a trip to paris … sepotong hati tertinggal di sini

Secangkir cokelat panas dan sebuah croissant. Sarapan paling pas membuka hari kami di sebuah kota romantis bernama Paris. Kami duduk di sebuah open air kafe sekitar dua blok dari Sacre Coeur Montmartre. Gereja putih yang jadi salah satu landmark kota Paris selain Eiffel Tower.

* picture courtesy of my beloved daddy r soepijono

Kekasih saya sibuk dengan kameranya. Sementara saya membuka diary. Sudah ada sebaris kalimat yang saya tulis di situ kemarin. ‘Time is the architect, the people are the builder’. Disatir dari sastrawan Victor Hugo. Kalimat lengkapnya, “Each face, each stone of this venerable monument is not only a page of the history of the country, but also of the history of knowledge and art …. Time is the architect, the people are the builder.”

Demikian sang pencipta novel The Hunchback of Notre Dame itu memberi apresiasi terhadap gereja Notre Dame de Paris. Tapi bagi saya pribadi, kalimat Victor Hugo bisa ‘dipinjam’ untuk begitu banyak bangunan bersejarah di ibukota Prancis ini. Itulah sebabnya, saya sepakat bila Paris juga dijuluki sebagai ‘Kota Cinta’. Bukan sebatas kota penuh romansa buat para kekasih yang tengah dimabuk cinta, tapi justru Paris sendirilah yang membuat pelancong [saya contoh konkretnya] jatuh cinta padanya.

Dua kali bertandang ke sini –pertama seorang diri dengan kereta SNCF dari Belgia dan kali kedua didampingi kekasih dengan kereta Eurostar dari Inggris– sebanyak dua kali pula saya jatuh cinta pada kota yang sama. Paris.

Di mata saya, citarasa akan arsitektur dan lansekap kota Paris bisa diwakili oleh kalimat Victor Hugo tadi. Waktu boleh saja berlalu. Tapi sejarah dan karya manusia yang ditorehkan di sini senantiasa dikenang dan menjadi suguhan menarik untuk dinikmati sepanjang masa.

Sebelum kaki melangkah jauh ke jantung kota Paris yang diwakili landmark menara Eiffel [Tour Eiffel] dan Champs-Elysées, kawasan Gare du Nord dan Montmarte tempat kami tinggal selama di sini sudah menjanjikan atmosfer menawan.

Butte [bukit] Monmartre merupakan titik tertinggi Paris dengan ketinggian 130 m dari permukaan laut [dpl] dan di sinilah terletak gereja Hati Kudus alias Sacré Coeur yang terbuat dari batu putih Chateau-Landon. Disebut-sebut bearsitektur Neo-Romanesque tapi nuansa Byzantine terasa kental. Di sebelahnya, berdiri sebuah gereja orang-orang Paris dari abad ke-6, bernama Saint Pierre de Montmartre.

Asal kata Montmartre sendiri diambil dari ‘Mont de Mercure’. Namun di abad ke-13 diubah menjadi ‘Mont des Martyrs’ di mana Santo Denis, pastor pertama Paris terbunuh di sini saat mempertahankan keyakinannya pada abad ke-3.

Pada 1790, kawasan ini terbagi menjadi dua, kaki bukit dan puncak bukit. Bila kaki bukitnya termasuk dalam kota Paris, bagian puncak menjadi Montmartre Village. Sebuah tempat independen hingga abad ke-19, di mana para pekerja seni banyak bermukim di sini. Utamanya para pelukis, seperti Pierre-Auguste Renoir, Vincent van Gogh, Pablo Picasso, Camille Pissarro, Théodore Géricault dan masih banyak lagi.

Tempat ini terus populer sebagai ‘dusun seniman’ hingga kini, dengan suasana kelas pekerja yang begitu berwarna, kosmopolitan sekaligus ramai. Para seniman memajang karya seni, ditingkahi kedai minum serta toko-toko cindera mata. ‘Potretnya’ juga bisa dinikmati di film Le fabuleux destin d’Amelie Poulain.

(c) nicholas ingram

Menuruni bukit Montmartre dengan trem, diteruskan Monmartrobus sampailah kami ke pusat kota. Lokasi berbagai Parisian landmark yang telah begitu akrab mata dunia. Baik lewat postcard, scene film, videoclip sampai potret pribadi para wisatawan.

Sebutlah Tour Eiffel atau Menara Eiffel. Karya Gustave Eiffel yang dibangun pada 1889 untuk memperingati Revolusi Prancis dalam Paris World Fair ini memiliki menara setinggi 300 m.

Kalau ingin mencari keringat sembari menikmati panorama Paris dari sebuah ketinggian –dengan citarasa beda dibanding kalau melihatnya dari Montmartre—disinilah tempatnya. Ada tiga level yang bisa didaki menuju puncak Tour Eiffel. Untuk elevator, tiketnya mencapai 11 Euro.

(c) nicholas ingram

Selain pemandangan dari puncak menara, pengunjung bisa menikmati 100 panel tentang Eiffel dan Gustave Eiffel. Ekshibisi permanen ini dibuat saat si menara lambang kota Paris merayakan ulangtahunnya yang ke-100. Juga digambarkan jarak semua negara di seluruh dunia terhadap Eiffel Tower. Buat negeri kita, titik ditarik ke Jakarta [Indonésie] dan jarak yang didapat 11.584 km.

Bagi kami, timing paling pas buat menikmati Tour Eiffel adalah di malam hari. Setiap satu jam sekali, sinar akan berpendar penuh selama 10 menit. Sebuah pemandangan yang cukup spektakuler. Saran dari beberapa teman kami, kalau tak cukup memandangi pendar cahaya itu sekali, bisa menunggu sembari nongkrong di berbagai kafe di kawasan Trocadéro atau Palais de Chaillot.

Seterusnya, Champs-Elysées yang siap memanja pengunjung dengan butik-butik merek terkenal serta brasseries dimana harga yang dibayar bukan saja minuman atau kudapannya sendiri, tapi juga sebuah privilege di salah satu avenue paling terkenal di Paris.

(c) nicholas ingram

Bila Menara Eiffel jadi landmark Paris nomor satu, rasanya Arc de Triomphe pantas menduduki peringkat kedua. Apalagi gerbang marmer seolah memahkotai ujung Champs-Elysées.

Kaisar Napoleon Bonaparte mencanangkan pembangunan Gerbang Kemenangan ini pada 1806, setinggi 50 m dan dihiasi dengan aneka peringatan serta simbol-simbol militer. Pada dasarnya terdapat monumen untuk Pahlawan Tak Dikenal dilengkapi api abadi. Lalu pada 1920, ditambahkan bagian peringatan hilangnya begitu banyak jiwa dalam Perang Dunia II.

Monumen megah Arc de Triomphe mengingatkan saya pada India Gate di New Delhi [India] dan Patouxai di Vientiane [Laos]. Disadari atau tidak, mesti diakui bahwa kedua bangunan itu ‘lekat’ dengan pesona Arc de Triomphe yang ada di jantung kota Paris. India Gate –saya kunjungi 3 tahun silam— juga punya monumen untuk Pahlawan Tak Dikenal, Perang Afghanistan Ketiga serta Pahlawan Perang Indo-Pakistan. Sedang Patouxai –saya berkunjung 3 bulan silam— pun mirip, didirikan untuk mengenang korban perang dari pihak Royal Lao Government pada 1950 an.

Ah, membicarakan Paris memang tak pernah habis. Termasuk berkunjung ke tempat pemakaman di tengah kota. Unik memang, pekuburan tak sebatas jadi tempat ziarah keluarga, tapi juga dikunjungi oleh orang-orang yang belum dikenal sang almarhum semasa hidupnya. Ini tak lain dan tak bukan, karena pengunjung adalah fans atau wisatawan yang ingin melongok peristirahatan terakhir orang-orang terkenal yang dimakamkan di sana.

(c) ukirsari

Salah satu kompleks pemakaman itu adalah Cimetiere du Pere Lachaise, terletak di sebelah timur arrondissement [distrik] 20. Makam ini tercatat sebagai salah satu yang paling terkenal di dunia. Isinya tak lain dan tak bukan adalah orang-orang terkenal kelas dunia.

Padahal dulunya makam ini kurang mendapat sambutan warga Prancis, karena dulu letaknya masih jauh dari pusat kota. Sehingga pengelolanya menerapkan strategi memboyong jenazah Jean de la Fontaine [sastrawan Prancis] dan Jean-Baptiste Poquelin atau lebih dikenal sebagai Molière [dramawan Prancis] ke tempat itu pada 1804.

Akhirnya, banyak orang-orang terkenal ingin dimakamkan di sana bersama warga kota Prancis yang punya nama besar tadi. Dengan sendirinya, lahan makam pun ikut ‘membengkak’ karena banyaknya peminat untuk dimakamkan di sini. Tercatat sudah enam kali dalam seabad makam ini diperluas. Kini, kalau ingin bertamu ke sini, sebaiknya pakai map yang dijual dekat pintu masuk, kalau tak mau tersasar di dalam. Tapi bagi kami pribadi, ‘lost in destination’ di dalam sini menarik, karena di sana-sini isinya serba batu nisan dan monumen orang-orang terkenal. Mulai pelukis, penyanyi, komposer dan seterusnya.

Paling membuat mata saya berbinar-binar adalah saat menyentuh batu nisan Jim Morrison, sang vokalis The Doors. Di sana dituliskan nama panjangnya, James Douglas Morrison, 1943 – 1971. Peziarah tak hanya kirim kembang, tapi juga menulis puisi lalu kertasnya digulung dan diberi pita, sampai meletakkan foto sang pujaan di situ.

Nama-nama lain terkenal, seperti penyanyi opera Maria Callas, aktris Sarah Bernhardt, komposer Frederic Chopin, Vincenzo Bellini, Luigi Cherubini dan Georges Enesco, serta penulis Oscar Wilde dan Victor Noir.

Bila jantung kota Paris memikat hati kami –khususnya saya— maka di hari-hari berikutnya giliran kami ‘memanja’ keinginan kekasih saya untuk menjenguk pesawat Concorde di Le Bourget Museum, yang beralamat di 13 Rue Etienne Dolet, Le Bourget.

Kunjungan satu ini, bukan wisata kuliner ataupun wisata sejarah. Tapi sebuah wisata teknologi dirgantara yang membuat kami terkagum-kagum –walau kekasih saya sudah pernah terbang dalam penerbangan Concorde [British Airways] terakhir rute London – New York sebelum pesawat ini berhenti beroperasi.

(c) ukirsari

Di Concorde Hall I, kami bisa mendekat bahkan menyentuh langsung burung besi Sierra Delta berparuh pointy nose yang bentuknya sangat ‘seksi’ itu. Dan lebih beruntung lagi, tak ada pengunjung lain di hari itu, sehingga kami mendapat layanan serta perhatian khusus dari Pascal, mantan engineer Concorde Air France yang sudah bekerja untuk Concorde selama 15 tahun.

Makin asyik, karena Pascal berkata agar sabar menunggu karena dalam 10 menit mesin Sierra Delta akan dinyalakan. Akhirnya, kami pun seolah mendapatkan demo privat di mana anggota tim Concorde memperagakan posisi hidung Concorde yang bisa naik-turun. Lebih asyik lagi, sesudahnya kami dibolehkan masuk kokpit dan semua instrumen di dalamnya menyala.

Kalaupun ada yang membuat kami merasa kurang beruntung, cuma semata-mata karena bahasa Inggris dari Pascal yang terbatas, sementara kami minim bercakap Prancis.

Kunjungan di hari terakhir kami di Paris, dihabiskan di Château de Versailles yang menjadi kebanggaan Raja Louis XIV [berjuluk Raja Matahari]. Tempat satu ini juga membuat speechless karena menjadi salah satu dari kastil terbesar di dunia. Memiliki jendela lebih dari 2 ribu buah, punya 700 ruangan, 67 tangga serta taman sekitar 1.800 are!

Kami menikmati keindahan taman dengan pepohonan hijau yang dipotong rapi bentuk kerucut sembari menikmati angin musim semi di Versailles. Kembali saya terkenang pada kalimat Victor Hugo, ’Time is the architect, the people are the builder’.

9 thoughts on “a trip to paris … sepotong hati tertinggal di sini

  1. Aku baru sekali sempat ke Paris…Notre Dame tempat favoritku…..makan baguette pake abon di Paris he..he..he…ini pengalaman backpackers kere di Paris.

    Pengen banget bisa jalan-jalan (maklum dulu sempat pengen jadi pramugari cuma supaya bisa jalan-jalan keliling dunia)…tapi sebelum kesampaian jalan-jalan lewat dunia maya saja deh!

  2. wih! aku surprise lho mbak retty ternyata pengalaman kita ada miripnya! di kunjungan pertama, aku makan baguette dengan … mentega dari pesawat, wekekek.

    kalau soal jadi pramugari, aku nggak bernyali, mbak. lha pasti nggak lolos seleksi😀

  3. Sebenarnya aku juga nggak bakal lolos seleksi…kacamata dan gigi bolong kekurangan kalsium yang jadi batu sandungan…he..he…he….makanya ndak daftar!

  4. lha apalagi akyu, mbak retty🙂 kawat gigi dan badan jumbo, hahaha. kalau kita ndaftar kali ceritanya lain, tapi bisa jadi kita jadi nggak jumpa pak mimbar dan kawan-kawan [kalo mbak meidy sama mbak mel pasti tetap kenal mbak retty, mengingat sudah lama banget bertemannya, ‘kan? :)]

  5. Meidy itu kembaran lain rahim…ha..ha…ha…sepupuku, kebetulan sekali lahir di tanggal bulan yang sama tapi beda tahun. Tua dia, tapi penampilan tua aku…he…he…he…keuntungan orang berbadan mungil! Jadi ya kenalnya seumur hidupku…ho..ho..hoo

    Melani itu teman dari SMP, yang bikin mereka berdua cocok itu mungkin terutama soal makan…mereka berdua doyan makan (cuma Meidy ada naganya jadi makanan ambles kemana tahu…), itu juga yang bikin beda saya dengan mereka. Saya ini makanannya terserah…

    Kayaknya mereka berdua cocok banget sama mbak Arie yang doyan kuliner juga. Lumayan deh…saya tinggal pilih anjuran-anjuran yang paling OK, nggak perlu uji coba sendiri…he..he…he…

  6. hehehe … jadi ingat sama weblog nya mbak mel, cerita melani.

    iya, mbak retty sepupuan sama mbak meidy. terus, lahirnya sama tanggal dan bulan. terus kalau ketemu mbak mel selalu nyeritain mbak meidy. dan mbak mel sama mbak meidy barengan ke gunung sinai [duh, ceritanya bisa dibuat novel yaaa … muter-muter antara bertiga: mbak mel, mbak meidy sama retty, hahaha :)]

    soal kuliner, memang. jangan ditanya. lha kalo mau ketemuan selalu diawali dengan, “makan yuk?” bukan “ketemuan, yuk?” hihihii …. nanti aku tulis-tulis hasil kuliner kita selanjutnya ya mbak retty🙂

  7. wah jadi pengen mau ksana nih ke paris punya gimana rasanya disana? coz’ aku pengen banget tuh kesana mbk jadi pengen dlm impian nih….. laen kali aku di ajak ya mbk sapa tau aku dapat besiswa utk kesana gt mbk doakan aja…… merci beaucoup les blees un dieu vous au revoir sungguh2 ni pengen kesana !!!!!!!!!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s