i wrote a travel article for a magazine about months ago and the editor said it will be matching for jakarta’s birthday on june 22nd. so, here i go. writing about batavia shipwreck related to its old name, given by the dutch. happy belated birthday jakarta …. we’re away to bunaken marine park and tangkoko national park at north sulawesi
MENYUSUR PANTAI AUSTRALIA BARAT
DARI FREO SAMPAI BATAVIA
Teks dan foto-foto: Rr Ukirsari Soepijono – Ingram
Jakarta milik Indonesia, terkenal hingga Benua Kanguru. Bukan dalam konteks kekinian sebagai ibukota NKRI, tapi cuplikan masa lalunya. Dari kapal sampai pantai dinamai Batavia. Petualangan menyusuri jejaknya bermula dari Fremantle.
(c) ukirsari
Relasi Australia dan Indonesia di masa lampau, dengan Negeri Belanda sebagai ‘perantara’ tanpa melibatkan Inggris sebagai pimpinan negeri persemakmuran (Commonwealth of Nations) yang membawahi Australia? ‘Aneh’ tapi nyata!
Ini sebuah unsur ketidaksengajaan, yang membuat sejarah negeri kita bisa ‘bersinggungan begitu dekat’ dengan Australia. Saya menjumpai fakta itu saat berkunjung ke Shipwreck Galleries Maritime Museum di Fremantle, State of Western Australia. Sebuah kota yang dijuluki masyarakat setempat sebagai ‘Freo’.
BATAVIA PORTICO DAN SHIPWRECK
Belanda menjajah Indonesia pertama kali lewat armada dagangnya yang terkenal; VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie). Selain merampok kekayaan alam Indonesia, utamanya rempah-rempah serta memberangus nilai-nilai kemerdekaan berbangsa kita, VOC menjadikan negara kita -khususnya Jakarta- sebagai representatif kerajaan Hindia Belanda-nya.
Cara para Nederlander memperlakukan Jakarta –yang mereka namakan ‘Batavia‘- secara istimewa, tersimak dari bangkai kapal VOC bernama sama. Kapal ini memulai pelayaran perdananya dari Texel (Belanda) pada 28 Oktober 1628 menuju Indonesia via Tanjung Harapan Baik di Afrika. Francisco Pelsaert ditunjuk sebagai komandannya.
Apa daya, awak kapal mengadakan pemberontakan di bawah hasutan Jeronimus Cornelisz. Hingga tujuan ke Pulau Jawa dan sandar di pelabuhan Sunda Kelapa berbelok ke pantai Australia Barat dan karam terhempas karang Morning Reef di kepulauan Houtman Abrolhos, sekitar 100 km arah laut dari Geraldton pada 4 Juni 1629.
Selain membawa kru dan penumpang sebanyak 316 orang (yang akan dipekerjakan sebagai pengawas pribumi di kawasan Hindia Belanda alias Indonesia), kapal jenis tiang tinggi (tall-ship) Batavia juga mengangkut koin perak, sutera, peralatan dapur dan makan dari bahan logam, kaca, porselen serta tembikar.
Paling menarik bagi saya, adalah bagian dari kargo kapal Batavia yang memuat potongan-potongan batukali dalam kondisi siap disusun (knock-down). Batu-batu ini rencananya menjadi gerbang (portico facade) kastil dan benteng Batavia di suatu daerah kawasan Sunda Kelapa atau Jakarta!
Portico facade Batavia ini di-display secara utuh dengan diapit dua meriam, di Batavia Gallery lantai dasar museum. Lantas di sebelahnya terdapat separuh lunas kapal yang tersisa dari Batavia, hasil temuan para penyelam dan ahli kelautan Australia.
Bila ingin membayangkan ujudnya lebih detail, selain menyimak replika kecil Batavia, pengunjung bisa naik ke Viewing Deck di lantai satu. Sungguh sajian rekonstruksi yang menarik, mengingat sang kapal dari abad ke-17 itu sudah karam selama 343 tahun sebelum diangkat ke permukaan laut.
Pengunjung juga dapat menyaksikan tayangan video presentasi penyelaman ke kapal Batavia, yang tersedia di lantai dasar serta Dutch Wreck Gallery di samping Viewing Deck. Selain memajang berbagai barang dari kapal Batavia (1629) yang punya ‘ikatan’ dengan sejarah Jakarta, di sini juga dipajang berbagai temuan dari kapal-kapal VOC yang karam dalam pelayarannya menuju Indonesia.
Yaitu Vergulde Draeck (1656), Zuytdorp (1712) dan Zeewijk (1727). Zuytdorp tercatat sebagai satu-satunya kapal VOC yang para penumpangnya tidak pernah mencapai Batavia untuk minta tolong diselamatkan atau pun menceritakan tragedinya.
Kelengkapan materi yang dimiliki Shipwreck Galleries Maritime Museum di Freo ini menjadikannya satu-satunya museum di Benua Kanguru yang terlengkap dalam menyajikan temuan kapal karam sebelum periode pendudukan bangsa Inggris.
MANDI MATAHARI DI FREO
Dari bayang-bayang kemegahan bangkai kapal Batavia yang tersimpan di museum, saya melangkah menyusuri Old Freo. Dari Marine Terrace sampai Kings Square melintasi berbagai spot menarik.
Kalau mau jujur, bagian kota ini ada miripnya dengan kawasan Kota, Jakarta yang dijuluki Nederlander sebagai Batavia. Gedung-gedung kolonial menjulang tinggi, mengapit ruas-ruas jalanan sempit, lalu ornamen bangunannya terdiri dari beberapa variasi seperti bata exposed, kaca model sempit, atap berhias pola sulur-sulur tumbuhan sampai bidak catur.
(c) ukirsari
Cuma bedanya, kondisi bangunan di Freo berkategori well-maintenanced. Hingga bisa disuguhkan sebagai tujuan wisata. Utamanya beberapa bangunan yang diambilalih oleh Univesitas Notre Dame.
Selain dirawat dan dicat warna cerah, gedung-gedung bersejarah peninggalan abad ke-17 dan ke-18 itu ini dijadikan tempat perkuliahan dan praktikum.
Dengan kondisi cuaca arid khas gurun yang surplus sinar matahari, masyarakat Freo doyan duduk-duduk di tempat terbuka sembari bercengkerama. Para pebisnis makanan dan minuman pun memanfaatkannya, dengan menggelar kanopi-kanopi dilengkapi kursi di sepanjang South Terrace yang kondang dengan nama ‘Cappuccino Strip’.
Cukup duduk, pesan minum dan makan di sini lalu bersantailah. Suasana bakal makin meriah, ketika pengelola setempat atau regional menggelar happening atau festival menyambut perayaan tertentu. Seperti Paskah atau hari jadi kota, misalnya.
Kalau ingin lebih menikmati suasana Freo yang ‘lebih asli’, bisa berkunjung ke Fremantle Market. Sebuah pasar yang berdiri sejak tahun 1897. Suasananya mirip pasar Tanah Abang di Ibukota kita, tapi dengan tingkat kebersihan lebih terjaga.
Mulai souvenir Aborigin, kebutuhan sehari-hari, hiburan macam CD dan DVD serta kudapan dan makan berat bisa didapat di sini. Tentunya dengan kapasitas tampung per kedai yang bisa dibilang cukup sempit, hingga kesannya berdempetan di sana-sini.
Para wisatawan di sini banyak berburu oleh-oleh khas Aborigin serta t-shirt gaya Aussie yang orisinalitas idenya kadang mengundang senyum sekaligus komentar ‘garing nggak, sih?’ seperti misalnya, ‘Kami doyan bir, kami makan daging seperti kalian dan kami berbicara f***ing English‘ atau ‘Saya ini teknisi bom. Jadi kalau melihatku lari, coba tangkap!’
PETUALANGAN DI GURUN
Keesokan paginya, wisata ‘menyusur’ jejak Batavia mulai saya lakoni pakai bus Greyhound Australia. Menempuh jarak 420 km dari Perth ke Geraldton, yang terletak di setengah jalan sepanjang pesisir Batavia (Batavia Coast).
Senada temuan dari bangkai Batavia yang dipasang di Shipwreck Galleries Maritime Museum di Freo, Geraldton Maritime Museum juga memajang koleksi si kapal nahas itu. Seperti artefak keramik -yang terkenal adalah botol bergambar pria berjenggot alias ‘Beardman Jug’ atau ‘Bellarmine’ sebagai wadah penyimpanan rum, peralatan navigasi sampai propeller atau baling-baling kapal Batavia.
Dan tentunya Batavia portico facade serta dua meriam Batavia yang lay-out di museum tak jauh beda dengan penyajian di Shipwreck Galleries Freo.
Sementara di lepas pantai Geraldton, tersebar 122 pulau yang disebut sebagai kelompok Houtman Abrolhos Islands.
Salah satu dari kumpulan pulau ini pernah dijuluki sebagai Batavia Graveyard, karena digunakan untuk menghabisi 125 penumpang eks Batavia yang terdiri dari lelaki, wanita dan anak-anak atas perintah Jeronimus Cornelisz -yang mengangkat dirinya sebagai ‘gubernur’ selama komandan kapal Francisco Pelsaert bertolak dengan perahu ke Batavia, Indonesia untuk minta bantuan armada VOC. Kini pulau itu dinamai Beacon Island.
Usai menyaksikan kisah seram yang dibingkai dari kapal VOC Batavia, saya melanjutkan perjalanan ke Cervantes. Buat menjumpai ‘keseraman’ lain, yang sudah lama dinantikan: menyusur gurun cantik di Nambung National Park.
Setelah pengalaman bersepeda di gurun Luxor, Mesir (baca Chic edisi 2 tahun lalu), kembali mengunjungi gurun adalah suatu hal yang saya rindukan. Cuma saat ini, bukan makam raja-raja atau tempat peribadatan di tengah gurun yang ditemui. Tapi pilar-pilar raksasa aneka rupa.
Ujudnya sangat imajinatif. Sekilas bisa terlihat macam pasukan tentara terakota di Cina, sekali waktu seperti gerbang sebuah kastil, atau mirip pemandangan bebatuan di bulan dan kadang mirip patok-patok pekuburan!
Pasir berwarna kekuningan dengan permukaan beralur karena tiupan angin serta formasi karang The Pinnacles dengan latar belakang langit biru merupakan pemandangan yang tak bakal saya lupakan.
Formasi batu karang menjulang ini juga laris dijadikan gambar kartupos. “Rasanya belum lengkap keliling Australia Barat, bila belum mengunjungi The Pinnacles,” kata Christina Lewis, turis asal Irlandia yang satu bus dengan saya. Ia terpikat mendatangi gurun itu, setelah dikirimi kartu pos bergambar serupa dari sahabatnya.
Tentang keberadaan pilar-pilar limestone di gurun Nambung sendiri, bentukannya berasal dari proses alam akibat diterbangkannya bulir-bulir kapur dari laut -berasal dari biota laut yang mengandung kapur- lalu berakumulasi membentuk sand dunes atau gumuk pasir. Lantas memadat karena guyuran air hujan, kemudian melapuk digerogoti akar-akar tetumbuhan serta pasir dan angin.
Hasilnya adalah tiang-tiang dengan tinggi menjulang sampai 4 m. Begitu cantik, sekaligus juga menyeramkan saat berjalan di antaranya. Apalagi, diiringi embusan angin kencang yang bisa mencapai 80 km/jam.
(c) ukirsari
Agar tidak nyasar selama berkelana di gurun Nambung, pengelola telah menyediakan trek loop sejauh 3.5 km disertai peta dan penanda yang memudahkan pengunjung mencapai titik akhir trek. Selain panas matahari menyengat, lalat merupakan musuh yang membuat perjalanan terganggu. Insekta ini baru akan pergi, bila kita mengibaskannya dengan keras.
Dari gurun berpilar karang menawan ini, saya meneruskan perjalanan ke dua pantai yang letaknya tak begitu jauh. Yaitu Kangaroo Point dan Hangover Bay, bisa dicapai beberapa km dari gerbang masuk ke Nambung National Park.
Toh tetap saja, The Pinnacles jadi primadona fenomena alam sepanjang perjalanan saya menyusur Australia Barat.
HOW TO GET THERE TO FREO
Fremantle dapat ditempuh secara mudah dan efisien dari Perth, ibukota Australia Barat lewat jalan darat maupun laut.
Bila ingin menikmati pemandangan perkotaan dan suburban, pilih moda transportasi kereta, naik dari Perth Train station, dekat Horseshoe Bridge. Alternatif lain, pilih bus dari Esplanade Busport, rute nomor 102-106 dan 151.
Kalau ingin mengabadikan landscape Perth dari atas permukaan laut sepanjang perjalanan ke Freo, pilih ferry. Rutenya membelah Swan River, penumpang naik dari dermaga Barrack Street Jetty, Perth.
Bagi saya, sarana transportasi di negeri maju seperti Australia sangat membantu ketepatan schedule pribadi saya. Termasuk bebas dari rasa was-was ketika angkutan yang dibutuhkan tidak tersedia.
Contohnya saat kereta jurusan Perth – Freo tidak dioperasikan karena perbaikan. Meski sudah ada pengumuman resmi di situs Transperth, purchasing tiket kereta jurusan ini tetap berjalan sebagaimana biasa.
Kereta membawa seluruh penumpang sampai Daglish, lantas ganti bus tanpa ditarik beaya tambahan. Bahkan boleh pilih rute: mau langsung Freo atau lewat rute yang setiap saat bisa berhenti di setiap shelter sampai masuk Freo.
Buat menambah pengalaman, saya pilih yang kedua. Meski risikonya, mesti bayar saat naik bus berikutnya ke Freo. Tapi gara-gara pilihan ini, saya ‘menemukan’ sesuatu yang tidak tercantum di buku panduan wisata. Yaitu Karrakatta Cemetery, 7 km dari Perth.
Makam ini begitu luas dan bak ‘menghias’ pinggir ruas jalan raya Karrakatta sampai berkilometer jauhnya. Di situ bersemayam beberapa tokoh penting Australia, di antaranya Perdana Menteri John Curtin (1845-1945) yang figurnya diabadikan dalam bentuk monumen di samping Town Hall Freo.







ahh… Seorang Ari memang tak pernah diam……. kangen ngopi bareng lagi eiiii..
By: kucingkeren on July 7, 2008
at 4:19 pm
ayo sis!!! kapan?!!!!!
ditunggu banget!
By: ukirsari on July 8, 2008
at 11:48 am