bersepeda ke thebes, tergulung badai pasir di giza

Hari sudah petang ketika kami masih bersepeda di tengah gurun. Pasir seperti punya tangan kuat yang mencengkeram ban hingga kaki serasa makin berat mengayuh pedal. Di kejauhan tampak siluet salib dan atap-atap berkubah cembung. Kami mendekat agar bisa melihat lebih jelas, sementara seseorang berjubah hitam melambai-lambaikan tangan pertanda “Silakan mampir.”

(c) ukirsari

Tapi tunggu dulu. Tempat apakah ini –dekat kami berdiri— yang memiliki beberapa salib kecil ‘berserakan’ di atas pasir gurun? Sepeda tak dilengkapi lampu hingga perlu senter Magnalite. Di sana-sini tampak lubang menganga. Berbentuk bujur sangkar. Dalamnya sekitar 1,5 meter dan di salah satu sisi terdapat pintu berornamen mirip bunga empat kelopak –bentuk yang diambil dari coptic cross atau ‘ankh’ dalam bahasa Mesir– serta dilengkapi gembok.

Ingatan saya melayang ke Cairo Museum yang menyimpan koleksi peti-peti mati dari Roman Catacomb seantero Mesir. Pada tiap peti, ¼ bagian atasnya dilukisi wajah orang yang meninggal. Lantas sekrup-sekrup penutup peti itu punya desain mirip bunga empat kelopak tadi! Menurut keterangannya; ‘peti-peti ini ditemukan terkubur di tengah gurun, di rongga-rongga bawah tanah buatan manusia yang disebut katakombe’. Jadi … tak salah lagi, saat itu kami tepat berdiri di atas pekuburan! Hih!

Berwisata ke makam di tengah gurun malam-malam? No, thank you! Ada risiko terperosok ke dalamnya dan kemungkinan tersasar lebih jauh ke tengah gurun meski sudah berbekal kompas. Kondisi yang bagi saya menyeramkan ini, masih ditambah suasana magis [atau hanya perasaan saja?].

Sepanjang sisi kiri kami menjulang perbukitan berbatu dengan beberapa lampu yang terlihat seperti bintik-bintik terang. Biban el-Muluk alias Lembah Para Raja atau Valley of the Kings. Kompleks makam para pharaoh alias raja-raja Mesir zaman Kerajaan Baru. Pekuburan juga!

Jadilah saya dan Nicholas balik arah dan mengayuh sepeda cepat-cepat balik ke jalan utama. Menuju persewaan sepeda dekat dermaga feri di Tepi Barat [West Bank], Luxor [Al Qousur]. Jarak sekitar 7 km ditempuh sekitar 25 menit.

Sepeda merupakan salah satu pilihan transportasi para wisatawan yang bertandang ke Thebes, ibukota Kerajaan Baru [New Kingdom, sekitar 1580 SM] di Tepi Barat. Ini pula yang jadi pilihan kami, mengingat saat itu di Mesir berlangsung musim dingin. Walau siang terik [hampir 40 derajat Celcius], angin sejuk selalu bertiup. Sedang pagi dan petang temperatur sejuk sampai ‘menggigil’ [10 – 14 derajat Celcius].

Faktor ekonomis dan praktis jadi pertimbangan berikutnya. Dibanding naik taksi, bersepeda sangatlah hemat. Ongkos naik taksi ke Valley of The Kings atau tempat bersejarah lain di Tepi Barat sekitar LE120 – LE180 per hari dengan entry point Tepi Timur [East Bank], sedang sewa sepeda LE20 per hari, entry point Tepi Barat.

Kurs saat itu, 1LE= Rp 1.500. LE = Egyptian Poundsterling, tapi lokal lebih suka menyebutnya dengan ‘Bau’. Seperti 100 Bau = LE100, 20 Bau = LE20 dan seterusnya.

Karena tinggal di Tepi Timur, kami mesti menyeberang pakai feri dulu. Dari penginapan berjalan kaki ke pelabuhan dan bayar tiket 1 Bau/trip. Sampai di Tepi Barat, sudah berderet persewaan sepeda. Tinggal pilih, coba sebentar dan minta disetel senyaman mungkin menurut kondisi fisik kita. Lalu tambahkan bekal air mineral 2 liter/orang ke boncengan atau keranjang depan, topi safari dilengkapi pengikat, bandana serta senter dan daily pack, maka kami pun siap menjelajah Thebes.

Meski Tepi Barat merupakan tujuan wisata utama, lalulintasnya tak semrawut seperti Cairo, atau padat seperti di Tepi Timur. Bus wisata dan taksi sesekali mendului kami, dalam jeda cukup lama. Bahkan kurun dua hari berwisata pakai sepeda, cuma 2 kali berpapasan dengan 1 mobil pribadi. Volvo 240 GL warna biru tua yang itu-itu juga!

Masyarakat Thebes bercocok tanam aneka kacang-kacangan, jagung dan tebu –di beberapa kawasan baru saja dipanen. Palem juga terlihat di banyak tempat. Peraturan bersepeda [juga menyetir] di sisi kanan. Sepanjang 7 km ke arah Valley of the Kings, terdapat 2 checkpoint.

(c) ukirsari and nicholas ingram

Taksi, minibus serta bus wisata perlu dicek, sementara sepeda tak perlu. Cukup ucapkan ‘asalaamualaikum’ atau ‘sabah al-kheir’ [selamat pagi] kalau ingin menyapa para polisi berpakaian serba hitam. Mereka pasti membalas sambil melambaikan tangan.

Setelah cek point terakhir, dari jalan raya utama menuju Valley of the Kings, kami membelok ke kiri. Arah Medinat Habu, kuil Raja Ramses III. Tak seperti Lembah Para Raja yang dibanjiri wisatawan, pengunjung di sini merupakan kelompok-kelompok kecil sekitar 8 – 12 orang atau perorangan. Selain Patung Tutmose I dan pilar Osirian yang mendominasi kuil, sebagian tempat ini pernah dipakai sebagai gereja Coptic. Hingga Medinat Habu dan sekitarnya dinamai Coptic Town.

Peninggalan Coptic yang masih eksis hingga sekarang, gereja Saint Tawdros [atau El Mohareb, dalam bahasa Arab] di mana kami tersasar ke area makamnya petang kemarin. Yang paling menyenangkan, tempat ini bukanlah tujuan wisata di Thebes, hingga tak ada pengunjung selain kami berdua. Mulai Pastor Morkos hingga para jemaat menyambut kami dengan sukacita – sayang tak dibolehkan mengambil gambar dalam kapel.

Di pergelangan kanan dekat telapak tangan, terdapat semacam tato mirip tanda ‘+’. Tak lain Coptic Cross, pertanda mereka pemeluk agama ini. “Anak perempuan saya bahkan ditato saat ia masih berusia 10 bulan,” papar Pastor Morkos, usia 50-an, berkacamata dengan perawakan tinggi besar. “Tidak kesakitan karena sekarang sudah pakai tato listrik. Prosesnya kurang dari 5 menit.”

Menurut Pastor Morkos, berdasar dokumen 1992, hingga saat ini terdapat lebih dari 9 juta penganut Coptic –di luar populasi masyarakat Mesir yang mencapai 57 juta— yang tiap harinya berdoa di ribuan gereja Coptic seantero Mesir. Penganut agama ini ada di tiap provinsi di Mesir dengan kekayaan kultur, historis serta spiritual yang tersebar hingga ke seluruh negeri, termasuk di daerah terpencil macam Kharga Oasis jauh di gurun pasir barat.

Demikian pula Saint Tawdros alias El Mohareb Monastery, Luxor Coptic Orthodox Bishopric yang berada di tengah gurun. Nama gereja Coptic yang kami datangi itu dipetik dari Santo Tawdros.

Tertulis di depan kapelnya, ‘Pangeran Tawadros El Mashreky, lahir di Antioch, ayahnya menteri Sedraykhows dan pamannya raja Abtelmawes, ayah dari Santo Aklodios yang terkenal di kawasan El-Azab, sepupu dari Santo Poktor … bergabung di ketentaraan dan menjadi pemimpin pemberani yang mengalahkan Persia hingga terkenal namanya. Raja Deklianos menyalibnya di pohon dengan 153 paku. Ia diangkat sebagai martir pada tanggal 12 touba/tobi [bulan kelima Kalender Coptic], 306 Masehi …’

Selesai perjamuan doa mereka, kami diajak Pastor Morkos keliling gereja mungil itu, sembari dijelaskan selintas tentang gereja Coptic di tengah gurun ini. “Mungkin tidak populer, tapi jemaat terus berdatangan,” ungkapnya ramah. “Dan katakombe, pemakaman di sebelah ini juga masih aktif digunakan masyarakat setempat yang menganut Kristen Mesir. Terakhir tiga hari lalu, ada pemuda dimakamkan di situ.”

Wah, kalimat terakhir sang pastur memang terdengar simple, tapi tak urung kami terperangah. Berarti semalam ada ‘yang masih baru’ saat kami nyasar di katakombe itu.

Ah sudahlah, daripada terus-terusan bergidik ngeri mending menikmati berbagai makanan kecil dan teh yang disuguhkan pada kami di koridor gereja. Kata Pastor Morkos, ini sudah menjadi kebiasaan mereka. Usai perjamuan kudus selalu dilanjutkan kumpul-kumpul di mana para jemaat membawa snack dari rumah untuk dinikmati bersama, sementara pihak gereja menyediakan tehnya. Kalau ada tamu atau pendatang, selalu diajak sekalian.

(c) ukirsari

Sesudah ngobrol dengan para jemaat Coptic ini [mereka terkesan karena kami datang dari jauh], Pastor Morkos mengantar kami menjenguk katakombe. Benar adanya. Siang hari pun, kalau tak hati-hati melangkah bisa kejeblos masuk liang lahat –yang dibiarkan terbuka.

Dari ‘pedalaman’ gurun dekat Medinat Habu, kami mengarahkan sepeda ke jalan raya utama Valley of The Kings untuk menikmati wisata utama kawasan ini. Mulai makam Pharaoh Ramses V/VI [dinasti 20, kavling no 9 di Valley of The Kings], Tausert/Setnakht [dinasti 19/20, kavling no 14] sampai Tut-Ankh-Amon [kavling no 26].

Trek sejauh 2 km kondisi menanjak bergradien 30 derajat, dengan pemandangan berbeda dibanding sebelumnya yang dominan ladang tebu dan pepohonan palem. Arah Valley of The Kings berisi pemandangan perbukitan batu padas serta pasir. Sementara di titik-titik tertentu terdapat perkampungan Beduin. Beberapa dinding rumah dicat warna-warna mencolok seperti biru laut, kuning dan cokelat, juga dilukisi aneka rupa.

Buat masuk ke kompleks pemakaman, sepeda cukup diikatkan ke palang besi dan membayar retribusi parkir 1 Bau. Diteruskan naik taf-taf [kereta mini] 1 Bau/ulang-alik setelah membeli tiket masuk 55 Bau –termasuk tiket terusan untuk 3 makam.

(c) ukirsari

Kalau mau melihat makam lain, mesti membayar tiket lagi. Misalnya ke makam Pharaoh Tut-Ankh-Amon [Tutankhamun] –ditemukan oleh Howard Carter pada 1922– perlu beli tiket seharga LE70.

Sedikit tips, kalau ingin menambah kunjungan makam di luar tiket terusan 3 makam yang boleh pilih sendiri, sebaiknya pikir dulu sebelum menjelajah jauh ke kompleks Lembah Para Raja. Pasalnya counter tiket terletak nun jauh di sana … di gerbang masuk.

Rasa capek kaki akibat bersepeda berhari-hari di Thebes atau Luxor, mulai Biban el-Muluk sampai Kuil Hatshepsut di Deir Al-Bahari dan Al-Assasif baru terasa saat perjalanan kembali ke Al Qahirah [Cairo] naik kereta malam eksekutif Abela Egypt –selama 9 jam.

Otot-otot jadi pegal sementara mata maunya terpejam terus. Tapi kami sepakat, Tepi Barat alias West Bank memang lebih romantis bila dieksplorasi dengan sepeda.

Dan saat menjejakkan kaki ke Piramida Giza, tak lama setelah turun dari kereta di Cairo keesokan paginya, thunderstorm sudah menanti kami. Cuma berlangsung 10 menit, tapi sempat was-was bila nantinya tergulung badai pasir. Sesudahnya, pelangi muncul di balik piramida. Sebuah momentum yang mengantar foto saya menjadi runner-up kejuaraan foto Lonely Planet 2006 June Competition, Africa category.

Sukhran ghazil [thanks a lot], Mesir!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s