manusia pasir, a fiction part 2

Never give out your password or credit card number in an instant message conversation.
Mare says : j, sudah lama kau tak online
John says : maaf tak memberitahu, aku baru saja selesai operasi mata sebentar lagi, kau akan melihatku tambah ganteng tanpa kacamata
Mare says : kapan itu?
John says : seminggu lalu. aku menjalani operasi sinar laser yang prinsipnya menipiskan retina mata. gantian, mata kiri dulu lalu kanan
Mare says : mahalkah itu, j? kamu tahu kan, aku juga pakai kacamata bila membaca?
John says : hmmmm … 5,000 USD per mata.
Mare says : ohhh, mahal sekali, j!
John says : begitulah. sebanding dengan tiketmu pergi-pulang jakarta-amsterdam tiga kali berturut-turut. tapi mata itu vital sekali, mare sayang. jendela kita memandang dunia, bukan?
Mare says : ya, aku sangat setuju. okelah, kalau aku ingin perbaikan mata sepertimu, kurasa uang bukan masalah utama. bukan karena aku memiliki uang segitu banyak –tapi itu bisa dicari, dalam arti pinjam sana-sini. yang jadi masalah; saya nggak berani menjalaninya, j. retina ditipiskan pakai laser? ohhhh, tidak!
John says : hei, hei, rileks. kalau kamu menjalaninya, aku akan mendampingi di sisimu. dan menggenggam erat tanganmu
Mare says : sebuah janji? serius?
John says : sejak kapan johannes marinus bohong pada mare liberum? percayalah, saya ada di sisi kamu saat anestesi hingga terjaga lagi

Itu sebagian isi chatting antara Mare dengan John, lima bulan setelah pertemuan di Ardennes. Gadis itu tengah mengenangnya, sembari terpaku menatapi keluasan langit malam. Dari balik kaca di ruang kerjanya yang menghadap ke Samudra Hindia. Sebuah bangunan pantai berlantai tiga tempatnya mengelola cottage di negeri para dewa; Bali.

Tempat tetirah berupa pondok-pondok beratap rumbia, di atas pasir putih. Dengan nyiur melambai, jalan setapak dari batu kali yang disusun, serta obor-obor nyala di sisi kini dan kanannya –-sebagai penerang di waktu malam. Plus kolam renang serta air terjun buatan.

Mare tersenyum. Ia sangat mencintai peristirahatan indah ini. Satu cottage baru milik keluarga yang dipercayakan padanya, bermodal ilmu saat seminar di Antwerp. Dinamainya ‘Banyu Manik’ atau berarti ‘bulir-bulir air yang tampak mirip bebutiran permata’.

‘Dan tiap jengkal pasir putih yang ada di Banyu Manik, sudah pernah disentuh John,’ bisik hati Mare. Walau lelaki Belanda ini belum pernah sekalipun berkunjung ke situ. Mare-lah yang mengirim beberapa genggam pasir seputar Banyu Manik buat John.

Karena ia tak bisa menemukan botol pipih macam wadah Smirnoff, Mare memasukkan pasir dalam botol bulat setinggi kira-kira sejengkal tangan dia. Karena tempat itu bermulut lebar, Mare turut memasukkan bintang laut dan aneka kulit kerang berukuran kecil ke dalamnya.

Sekaligus potongan karang mati warna putih dan merah hati (ia heran, mengapa disebut ‘batu karang’, padahal jelas-jelas benda ini merupakan koloni hewan laut). Semua ‘barang penyerta’ itu ditemukan Mare saat ia berjalan-jalan petang pun pagi hari di pantainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s