manusia pasir, a fiction part 5

Sembari merenangi ingatan akan e-mail dan chatting mereka, Mare membalikkan tubuh dari posisi tidurnya. Semula telungkup, kini tengadah. Di atas sofa merah bermotif kotak-kotak hijau-hitam-putih-merah mirip tartan Skotlandia yang diubah jadi tempat tidur. Ruang tamu John dalam apartemennya di Endhoven!

Dua pekan lalu, Mare menghadiri seminar perhotelan. Mirip satu setengah tahun silam di Antwerp. Hanya kali ini mengambil tempat di Den Haag. Lantas John yang penuh keterus-terangan di mata gadis itu memintanya singgah di Eindhoven. “Tinggal-lah semalam saja di tempat tinggal mungilku, Mare. Untuk melihat botol-botol pasirku. Semuanya kurang indah bila kau pandangi siang hari, karena cahaya lilin bakal dikalahkan sinar matahari yang menerobos lewat kisi jendela.”

Mulanya gadis itu menolak. “Bukan sok hipokrit, John. Tapi saya memang tak bisa tinggal bersama lelaki di bawah satu atap, apapun alasannya; kecuali dia suami saya. Itu menyangkut keyakinan saya, I’m sssooooooo sorry.”

“Tidak, Mare, saya berjanji, tak bakal terjadi sesuatupun yang tak kau inginkan. Percayalah padaku. Sekali ini saja,” pinta Johannes Marinus memelas. Kereta SCNF jaringan Benelux yang mereka tumpangi tengah membelah pedusunan Rotterdam. Lelaki itu menjemputnya langsung dari Eindhoven. “Apakah saya mesti berlutut hingga semua orang di gerbong jadi saksi aku bersungguh-sungguh.”

“Oh, tidak. Tak perlu, John. Jangan!” jawab Mare panik. “Jangan nekat. Tapi pegang janjimu, Johannes Marinus.”

Mare berbaring dalam diam, seraya menikmati pendar-pendar cahaya dari balik deretan botol-botol pasir koleksi John. Lewat tengah malam, dan esok pagi ia akan pulang dengan penerbangan Amsterdam – Denpasar. Bunyi percikan sumbu terbakar api yang sesekali terdengar membuatnya tentram. Apartemen John hangat dan berseni.

Sepasang mata gadis itu siap terpejam, ketika sekonyong-konyong John yang tidur di kamarnya –-sebuah ruang berkarpet kelabu seperti pernah ia jawab dalam kuis– ikut melompat naik ke atas sofa sambil membawa selimut biru.

Mare terpekik dan refleks mendorong tubuh di sampingnya hingga terhempas ke lantai. “Kau tak dapat menepati janjimu, John!” teriaknya parau. “Kata-katamu bullshit dan kau paksa saya buat percaya.”

“Mare, demi Tuhan … saya tak bermaksud begitu,” John beringsut mendekat. Punggungnya terasa sakit, setelah menghunjam ke bawah sofa tartan Skotlandia milik dia. “Aku hanya ingin ikut serta menikmati cahaya lilin dan botol-botol pasir itu. Jarang sekali saya tidur di kamar, Mare. Saya lebih menyukai sofa ini.”
“Kalau begitu, kita bertukar tempat. Saya tidur di kamarmu dan kau tempati sofa ini, John!”
“No. Please, stay,” lelaki berambut merah itu mengusap-usap punggung tangan kiri Mare. “Saya akan tidur di lantai. Kau tetap di sofa. Jangan kacaukan malam terakhirmu di sini, Mare.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s