Daun pun meluruh, fiksi kanta 4

Bila kau tengah bersedih, palingkan wajahmu ke langit biru. Ia bakal mengusap airmatamu dan menerbangkan nelangsamu ke matahari sore.

Menuruni Phnom Bakheng di sisi barat Angkor Wat seusai mereka berdua memotret matahari terbenam, Nick mengandeng tangan Gita agar tak terpeleset jalan bebatuan licin.

Dalam diam, pikiran Gita melayang pada Harris. Awal-awal mereka berpacaran. Menunggui kekasihnya selesai kuliah malam, sambil membawakan dua tangkup roti tawar isi selai kacang cokelat kesukaan Harris. Saat itu Harris belum punya FJ40 dan Gita menolak keras tiap kali ibundanya berniat mengirim salah satu mobil ayahnya untuk membantu mobilitas kerjanya.

Harris pekerja keras dan ulet. Itu salah satu daya tarik bagi Gita. Kerja seharian, kuliah magister management lagi malamnya. “Agar kelak bisa dapat pekerjaan lebih bagus, hingga dapat membahagiakan kamu,” begitu alasannya sembari memandangi sepasang mata bagus Gita, tiap kali gadisnya mengingatkan, ‘Jangan terlalu ngoyo kerja sambil kuliah, Ris!’

Semuanya serba indah, apalagi setelah Harris lulus magna cum laude dan FJ40 merah marun berhasil dibelinya. “Tinggal pernikahan kalian berdua saja yang kurang,” begitu teman-teman mereka mengolok-olok. Dan mereka bergeming saja. Sampai suatu kali Gita membuka percakapan soal itu dan Harris menjawab, “Sabarlah, saya akan bicara pada Ayah.”

Tanpa sadar, Gita meremas telapak tangan Nick. Kesabaran macam apakah yang telah berjalan hingga 5 tahun? Ketakutan ataukah ketidakpedulian melangkah ke arah waiting for nothing –seperti komentar Nick semalam akan posisi Gita dalam kehidupan Harris.

Gita baru tersadar, bahwa selama ini Harris kurang teguh dan belum habis-habisan menyuarakan kebersamaan mereka dalam keluarganya [“Apa aku mesti melaporkan segala perjuangan dan lobiku secara detail?” elaknya suatu ketika. “Kamu percaya saya, ‘kan Gita? Kamu mesti bisa menerima, kadang dunia berjalan tak seperti apa yang kau harapkan.”]
“Wat do you want from me, Gitte?” tanya Nicholas hati-hati sembari mendayung perahu sewaan mereka membelah Boeng [danau, bahasa Mon-Khmer] Tonle Sap, dekat Siem Reap.

“Tidak ada. Kecuali kedatanganmu yang tiba-tiba membuat saya lebih kuat,” Gita tersenyum, mengusap-usap punggung ‘tukang dayungnya’ lantas melanjutkan aktivitasnya memotret desa terapung di Tonle Sap.

“Siapa yang mengirimmu ke mari untuk menghiburku, Nick?”

“Entahlah. Sending by an angel. Aku hanya teringat ‘daftar impian teenagers’ yang kita buat sebelum kau pulang ke Indonesia dulu. Dari 10 to do list masing-masing, kita punya satu kesamaan: Angkor Wat. Itulah yang membawaku ke mari. Dan kamu?”

Saya seorang penggembira alam semesta, yang menciumi matahari saat ia lahir [terbit], dan memeluknya saat ia pulang [terbenam]. Saya tak menunggu segala apa yang tak akan menjadi milik saya.

“Gitte, kamu melamun! Bukan tak sedang bersenandung dalam hati is this love, is this love, is this love?” Nick menirukan syair Bob Marley, lalu mendapati gadis itu menggeleng. “Bukan karena saya farang?”

“Oh, come on. Realistislah,” Gitte mendengus sembari membidik lensa ke arah lawan bicaranya. ‘Kamu ‘kan bukan ayah Harris yang gemar ‘mengklasifikasikan’ orang dan membuat penghakiman berdasar pandangan pribadinya?’ sambungnya dalam hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s