small note from me and Nicholas: we know some of the postings we did here in our blog can give some info to the others. sure, can be taken as additional info. but mind you to do some small etiquette with permission before make a link. this accident is somewhat we didn’t want to be happened again!
Nikmatnya Daging Buluh dan Nasi Hitam
Teks dan foto-foto: Rr Ukirsari Soepijono – Ingram

(c) ukirsari
Langit pagi Makassar masih menyimpan pulasan warna-warna indah matahari terbit. Mulai biru tua, biru muda, jingga, kemerahan sampai warna-warna pastel yang memudar di ketinggian cakrawala.
Tapi langkah saya -dengan ransel tersandang di bahu– mesti bergegas. Menyelesaikan suapan terakhir Chinese Chicken Porridge yang dibubuhi telur mentah di dasar mangkuk sebelum buburnya sendiri dituang, dekat Jalan Jampea, Makassar. Lantas melompat ke mobil sewaan yang akan membawa saya ke Tana Toraja.
Sendirian saja? Ya, betul. Ini sebuah solo backpacking. Hanya dijemput-antar oleh Anthony, sang sopir yang baik hati. Pemuda asli kelahiran Makale, Tana Toraja. Tutur bahasanya yang sopan-santun lagi ramah, membuat saya merasa nyaman untuk memulai perjalanan sekitar 8 jam antara Makassar ke Tana Toraja. Keduanya terletak di Provinsi Sulawesi Selatan.
“Tenang saja, Ibu. Kapan saja merasa lapar, kita akan mampir,” tukasnya sebelum memulai perjalanan. “Karena 8 jam bukanlah waktu yang sebentar. Atau tiap kali melihat pemandangan bagus, bilang saja. Pasti ingin foto-foto bagus, ‘kan?”
Titik perhentian pertama kami adalah pesisir kota Pare Pare. Selain scenic route sepanjang coastal zone nya, saya tertarik pada sejenis masakan berkuah yang dijajakan sebuah resto pinggir pantai.
Ujudnya semacam sup jagung, dengan isi potongan ayam, wortel, seledri, kuah hangat serta pipilan jagung. Namanya Binte Biluhuta, makanan khas dari Gorontalo. Paduan gurih kuah ayam dengan empuknya si jagung terasa pas. Apalagi ditambah aroma seledri cincang serta merica.
Tengah hari, giliran menu nasi kuning lengkap serta es kelapa muda -disajikan dalam batok kelapa langsung- menemani santap siang saya. Lokasi tempat makan yang tepat di bibir pantai menjadikan suasana penuh relaksasi.
Apalagi saat saya membawa kelapa ke dermaga kayu untuk dinikmati sembari duduk sejenak. Kalau tidak ingat rute panjang membentang sampai Pinrang dan Enrekang sebelum masuk Tana Toraja, mau rasanya saya berlama-lama di sini.
Saat minum teh sore hari, kami rehat sejenak di kawasan pegunungan Rantemario. Salah satu gunung yang terkenal di situ dikenal masyarakat setempat sebagai Gunung Nona.
Para pengusaha kedai di sini sangat jitu memanfaatkan lokasi yang strategis. Rata-rata, kedai di sini terbuat dari kayu dengan konstruksi rumah panggung serba terbuka. Jadi tamu bisa menikmati pemandangan ke arah pegunungan bertabir halimun tipis sembari menyeruput teh atau kopi ditemani kudapan seperti pisang goreng.
Sesekali, burung elang beterbangan di antara lembah-lembahnya, menukik tinggi di keluasan langit. Sangat pas buat mereka yang menggemari birdwatching.
Meski bukan penggemar berat kopi, indera penciuman saya sempat ‘terganggu’ manakala aroma kopi terembus dibawa angin gunung. “Ini bau kopi Toraja yang terkenal itu, Ibu,” jelas Anthony. “Besok bisa lihat langsung kebun kopinya, juga belanja kopinya di pasar Bolu, Rantepao.”
Melintasi rute yang bersisian dengan Sungai Sa’dan serta kota Makale di gerbang Tana Toraja, pemandangan tersaji di depan saya berikutnya begitu mirip dengan scene pembuka dari film Heaven and Earth.

(c) ukirsari
Saat adegan Le Ly [Hiep Thi Le] berbaju ao-dai putih berlari-lari dengan latarbelakang persawahan menghijau serta gunung batu kelabu mirip pemandangan di balik kawasan Ha Long Bay!
Tapi, persawahan di depan saya itu tidak terletak di Vietnam Utara. Melainkan di sebuah dusun bernama Mengkendek. Sungguh, panoramanya sulit dilupakan.
‘Pemanjaan’ kepada diri saya atas keindahan alam ini masih berlanjut saat tiba di penginapan. Lagi-lagi ada suguhan kopi Toraja yang baunya begitu harum. Serta kamar dari ‘bekas’ lumbung padi. Bangunan ini umumnya, terletak di depan tongkonan atau rumah khas Toraja.
Ornamen di sekujur dindingnya begitu kaya. Termasuk lukisan yang tidak saja menghias bagian dinding luar bangunan bergaya rumah panggung itu. Tetapi juga sampai atap dan bagian bawah rumah panggung.
Konon, ‘rumah mungil’ tempat saya bermalam ini diboyong langsung dari sebuah desa, lalu disusun ulang dan direstorasi hingga tetap bisa mempertahankan keindahannya.
Sarapan pagi saya terasa begitu ‘eksklusif’. Ini karena sajian segelas marquisa yang diperas dari buah segarnya langsung, tanpa tambahan pemanis lagi. Satu hal sulit untuk didapat di Ibukota Jakarta!
Dan selain hidangan roti bakar dan jajanan khas setempat nan lezat, ada pertanyaan dari pramusaji yang membuat saya tergelitik. Apakah untuk santap malam nanti saya menginginkan Pa’ Piong? Wah, sudah ditawari dinner, padahal pelancongan saja belum dimulai! Ternyata, “Karena untuk menyiapkan masakan ini, kami perlu waktu sekitar setengah hari!”
Penasaran dengan menu itu, saya pun langsung memesannya.
Pelancongan di Rantepao dan sekitarnya terasa begitu menyenangkan. Dimulai dari Pasar Bolu. Tempat orang-orang lokal dan juga desa-desa yang berdekatan melakukan aktivitas di akhir pekan. Mulai hewan ternak sampai kebutuhan harian termasuk bahan makanan diperjualbelikan di sini.
Perlu mendapat catatan khusus adalah ‘acara’ jual-beli kerbau. Khususnya ‘kerbau bule‘ alias Tedong Bunga dalam bahasa setempat.
Harganya bisa mencapai belasan bahkan puluhan juta rupiah! Para peminat kerbau ini tentu saja tidak membeli sang hewan untuk dimasak, tapi lebih kepada investasi. Baru akan dipotong bila ada sanak keluarga meninggal dalam upacara adat yang disebut Rambu Solo.
Selain itu juga ada bagian dalam pasar yang khusus menjual babi. Normalnya kulit ‘Miss Piggy’ ini kelabu tua mendekati hitam. Pengecualian ada di bagian dada yang berwarna pinky. Uniknya, saat saya berkunjung di sana ada seekor berwarna beda.

(c) ukirsari
Semua babi ini dijajakan dalam posisi dibaringkan di atas semacam tandu dari bambu serta diikat erat. Tujuannya, memudahkan dibopong pulang.
Di sudut pasar, saya menemukan buah yang dalam bahasa setempat disebut sebagai Tamarella. Tak lain, inilah Terung Belanda. Juga dikenal dalam khazanah kuliner [tepatnya sebagai minuman] di Sumatra Barat dan Sumatra Utara.
“Di Toraja, Tamarella biasa dibuat juice untuk sarana tambah darah,” tutur Yuli. Sahabat Anthony yang mengawal saya bertandang ke Pasar Bolu.
Siang hari, saya memilih menu nasi hitam, tumis pakis, udang kelapa serta juice Tamarella. Sempat terpikir di benak; dengan elevasi mencapai sekitar 800 m dpl [di atas permukaan laut] dan bahkan lebih, bagaimana masyarakat Tana Toraja bisa mendapatkan udang yang notabene produk laut?
Rupanya, selain diangkut langsung dari Makassar dalam peti es, ada empang-empang yang digunakan untuk budidaya ikan mas dan udang air tawar atau jenis sungai.
Sajian makan siang ini terasa nikmat. Menu khas yang jarang dijumpai di kota -ah, saya mesti mengaku, sangat merindukan nasi hitam ini sekian lama!- dengan citarasa menggugah selera. Tumis pakisnya terasa renyah di lidah, sementara udang tanpa kulit ditumis lalu diurap dengan parutan kelapa dalam rasa pedas yang pas. Makin mantap karena disantap di ketinggian kawasan Batu Tumonga.
Sebagai catatan, nama Batu Tumonga diberikan karena di dataran tinggi Tana Toraja ini banyak terdapat batuan granit ‘berserakan’ dengan posisi mencuat ke atas, bagai mendongak menatap matahari. ‘Tumonga’ kurang lebih artinya ‘mendongak’.
Ke’Te Kesu, Limo dan Londa merupakan nama desa-desa yang kondang dengan kubur gantungnya. “Bila masyarakat daerah lain menganggap kematian adalah suatu hal yang menyedihkan, kami justru membuat kepergian sebagai hal yang patut dirayakan. Mengingat ini adalah momentum terakhir yang dapat dilakukan kepadanya,” tutur Yuli.
Untuk itu, perayaan pun dirancang rapi. Termasuk jumlah kerbau yang akan dipotong dalam upacara Rambu Solo. Sangat boleh jadi, ‘yang telah bepulang’ ini mesti menunggu sekian waktu sampai seluruh dana perhelatan dan kerbau tercukupi. Seperti yang terjadi pada keluarga Anthony, neneknya baru dimakamkan setelah 10 tahun. Kurun waktu itu, sebutan beliau adalah to mate atau ‘orang sakit’.
Lewat tengah hari itu, ditemani Yuli dan Anthony, saya mendatangi makam gantung di Limo, Londa dan Ke’Te Kesu, setelah sebelumnya bertandang ke desa tradisional Pallawa.
Di desa yang memiliki makam gantung itu, kami melangkahkan kaki ke area berlokasi di sebuah bukit karang. Di ketinggian inilah, ditatah lubang-lubang agar berongga dan peti bisa dimasukkan di situ. Bisa juga, kayu dan bambu dipancang ke celah-celah batu untuk membuat dudukan bagi peti mati yang akan diletakkan di situ.
Lantas sebagai personifikasi seseorang yang dimakamkan di situ, dipasanglah boneka Tau Tau. Terbuat dari kayu berukir menyerupai wajah dan postur dari mereka yang tiada.
Cara pemakaman di bukit batu ini, mengingatkan saya pada bagian utara Pulau Luzon, di Filipina. Di daerah bernama Sagada, ritual penguburan mereka nyaris sama dengan masyarakat Tana Toraja. Bedanya, para Pinoy tidak menggunakan personifikasi Tau Tau.
Kami mengobrolkan itu sampai tiba saatnya meninggalkan Ke’Te Kesu. Setelah mengamati beberapa pemuda menatah kayu pajangan dinding dengan motif tongkonan, untuk dijual sebagai souvenir.
Seperti sudah ‘dijanjikan’ oleh pramusaji pagi tadi, tiba saatnya bagi saya untuk menyantap Pa’ Piong. Salah satu kuliner andalan Tana Toraja yang mesti dimasak minimal 8 jam. Bahan aslinya daging babi, tapi di masa kini bisa dimodifikasi dengan ayam –hingga dikenal dalam bahasa Indonesia sebagai ‘Ayam masak di buluh’.

(c) ukirsari
Daging dipotong-potong agak besar, lalu dicampur dengan berbagai rempah serta kelapa parut. Lantas dimasukkan ke dalam buluh bambu dan dipanggang dengan api kecil hingga tanak, sekitar 8 – 12 jam.
Setelah matang, buluh bambu dibersihkan lantas dibelah dan voila … Inilah Pa’ Piong nan lezat. Siap disajikan dengan nasi hangat mengepul. Hasil akhir yang didapat bukanlah daging kering, tapi tetap juicy karena adanya unsur air atau santan dari parutan kelapa.
Selain Pa’ Piong, ada satu lagi menu tak kalah enak yaitu Pa’ Piolo. Yaitu babi atau ayam masak bumbu pekat. Hasilnya kehitaman dengan citarasa cukup menyengat karena diberi potongan irisan cabe merah dan hijau. Namun terasa pas dengan udara malam di Rantepao yang terletak di dataran tinggi.
DARI KOPI TORAJA SAMPAI TAMARELLA
Bermacam souvenir atau buah tangan tersedia di Tana Toraja. Biasanya, dijual dekat pintu masuk desa-desa tradisional yang menjadi tujuan wisata. Mulai tee-shirt bertuliskan ‘Toraja’ lengkap dengan lukisan primitifnya, sampai tas cangklong dari kain tenun serta scarf.
Tapi selain benda-benda ini, ada juga oleh-oleh khas Toraja yang tak kalah seru. Yaitu kopi Toraja yang terkenal itu. Terdiri dari jenis Robusta dan Arabica, di pasar tradisional dijual dalam bentuk biji dan ditakar menggunakan kaleng serta timbangan. Tinggal sebut berapa ons atau kilo yang akan dibeli, barulah si penjual menggilingnya di depan pembeli.
Selain itu, masih ada Terung Belanda alias Tamarella. Bila malas membawanya dalam bentuk buah, bisa dikerok daging buahnya saja serta dipisahkan dari bijinya, lalu diblender hingga menyerupai sirup merah. Untuk penyajian, tinggal ditambah air dan gula secukupnya.
Cuma untuk membawanya perlu dikemas hati-hati agar tidak bocor selama perjalanan. Dan sesampainya di rumah diawetkan dengan cara disimpan dalam lemari pendingin.




aduh, kasian betul, itu miss pink piggy bersiap untuk dikorbankan
By: dinysays on July 30, 2008
at 2:59 am
He…he…he…nggak diperkenalken dengan kuda ya? Kabarnya ada hidangan dari kuda juga…kabarnya…soalnya selain aku tidak pernah pulang kampung apalagi merantau ke Tator, aku juga bukan orang kuliner…he…he…he…
By: Retty on August 18, 2008
at 6:47 am
yeeee, jadi kangen pa’piong nih. Kapan ya makan pa’piong lagi. Soalnya di Jkt susah dapatnya. Kalau di Toraja kan tanpa dibeli juga bisa dapat. Hehe
By: budi on September 8, 2008
at 11:54 am
Wuihhhh….enaknya…..jd pgn pulkamp neh. (Sekedar info: aq asli Tator). he..he..he.. : ))
By: Lina chiang on September 10, 2008
at 7:41 pm
Hmmmmm . . . . . sedaaaaap
jd rindu pa’ piong nih
By: Ning on October 27, 2008
at 3:10 am
mammi’ liu to pa’piong
By: dali on November 30, 2008
at 9:00 am
Thank you for such an elaborate blog on toraja. I enjoy reading it and it gives me extra information about toraja.
Regards,
Edward
By: Edward on December 30, 2008
at 6:42 am
saya jadi rindu pulkam,apalg habis baca tulisan mbak yang sangat lengkap,tks atas semua infonya sekedar pengobat rindu,kami yang jauh di medan
By: ny.feby popang on January 1, 2009
at 4:16 pm
dengan membaca pernyataan mbak yang sangat lengkap, serasa saya yang terlibat lansung dengan kejadian itu, salam rinduku buat toraja,arfan papua barat (sorong). mammi’ tongan tu pa’piong sangmane. salama’ku lako mintu’na siulu’ku sang torayan dimanapun berada ? sorry bahasa torajanya nggak tau gitu. i love toraja.
By: arfan on January 9, 2009
at 12:10 am
pa’ piong is the best..hehehe, jd kangen pulkam nih tp sayang jauhh…huhuhu kami di cilacap, salama’ bangmo mati sangsiuluranku..
By: rinding on January 31, 2009
at 1:50 pm