Daun pun meluruh, fiksi kanta 1

DAUN PUN MELURUH ~ukirsari~

‘Entah bagaimana cara kuil-kuil itu memikatmu. Sesungguhnya mereka tak pernah menjadi ‘Kota yang hilang’. Ia tertanam di hatimu, lalu tiba-tiba menyeruak. Seperti Ta Phrom muncul dari jantung hutan yang dipenuhi pepohonan palem, kapuk dan bayon’

Gitanjali tersenyum mengingat penjelasan puitis Sideth tentang Angkor Wat dan Angkor Thom. Ia berbaring tengadah di atas balai-balai depan penginapan sembari merasai sinar matahari menyusup di antara rimbun pepohonan. Sungguh ia berbahagia bisa tinggal sejenak di Kamboja.

Menempati kamar dari rumah nyaman dalam gang yang bermuara ke Vithei Sivutha atau Siwatha Street, Siem Reap. Hanya USD7 semalam! Tarif bak bumi dan langit bila dibanding Hotel Grand d’Angkor senilai USD200 atau Royal Sofitel Angkor seharga USD147.

Tiap hari kerjanya menjelajahi kompleks percandian agung yang disebut para petualang barat sebagai ‘The Lost City of Angkor’. Wajah-wajah terpahat di menara-menara batu berselimut fungus dan lumut hijau membuat Gitanjali enggan meninggalkan Bayon. Area kuil ‘seribu wajah’ Sang Budha serta wajah bersenyum misterius milik Raja Jayavarman VII, dengan sepasang telinga panjang menjejak pundak –mirip orang-orang Dayak— serta mahkota lotus.

Di malam Midodareni –malam yang juga diidam-idamkan Gita suatu hari nanti–, di kediaman calon pengantin pria, seluruh keluarga berkumpul di ruang tengah untuk bergantian menanyai Dhimas Seno Widyandaru yang baru saja pulang Tilik Pitik [salah satu rangkaian upacara adat Jawa, berkunjung sejenak ke calon mempelai perempuan tanpa bertemu muka dan tak menyentuh hidangan apapun di rumah itu].

Gitanjali memandangi adik lelakinya dan mereka bertukar senyum. Sementara hatinya tak ada di situ. Ia tengah memikirkan Harris. Teganya membiarkan ia sendirian di saat begini.

Bagaimana sejatinya kesungguhan lelaki itu? Menemaninya di acara sepenting ini tak bisa? Apalagi bila mesti membelanya di saat-saat mendatang –yang bakal dijalani bersama. Kesal memikirkan ulah Harris yang tak juga mengubah pendiriannya hingga pesawatnya mengangkasa menuju Jogjakarta kemarin petang, Gita mengubah mode ponselnya menjadi silent.

Namun baru sejenak bercengkerama dengan para sepupu dan adiknya, mendadak layar ponsel berkedip-kedip. H1, kodenya untuk nomor ponsel Harris menyeruak di layar.

“Ya?” dengan malas Gita bangkit. Mengarungi ‘lautan’ manusia yang lesehan di ruang tengah untuk menggarap kembar mayang, membuat bingkisan seserahan pengantin sembari bersenda-gurau dan bertukar cerita. “Ada apa?” Kalimat sms dari Harris selagi ia mengantre boarding pass lewat selintas di benaknya, ‘I’m a man who will fight for your honor. Sebelum ‘waktu itu’ tiba, kumohon kau bersabar’.

“Semuanya baik-baik saja?”

“Seperti harapan kami semua di sini. Juga sudah tersedia ‘pria sewaan’ buatku untuk resepsi, jadi aku tak bakal terlihat seperti orang tolol di jajaran keluarga pengantin.”

“Sudahlah, jangan mengundang debat lagi. Tak perlu berkalimat masam.”

Perempuan itu menghela napas.

“Apa kebersamaan mesti divisualkan dengan ke manapun berdua atau bergandengan?”

Masih diam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s