manusia pasir, a fiction part 1

THE SANDMAN*

Tiap kali melihat gundukan pasir, menjejak hamparan pasir, mengamati bulir-bulir pasir berjatuhan atau tertiup angin, ingatan Mare selalu melayang pada John. Johannes Marinus Stolwerk.

Pada apartemen mungilnya di Eindhoven sana. Di ruang tamunya yang hanya berisi satu sofa bed merah bermotif kotak-kotak hijau-hitam-putih-merah mirip tartan Skotlandia dan bisa diubah jadi tempat tidur, ia tempatkan pasir-pasir.

Di sebuah lemari terbuka bekas peti kemas tanpa vernis yang sederhana tapi artistik. Pasir-pasir ditempatkan pada botol-botol bening pipih bersumbat gabus bekas Smirnoff (tapi katanya model begini tak hanya wadah minuman keras, beli di loakan pun banyak dan Mare tahu John tak doyan minum, kecuali mengusir dingin). Pada dasar botol diberi label kertas; dari mana pasir itu diambil.

John memang pencinta pasir. Menurutnya, soil; tanah, pasir, humus –pendeknya lapisan muka bumi– merupakan penanda tempat di mana ia pernah berdiri. Bahwa ia pernah ke suatu negeri, ke daerah dan segala tempat beralam indah. Ia bawa pasirnya sebagai ‘suvenir’.

Malam-malam, kalau ingin menikmati bingkai-bingkai kenangan perjalanannya, John mematikan semua lampu di ruang tamu, lantas menyalakan beberapa batang lilin –agak jauh di belakang lemari pasir. Pendar-pendar cahaya yang menerangi botol-botol pipih itu akan membawanya mengawang jauh. Menerobos kumpulan hari-hari lalu.

Johannes Marinus Stolwerk yang bermata kelabu, dengan rambut ikal merah, selintas terkesan angkuh. Mare mengenalnya di pegunungan Ardennes, Belgia. Lewat kejadian begitu sederhana.

Bermula dari kehadiran Mare pada seminar perhotelan di Antwerp dalam 10 hari. Lantas ia menggenapi jadi 2 minggu dengan tetirah ke Ardennes. Tempat yang menurut brosur dan peta hotel menyediakan wisata alam, puri-gereja-museum bersejarah serta olahraga paragliding.

Meski buat ke sana ia mesti berkereta hampir setengah hari. Dari Antwerp, terus ke Brussel, Leuven, Liege sampai Verviers. Itu masih disambung kereta kecil mirip trem sampai ke kota mungil Francorchamps. Terus berlanjut pakai bus pedusunan melewati Spa dan Malmedy. Barulah sesudah perjalanan melelahkan ini Mare sampai di perbukitan Meuse, tempat hutan-hutan romantis mengapit Saint-Hubert. Tempat bermain paragliding.

Dan lelaki Belanda itu ada di antara para wisatawan yang mencobai melayang-layang bak burung di kawasan pegunungan Ardennes. Ia beroleh giliran terbang sesudah Mare. Itu membuat keduanya bertegur-sapa serta saling terheran-heran saat mendapati mereka punya kesamaan nama.
“Aneh, kamu orang Indonesia dan punya nama Mare Liberum?” tanya John. Mata kelabunya berbinar. Lambang keingintahuan sekaligus ketertarikan. “Nama tengahku Marinus. Johannes Marinus.”

“Lho, kenapa tidak? Itu berasal dari bahasa latin. Artinya ‘Lautan Kebebasan’. Diambil dari istilah konsepsi geopolitik kenegaraan,” si gadis menerangkan panjang lebar. “Dan nama Marinus-mu tadi, juga berarti laut ‘kan?”

Si pemuda mengangguk. Lantas berjongkok mengambil segenggam pasir dekat tempat mereka berdiri. “Ya lautan. Dalam sudut pandangku; laut itu cekungan besar yang dipagari pasir. Aku suka mengoleksi pasir dari berbagai tempat yang kukunjungi. Kamu sendiri suka mengumpulkan apa?”

“Saya …,” Mare tergagap. Pemuda ini bukan main. Gabungan keangkuhan, percaya diri sekaligus sisi romantik John menghadirkan pendar kekaguman di kepala Mare. “Saat kau bicara soal pasir, aku jadi teringat judul lagu grup Metallica yang kudengar semasa kuliah dulu. Enter Sandman. Kamu manusia pasir, ya?”

Tawa John meruap di sela kesegaran alam Ardennes awal musim gugur. Gadis ini sangat menyenangkan. Lirik lagu itu tak membincangkan manusia pasir secara harfiah, tapi ia bisa berasosiasi begitu cepat. Begitu indah ia menyebutnya ‘Manusia Pasir’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s