Lorong Waktu, fiction part 1

Istrana, Treviso. Kata itu seakan menyentuh palung paling dalam hatinya. Merenggut pemikiran-pemikiran logis yang senantiasa dipunyai Ronne. Sesuai rencana, mestinya ia baru bersiap sebelum stasiun terakhir Venezia Mestre. Berjalan ke gerbong di mana ia menitipkan sepedanya lalu keluar stasiun menuju penginapan dekat Ca d’Oro.

Tapi semua tinggal rencana. Jeda 5 menit sebelum kereta bergerak dari stasiun Treviso bak menyeretnya bangkit sedemikian cepat dari kursi. Ronne berlari melintasi sekian banyak gerbong dan menuntun sepedanya keluar. Membiarkan rambut pendeknya diembus angin yang tercipta saat kereta bergerak lagi. TREVISO. Ia membaca nama itu lekat-lekat.

Ronne mengayuh sepedanya memasuki kota kecil di antara Veneto dan Venezia itu. Gereja-gereja masa Gothic bergantian menyambut pada sisi kiri dan kanannya. Ia terus melaju ke arah barat, mengikuti signboard Istrana. Sembari mengagumi kota ‘milik’ pelukis Tomaso da Modena yang hidup di abad ke-14.

Via de Gasperi numero uno, Istrana. Alamat itu melintas di kepalanya tanpa perlu diingat-ingat. Begitu fasih meski tak pernah ia tulis dalam buku alamat. Berapa lama waktu berlalu sejak Perang Teluk meletus? Ronne remaja tak pernah menjumpai lagi surat pun kartupos dengan prangko bercap ‘Istrana, Treviso, TV’. Bukan e-mail seperti masa sekarang!

Ia masih bisa mengingat dengan pasti, huruf-huruf yang tertoreh di sana. Khas milik lelaki Treviso itu. Bercerita tentang ladang gandum seputar pertanian keluarganya, ayunan kayu dicat putih yang menghadap barat agar dapat terlihat pemandangan matahari petang …. Semuanya begitu hidup dalam benak Ronne.

Termasuk beberapa kesamaan yang mereka miliki. Kegiatan kemping dan bersepeda, karena mereka menggemari serial Lima Sekawan. Serta left-handed. Sesuatu yang natural saja, tapi bagi Ronne menjadi istimewa, karena lelaki itu juga demikian. Ia bisa membayangkan dari arah mana tangan pria ini bergerak sesaat setelah menjemput kertas putih atau kartupos untuk dikirimkan kepadanya. Ditulis di meja kecil depan teras yang menghadap ke ayunan bercat putih.

Dari jalan raya utama, Ronne mengarahkan sepedanya ke jalan masuk pedesaan yang ditutup cobblestones – bukan aspal. Kanan kirinya berganti ladang-ladang gandum menguning, bergerak lembut mirip gelombang lautan karena tertiup angin.

Sembari bersepeda, di kepalanya tercipta berbagai fragmen kenangan. Kesukaannya bersepeda makin menjadi saat ia kuliah master komunikasi di Brest. Satu kota pelabuhan Prancis di tepi Samudra Atlantik. Tiap tahun Audax Club Parisien menggelar balap sepeda Paris-Brest-Paris sejauh 1.200 km dan Ronne selalu menonton bersama teman-teman sekampusnya. Berteriak memberi semangat dan diakhiri minum cokelat di kedai kopi dekat dermaga. Tempat dimana ia dikenalkan Merrian, karibnya dengan Ernesto Nigel Piquero yang dipanggilnya sayang ‘Pinoy’ – karena asalnya dari Cebu, Filipina.

Sesudah perkenalan itu, Ronne dan Pinoy kerap meluangkan waktu akhir pekan dengan bersepeda melewati jalanan cobblestones ke arah perbukitan. Ia begitu menikmati lelahnya mengayuh sepeda pada ruas jalan batu yang menanjak, untuk mendapatkan bingkisan manis berupa pemandangan indah mengarah ke Samudra Atlantik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s