Daun pun meluruh, fiksi kanta 2

“Gitanjali Prabandari, bila orang bertanya, kau mesti menjawab.”
Gita terus bungkam. Berjalan ke teras depan, duduk memandangi bulan. Di saat itu pula ia memutuskan untuk merelakan Harris berlalu dari hatinya.

“Kapan kamu pulang, Sayang?” terdengar lagi suara di seberang sana.

“Tidak sesegera mungkin.” Selembar peta maya maha luas terbentang di langit malam. “Kau tahu, peningset [mas kawin, bahasa Jawa] yang diberikan Dhimas Seno buatku?” suaranya melayang begitu saja, sedemikian ringan, tanpa menyertakan perasaan. “Selain pakaian pengantin perempuan lengkap, dia meluluskan permintaan tiket ke Thailand. Dari sana aku ingin melanjutkan ke Kamboja.”

“Tak mungkin. Paspormu ada di Jakarta. Kau simpan di kantor.”

Penjelasan Gita mengalir bagai anak sungai. Bahwa ia bisa minta sekretaris mengirim paspornya ke bandara hingga tak perlu mampir ke Ibukota sepulangnya dari Jogja. Mudah, apalagi perjalanan ke kawasan Asia Tenggara tak perlu visa. Sedang visa Kamboja bisa minta di perbatasan Aranyaphratet – Poi Pet. Ia akan menelpon bosnya untuk minta cuti sebulan; karena ini hak bagi para pegawai yang sudah bekerja 6 tahun dan Gita belum mengambilnya.

“Lantas posisi aku ada di mana, Gita?”

Sejenak dia terdiam. “Kamu … saat ini masih di hati saya.”

Di balik sana, Harris tersenyum meski belum sepenuhnya mencerna arti kalimat terakhir Gita. Gadis itu berjanji untuk ‘pulang’ kepadanya. Walau entah kapan.

“Harris, saya ingin kamu datang ke pernikahan Dhimas Seno di Jogja,” ini kesekian kali Gita mengingatkan kekasihnya.

“Gita sayang, haruskah saya paksakan diri buat datang? Masih ingat jadwal saya bulan ini? Mesti terbang ke Singapura untuk training serta presentasi produk baru di Cikarang.”

“Sekali ini saja, Harris! Dia adikku satu-satunya. Mintalah ijin. Sebelum upacara pernikahan bakal ada upacara Langkahan [mendahului, bahasa Jawa] buatku.”
“Coba tarik napas dulu. Hitung sampai sepuluh untuk menurunkan emosimu. Apakah aku terlibat langsung dengan acara ini?”

“Ya Tuhan. Kamu pendamping saya, kamu calon suami saya. Kamu akan menjadi bagian dari keluarga besar saya. Mesti kujelaskan bagaimana lagi?”

“Dengar; kalau saya hadir, di mana posisi saya? Orang akan berspekulasi, ‘Oh, itu dia calon Gitanjali. Sesudah Dhimas Seno, pastilah giliran mereka berdua’. Maaf, saya belum bisa.”

“Katakan saja TIDAK bisa. Karena kamu memang tak pernah serius, karena kamu tak punya keberanian menseriusi hubungan ini! Karena ayahmu, karena keluarga besarmu tak pernah memberikan ijin. Saya tak akan pernah memaksa. Baiklah, Harris.”

“Gita ….”

“Saya turun!” tanpa bisa dicegah, gadis itu membuka pintu Toyota FJ40 Harris di tengah kepadatan lalu-lintas ruas Jalan Sudirman, depan Gedung Dharmala usai jam kantor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s