National Route Nr 6: The Wild West of Southeast Asia

(c) ukirsari

Sebagai backpacker, mencari moda transportasi termurah masuk skala prioritas utama bagi saya. Tapi kalau bisa murah, aman dan nyaman, itu lebih menyenangkan lagi!

Begitulah. Saat era penerbangan low cost carrier belum marak seperti sekarang, saat bandara Siem Reap di Kamboja cuma bisa didarati pesawat-pesawat dari maskapai mahal serta harus stop-over di Phnom Penh -ibukota Kamboja–, naik bus atau taksi merupakan sarana yang masuk dalam budget saya.

Karena cuma pergi sendiri tapi ingin sampai tujuan lebih cepat, saya putuskan untuk ikut patungan taksi dengan sesama backpacker di perbatasan Aranyaphratet [wilayah Thailand] dan Poi Pet [wilayah Kamboja]. Rutenya: Poi Pet – Sisophon – Siem Reap melewati jalan raya utama yang diberi nama National Route Number 6 atau disingkat Route 6.

Rute ini, dikenal para pelancong dengan sebutan The Wild West of Southeast Asia. Kondisinya, sungguh … perpaduan tidak serasi antara aspal dan jalan makadam. Jalanan sepanjang 56 km [Poi Pet – Sisophon] + 109 km [Sisophon – Siem Reap] ini, hanya 20% nya melintasi permukaan aspal. Yaitu 20 km pertama ke luar Poi Pet dan 20 km memasuki Siem Reap. Sisanya berupa trek off-road cokelat campur lumpur.

Lebih hebat lagi [atau gilanya?], yang namanya taksi sewaan ya benar-benar taksi sedan seperti yang kita kenal di negeri sendiri. Sama sekali bukan mobil 2×4 atau 4×4 macam double cabin, SUV atau MPV yang cocok dengan medan seperti ini.

Kami para penumpang [ada 3 orang], ditambah Phroen sang sopir taksi pun bertolak dari Poi Pet dengan Toyota Camry Lumiere. Sebagai penumpang, sempat kami bertanya-tanya, semisal apakah suspensi kuat, bagaimana kalau terjadi patah as di tengah jalan dan seterusnya karena makin lama perjalanan makin mirip naik kereta luncur: naik-turun tanjakan dan turunan serta mobil berguncang-guncang keras. Di depan kami tanah merah yang sama sekali bukan aspal. Dengan kubangan pula di sana sini.

(c) ukirsari

Tapi bukan Phroen namanya kalau tak bisa membuat kami tenang. “Mademoiselle tenang saja, memang spesifikasi boleh sedan, tapi suspensi sudah diubah,” jelasnya pada saya, tanpa memperinci diganti merek apa. “Setiap kali sebelum pergi, saya rutin mengecek kondisinya dan pemeriksaaan rutin ke bengkel dilakukan seminggu sekali.”

Uniknya, setelah memberi kami ‘kalimat penghiburan’ itu, Phroen yang sudah setahun berprofesi sebagai sopir agen perjalanan rute Poi Pet – Siem Reap sehari 2 kali trip dan mendapat libur 2 hari dalam seminggu itu mengaku, “Saya belum bikin SIM karena biayanya tinggi!”

Selesai berkunjung ke kompleks percandian Angkor Wat yang mendapat anugerah World Heritage Site dari UNESCO pada 1992 serta tinggal beberapa hari di Siem Reap yang permai, saya pun siap-siap kembali ke Bangkok.

National Route Nr 6 arah Siem Reap – Aranyaphratet pun mesti ditempuh lagi dan saya kembali gabung dengan para backpacker senasib buat diajak patungan. Lucunya lagi, kembali saya dapat sopir si Phroen itu!

Malam sebelum kami bertolak dari Siem Reap ke Poi Pet dengan Toyota Camry Lumiere, turun hujan deras. Akibatnya, meski pagi itu matahari cukup cerah kondisi jalan mulai memburuk sekitar 30 km ke luar Siem Reap.

(c) ukirsari

Pertama diakibatkan trek tarmac [aspal] yang berangsur berubah menjadi trayek off-road. Rasanya cuma mobil-mobil berbodi tinggi bakal sukses lewat. Kedua, cipratan lumpur dari truk yang melintas serasa menyiram bodi taksi dari jarak sedeimian dekat. Ketiga, trek makin ajurt-ajrutan. Toh Phroen kembali lagi membuat nyaman [atau nekat?]. Katanya, “Ini sudah lumrah. Kami para sopir biasa menghadapi kondisi lebih buruk.”

Baiklah, kami percaya! Namun sekitar 10 km sebelum Sisophon, perjalanan kami berempat terhenti. Jembatan yang hanya dapat dilalui kendaraan berbobot maksimal 10 ton di depan kami ditutup gara-gara beberapa lembar besi bajanya jatuh ke sungai.

Kami turun mobil untuk melihat-lihat dan meninggalkan Phroen di taksi [karena toh tidak bisa lewat]. Seorang pegawai Dinas Pekerjaan Umum [DPU] berpakaian safari warna biru tua serta memegang handy-talkie menyapa saya ramah dalam bahasa Inggris patah-patah.

Katanya, pekerjaan membereskan jembatan yang bolong ini paling cepat baru selesai satu jam. Pasalnya tak ada peralatan berat di Sisophon, hingga proses mengangkat lembar-lembar baja dilakukan secara manual. Balok kayu dipasang melintang jembatan yang lebarnya 4 meter dan diberi katrol. Lalu beberapa orang turun ke sungai untuk mencantolkannya ke lembaran hingga bisa ditarik ke atas. Padahal lembaran yang jatuh tak kurang dari empat buah. Satu di tengah jembatan, tiga lagi di sebelah kiri.

Sementara aktivitas perbaikan jembatan berlangsung, kemacetan pun makin panjang dari dua arah. Ke dan dari Sisophon sama-sama padat. Mulai taksi, double cabin, truk, mobil bak terbuka yang mengangkut para petani ke sawah sampai motor bebek.

Akhirnya saya pun ikut berteduh dekat pohon yang ada di tepi sawah, menonton bersama ibu-ibu tani yang tengah istirahat dari pekerjaan tanam padi. Dari kejauhan, tampak Chuor Phnom Dangkrek atau Pegunungan Dangkrek yang sudah masuk kawasan Thailand.

(c) ukirsari

Setengah jam belum selesai, satu, dua jam kemudian, saya -dan semua orang yang akan melintasi jembatan ini pastinya- masih harus menunggu, karena pekerjaan membereskan ruas jalan dan jembatan belum selesai. Namun lagi-lagi Phroen memberi penghiburan.

“Yang begini ini [lagi-lagi] masih lumrah. Pada pertengahan Oktober 2002, beberapa ruas jalan Route 6 arah Poi Pet – Siem Reap rusak berat. Hingga terjadi penumpukan ratusan truk kargo serta militer, 40 km sebelum Sisophon dan perjalanan makan waktu 10 – 16 jam!” ceritanya.

Kisah ini menjadi kurang ‘seram’, gara-gara bumbu dari teman saya patungan taksi. “Pada awal 1980-an, jalur ini dikuasai tentara Khmer Merah sementara 1990-an dijadikan pos pencoleng. Jangan heran bila jembatan-jembatan yang ada sengaja dirusak. Itu sebabnya sampai ada julukan The Wild West of Southeast Asia,” tutur pria yang hobi browsing di internet bila sedang tidak traveling itu. “Dan berkali-kali ruas jalanan ini diperbaiki oleh Tentara Perdamaian PBB [UN Peace Keeping Force], sejak 1992 tapi nggak pernah bisa benar-benar beres sampai sekarang. Semoga tidak terjadi apa-apa, ya! karena kalau kemalaman, pilihannya cuma satu: bermalam di Sisophon.”

Waduh! Giliran saya yang kepikiran. Karena pernah membaca salah satu situs yang menyebut, ‘Sisophon itu kota kecil yang dalam peta tak dideskripsikan jelas. Kondisinya kumuh dan di masa lalu jadi salah satu basis tentara Khmer Merah.’

Untungnya, pekerjaan membereskan jembatan akhirnya selesai juga sebelum matahari terbenam. Sesudah melewati jembatan, kami pun mesti macet-macetan menghadapi penumpukan kendaraan yang tercipta sekian jam lalu. Tapi bukan sopir kami yang ‘gila’ namanya, kalau tidak bisa ngebut membalap teman-temannya yang lain, sesama sopir taksi. Dasar Phroen!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s