Daun pun meluruh, fiksi kanta 5

Aku ada di persimpangan antara terus menemanimu meraih mimpi-mimpi kita atau melanjutkan hidupku tanpamu. Menyakitkan Harris, tapi ada mimpiku, yang bisa –setidaknya kuusahakan— kujalani sendiri.

Tangan kiri itu memegang rapido 0,2 mm dan menggenapi huruf-huruf, merangkai kata di balik selembar potret hitam-putih. Wajah Bayon di kejauhan dengan bingkai pintu-pintu pantheon menuju puncak Angkor Thom.

Beberapa saat kemudian Gita memasukkannya ke dalam wadah kardus, bersama-sama 199 lembar pucuk potret lainnya. Setiap kali ia dan Harris bertengkar atau mengalami ketidaksesuaian pendapat yang mengundang debat lebih dalam, perempuan itu berusaha mengalah dengan mencurahkan kata hatinya lewat kalimat di balik gambar-gambar terbaik bidikannya. Sudah saatnya 200 lembar ‘kata hati’ selama 5 tahun itu dikirimkan pada Harris. Gita tak bisa ‘mengoleksinya’ lebih banyak lagi.

“Miss Gita, sudah selesai membungkus paketnya?” Sokhom mengetuk pintu kamar Gita pagi-pagi benar. “Saya akan segera berangkat ke Phnom Penh.”

Perempuan itu muncul dari balik pintu. Telanjang kaki dan belum sempat tidur pulas karena kesibukan mengepak potret dalam kardus semalaman. “Pengiriman model apapun yang tercepat ke Indonesia, ya? Okhon chran [terima kasih banyak, bahasa Khmer], Sokhom.”

I see trees of green, red roses too/I see them bloom for me and you/And I think to myself, what a wonderful world …*

Dalam pejaman matanya, Gitanjali tersenyum mendengar Nicholas mengajarkan lagu berbahasa Inggris pada Yem bersaudara sembari memetik gitar. Sokhom, Sideth, Phroen, Janee dan si kecil Dara Ronny bersuara menirukan lelaki itu. “Nadanya salah, Nick,” Gita berkomentar. “Seharusnya F bukan G. Nah, begitu. Suara juga tak perlu dibuat serak ala Louis Armstrong. Be yourself!”

“Ah, diam. Kau tutup mulut saja dan dengarkan,” Gita merasakan telapak tangan itu mengusap dahinya. Kalimat Nick dalam bahasa Indonesia selalu kontroversial, padahal maksudnya bukan begitu. Dengan lelaki ini, ia bisa tertawa lepas dan bebas dari tekanan. Melupakan cinta, mengabaikan pertanyaan ‘setelah ini apa?’ dari suatu hubungan.

Gita meletakkan kedua lengannya di kepala sebagai bantal. Balai-balai sedikit berderak gara-gara dimuati tujuh orang sekaligus. Tapi ia merasa damai.

Tadi pagi Gita mendaftar ke kumpulan relawan pengajar bahasa Inggris di Siem Reap. Meski sisa cutinya hanya 2 minggu lagi, ia masih ingin terus merayakan kesendiriannya dengan cara ‘unik’ yang tak pernah terpikirkan ketika bersama Harris dulu. Ia juga telah mengantar Nick pesan tiket kapal Khemera ke Phnom Penh. Dari sana, lelaki itu akan bertolak ke Saigon, Vietnam Selatan [“Tak ada yang mesti disedihkan bila berpisah lagi, Nick. Karena itulah takdir kita. Semacam cinta platonic, bukan antara sepasang kekasih,” ucapnya saat Nick bertanya mungkinkah ‘daftar impian teenager’ itu menyatukan mereka buat selamanya].

I hear babies cryin’, I watch them grow/They’ll learn much more than I’ll ever know/And I think to myself, what a wonderful world …*

Gita pun ikut bersenandung kini. Di saat sama, dalam kamarnya Harris tengah membacai kalimat-kalimat di balik potret bidikan Gita, satu demi satu. Pelan-pelan ia mampu merasakan, cinta kekasihnya merapuh dan meluruh. Seperti dedaunan kering terembus angin. Seperti keberaniannya yang menguap, tiap kali berhadapan dengan Ayah untuk membicarakan niatnya menikahi perempuan itu.

Sang ‘Nyanyian Kalbu’ [arti nama Gitanjali dalam bahasa Sanskrit] telah pergi meninggalkannya.

*What a Wonderful World, lyrics by George Weiss/Bob Thiele, performed by Louis Armstrong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s