal adalah Saint Mary Cathedral yang dibangun pada abad ke-17. Selain bangunan luarnya dibuat serba merah dari susunan bata, bagian dalam juga diberi aksen merah pada beberapa pilar penyangga sampai langit-langit kubahnya. Memberi kesan begitu megah dan syahdu.

Pencarian saya akan ‘Kerajaan Bata Merah’ membawa saya ke Thanlyin [baca: tan-yin]. Kota kecil dengan lama perjalanan satu setengah jam dari Yangon, mantan ibukota Myanmar –sejak awal 2006, ibukota The Union of Myanmar sudah pindah ke Naypyidaw atau Pyinmana di Provinsi Mandalay, sekitar 320 km sebelah utara Yangon.

Dulunya, Thanlyin lebih kondang disebut sebagai Syriam. Letaknya di tepi Sungai Ayeyarwaddy atau Irrawaddy. Kota kecil [town] ini dijadikan pelabuhan dan lokasi pabrik penyulingan minyak bumi semasa penjajahan Inggris.

Saat itu, Inggris dan Thailand bersekutu menaklukkan Kerajaan Burma. Perang Anglo-Burmese Pertama yang berlangsung 2 tahun [1824-1826] dimenangkan tentara Kerajaan Inggris dan seperti tertuang dalam Traktat Yandaboo, Burma mesti menyerahkan daerah Assam [kini bagian dari India], Manipur, Arakan dan Tenasserim pada penjajah.

Uniknya, peninggalan kolonial di Syriam tidak berbau Inggris, tapi Portugis. Felipe de Brito e Nicote, merupakan petualang dan saudagar bangsa Porto pertama yang mendarat di Syriam akhir 1590-an. Lambat laun ia menjadi tuan tanah dan mempekerjakan orang-orang Mon [salah satu suku di Myanmar] untuk berperang lawan suku Bamar [nama Bamar inilah yang kelak dikenal bangsa barat menjadi asal kata ‘Burma’ dan ‘Burmese’].

Peninggalan masa Portugis di Thanlyin alias Syriam berupa reruntuhan gereja yang dibangun pada abad ke-17. Lagi-lagi, bata merah terlihat dominan di sini, meski bentuknya tak lagi utuh sebagai gereja melainkan beberapa dindingnya saja.

(c) ukirsari

Dan tak jauh dari tempat ini terdapat monumen sekaligus makam pujangga terkenal Burma bernama Nat Shin Naung [1578 – 1612]. Selain dikenal sebagai raja yang memimpin Kerajaan Taungoo, ia juga terkenal sebagai penulis yadu [puisi klasik] terbaik. Juga kondang di kalangan masyarakat Myanmar sebagai William Shakespeare – nya Burma. Sayangnya, sangat susah menemui karya Nat Shin Naung di masa junta militer Myanmar ini, apalagi dalam terjemahan bahasa Inggris.

Tema utama puisi Nat Shin Naung adalah cinta, keindahan alam dan perang. Khusus peperangan, ia berkisah soal pasukan infantri dan tentara penunggang gajah. Ini diilhami kegiatannya saat menjalankan tugas sebagai pejuang yang mengatur strategi dan taktik di medan pertempuran. Sebagian besar karyanya tadi ia kirimkan kepada seorang putri bernama Yarzu Datu Kalyar lewat ‘jasa merpati pos’.

Agar batas wilayahnya makin luas, Nat Shin Naung menjalin kerjasama dengan Felipe de Brito. Ekspansi keduanya sukses, sampai akhirnya Raja Anaupatlun menangkap mereka dan mengeksekusi keduanya di tahun yang berbeda.

Setelah Thanlyin, saya menapakkan kaki ke Kyauk Tan. Tempat itu terkenal sebagai ‘rumah’ dari Ye Le Paya atau the mid-river pagoda. Kuil Buddha yang dibangun di atas batuan laterit di tengah Sungai Hlaing. Salah satu anak sungai dari Ayeryarwaddy.

(c) ukirsari

Cuma dengan perjalanan mobil sekitar 10 menit dari tepi Sungai Hlaing, saya sampai di gerbang Gereja Hati Suci [the Sacred Heart Church]. Bata expose kembali terpilih sebagai ciri arsitektur bangunan buatan 1870 oleh misionaris Prancis ini. Baik mulai awal didirkan, sampai mengalami renovasi pada 1930an.

Kemudian, setelah lebih dari 30 menit menusuri rute jalanan non-aspal hingga masuk ke pedalaman Syriam, saya menemukan satu gereja Portugis lagi yang terawat apik. Tak ada papan nama yang jadi keterangan penjelas, selain tulisan ‘JHS’ di atas pintu utamanya.

Jendela-jendela kacanya tersimak unik, karena beralih fungsi menjadi semacam etalase berkaca dengan berbagai patung orang suci di dalamnya. Seperti Sao Gabriel dan Sao Antonio yang menggendong Sao Nino [bayi Yesus]. Di gereja ini, saya jumpa dengan komunitas keturunan campuran Portugis-Burma [Anglo-Burmese] yang disebut Ba-yin-gyi [baca: bayin-ji] dalam bahasa Burma.

Meski berperawakan sama dengan bangsa Asia, raut muka para Bayin-gyi ini tetap memperlihatkan keturunan Eurasia. Tapi mereka tak mengenakan baju laiknya orang barat. Kebudayaan mereka sudah berbaur dengan masyarakat asli, yaitu mengenakan long-yi atau sarung tradisional Burma.

Saya menyeruput Strand Sling saya yang segelasnya berharga USD5 pelan-pelan untuk merayakan keberhasilan saya menyusuri Yangon dan sekitarnya dalam menikmati arsitektur bangunan selain paya atau pagoda.

Kota tua di tepi Sungai Ayeryarwaddy ini memang charming. Mampu menyuguhkan banyak sisi menarik bagi wisatawan. Meski terkadang, bila menatap dalam-dalam ke mata beberapa masyarakat lokal di sini saya menemukan adanya kepedihan, dibalik kesederhanaan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s