manusia pasir, a fiction part 6

Hati sang gadis berambut shaggy pun luluh. Ia kembali ke posisi berbaringnya. Tanpa bisa memejamkan mata kembali.

“Mare …” panggil John pelan sekali. Mungkin lebih tepat berbisik. “Masih ingat bunyi doa yang terselip di lagu Enter Sandman nya Metallica?”

“Ya …” jawaban itu tak kalah pelan. “Tentu saja.”
“Maukah kita mengucapkannya bersama-sama?” dari tempatnya berbaring, John meraih tangan Mare.

… now I lay me down to sleep
pray the Lord my soul to keep
if I die before I wake
pray the Lord my soul to take …**

Tiga tahun kemudian. Peringatan lima tahun berdirinya cottage Banyu Manik. Pukul 20.00 WITA.

Wanita itu berlutut menyalakan lilin-lilin apung dan menaruhnya di pantai yang tengah pasang naik. Kegiatannya itu menandai acara syukuran dimulai. Pendar-pendar cahaya puluhan lilin pun bagai melayari gelombang air. “Kesinilah, Marinus. Lihat, Bunda sedang mengapungkan lilin banyak sekali,” ucap Mare penuh kasih. “Yuk kita mengucap doa bersama-sama Ayah.”

Anak lelaki usia dua setengah tahun itu mendekat ibunya lalu merangkulkan kedua lengan mungilnya pada leher Mare. Sementara ayahnya; terus berkutat memencet-mencet tombol komunikator, berdiri di belakang Marinus, di ujung dermaga kayu.

“Yo, berhentilah sebentar mengurusi saham kita,” Mare berbisik tegas pada Yonna Gautama –-sang suami– dengan Marinus dalam gendongannya. “Acara kita hampir dimulai.”
“Ya, Sayang. Sebentar,” Yonna mengecup pipi Mare sekilas, lalu sibuk lagi dengan kegiatannya. Mare mendengus.

Yonna sama sekali bertolak belakang dengan John. Ia begitu disibuki pekerjaan, walau perempuan itu tahu Yonna sangat mengasihi dia dan Marinus –putra mereka. Di tangan lelaki ini, cottage Banyu Manik makin maju. Selain otaknya brilian, ayah Yonna mitra usaha ayah Mare.

Keluarga Mare mendesak supaya ia mau dinikahi Yonna, karena pria itu tulus menyayanginya. Padahal Mare tahu, di hari pernikahan mereka bertahun silam, sepotong hatinya tertinggal di Eindhoven. Serta Ardennes.

Bergen op Zoom, pukul 14.00, berbarengan dengan saat Mare, Yonna dan Marinus mengadakan acara di Banyu Manik.

John mendukung putrinya yang berusia tiga tahun di atas pundaknya. Tangan kiri gadis cilik itu mengkocok-kocok sebentuk botol berisi pasir putih dan karang, bintang laut serta kulit kerang aneka warna. Mereka bercengkerama di kebun, sementara Yvonne van Mink, istri John, mendorong kursi roda Joke –-ibunda John.

‘Sejak Mama menderita kelumpuhan akibat darah tinggi, Mare, Yvonne merawatnya. Ia suster sekaligus terapis kaki supaya Mama bisa berjalan lagi. Akhirnya saya menikahi Yvonne, karena ia sanggup menangani Mama, sedang aku sendiri kadang tak mampu.

Keputusan ini mengubah prinsip hidupku; dulu saya begitu takut pada cinta, karena tak percaya ‘ia’ –cinta itu– akan selalu setia kepada saya. Kini kami tinggal di Bergen op Zoom. Kutinggalkan Eindhoven sekaligus kerjaku di bidang periklanan.’ Itu e-mail terakhir John buat Mare Liberum.

John lantas mengangkat putrinya tinggi-tinggi di atas kepala, lantas diciuminya sepasang pipi gembil itu. “Satu saat Mare Mink – Stolwerk, bila kau mencintai seseorang, jangan pernah ragu-ragu buat mengatakannya. Walau mungkin kau tak akan bertemu lagi dengan orang itu. Karena cinta tak pernah menunggu, Mare.”

Kalimat macam begini jelas sulit dipahami gadis seusia putri John. Tapi ia toh bergumam, “Mare sayang Papa,” sembari mencoba membuka sumbat botol, sekuat tenaga.

Pasirpun berhamburan mengenai sepatu boot Johannes Marinus. Bulir-bulir dari tempat yang jauh. Segenggam pasir kenang-kenangan dari Mare Liberum. Buat si manusia pasir. Kini semuanya berserak, menyatu dengan tanah Bergen op Zoom.

* Manusia Pasir
** Diambil dari ‘Enter Sandman’, Metallica self-titled album, 1991

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s