louang phabang, the hidden jewel

Saya bisa membayangkan excitement Henry Mouhot –petualang Barat yang menemukan kembali The Lost City of Angkor di Kamboja– saat menjejakkan kaki buat pertama kalinya di Louang Prabang atau Louang Phabang.

(c) ukirsari

Mouhot tercatat sebagai orang Eropa pertama yang berhasil memasuki kota kerajaan terisolasi Louang Phabang ini. Untuk penemuannya itu, pria berkebangsaan Prancis itu mesti menempuh perjalanan sepanjang 7 bulan yang dimulai dari Bangkok, Thailand pada Desember 1860.

Laos dijadikan Mouhot sebagai episode terakhir perjalanan panjangnya keliling Asia Tenggara, sebagaimana ia meyakini takdirnya untuk meninggal di negeri itu.

Dari ibukota Negeri Siam, Mouhot melintasi belantara yang dikenal sebagai Hutan si Raja Api yang hari ini menjadi bagian dari Provinsi Korat dan Loei di Thailand. Diteruskan ke Paklai sampai ke Louang Prabang.

Di ibukota kerajaan Louang Prabang, Mouhot mendapat kesempatan berjumpa dengan Raja Tiantha. Dalam buku hariannya, tertulis dengan detail; setelah menunggu selama 10 hari, saya dapat bertemu dengan Yang Mulia. Beliau duduk bersandar pada sebuah dipan mewah, dengan empat penjaga bersimpuh di samping kanannya dan tiap orangnya berbekal pedang. Baru di belakangnya, berdiri para pangeran ….

Sayangnya, kecintaan Mouhot pada Laos mesti berakhir, karena tiga bulan setelah kedatangannya di Louang Prabang ia kena malaria dan wafat di usia 35 tahun. Makamnya bersemayam di sana, di balik bayang-bayang Gunung Phou Souwung dekat tepian Sungai Nam Khan.

Pesawat baling-baling ganda yang saya tumpangi menembus kabut asap akibat pembakaran hutan dan ilalang pekerjaan para petani ladang seantero Laos, Myanmar dan Thailand Utara dalam menyambut musim tanam. Berputar di udara melintasi Gunung Phou Souwung dan samar-samar dari ketinggian terlihat Sungai Nam Khan mengalir untuk menyatu dengan Sungai Mekong di arah utara.

Seandainya Henry Mouhot masih ada, tentu ia bisa tersenyum bahagia. Kerajaan Louang Prabang Lama [Old Louang Phabang] bukan lagi sebuah tempat terisolasi, meski terkesan terpencil dari keramaian dunia. Para petualang datang dan singgah di sini. Apalagi setelah kota bersahaja ini dianugerahi World Heritage Site oleh UNESCO pada 1995.

Tujuan mereka, menikmati keasrian Louang Prabang yang mempertahankan kuil-kuil tua bagi pemujaan Buddha Theravada serta gedung-gedung berarsitektur Prancis-Indochina. Dan semuanya terasa makin klasik di mata saya, ketika bangunan-bangunan ini menjadi latarbelakang para bhiksu berjalan menembus kabut pagi.

(c) ukirsari

Pakaian khas para bhiksu warna saffron, seakan memberi aksen atas segala bangunan masa lalu. Mereka berbaris sepanjang ruas-ruas jalan Louang Prabang Lama untuk melakukan ritual menerima sedekah santap pagi.

Di mana menurut ajaran Sang Buddha, bhiksu tak dibolehkan memasak sendiri melainkan hanya boleh menerima makanan yang diberikan masyarakat setempat. Para lelaki menyiapkan bekal bagi mereka dengan cara berdiri di tepi jalan, sementara para perempuan duduk bersimpuh.

Saat sedekah dimasukkan dalam keranjang bhiksu –termasuk didalamnya khao niaw, nasi ketan dikepal-kepal, para penyebar ajaran Sang Buddha inipun membalasnya dengan jemari kanan menghadap dahi si pemberi. Seakan memberi restu dan kekuatan doa. Sebuah pemandangan pagi hari yang sungguh memberikan kedamaian. Sekaligus sangat laid back.

Menurut hikayat, suku bangsa Lao memiliki nenek moyang yang dikenal dengan sebutan Lao Theung. Dari kawasan perbukitan Nam Ou, orang-orang Austroasiatic ini bermigrasi ke daerah yang kini disebut sebagai Louang Prabang. Mereka dipimpin Khoun Lo. Putra dari Khoun Borom, nenek moyang pertama bangsa Lao Loum atau bangsa Lao yang mendiami dataran rendah.

Kemudian mereka menamakan teritorial ini Xiang Dong Xiang Thong. Kejayaan mereka berlangsung hingga abad ke-13 sampai akhirnya Fa Ngum, tokoh perlawanan legendaris menaklukkan kawasan Sungai Nam Ou dibantu tentara Khmer [Kamboja] pada 1353.

Fa Ngum memberikana nama baru bagi negerinya; Lane Xang Hom Khao atau Negeri Sejuta Gajah dan Payung Putih. Ia menduduki tahta raja pertama dan garis keturunannya berjaya kurun 6 abad lamanya.

(c) ukirsari

Di awal pemerintahannya inilah Fa Ngum memperkenalkan ajaran Buddha Theravada. Setelah terjadi pergolakan pemerintahan dan ia diasingkan, putranya Oun Heuan atau kondang dipanggil Samsenthai menduduki tahta pada 1373.

Samsenthai dikenal sebagai raja yang mampu menciptakan kedamaian dan di masa pemerintahannya negeri ini mencapai zaman keemasan. Salah satu bukti berupa bangunan yang bisa disaksikan hingga kini adalah Vat Xiengthong Ratsavoravihanh atau Kuil Biara Kota Emas.

Buat masuk ke kuil yang tercatat sebagai salah satu bangunan kuno berarsitektur terindah di Asia Tenggara versi UNESCO ini, pengunjung dikenai tiket seharga 20.000 Kip atau USD1. Bentuk atapnya yang saling tumpuk dengan ujung atap berpola kepala burung merupakan pemandangan dramatis. Sementara di bagian dinding belakang, terdapat mosaik tentang pohon legendaris yang tumbuh di Luang Prabang saat kota ini didirikan.

Nama Louang Prabang mengemuka ketika Raja Visoun [1500-1520] membawa patung Sang Buddha dari Vientiane [ibukota Laos sekarang] ke kerajaan Xiang Dong Xiang Thong pada 1512. Patung ini kondang disebut Pha Bang dan ditujukan untuk membangun identitas religi bangsa Lao.

Pha Bang bagi masyarakat di Laos memiliki kesetaraan dengan bangsa Thailand yang memiliki Phra Kew atau bangsa Myanmar mempunyai Mahamuni Buddha. Menurut legenda, Pha Bang terbuat dari emas, perak, tembaga besi serta batu-batuan mulia. Dewa Indra menyediakan material emasnya dan patung dibuat di puncak pegunungan Himalaya.

Dengan kedatangan patung suci Pha Bang, nama negeri pun berganti menjadi Louang Phabang atau Pha Bang Yang Agung. Setelah beberapa saat sempat dipindahkan ke Vientiane, patung Sang Pha Bang disimpan kembali di Louang Phabang sejak 1867 sampai sekarang.

Lokasinya di Royal Palace Museum yang terletak di Kota Lama Louang Prabang, di antara Sungai Mekong dan Bukit Phou Si. Untuk masuk ke museum yang dulunya istana itu, pengunjung mesti membayar tiket 40.000 Kip atau USD2 dan dilarang membawa kamera ataupun tas.

Di atas pintu masuk istana yang kini dijadikan museum itu, pengunjung dapat melihat Airavata, lambang monarki Laos. Ujudnya seekor gajah berkepala tiga yang dilindungi payung suci warna putih.

Louang Phabang Lama seakan ‘membeku’ di pagi hari menjelang musim tanam padi ketan. Kabut putih yang menabiri pandangan bukanlah tercipta karena menurunnya temperatur pegunungan. Tapi akibat asap pembakaran hutan yang membubung ke angkasa.

Di manakah Henry Mouhot bersemayam? Saya membuka peta sembari mengunyah khao ji pateh, roti baguette Prancis isi sarden dan sayuran segar yang sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Laos sebagai bagian dari ujud imperialisme barat di masa lalu. Ditambah menyeruput pelan-pelan kafeh nom hawn. Kopi panas khas Laos pakai susu kental manis.

Laos tak cuma kaya dengan peninggalan monarki dan arsitektural Sino-Portugis. tapi juga potensi alam berupa gunung-gunung, perbukitan dan air terjun. Termasuk lokasi di mana monumen dan kompleks makam Henry Mouhot berada. Kaki pun melangkah mengikuti rute trekking perbukitan Xouang Dala. Mendatangi pemukiman orang-orang Hmong jauh di atas perbukitan yang dikenal dengan nama Lao Theung [upland Lao] dan Lao Suong [highland Lao].

Dan pada perjalanan saya kembali ke Louang Prabang, sengaja dipilih rute tambahan 4 km dari Sungai Nam khan ke arah Ban Phanom. Ya, untuk mengunjungi makam Henry Mouhot. Sejenak mengucap salam serta berbisik salut. Betapa jejak perjalanannya ke sini telah menggerakkan hati saya berkunjung ke Laos!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s