Pindang tongkol yang digoreng kering, disantap dengan nasi hangat mengepul ditemani sambal bawang, merupakan bagian dari kenangan masa kanak-kanak saya. Aneka hidangan seafood begitu akrab dalam keseharian, karena orangtua dinas di bidang kelautan yang membuat kami sering bepergian dan tinggal di berbagai kepulauan Nusantara.
(c) ukirsari
Petang itu, saya serasa ‘menjemput’ secuil kenangan masa kecil. Sembari menunggu sunset di Pelabuhan Ampenan [Lombok], kami bertandang ke tempat pembuatan pindang tongkol. “Tak semua tongkol saya dapatkan dari nelayan di pelabuhan sini. Kadang saya harus belanja ke Pasar Bertais [dekat Cakranegara] demi mendapatkan tongkol yang ukurannya besar,” kata Ibu Juariah, salah satu pembuat pindang. “Di sana, per ekor dijual 5.000 Rupiah.”

(c) ukirsari
Setelah dicuci bersih, tongkol-tongkol pilihan berukuran sama disusun dalam sebuah wadah bambu. Setiap lapis ditaburi garam kasar. Sementara air dijerang dalam panci besar di atas tungku berbahan bakar kayu. Wadah-wadah bambu berisi tongkol tadi dimasukkan ketika air sudah mendidih dan diberi pemberat batu. Setelah tanak, pindang didinginkan dan dikemas dalam kotak bambu beralas jerami. Satu kotak berisi dua ekor. Pindang tongkol pun siap dipasarkan. Selain gurih, kadar protein pindang ini meningkat setelah mengalami proses pengasinan tadi.
Menjelang petang, beberapa istri nelayan di Pelabuhan Ampenan biasanya menggelar warung dadakan. Menjajakan lauk-pauk untuk dibawa pulang dan disantap sebagai teman makan nasi. Seperti perkedel ikan. Terbuat dari ulenan daging tenggiri, telur ayam serta parutan kelapa. Campuran ini lantas dibentuk sebesar telur ayam dan digoreng dalam minyak panas.
Selain itu tersedia urap tauge dan kangkung rebus dibumbui parutan kelapa pedas. Ada juga sate-satean dalam bumbu santan pedas. Seperti usus, jantung, hati dan ampela ayam dalam satu tusuk. Atau sepotong daging ayam tanpa tulang. Ada lagi aneka ikan laut yang lebih dulu digoreng setengah matang. Juga siput laut. Segala macam tusukan-tusukan itu lantas direbus bersama santan cair berbumbu cabe merah ulek, lengkuas dan daun jeruk hingga berminyak kemerahan.
Soal sate-satean tadi, favorit saya adalah sate siput laut. Sekali coba, sanggup menghabiskan sepuluh tusuk. Meski rasa pedas khas masakan Lombok terasa begitu menggigit lidah. Bahan baku sate ini semacam teritip atau keong air, yang menempel di karang. Sebelum dimasak pakai bumbu santan pedas, siput laut ini direbus dulu dalam air mendidih, agar terlepas dari cangkangnya. Baru ditusuk pakai tusukan sate. Kata nelayan setempat, siput laut banyak dijumpai saat musim timur. Ketika laut tak bergelombang tinggi.
Sate Bulayak, merupakan obyek pencicipan berikutnya. Namanya mengundang keingintahuan saya, karena banyak tertulis di kedai-kedai kecil seantero Mataram. Mulai pinggir jalan di tempat anak-anak muda biasa mangkal, sampai kawasan wisata seperti Pura Suranadi, Narmada water castle dan Pantai Senggigi.
Ujudnya berupa sate daging sapi disiram sambal kacang cair nan pedas dan disajikan bersama ketupat atau lontong kerucut. “Tadinya, sate Bulayak cuma terbuat dari daging sapi. Tapi sekarang kami membuatnya lebih bervariasi. Ada ayam, jerohan ayam serta usus sapi,” cerita Mak Tinah, salah satu penjual sate Bulayak di Narmada.
Khusus jerohan, bahan-bahannya direbus dulu sebelum dipotong dan dibumbui. Sedang sapi dan ayam, langsung dipotong-potong serta direndam bumbu dasar berupa adukan minyak sayur, garam, gula, bawang putih serta ketumbar. Kemudian dibakar di atas bara. Setelah matang dikucuri air jeruk nipis dan ditaruh di atas sambalnya. Terbuat dari kacang tanah sangrai tumbuk yang direbus bersama santan serta ulekan cabe merah hingga berminyak. Sebagai pelengkap rasa, sambal sate Bulayak dibubuhi kecap manis secukupnya.
Berbincang soal sambal sate Bulayak dan makanan tradisional Lombok, kesempatan menjajal Ayam Taliwang tak boleh dilewatkan. Kami menyantapnya sepulang dari Gunung Pengsong, tempat ziarah umat Hindu yang terletak di sebuah bukit –dimana dari tempat ini pengunjung dapat bercengkerama dengan monyet kelabu serta menikmati pemandangan indah pesisir barat Lombok dan panorama matahari terbenam.
Ayam Taliwang terbuat dari ayam dara. Yaitu sebutan buat ayam muda yang berusia sekitar 4 bulan. Dibubuhi garam, bawang putih dan minyak sayur atau mentega serta dibakar hingga matang. Disajikan dengan sambal kacang serupa sambal sate Bulayak. “Bila sambal dicampurkan ke ayam sebelum dibakar, namanya Ayam Taliwang. Tapi bila ayam dibakar tanpa bumbu kacang dan cara menyantapnya baru dicocolkan ke sambal tadi, namanya jadi ayam bakar,” papar Pak Azmin, sopir taksi yang kami tumpangi.
Dengan cara dicampur bumbu kacang serupa sambal sate Bulayak, rasa pedas Ayam Taliwang terasa lebih mantap, karena sambal meresap lebih lama. Sementara buat mereka yang kurang suka pedas, cara penyajian terpisah dari sambal kacang rasanya lebih pas.
Dan sebagai pelengkap sajian Ayam Taliwang, jangan lewatkan Pelecing Kangkung. Lalap sayuran matang yang terdiri dari kangkung, kacang panjang dan tauge kukus atau rebus ditambah gorengan kacang tanah utuh, disajikan dengan dua macam sambal. Yaitu sambal tomat serta sambal urap kelapa.
Pedasnya dua macam sambal ini jangan ditanya. Kata Pak Azmin, cabe Lombok terkenal pedasnya. “Apalagi yang dihasilkan dari cara berkebun tradisional,” tuturnya. “Cabe yang ditanam tanpa pupuk, hasilnya lebih pedas!”

(c) ukirsari
Dari wisata kuliner tradisional Lombok, kami tak lupa menyantap masakan bercitarasa internasional atau dari daerah lainnya. Maka sembari menikmati romantisme matahari terbenam di Pura Batu Bolong Senggigi, kami jalan kaki menyusuri pantai ke arah Cafe Alberto.
Sebuah resto dan cafe yang memiliki outdoor setting. Di mana kursi-kursi dan meja-meja makan diletakkan di bibir pantai. Dilengkapi lilin yang berpendar lembut. Kami menikmati fruit punch sembari memandang langit jingga pelan-pelan berganti warna menjadi biru pekat dan gelap.
Resto ini memiliki sajian eccletic serta beberapa menu Nasional dan menitikberatkan sajian pada pizza yang dimasak pakai oven berbahan bakar kayu. Pilihan kami jatuh pada paket bebek goreng dengan nasi.
Di kesempatan dinner lainnya, kami bertandang ke Lotus Restaurant. Sebuah tempat makan yang membuat kami selalu ingin datang kembali, setiap kali berkunjung ke Lombok. Dengan setting menghadap bibir pantai, interior resto ini senada dengan chain Lotus Restaurant yang ada di Ubud. Baik di kawasan Monkey Forest maupun Jalan Raya, yang berlokasi dekat Pura Saraswati.
Meja ditutup dengan ubin keramik bergambar teratai dan daunnya serta seekor kodok. Sementara wadah lilin dan vas bunganya melukiskan kelopak-kelopak teratai. Resto ini juga memiliki chain di Singapura –sayang kami belum sempat mendatanginya.
Bersantap di Lotus Restaurant Senggigi, senantiasa menggugah selera kami berdua. Selain welcome drink berupa fruit punch campuran sari jambu merah, nenas dan beberapa buah tropis, pramusaji akan menyodorkan shrimp crackers. Disusul bruchetta. Sepotong roti yang masih hangat [mereka juga menggunakan oven berbahan bakar kayu], dengan topping cacahan tomat segar, olive, bawang putih dan daun basil. Sesudahnya barulah mengalir hidangan sesuai pesanan.
Sebagai appetizer, favorit kami adalah cheese samosa. Bentuknya tak beda dengan samosa berbentuk segitiga. Tapi isinya keju yang langsung lumer di lidah begitu digigit. Hidangan ini disajikan dengan saos chutney plum. Terbuat dari buah plum segar dicincang, yang dimasak dengan cabe merah dan gula hingga menghasilkan saos bertekstur kasar.
Beranjak ke main course, kami memilih sirloin steak dengan saos mushroom. Kadang-kadang juga black pepper sirloin steak atau chicken cordon bleu. Bila tengah merindukan citarasa makanan lokal, opsi kami Ayam Betutu dan Grilled Fish a’la Jimbaran.
Berangkat dari chain Lotus Restaurant yang bermarkas di Pulau Dewata, tak heran kalau sajian Nasional mereka juga khas Bali. Ayam Betutu sajian Lotus Restaurant Senggigi sudah mengalami modifikasi sedemikian rupa, hingga pedasnya tak begitu menyengat. Pas buat lidah para westerner. Cara penyajiannya, ayam ditempatkan dalam sebuah bowl bersama nasi putih dan lawar sayuran.
Sementara Grilled Fish a’la Jimbaran, tak lain seekor ikan kakap merah utuh yang dibakar sambil dibubuhi cabe giling, bawang putih, sedikit kecap manis dan mentega serta dikucuri jeruk nipis sebelum dihidangkan dalam piring datar model daun teratai. Padanannya nasi putih tabur bawang goreng, lawar sayuran serta sambal bajak.
(c) ukirsari
Hidangan serba sedap ini kami tutup dengan dessert Apfelstrudel. Apel bercitarasa asam yang ditumis bersama bubuk kayumanis, gula pasir dan kismis, lalu dibalut dengan adonan pastry serta dipanggang. Penyajiannya ditaburi bubuk gula halus, ditambah satu scoop es krim vanilla.
Bila masih ingin menikmati malam di keramaian pesisir, dari Lotus Restaurant di kawasan Pasar Seni Senggigi kami bergandengan menyusur Jalan Raya Senggigi dan mampir ke pub atau cafe yang menyediakan Frozen Margharita atau Iced Cappuccino.
Paling beruntung bila kedatangan kami bertepatan saat berlangsungnya happy hours. Di saat itu, pihak cafe dan pub akan memberikan gratis 1 gelas atau 1 botol minuman yang sama dari setiap pesanan kita. Alias buy one get one free. What a nice offer!





kangen lombooooooookkkkk….
indahnya…
ternyata aq baru sadar, lombok lebih indah daripada yang lain stelah ngeliat ke luar…
By: eka on May 5, 2008
at 12:58 pm
aku belum pernah ke lombok tapi aku bakalan tinggal disana kelak karena calon suamiku tinggal di lombok. dari ceritanya aja bikin ngiler n penasaran apalagi kalau ada di sana…
By: ana on July 29, 2008
at 7:37 pm
tak lama lg ak akan holiday kesana dgn pcr ak, setelah merayakan keberhasilan gelar sarjana nya.
By: kun on April 26, 2009
at 6:40 am