catatan:
untuk versi hardcopy atau versi cetak, akan dijumpai tulisan nama saya selaku penulis dan fotografer ditambah imbuhan ‘bersama [nama sebuah biro wisata atau agensi perjalanan di jakarta]‘ serta boks tawaran trip individu maupun kelompok ke perth dan australia barat. untuk diketahui bahwa saya selaku penulis tidak ada hubungannya dengan biro wisata yang dimaksud dan saya membeayai seluruh perjalanan saya secara mandiri.
[note: in printed version can be found a travel agent's name and itinerary which look-like subsidizing my trip to western australia, perth and fremantle in particular. i stated there's no relation between me and the agency itself since i am proudly pay my all expenses including taxes].

(c) ukirsari
“Apakah Anda sekalian ingin saya mengubah penampilan ketiga sukarelawan kita jadi macho bak Arnold Schwarzenegger dalam waktu tiga detik?” tanya seorang art performer asal Eropa yang tengah berlaga di depan Fremantle Market.
“Yeahhhhhh!!!” terdengar jawaban membahana dari ratusan penonton -termasuk saya. Para pengunjung ada yang duduk lesehan di tengah jalan, berdiri sembari memanggul buah hati yang masih balita, atau pun berdiri di sepanjang koridor kafe untuk mengurangi terik matahari di atas kepala.
“Are you sure?” sang penampil acara berkaos kutung serta celana cokelat beraksen kulit macan di dada, pinggang dan pipa celana plus dandanan rambut diberi highlight totol macan itu bertanya sekali lagi. “Oh ya, ngomong-ngomong terimakasih untuk kesediaan Anda tidak merokok di acara ini! Jadi bagaimana, masih mau Mr Schwarzenegger?”
“Yeahhhhh!!!” yang ditanya makin antusias. “Bawa si Arnold ke mari!”
Ternyata, bukan sang bintang dibawa ke tengah tempat pertunjukan. Melainkan penutup dada dari plastik busa bermotif six packs. Ketiga sukarelawan itu diminta menanggalkan baju atas dan memakai six packs abal-abal sebagai gantinya.
Tentu saja penonton terbahak-bahak. Apalagi saat sukarelawan tadi diminta menirukan gaya body builder unjuk gigi serta Hulk siap mengamuk. Sesudahnya barulah pengunjung dibuat deg-degan. Tiga sukarelawan diminta menarik tali yang terhubung ke satu tongkat besi dengan kursi kecil di puncaknya.
Sang bintang lantas melakukan aksi akrobatik memanjat ke atas, pamer kepiawaian aneka gaya salto di udara lalu berdiri tegak dan menangkapi tongkat yang dilemparkan pengunjung dari bawah. Gemuruh tepuk tangan pun terdengar saat aksinya berakhir sukses.
Itulah sekilas potret kemeriahan sebuah akhir pekan di Fremantle. Saat berlangsungnya pergelaran Street Arts Festival.
Matahari bersinar penuh, angin laut bertiup sepoi dan langit begitu biru dengan persentasi awan cuma secuil saja. Polisi menutup akses kendaraan bermotor di sepanjang ruas Essex Street, Henderson Street sampai South Terrace dan tertera baliho besar ‘Dilarang Merokok’. Benar-benar refleksi lagu ‘One fine day’ yang dinyanyikan Carole King, penyanyi favorit orangtua saya.
Setiap Paskah, Fremantle menggelar Street Arts Festival. Tahun ini, memasuki perhelatan ke sepuluh kalinya.
Kurun tiga hari [22 - 24 Maret], pengunjung dimanjakan oleh aneka kebisaan para penampil acara. Mulai komedi, tarian, nyanyian sampai aksi akrobatik atau sirkus. Tentunya dengan penampilan yang sangat komunikatif pula.
Tahun ini, penampil datang dari Kanada, Portugal, Inggris dan Australia sendiri selaku tuan rumah. Alasan mereka datang berbagai macam. Mulai keinginan untuk bisa lebih dekat dengan pengunjung di venue terbuka, ingin mengamati spontanitas penonton sampai ingin menikmati suasana lain dibanding tempat biasanya mereka beraksi. Tapi yang jelas, para performer itu punya kesamaan: menikmati traveling ke berbagai tempat di dunia. “Serta konsisten di jalur pertunjukan jalanan,” kata Brendan Coleman, Artistic Director Fremantle Street Arts Festival 2008, seperti yang ia tuturkan di situs Fremantle Festivals.

(c) ukirsari
Mengawali One Fine Day saya di perhelatan Fremantle Street Arts Festival, tujuan kedua setelah nonton pertunjukan akrobat adalah berkunjung ke Fremantle Market. Sebuah pasar lokal yang terletak dekat perempatan Essex Street, Market Street, South Terrace and Henderson Street.
Pasar ini didirikan Fremantle Municipal Council sejak 1897. Di dinding atas gedung tertulis keterangan itu, ditambah patung angsa hitam -yang menjadi logo kota- serta singa. Lantas di bawahnya tertulis kalimat Latin: Nec Prece Nec Pretio.
Saat masuk lewat pintu depan -ada beberapa akses masuk ke sini, terhubung ke empat ruas jalan tadi- memang tertulis ‘Fish Market’. Tapi jangan bayangkan ada lantai becek di sini. Aneka hasil laut di-display di balik kaca dan sudah diberi label harga. Penjualnya siap melayani dengan sarung tangan plastik. Mulai kepiting, udang galah, udang biasa, salmon, kakap merah, lobster sampai ikan herring, cobbler, reo emperor, flathead, barramundi dan yabbies [udang karang] dijajakan di sini.
Lepas dari pasar ikan, ini dia lorong ke pasar serbaneka yang mengingatkan saya pada kondisi pasar Tanah Air pada umumnya. Tapi tentunya dengan tingkat kebersihan prima. Mulai kios cinderamata, pastry, minuman sampai makanan serius serta CD dan aneka perabot rumah tangga berdempet ketat. Ini masih ditambah pedagang kaos serta hiasan rumah yang menggantung dagangannya sampai atas. Nah, para pengunjung pun berdesakan dengan ‘mesra’ nya di lorong-lorong ini.

(c) ukirsari
Untuk camilan yang bisa disantap sembari jalan, saya bertandang ke Annie’s Bread Shop dan pilihan saya jatuh pada Spinach and Ricotta Pie seharga AU$3.60 [sekitar Rp 30.500].
Pai satu ini mengalahkan ‘kandidat’ lainnya seperti Beef and Mushroom Pie dan Vegie Pie yang harganya sama. Atau Chunky Beef Pie yang harganya lebih mahal 20 sen.
Alasannya sederhana, karena tampilan daun bayam rajangnya begitu hijau mengundang selera. Saat kantung kertasnya saya buka, bau harum serta hangatnya pai langsung terasa. Ini karena penjualnya selalu memanaskan setiap pastry yang akan dimakan di tempat. Kecuali roti bongkah-bongkah besar yang dibawa pulang. Jenis ini langsung masuk kantung kertas.
Sekadar catatan, di kedai roti ini saya juga menjumpai aneka jenis bread yang terkenal di Australia Barat. Seperti New Norcia Sourdough [AU$ 5.60], Barretis Sourdough [AU$ 5.40] dan Sourdough Fruit Bread [AU$ 5]. Khusus New Norcia Sourdough, roti ini dibuat oleh perusahaan perorangan di lingkungan kepastoran ordo Benedictine di New Norcia, 133 km arah utara Perth. Kota kecil New Norcia sendiri, terkenal sebagai ‘The only Benedectine Abbey in Australia’.
Sembari mengunyah crispy nya kulit pai dipadu empuknya daun bayam serta keju ricotta yang lumernya pas di lidah, langkah beranjak ke kedai kopi yang menyajikan aneka produk. Mau model freshly diseduh dan diminum di situ, dibawa pulang dalam gelas kertas sampai masih dalam bentuk biji [roasted] siap ditumbuk juga ada.
Jadilah pai di tangan kiri, segelas kopi hangat di tangan kanan serta dailypack tersampir di bahu. Saya berkeliling pasar sembari mengamati, sekiranya ada buah tangan yang pas buat orang-orang tersayang di rumah.
Di sebuah sudut, ada dua toko yang menarik. Pertama, menjual aneka perabot sehari-hari. Termasuk celemek abu-abu bergambar cute koala. Peranti memasak di dapur ini diberi label AU$10 dan tambah AU$12 dapat tambahan sepasang sarung tangan quilt buat mengangkat barang panas, bermotif serupa.
Toko kedua, apalagi kalau bukan toko souvenir barang-barang khas Aborigin. Para pengrajin yang memasok barang-barang di sini adalah orang-orang Noongar [kadang juga disebut sebagai ‘Nyungah'], salah satu suku bangsa Aborigin yang bermukim di Australia Barat.
Mulai lukisan tradisional -mayoritas motif kanguru dan buaya- buatan tangan pada kain hitam serta cokelat [buat dibingkai sendiri] dan boomerang aneka ukuran, saputangan dan taplak meja dengan lukisan printed, motif cap-capan pada gelas sloki serta wadah gelas, sampai aneka kalung dan batu-batuan alam tersedia lengkap. Magnet hiasan lemari es juga ada. Demikian pula foto-foto repro tentang orang-orang Aborigin serta berbagai tee-shirt.
Usai membeli selusin gelas sloki ‘Jijaka Australia’ dari toko souvenir Aborigin, saya teringat sesuatu. Mesti menelepon sahabat lama saya, Anna Negulic! Mestinya hal ini saya lakukan berhari-hari lalu saat baru saja mendarat di Perth. Tapi apa daya, pesona langit biru dan segala bangunan kuno membuat saya lalai sejenak.

(c) ukirsari
Dan di ujung telepon sana, terdengar suaranya yang renyah, “I’m going down to Freo for fish and chips with you!” Orang-orang lokal memang doyan menyingkat Fremantle dengan ‘Freo’. “The locals never say ‘Fremantle’ as its full name ,” imbuh Anna ketika kami bertemu di dermaga.
Begitulah. Lepas tengah hari, kami berdua menyusur Fishing Boat Harbour. Menikmati cuaca cerah dan laut biru, camar beterbangan serta sebuah jetty bermonumen ‘To The Fishermen’.
Berupa patung dua nelayan penangkap ikan serta panel-panel baja tahan karat berisi nama-nama para nelayan yang pertama kali menginjakkan kaki di Freo. Mayoritas tertera di sini, nama-nama keluarga Italia, Spanyol dan Kroasia. Salah satunya, mirip nama keluarga Anna yang berasal dari Kroasia.
Di pelabuhan ini, kami santap siang dengan menu Fish and Chips di resto dekat bibir dermaga. Saat pesan, pembeli ditanyai mau pakai tambahan merica, tomato ketchup, moustard, tartar sauce atau chili sauce. Sementara di meja, sudah tersaji botol garam dan cuka yang bisa diambil sebanyak kita mau.
Fillet kakap merah balur tepung yang digoreng kering, hadir bersama french fries dan sepotong jeruk lemon. “Seperti orang Australia pada umumnya, makin asin dan makin asam fish and chips nya, saya makin doyan!” tukas Anna sembari menyantap hidangan. “Mungkin seperti orang Indonesia yang suka pedas?”
Topik pun bergulir soal kuliner kedua negara, sampai tiba waktunya bagi kami buat minum teh di salah satu cafe di South Terrace yang bernuansa Mediterranean.
SEDERET CAFE DI FREO
Fremantle alias Freo, merupakan salah satu tujuan favorit masyarakat Perth dan sekitarnya [seperti Karrakatta, Joondalup, Guildford, Scarborough, Sorento, Cottesloe] buat berakhir pekan. Selain pergi wisata laut ke Pulau Rottnest.
Suasana sunny day serta laid back yang ditawarkan, merupakan daya tarik utama. Dan bagi saya pribadi, bangunan kuno di kawasan pelabuhan terasa begitu memikat hati.
Soal kedai kopi dan teh, Freo menyediakan begitu banyak pilihan. Lokasinya gedung-gedung tua yang direnovasi rapi. Lalu di depannya dipasangi payung-payung, dengan meja – kursi di bawahnya. Menghadirkan atmosfer Mediterranean.
Deretan alfresco cafes paling terkenal ada di South Terrace, jalan utama Freo. Dua diantaranya yang dikenalkan Anna Negulic, sahabat saya adalah Frarri [gaya Italia] serta Dome [yang ini punya beberapa cabang di Jakarta]. Beberapa buku panduan wisata menyebut kawasan ini sebagai ‘Cappuccino strip of Freo’.




Hi there, you’ve been traveling alot huh? well, it’s so nice to read traveling blog like this. Dulu saya pernah tinggal di Perth, dan saat baca tulisan soal Freo…duh jadi kangen.
By: tari on June 27, 2008
at 10:16 pm
hi tari, thanks for compliment
yup, traveling is something …. encourage me! easy to start, hard to stop, hahaha! ya, perth is so cool and loveable. wish i get a job in there!!!!
By: ukirsari on July 2, 2008
at 11:37 am