manusia pasir, a fiction part 3

Never give out your password or credit card number in an instant message conversation.
John says : hello
Mare says : hai, sudah pulang dari liburan ke nepal?
John : yah, sudah ada di eindhoven lagi. sedang kubaca e-mail mu, mare
Mare says : okay, selesaikan dulu. nanti saja mengobrolnya
John says : tidak. aku lebih suka berbicara on-line denganmu
Mare says : well, seharusnya kita bertetangga, j. itu memudahkan kita ngobrol. cukup bawa makananmu ke mari, atau saya ke rumahmu dengan memanjat tembok, lantas kita mengunyah-ngunyah sembari membincangkan segala macam hal
John says : tapi sialan, mengapa kamu tinggal begitu jauh dariku?
(sampai di situ Mare tercenung. Bukan karena kata kasar ‘why the f**k’ tertulis dengan huruf kapital dalam dialog box chatter itu. Ia tak tersinggung, justru bisa memaknai suasana hati John)

Mare says : saya nggak tahu, j. kubaca beberapa kata bijak, yang mengatakan ‘seseorang yang baik buat kita, justru berada di tempat jauh. sedangkan musuh malah hidup berdekatan’
John says : euh, saya tak bisa memahami bahasa-bahasa indah begitu, mare. yang kutahu, hanya ada 2 hal yang bisa membuatmu absen mengirim e-mail buatku. first I thought she doesn’t love me anymore,
second she’s away for her job

(membacai dua baris kalimat terakhir, Mare tercenung kembali. Love? Cinta? Tak salah ketikkah lelaki itu? John juga menyimpan perasaan mirip Mare -–yang disebutnya seperti rerumputan tumbuh di musim hujan?)

Mare says : terima kasih membuat saya tersenyum, j
John says : adakah alasan mengapa kau menulis begitu? saya tak mengerti
Mare says : nothing. lupakan, j
John says : saya baru menyadari kebodohanku; tak pernah bertanya tentang satu hal padamu, mare
Mare says : soal apa, ya?
John says : jangan marah; kita seusia, bukan? sama-sama 27, berpikirkah kau tentang pasangan hidup?

(Mare menggigit bibir bawahnya. Tak tahu harus menjawab apa)

John says : aku punya 2 kakak, lelaki dan perempuan. keduanya menikah dan menikmati perkawinan masing-masing. namun kupikir, aku juga berbahagia dengan hidup melajang begini
Mare says : aku juga bahagia sebagai lajang

(Padahal gadis itu tahu benar, ia tak ingin menjawab begitu. Entahlah, jemarinya seperti menari saja dan Mare baru menyadari jawaban ‘ajaibnya’ saat ia baca dalam boks dialog mereka)

John says : ah, saya tahu kamu, mare. gadis yang mendamba kebebasan seluas samudra, seperti nama kita berdua bukan?
Mare says : YA

(Jawaban pongah, tapi Mare mengerti, ia tak bisa mengubah arah lagi. Tiba-tiba langit malam penuh gemintang jadi begitu sepi dalam pandangannya. Kacamata bacanya ia lepas. Dialog box di-klik hingga berupa kotak kecil di task bar monitor komputernya. Kotak itu berkedip-kedip warna biru. Tanda John mengirim pesan lagi, namun Mare tak ingin meng-klik untuk membaca. Hatinya serasa kosong)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s