Daun pun meluruh, fiksi kanta 3

Tak pernah ada yang salah dalam hubungan Gitanjali dan Harris. Sang pria bekerja nine-to-five bidang perbankan, sementara si gadis seorang fotografer majalah life-style. Gita periang dan humoris, sedang Harris kalem tapi selalu bisa mengimbangi topik pembicaraan apapun dari Gita. Sama-sama menyukai Kahlil Gibran, William Saroyan dan musik klasik. Gita main gitar dan Harris main piano.

Cuma penghalang di antara mereka tidaklah kecil [Gita menyadari hal ini tapi selalu permisif; akan membaik bersama berjalannya sang waktu]. Bahwa mereka tak berasal dari pulau yang sama, itu keberatan pertama keluarga besar Harris [“Oh, ketika orang sudah berlomba untuk ikut proyek luar angkasa Mir dan Soyuz, kita masih berkutat dengan masalah begini?” tanya Gita geram ketika kekasihnya memberi tahu ketidaksetujuan ‘orang rumah’ Harris].

Keberatan kedua, sebagian masa kecil dan remaja Gita dihabiskan di luar negeri, selagi ayahnya menjabat sebagai atase militer di beberapa negara Eropa Timur dan Inggris. Sudah pasti pola pikir gadis itu terbentuk untuk moderat, terdidik mandiri dalam bersikap dan cenderung lugas [“Dalam keluargaku, meski aku berpikir ‘tidak’, namun aku menyunggingkan senyum dan akan berkata ‘Saya coba’,” jelas Harris].

Yang tak kurang menyakitkan, sekali waktu Harris juga pernah menyampaikan; ayahnya sedikit keberatan atas profesi Gita yang dalam sudut pandangnya menyita waktu. “Bagaimana anakku dirawatnya bila mereka menikah nanti? Dia kurang perempuan,” begitu Harris menirukan dan Gita pun merespon, “Saya akan menikah denganmu atau beliau?”

“Maaf, apakah Anda tak keberatan saya menumpang duduk?” teguran itu menyeret Gitanjali menjauh dari fragmen-fragmen pahit sebelum tiba di Kamboja. Oh, dia masih menangkupkan kedua lengannya di dahi menutupi mata. Pantaslah kalau tak melihat sang pemilik suara itu mendatangi balai-balai depan rumah Dame –-begitu Gitanjali memanggil si empunya rumah, seperti kelima anak lelakinya memanggil janda berusia 57 tahun itu.

“Seorang farang [orang kulit putih dalam bahasa setempat],” batinnya sembari mengerjap-ngerjapkan mata karena sinar matahari serasa menusuk mata setelah sekian lama ia terpejam.

“Saya ingin duduk sejenak sebelum check-in karena … oh, Gitte [baca: Jitte]?” suara itu terheran-heran saat Gitanjali beranjak duduk dari posisi tidurnya di balai-balai.

“Charles Nicholas Robert Bates?” Gita menyahut beberapa saat kemudian ketika mendapati seraut wajah baby face bermata kehijauan serta rambut cokelat muda.

“Ya aku! Nick. Kritikus potret-potretmu sejak kau berusia 15 tahun,” sedetik kemudian tangan itu sudah mengusap dahi Gita lalu mengacak-acak rambut ikalnya yang dipotong pendek. Kebiasaan Nick sejak dulu.

“Kamu, kamu tidak apa-apa? Wow!” sedetik kemudian Nick merasa kesulitan bernapas karena Gitanjali memeluknya erat-erat dan menangis. Hal yang tak pernah ia saksikan sejak kenal perempuan ini 15 tahun lalu. “Astaga Gitte, wat’s going on?” Nick mencoba memancing rasa humor Gita dengan mempelesetkan what menjadi wat, seperti cara menyebut ‘Angkor Wat’, namun tak berhasil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s