venice, sebuah romansa kota gondola

Bulan perak sepotong menggantung di langit, kecipak air terdengar di sepanjang Canale Grande [Grand Canal] serta kanal-kanal kecil [disebut ‘rio’] akibat kayuhan gondola atau laju water taxi. Lampu-lampu temaram menyinari kubah-kubah gereja dan berbagai bangunan kuno sampai jembatan. Keriangan canda tawa dan alunan musik klasik datang dari berbagai kedai yang berjajar sepanjang tepi kanal. Sebuah atmosfer sempurna untuk menggambarkan Venezia di suatu malam musim panas.

Kami baru saja menjejakkan kaki di stasiun Venezia Mestre, titik terakhir rute kereta jurusan Venice yang menghubungkan kota air ini dengan Treviso, Padova, Parma, Bari, Milan hingga Zagreb. Dan ‘sambutan’ berupa suasana romantis tadi benar-benar memupus pertengkaran kecil kami petang tadi.

Beberapa jam lalu, saya bertukar pendapat dengan Nicholas tersayang, mau backpacking ke mana lagi setelah mengunjungi gereja Il Duomo di Milan. “Tempat yang romantis,” usulnya. “Florence!” Hmm, saya juga pernah membaca bahwa kota ini memang menawan. Seperti juga ending film While You Were Sleeping yang menyebut Sandra Bullock dan pasangannya berbulan madu ke sana.

Tapi bagi saya, Venice juga romantis. Banyak film yang menggunakan tempat ini sebagai setting –beberapa contoh terbarunya; The Merchant of Venice serta James Bond 007: Casino Royale. Sebuah kota di tepian Laut Adriatik dengan gondola lalu-lalang di kanalnya, dengan begitu banyak bangunan apik, gereja serta merpati dan elang laut beterbangan. Apa itu bukan romantis namanya?

Nah, perbedaan kota tujuan inilah yang membuat kami saling ngotot. Sembari menyandang backpack masing-masing dua buah seorang, mulai masuk metro dekat gereja Il Duomo sampai tiba stasiun Milano Centrale, tak henti-hentinya kami saling melempar kalimat, “Venice!”, “Bukan, Florence!”, “Salah, Venezia!”, “Tidak mau, Firenze!”

Dan baru berhenti ketika ada seorang nenek menegur kami dalam bahasa Inggris, “Kalian masih muda ‘kok menghabiskan waktu dengan bertengkar saja. Sudah, ke Venezia sana dan bersenang-senanglah!”

Kalimat itu terdengar bak sihir, karena menit berikutnya kami sudah masuk antrean di depan loket tujuan Venezia lewat Bari, Parma, Padova dan Treviso. Tanpa ada muka cemberut lagi.

(c) nicholas ingram

Basilica San Marco merupakan tujuan wisata utama di Venezia. Kami membacanya dari buku panduan ‘Mengunjungi Venice Dalam Sehari’ yang saya beli di kios buku second hand pagi harinya di dekat Ferrovia Harbour yang jadi pangkalan taksi air menuju jantung Venezia. Bukunya masih bagus dan dibanderol Euro10 dari harga aslinya Euro35.

Sampai hari ini, alun-alun Santo Markus [Piazetta di San Marco] merupakan salah satu dari simbol keindahan kota Venezia. Letaknya diapit Palazzo Ducale [Ducale Palace], perpustakaan dan bagian selatan Balisika Santo Markus serta depannya pemandangan ke arah Bacino di San Marco [Saint Mark’s Basin].

Alun-alun ini menjadi saksi bisu segala kegiatan religi dan kemasyarakatan Venezia sejak ratusan tahun silam. Seperti prosesi kedatangan jenazah Santo Markus, eksekusi pesakitan, kepergian dan penyambutan armada laut di Bacino di San Marco sampai karnaval perahu [Regatta] dan festival topeng [Venetian Mask].

Di Piazzeta Santo Markus inilah kami menyaksikan merpati kelabu yang begitu jinak. Mau saja berdiri di atas telapak tangan kita saat diberi makan jagung pipilan.

Setelah alun-alun Santo Markus, pandangan bakal mengarah ke Campanile. Bangunan tinggi menjulang dengan patung seorang bidadari di puncaknya. Bangunan setinggi 98,60 m ini dulunya merupakan sebuah mercusuar yang dibangun pada abad ke-16. Pernah runtuh pada 1902 tapi dibangun kembali dan selesai 10 tahun kemudian.

Lantas ada clock tower dengan pahatan singa bersayap [winged lion] –yang jadi simbol kota Venezia—pada sisi depannya, serta patung dua orang Moor dari perunggu yang siap memukul lonceng setiap pergantian jam.

Kisah Basilika Santo Markus bermula pada tahun 829 Masehi saat dua saudagar asal Venezia; Buono of Malamocco dan Rustico dari Torcello menyelundupkan jasad Santo Markus dari Alexandria [Mesir] ke tempat itu. Tujuannya, untuk menggantikan patron sebelumnya; Santo Theodorus dari Yunani. Momentum ini sekaligus jadi penanda merdekanya masyarakat Venezia dari kekuasaan Kerajaan Byzantium.

Karena konstruksi awalnya dari kayu, basilika ini pernah terbakar dua kali pada abad ke-10. Lantas dibangun kembali pada abad ke-11 hingga bentuknya seperti yang kita kenal sekarang.

Arsitektur basilika Santo Markus terasa begitu kaya dengan gaya arsitek Byzantium, Romawi serta Gothic. Napas liturgi masyarakat Venezia yang begitu kental dituangkan dalam lukisan mural dan ornamen indah mulai pintu masuk, cupola sampai seluruh langit-langitnya yang berbentuk kubah.

Di balkon atas pintu masuk terdapat patung empat ekor kuda perunggu replika dari contoh patung aslinya yang dulu dipajang di sini. Keempat patung kuda asli itu dibawa langsung dari Hippodrome, Byzantium pada 1204 dan kini ditempatkan di Marciano Museum, lokasinya masih dalam kompleks Santo Markus sendiri.

Di altar emas [Pala d’Oro] karya Giampaolo Bonisegna [dibangun abad ke-14], pengunjung dapat menyaksikan peti mati Santo Markus. Juga mozaik yang menggambarkan prosesi perjalanan jasad Santo Markus dari Alexandria hingga Venezia.

(c) ukirsari

Setelah Basilika Santo Markus, hari-hari berikutnya kami habiskan untuk mengeksplorasi jembatan-jembatan kondang yang ada di Venezia. Seperti Ponte dei Sospiri dan Ponte dei Rialto.
Lantas ke Gereja Santa Maria Formosa yang didesain Mauro Coducci [1492] dan menyeberang Canale Grande dengan gondola, menuju gereja Santa Maria della Salute serta San Giorgio Maggiore [Saint George].

Hari-hari berlalu cepat di Venezia, apalagi mengingat begitu banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi. Mulai gereja hingga aneka galeri. Jarak satu lokasi dan lainnya, dengan melewati lorong-lorong, gang dan jembatan di segala penjuru kota terasa begitu compact. Enak dinikmati dengan jalan kaki, sembari menyantap gelato seharga Euro2 per cup.

Di pasar tradisional Rialto, kami sempat terkesima mendapati potongan kelapa dijajakan Euro1 per potong. Terletak di antara aneka buah potong segar di atas peti-peti berisi pecahan es batu, seperti semangka, jeruk, nenas, anggur merah dan hijau. Selain kelapa tadi, buah-buah ini segar disantap langsung di tempat. Tapi kelapa? Ternyata para turis juga menggigitnya lalu dikunyah seperti makan buah-buahan lainnya. Sang penjual juga menawari kami potongan kelapa tadi. “Grazie,” jawab saya. “Buah lain saja, karena di negara saya kelapa untuk dibuat santan. Lain soal bila kelapanya muda.”

Soal shopping, kami tak mengagendakannya secara khusus. Berbelanja kaos ‘La Gondola’ dan ‘Venezia City’ serta topeng-topeng Venezia dari bahan gypsum dan kertas di pedagang kaki lima cukuplah sudah. Topeng-topeng mahal [sekitar Euro250] serta aneka perhiasan dari kaca buatan Murano –kerajinan khas masyarakat Murano di pulau luar Venezia—cukup kami pandangi saat window shopping. Balon-balon kaca aneka warna yang begitu mirip balon gas asli menjadi favorit kami. Per buahnya dijual Euro130 atau lebih mahal dibanding tiket low-cost carrier saya untuk tujuan Jakarta-Singapura pulang pergi!

Gara-gara keasyikan menjelajah Venezia, akhirnya kami mesti pulang pakai pesawat ke Inggris via Zurich. Dasar tak mau rugi, saat menunggu bus angkutan ke Aeroporto Marco Polo pasangan saya mengadakan ‘random visit church’. Ke mana kaki melangkah, ya gereja pertama yang ditemui akan kami masuki.

Sampailah kami ke gereja Santa Lucia, ‘The Patron of the Eyes’. Latarbelakang kisah sang santa sendiri mencengangkan, karena ia mengambil mata kekasihnya saat berbuat salah. Bagian kaki orang suci ini masih dapat dilihat dalam basilika Santa Lucia. Mengherankan, karena kakinya tak seperti mumi atau bagian-bagian tubuh dari jenazah yang diawetkan. Kondisinya tetap sama dengan kaki orang hidup dimana darah masih mengalir! Dan di gereja itu juga tersedia air suci yang dikemas dalam botol-botol kecil mirip di Lourdes [Prancis].

Pengalaman indah kami di Venezia baru ‘terusik’ saat mendarat di Zurich. Petugas counter memberitahu bahwa kami mesti bersabar, karena kondisinya over-booked. Wah, padahal saat pesan tiket di biro perjalanan Venezia sang penjual terus merepet, “Si, si!” yang berarti “ya, ya, ya…” Baik saat saya tanya status nya okay, pun saat memintanya melakukan konfirmasi.

Tapi lagi-lagi kami tak merasa kesal. ‘Terdampar’ di bandara Zurich, kami menghabiskan waktu dengan mengobrol pengalaman di Venezia yang baru saja berlalu. Kotanya terasa begitu hangat dan romantis, terdaftar pula sebagai World Heritage Site oleh UNESCO. Ah, kami mesti berterima kasih pada sang nenek yang sudah mewanti-wanti kami di stasiun Milano Centrale ….

One thought on “venice, sebuah romansa kota gondola

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s